December 12, 2020

Meminjam Sudut Pandang Lain.

     Berusaha menutup 2020 dengan mencatat resume dari buku yang dibaca, sebuah kegiatan yang diyakini (oleh diri sendiri) sebagai peningkatan dari sekadar menulis ulasan. Dalam salah satu buku yang sebenarnya sudah berupa ringkasan, saya memulai menulis dan memilih kalimat-kalimat yang kiranya penting dibaca ulang suatu hari nanti.

    Saya terhenti pada bagian pembahasan tentang mempertimbangkan kembali sebuah kesalahan. Sebuah topik sensitif untuk saya adalah ketika topik itu mengandung tiga unsur; kesalahan, masa lalu dan pemaafan. Dalam bagian di buku tersebut dijelaskan bahwa sebaiknya kita berusaha objektif dalam menilai kesalahan orang lain, khususnya kesalahan yang secara langsung mempengaruhi hidup kita. (Ya! Sebab menilai kesalahan orang lain yang tidak bersinggungan dengan kita, sudah cukup valid untuk membuat kita melakukan kesalahan. Semoga selalu eling untuk fokus terhadap apa-apa yang ada dalam kontrol dirimu.) Sebab dalam praktiknya, kita cenderung mudah menjatuhkan penghakiman ketika kita dalam posisi tertimpa kesalahan orang lain. Setiap orang, sebagaimana dijelaskan dalam buku itu, memiliki latar belakang yang tidak kita paham seluruhnya. Mungkin ada ketakutan, luka atau bahkan beban masa lalunya yang mempengaruhi tindakan atau perkataannya di masa kini. Meskipun lagi-lagi sebagai manusia yang penuh pembenaran, kita bisa saja menjustifikasi alasan kita menyalahkan seseorang (yang dalam hal ini perbuatan atau perkataannya memang salah) dengan pemikiran;"seharusnya dia menyelesaikan seluruh masalahnya dengan tuntas sebelum tumbuh menjadi benalu yang memengaruhi tindakannya di masa depan". Tidak salah pula, hanya kurang bijak. Buku itu mengisyaratkan kita untuk memproses suatu pemikiran dengan pelan dan cermat. Benci dan marah terhadap perilakunya, sah-sah saja. Tapi murka berkepanjangan terhadap subjek yang menyebabkan tidur tak tenang makan tak nikmat  bersangkutan tentu terlalu menghabiskan energi.

    Maka berangkat dari latar belakang itu, kita bisa mulai meminjam sudut pandang orang lain, pertama; orang yang mendengar cerita tentang kesalahan dan pelakunya, sepasang telinga yang bersimpati namun tidak secara langsung mengalami dan terlibat atau dirugikan dengan kejadian yang diceritakan. Kedua; orang yang melakukan kesalahan itu sendiri (((tersangka))).

    Orang pertama, mungkin akan berusaha keras memposisikan diri, namun sangat berpotensi memberikan pandangan yang objektif, karena tidak ada keterikatan terhadap tokoh-tokoh yang diceritakan. Hal yang bisa kita pelajari adalah untuk berusaha menyadari bahwa setiap manusia menjalani hidupnya lengkap dengan kesalahan bertindak dan berkata-kata. Hidup bagi setiap manusia adalah kesempatan pertama, dan melakukan seluruh hal dengan benar dalam kesempatan pertama adalah mustahil. Maka ketika seseorang melakukan kesalahan, ingatlah bahwa bisa jadi itu kesalahan pertama yang tidak disengaja, berada diluar perhitungannya. Jika kita tahu bahwa kesalahannya adalah suatu pola berulang maka pertimbangkan bahwa banyak variabel diluar pengetahuan kita yang membuatnya melakukan kesalahan itu. Cara untuk mempertimbangkan kesalahan ini digunakan hanya untuk mengubah perspektif kita terhadap subjek tertentu; untuk memudahkan kita mencapai pemaafan, bukan untuk merelakan diri kita terus tenggelam dalam kubangan kesalahan berulang yang disebabkan orang lain. Harus tetap ingat ya bahwa yang bertanggung jawab penuh atas seluruh keamanan perasaanmu adalah dirimu sendiri, jadi pastikan kontrol atas perasaan ada penuh dalam genggaman.

    Meminjam sudut pandang dari pelaku kesalahan ini yang sulit, bagaimana caranya perasaan yang penuh luka dan dendam masih berusaha pelan-pelan difungsikan kembali memahami perasaan orang lain, yang bahkan jelas-jelas sudah menerobos batas toleransi kita? Bayangkan ada dalam situasi yang sama, persis, hanya saja posisi kita menjadi si pembuat masalah. Apakah kita akan melakukan hal yang sama dengannya? Yakinlah bahwa jawabannya tentu saja tidak, ya sebab kita tahu betapa marah, sedih, takut (atau apapun perasaan negatif lain yang terasa tidak nyaman) ketika harus menerima akibat dari suatu perlakuan menyakitkan. Tapi berpikirlah dengan perspektif pelaku, yang tentu saja memikirkan dirinya sebagai sosok utama yang harus ia lindungi, dia berlaku sedemikian tega, sedikit banyak karena tahu bahwa jika dalam kondisi sebaliknya tentu akan menderita. Ia melakukan sesuatu yang salah untuk tujuan yang baik bagi dirinya. APA? Ya, ia melakukan sesuatu yang salah dalam hal ini salah dalam perspektif kita sebagai subjek yang dirugikan, salah karena tidak sesuai standar nilai yang kita anut. Apakah salah baginya? belum tentu, sebab kita tidak pernah tahu apa-apa yang tersembunyi jauh dalam hati manusia. Apakah salah bagi sebagian penduduk bumi? bisa iya, bagi orang yang sepemikiran dengan kita, bisa juga tidak bagi orang yang tak menganut nilai yang sama dengan kita. Relatif. Maka ketika mempertimbangkan kesalahan seseorang dengan meminjam sudut pandangnya, ingatlah bahwa; kesalahan perilaku atau kata-katanya merupakan gabungan antara banyak variabel; karakter, latar belakangnya, cara pikirnya dan kondisi terkini. Juga bahwa subjek yang sama sangat mungkin berada dalam kondisi yang baik sehingga menyadari kesalahannya dan tanpa sepengetahuan kita, sedang sangat menyesali sesuatu yang tidak dapat lagi diperbaiki, menyadari hal ini bukankah lebih dari cukup sebagai bahan pertimbangan untuk menuju pemaafan? Lalu jika ia tidak menyadari kesalahan dan menyesalinya, bagaimana? Kembalikan semua pada kalimat ini;"fokus terhadap apa-apa yang ada dalam kontrol dirimu."

    Mungkin dengan menulis ini semua, saya terlihat menjadi pribadi baik hati, hangat dan pemaaf. Namun memang lebih mudah menulis tanpa melakukan semuanya di kehidupan nyata. Saya yang menulis resume masih saya yang sama, bergelut dengan pemikiran yang tak henti timbul-tenggelam, mencari posisi paling depan untuk dijadikan alasan meyakini sesuatu benar atau salah. Lebih dari apa yang saya tulis hari ini, saya ingin benar-benar mengelola setiap pemikiran sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut. Bahwa tidak semua pemikiran yang saya yakini adalah kebenaran sesungguhnya, dan perlu dirinci satu demi satu untuk melihat sesuatu yang benar lalu kemudian diyakini secara penuh. Terakhir, kenyataan bahwa manusia sangat peka terhadap perubahan, semoga menjadikan kita selalu ingat bahwa tiap-tiap kepala (sangat) bisa menyusun kembali kerangka berpikirnya dan memperbaiki sesuatu yang kurang tepat sebelumnya.

    Lebih baik meluangkan waktu meminjam sudut pandang lain untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya (setidaknya berusaha mencari), meskipun sulit dan butuh energi. Daripada terus terkurung meyakini pembenaran hanya karena merasa terluka, meskipun terasa nyaman, Memangnya apa pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi yang terus menerus mengikis kelapangan hati? Selamat bertumbuh. 


Salam,

A.

December 09, 2020

it’s hard to stand on my own feet

this world seems so unfair, once i tried my best to become less selfish and let others win by giving them a second chance. all i’ve got was nothing but a shiz. they left. found their happiness on the other places. and here i am, being left out in sadness and mourning over them, crying myself to sleep almost every night. 

this world seems so blue, i even felt sorry for something i know nothing about, when all i have to think about is myself. how come i pay attention to everything that will left some scars on me, some other day? oh if only i knew.

it's hard to stand on my own feet, the world is too busy saving everyone else but me.

oh my dearest self, find your happiness by standing tall and firm. make your vision clear and concise. just keep going, because you have to save yourself.

November 02, 2020

aku ingin tak lagi menginginkan sesuatu

aku ingin terus di rumah saja.
tidak siap kembali dikoyak dunia.
aku ingin tetap merasa cukup.
tidak siap menghadapi kegagalan lainnya.
aku ingin melarungkan seluruh mimpiku.
tidak siap berlari berkejaran dengan waktu.
aku ingin tak lagi menginginkan sesuatu.
lalu di kalimat ini aku sadar telah gagal.

October 25, 2020

mengapa mengharapkan akhir yang bahagia?

sebelum oktober 2020 usai dan blog semakin tidak terurus, haha. semakin sering menulis berarti semakin banyak pula resah di kepala yang harus dikeluarkan, entah dalam bentuk menangis atau menulis. 

akhir-akhir ini saya banyak nonton film dan serial tv, oh tentu saja hal itu lalu mengurangi intensitas membaca buku, sungguh sebuah selingan~ (dan info yang tidak penting)

sesuatu yang sering saya lakukan sebelum nonton adalah mencari spoiler, ya ini bukan salah ketik. lalu orang sekeliling saya yang nggak banyak-banyak amat itu nanya, apa serunya nonton film kalo uda tau ceritanya? ya justru itu saya mau pastikan nonton film yang memang sesuai dengan harapan saya, termasuk soal akhir ceritanya. karena cukup dalam hidup ini saja semua tidak bisa selalu sesuai harapan, yakan ya mwehehe (kok tetiba sudah sampai kesimpulan)


saya tidak pernah marah ketika orang lain membagikan spoiler, tapi saya berusaha tidak melakukan hal yang sama karena memang pada umumnya itu dihindari. film yang bagus dan jelas penyampaian ceritanya akan membuat saya lupa pernah membaca spoiler, dan pada akhirnya akan tetap merasa “penuh” dengan semua harapan yang terpenuhi di akhir cerita.

akhir yang bahagia memang pilihan yang paling sering saya ambil ketika menentukan akan nonton film apa, poin kedua setelah genre. tiga genre preferensi saya adalah romcom, horror (psychological horror, supernatural horror) dan fantasi.

romcom punya banyak pilihan film dengan akhir yang bahagia tapi horror tidak, bahkan kadang perlu googling “(insert film title here) ending explained” atau menonton ulang untuk tahu maksudnya. mengharapkan akhir yang bahagia dengan nonton film horror saja sudah sebuah ironi, tapi saya tetap melakukannya~

lalu mengapa mengharapkan akhir yang bahagia? ya, nonton film kan sarana untuk lari sebentar dari problematika hidup sehari-hari (jyaa) jadi wajar dong kalo cari yang happy-happy. karena buat saya, konsekuensi menonton film dengan akhir bahagia itu sejujurnya lebih berat daripada film yang berakhir sedih/ tragis. film dengan akhir bahagia membuat saya enggan nonton film baru karena merasa perlu mengingat rasa “penuh” dan bahagianya (wow agak lebay). film yang berakhir sedih mengembalikan saya pada kenyataan secara tiba-tiba setelah 1-2jam larut di dalamnya, bahwa ya di dunia nyata tidak semuanya berakhir bahagia.

lalu kenapa film horror?

nonton film horror itu sarana melawan ketakutan sendiri, jauh sebelum hari ini, saya harus selalu ditemani bapak untuk nonton sinetron dan reality show bertema hantu di lativi. setelah bapak tidak lagi disini, mau tidak mau, suka tidak suka semuanya ya harus sendiri, setelah terus-menerus membiasakan diri akhirnya ya bisa juga. selalu menganggap bahwa yaudahsih film horror serem, tapi kalo balik ke kenyataan, menghadapi dunia luar dan semua tantangannya juga ga kalah serem (ga gitu woy)

nonton di siang hari, nonton di tempat ramai, yakin bahwa saya tidak diberkati kemampuan melihat mereka, dan berusaha mencari hal-hal yang ramashok di film horror bisa menurunkan persentase kengeriannya.

tapi saya nggak selalu bertujuan nyari akhir yang bahagia ketika nonton film horror, ya karena susah juga nyarinya. tapi di genre lain saya usahakan hahaha.


menyenangkan rasanya bisa tahu sesuatu akan berakhir seperti apa.

mengapa mengharapkan akhir yang bahagia? karena harapan baik menjaga kita tetap hidup. 

dengan terus mengharapkan hal baik setiap hari kan meningkatkan probabilitas kebahagiaan terwujud~ (sok tau nih, kaya pegang kunci laboraturium mimpi)

siapa tahu dari sekian banyak harapan yang telah mengangkasa akan dikembalikan satu saja yang sesuai persis dengan kemauan. atau mungkin lebih, ya terserah Tuhan saja, aku sih anaknya ga suka nolak rejeki.

September 13, 2020

Garis Start Setiap Orang Berbeda.

    2020 sudah hampir genap tiga triwulan. Melihat kalender rasanya waktu berlalu begitu cepat, padahal menjalani setiap harinya dengan napas tersengal-sengal. Tahun ini berat untuk semua orang, walau dalam skala yang berbeda. Lini masa media sosial dipenuhi keluhan serta kalimat harapan. Tahun ini sungguh menunjukkan banyak hal, tentang bagaimana kapabilitas negara melindungi rakyatnya, bagaimana para pemimpin meletakkan prioritas dalam kebijakannya, tentang empati dan penerimaan. Tapi tulisan ini tentu tidak akan fokus membahas bagaimana hubungan pemerintah dan covid-19, karena semua sudah ada porsinya, dan hal itu tentu bukan sesuatu yang biasa tersaji di meja makan saya (((meskipun ingin sekali menulis surat terbuka, tapi nyatanya lebih banyak luapan emosi tidak penting)))
    Tahun ini jika masih diberi kesempatan, maka saya akan menghabiskan sepanjang 2020 dengan status sebagai pekerja. Bukan kali pertama saya bekerja secara profesional, namun ini adalah pekerjaan pertama dengan hitam diatas putih yang jelas serta dalam waktu penuh. Saya sering merasa sangat terlambat, ketika tahun pertama saya bekerja adalah tahun kedua atau bahkan ketiga bagi teman saya. Lulus di semester sembilan bukan sesuatu yang mudah diterima bagi si ambis seperti saya. Menerima kenyataan gagal lulus tepat waktu sejak semester enam saja sudah sesak rasanya. Semua itu membuat saya secara konstan mengedarkan CV dan portofolio sejak Oktober 2018, padahal saya baru akan presentasi tugas akhir Januari 2019.
    Tujuan utama saya selepas kuliah adalah bekerja, alasannya sederhana saja, uang. Ya, saya perlu uang untuk menghidupi diri sendiri. Selama kuliah saya adalah penerima bidikmisi, dua semester awal saya termasuk dalam daftar pembayar UKT terendah, lima ratus ribu per semester, jumlah yang amat murah untuk ukuran kuliah sarjana, namun selalu dibayarkan di hari terakhir oleh Kakak. Terlihat drama ya? sayang sekali itu kenyataan yang sulit saya lupa karena di hari itu saya selalu cemas dan hanya bisa berdoa. Tahun pertama saya kuliah, Kakak baru setahun lulus, belum punya pekerjaan tetap tapi harus mengambil alih posisi Bapak. Berat sekali menjadi anak sulung. Tujuh bulan setelah lulus, setelah 9x gagal memenuhi panggilan tes, 10x gagal lolos tes, akhirnya saya mendapat pekerjaan full-time pertama. Banyak sekali jobdesk pekerjaan tidak linier dengan latar belakang pendidikan, namun tetap saya paksakan untuk terus mendaftar, seambisius itu. Beruntungnya, pekerjaan saat ini, linier dengan pendidikan sebelumnya dan seringkali terasa seperti mengerjakan tugas kuliah setiap hari. Saya bahkan tidak memikirkan bagaimana jalur karir setelah lulus, pikiran saya hanya penuh terisi bagaimana cara cepat mendapat pekerjaan, punya gaji, dan tidak lagi jadi beban. Saya ingat betul betapa menyenangkan rasanya dompet terisi dengan uang yang diperoleh sendiri hahaha, itu terjadi saat kerja paruh waktu saat kuliah.
    Seringkali saya melihat betapa teman-teman saya telah jauh di depan. Lalu melihat diri saya amat menyedihkan di depan cermin. Waktu luang yang dihabiskan dengan melihat tayangan 15 detik berisi update kehidupan orang lain nyatanya sering memicu kekhawatiran tak terkendali. Saya sering menghitung berapa banyak yang harus saya tabung untuk a, untuk b, untuk c. Saya memperkirakan berapa lama saya harus bekerja untuk sampai di titik 1, titik 2, titik 3. Lalu 2020 yang luar biasa ini menyadarkan pelan-pelan. Bahwa jalur yang terbentang kedepan ini bukan sesuatu yang harus dibandingkan loh. Membandingkan pencapaian diri sendiri dengan milik orang lain adalah pembahasan tiada ujung. Akan jauh lebih menyenangkan melihat bagaimana proses yang telah dilewati, melihat keberhasilan sebagai cermin untuk selalu bersyukur, melihat kegagalan sebagai bahan bakar supaya semangat untuk terus berjalan. Akan jauh lebih bermanfaat untuk mengelola emosi dengan baik dan mengkondisikannya dalam "tab" netral, supaya tidak lekas goyah melihat bagaimana dunia berputar.
    Garis start setiap orang berbeda, dan kita harus terus mengingatnya sebagai perjalanan, bukan perlombaan. Kata Bapak: tidak apa-apa meskipun “melaju” pelan, asal terus dilakukan. kebiasaan baik itu dilakukan sedikit demi sedikit secara konsisten. Perkataan Bapak itu nampak sesuai dengan bagaimana saya harus bersikap dewasa ini, ditengah situasi yang memaksa saya untuk merutuki keadaan dan larut dalam kesedihan, saya harus tetap mampu menyeimbangkan laju, kapan harus melaju pelan, menerima dan istirahat, untuk kembali melaju dengan kecepatan penuh meraih centang-centang di kolom target.
    2020 yang banyak dikutuk orang-orang ini, adalah kali pertama saya ulang tahun lengkap dengan kue yang diatasnya ada lilin menyala, meski kue dan lilin itu di rumah bersama Ibuk. Tahun ini adalah tahun dimana Arsenal kembali mempertemukan piala FA dan Community Shield. Tahun ini adalah tahun dimana saya akhirnya berani menjelaskan isi kepala saya. Meski 2020 dibenci banyak orang, tapi tahun ini tetap menyediakan bahagia dan banyak waktu berpikir bagi saya.
    Garis start setiap orang berbeda, tapi akan singgah dan finish dimana adalah sesuatu yang selalu pantas diusahakan. Dengan garis start dan bekal yang berbeda itu, semoga kamu tidak takut untuk terus mengusahakan harapanmu ya, Anggi. Kamu pasti bisa, jika tidak hari ini, mungkin, besok, seminggu lagi atau beberapa tahun lagi, siapa tahu? Jangan berhenti meminta dan menunjukkan kesungguhanmu di hadapan Tuhan. 

August 21, 2020

21 milik bapak.

21/8/2012

-

21/8/2020

-

delapan tahun.

hari ini cukup menyenangkan karena bts merilis dynamite yang membuat hati riang gembira.

namun saya tetap tidak lupa 21 agustus delapan tahun lalu. 

bapak pulang.

semoga bapak diselimuti pelukan paling hangat.

semoga kami tetap kuat.

semoga saya mampu menjadi baik.

semoga kelak kami berkumpul kembali.

terima kasih ya, bapak. untuk selalu menjadi cinta yang aman dan nyaman bagi saya.

untuk memberi teladan terbaik tentang apa yang iya dan apa yang bukan.

21 milik bapak, saya takkan lagi membencinya.

teriring doa-doa baik, lahul fatihah...

-

salam,

𝔦𝔫𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔫𝔤𝔤𝔦 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔱𝔦 (rangkaian nama yang engkau pilihkan sendiri)



August 11, 2020

prerequisite.

it's august

and

love doesn't excite me the way i wish it would.

i should go.

o my dear heart, we can start all over again.

in the middle of chaos

i long for a safe and sound sleep.

August 03, 2020

Arsenal, Agustus dan Saya

    Awal Agustus ini ternyata cukup menggembirakan dengan piala FA Cup ke-14 yang kembali dibawa pulang Arsenal. Sesuatu yang sungguh amat saya inginkan, meski harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri untuk prepare for the worst karena yah, memangnya apalagi yang bisa dilakukan penggemar Arsenal di musim yang kacau ini.
Surprisingly, permainannya malam itu juga cukup bagus apalagi setelah water break dan di babak kedua, meskipun sempat serasa disambar petir di menit-menit awal karena Chelsea melesatkan gol lebih dulu. Pertemuan dengan si biru memang tidak pernah biasa, kartu merah untuk Chelsea membuat mereka melanjutkan permainan bersepuluh saja. Arsenal yang tak kalah sering membuat blunder, malam itu cukup pandai menguasai diri dengan terus bersebelas hingga akhir permainan. Meskipun Luiz dan Giroud beberapa kali "bersentuhan", melihatnya saya otomatis nyeletuk "wow pertikaian mantan", meskipun hingga kini masih terasa aneh (dan sedikit kesal) bagi saya melihat Giroud berseragam biru dan bermain melawan Arsenal.
    Hari-hari setelah selebrasi juara FA Cup akan kembali diisi dengan kekhawatiran, pertama soal perpanjangan kontrak Aubameyang, dia adalah pemain kunci yang hampir selalu menyelamatkan Arsenal pada setiap pertandingan, bahkan 2 gol kemenangan kemarin adalah buah kaki Auba. 
Penantian ini membuat kami berlomba-lomba terus menumbuhkan harapan ditengah banyaknya kabar yang membuat resah soal tawaran-tawaran yang datang padanya (ya, klub mana yang tidak tertarik pada pemain yang jadi langganan kandidat top scorer). Para fans Arsenal memperhatikan setiap unggahan akun official bahkan sampai tahap menganalisa emoji yang digunakan. Entahlah. Tapi memang sebesar itu harapan kami agar Aubameyang tetap bertahan. Kami seolah tidak kapok berharap pada pemain top yang bisa kapan saja membuat keputusan yang mengecewakan dengan menetap ke klub rival, Ashley Cole, Robin van Persie, Cesc Fabregas etc
Aubameyang tentu bukan pemain yang kami harapkan untuk mengikuti jejak mereka.
    Kedua soal Community Shield yang lawannya adalah Liverpool, bagaimana tidak, Liverpool pasti tidak akan tinggal diam setelah Arsenal membuatnya gagal meraih the Centurions di liga primer musim ini, kepercayaan diri mereka setelah menjuarai liga primer juga pasti jadi bekal ampuh untuk laga mendatang, sungguh amat tulus doa saya agar Arsenal tetap baik-baik saja 29 Agustus nanti, hal yang selalu saya ucapkan saat titik kritis di babak kedua setiap Arsenal bermain adalah "gapnya jangan jauh-jauh dong plis".


    Saya tidak pernah nyaman menyandarkan harapan kemenangan pada Arsenal, tapi Arsenal adalah salah satu hal yang tidak pernah punya cukup alasan untuk dapat saya tinggalkan.
Saya bukan tipikal fans yang terus menerus memuji klub idolanya setinggi langit (apalagi di musim paling menyebalkan seperti ini) tapi nyatanya setelah mengumpat berkali-kali saya akan tetap kembali mendukung Arsenal sepenuh hati. Sesak memang menghadapi kenyataan menjadi penggemar Arsenal, tapi setelah melihat daftar klub liga Inggris rasanya tidak ada klub lain yang pantas menerima ketabahan saya selain Arsenal (LAH NARSIS) tidak ada klub lain yang sanggup membuat saya jatuh cinta selain Arsenal. 
Oh ya, hadirnya Kieran Tierney dalam skuad Arsenal musim ini juga adalah angin baru yang tak hanya menyejukkan pola permainan Arsenal, tapi juga mata saya. Setelah kepergian RvP (lagi-lagi pada Agustus, 2012) saya tidak lagi mencurahkan fokus ke salah satu pemain sampai melabeli diri sebagai bucin (waktu itu tentu istilah ini belum lahir). Namun setelah melihat KT dan permainannya, semua berubah. *sfx ciecie* Awalnya saya skeptis, biasanya pemain berparas rupawan di Arsenal bermain biasa saja, rata-rata air, tapi ternyata KT mampu membuktikan keraguan itu tidak benar. Hal lain yang menarik perhatian adalah kausnya yang selalu dimasukkan ke dalam celana, dan itu bertahan sampai peluit akhir permainan ditiup, sungguh kerapian yang paripurna. Tak berhenti di penampilan saja, kesederhanaannya begitu nampak jelas ketika dia turun dari bus pemain dengan membawa kantong plastik minimarket, lalu permintaan maafnya ketika mengacungkan jari tengah saat foto bersama di ruang ganti, foto yang tidak sengaja diunggah Emi itu langsung mengalihkan fokus netizen pada jari tengah KT dan yang paling baru adalah kebingungannya untuk merayakan gol pertamanya di Arsenal, wajahnya terlihat datar dan tidak percaya bahwa bola assist dari Aubameyang telah ia lesakkan ke gawang Watford. 
Arsenal lagi-lagi membuat satu alasan tambahan untuk dicintai dengan membuat saya kembali menjadi bucin pada salah satu pemainnya, dan hal ini justru terjadi pada musim terburuknya.
    Saya selalu tidak percaya diri menghadapi Agustus setiap tahunnya. Bahkan saya tutup semua akses menuju tanggal lahir saya yang jatuh di Agustus itu. Karena tepat setelahnya, momen itu kembali membayangi. Saya hampir selalu menantikan sekaligus ingin menghindari Agustus pada saat yang bersamaan. Namun seperti tagline kemenangan Arsenal di FA Cup tahun ini, Always Forward. 
Sesulit apapun kondisinya, harus selalu maju kedepan, tidak ada gunanya terus memandangi masa lalu yang sudah pasti tidak bisa diutak-atik, pun dengan terus ketakutan pada Agustus di tahun-tahun yang akan datang, hanya karena satu Agustus yang menyedihkan.
    Terima kasih Arsenal, untuk membuka Agustus dengan kemenangan yang menjelma jadi pelukan paling hangat. Hasil apapun selanjutnya di Agustus ini serta musim-musim selanjutnya, saya akan tetap menjadi pendukungmu garis yak-yakan. Terima kasih Arsenal, untuk membuat jatuh cinta kembali terasa menyenangkan. Meski tetap saja alasan terbesar sakit kepalaku juga karena kejutan-kejutan (re: blunder) permainanmu.

Salam,
Anggi yang masih goonerette.

July 16, 2020

Merayakan Sedih dengan Dangdutan

    Saya yakin 2020 bukan tahun biasa, bagi semua orang termasuk saya. Bahkan 2019 yang saya pikir telah jadi tahun paling jatuh bangun saja ternyata harus mengalah ke posisi kedua, setelah 2020 datang dengan efek yang luar biasa mengagetkan.
Awal tahun ini saya dihantam badai cukup keras (cie gitu) dan ternyata hal itu terus berlanjut ke bulan-bulan berikutnya. Hingga kenyataan bahwa lebaran tahun ini harus dihabiskan di tanah rantau yang yah emang gak jauh-jauh banget, masih sepulau ini, tapi tetap nylekit sedihnya.
    Sebagai warga twitter mentok yang tidak ada sehari pun dilewatkan tanpa membuka twitter saya sangat disiplin mengamati timeline, termasuk semua tren jokes receh dan video tik-toknya. Pada hari itu saya tidak sengaja memutar video mbak-mbak yang sedang menuang deterjen ke bak cuci dengan tangisan, diiringi backsound lagu yang sedih sekali, tbh i feel bad for her:( tapi saya ketawa juga:( maaf mbak, hope you're okay now. 
Lalu saya dengan segera mencari lagu itu di spotify, wah sedih maksimal. Seiring lagu berlalu, daftar putar beralih acak ke lagu rekomendasi yang lain, lama kelamaan saya baru sadar saya sudah beberapa menit mendengarkan lagu campursari, dangdut dan surprisingly genre yang dulu paling saya hindari DANGDUT KOPLO :)
    Setelah hari itu daftar putar spotify saya sudah tak lagi sama. Saya telah sepenuhnya menerima realita bahwa saya telah menjilat ludah sendiri, dengan menjadikan lagu-lagu dangdut koplo menjadi backsound sehari-hari. Lirik-lirik yang sederhana, ringan dan irama musik yang membangkitkan semangat, sekalipun nyatanya lagu itu ceritanya sedih maksimal. Lagu-lagu ini jauh lebih powerful untuk membangun mood bekerja yang lebih baik, jauh lebih baik dari quotes milik orang-orang terkenal.
    

Setelah menyusun daftar putar berisi lagu-lagu baru favorit saya, menangis bisa sambil menari, lompat-lompat, pegang remote seakan sedang menggenggam mic penyanyi papan atas, bahkan plank series yang selama ini diiringi mbak Taylor Swift, Sam Smith atau John Mayer kini sudah terganti dengan suara mbak Nella Kharisma, Via Vallen, Denny Caknan, ILUX dan alm. lord Didi.
Inilah tujuan menangis yang sebenar-benarnya, membebaskan pikiran dengan cara yang sehat HAHAHAHA!
    Berikut adalah lirik-lirik favorit yang akan saya ulang jika saya tidak sengaja melewatkannya (ok~ penting):
~Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo, mung dibutuhno pas atimu loro 
~Kowe tak sayang-sayang saiki malah ngilang, tresnamu karo aku kuwi mung kiasan. Kowe tak gadhang-gadhang, tegane gawe wirang. Anggonku labuh kowe, opo sih kurang?
~Tresnomu koyo telo, anane mung nyereti. (ini favorit banget sih soalnya lucu abis liriknya tapi kalo kedaleman suka langsung banjir sih ya matanya:))
~Ambruk cagakku nuruti angan-anganmu, sak kabehane wes tak turuti tapi malah mblenjani, budalo malah tak duduhi dalane, metu kono, belok kiri, lurus wae!
~Cidro janji tegane kowe ngapusi, nganti seprene suwene aku ngenteni. Nangis batinku nggrantes uripku, teles kebes netes eluh CENDOL DAWET :)
~Yen pancen tresno rasah kakean haluan, ra usah ragu mergo kahanan, prei kanan kiri, ucapne janji yen sido mantenan lan bakal bebrayan, ra sah menggak- menggok, jodohmu mesti tekan :))
~Yowes ben tak lakoni nganti sak kuat-kuate ati, pesenku mung siji, sing ngati-ati
~Nganti kapan abot iku ora mok dukung, mung dadi konco mesra mergo kependem cinta
    Dengan dangdut, saya menangisi patah hati dengan suasana yang gak sedih-sedih amat, alih-alih diam diatas meja, kedua tangan saya memilih bergerak dengan bebas mengikuti alunan gendang dan kicrikan yang saya dengar. Sebelum ini, kegiatan menangis hanya dilakukan dengan sangat monoton, membasahi bantal dan guling, memandangi cermin lama-lama sampai benci melihat diri sendiri. 
Kalau ibuk tahu mungkin ibuk akan tertawa sangat lepas, bagaimana tidak? anak perempuan satu-satunya yang selama ini protes saat dirinya menonton liga dangdut indosiar selama lebih dari 5 jam setiap hari, kini telah berubah menjadi pendengar garis keras lagu-lagu yang sering dibawakan di acara itu.
    Tidak seorangpun mengharap hal buruk singgah dalam hari-harinya, YAIYALAH. Tapi ketika hal itu terjadi, bahkan untuk sesuatu yang telah kita perhitungkan resikonya, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menerima dan menikmatinya. 
Telan saja pahitnya! Tidak ada kesedihan yang permanen itu juga jaminan bahwa kegembiraan bisa datang dari mana saja dan kapan saja. 
Hang in there, babe! you're doing great.

*diiringi tabuhan gendang*
Salam tatakgentakgeorge!,
a.

July 13, 2020

menangis

sebuah jurnal pengingat untuk anggi di masa depan, menangis itu tidak apa-apa, asal ibuk tidak tahu dan berdoalah Tuhan tidak memberitahu bapakmu.

    sekian banyak kegiatan yang bisa dilakukan, kenapa ya saya menjatuhkan pilihan untuk menangis? kadang saya bisa merasakan bahwa sudah lama tidak menangis membuat reaksi tubuh terhadap stress muncul kembali. tubuh saya bereaksi cukup buruk terhadap stress, dalam skala ringan rambut saya akan rontok lebih banyak dari biasa, dalam skala yang parah saya akan sakit perut dan bolak-balik wc lebih dari 5x. setelah menangis maka reaksi stress itu cukup mereda.
    saya cukup beruntung bisa mengenali reaksi stress dalam diri saya sendiri, karena sering kali saya mengabaikan perasaan saya sendiri. saya merasa baik-baik saja setelah melalui kejadian tidak menyenangkan, tapi saat menyisir rambut, helaian yang jatuh jauh lebih banyak, saya bisa tetap merespon obrolan dengan baik, tapi ketika itu pula saya harus bolak-balik ke wc. dengan reaksi tersebut, tubuh saya sedang memberi sinyal bahwa saya butuh waktu untuk menangis dan menata kembali folder-folder di kepala. mana folder yang harus direlease, tetap disimpan dan mana yang harus benar-benar dihapus.
    dalam folder tersimpan ada banyak hal yang masuk kategori "work in progress", sebagai pribadi yang sulit memaafkan kesalahan orang lain saya butuh waktu lama menyelesaikan suatu urusan yang tak menyenangkan. saya langsung menelan semua perasaan sedih dan kecewa, dalam etalase rasa cukup banyak toples pengalaman dengan berbagai rasa dan tingkatan yang berbeda, suatu saat ketika dibutuhkan, saya akan mengambil toples yang sesuai untuk menjadi pengingat atau bekal menjalani sesuatu yang baru.
kembali dalam kategori "work in progress", saya biasanya telah final memaafkan seseorang ketika telah mampu menertawakan kejadian itu dan menjadikannya konten kocak berupa meme atau cuitan yang tidak begitu penting. saya tidak pernah memaksa diri untuk memaafkan sesuatu, saya sadar betul batas kemampuan saya. 
    satu yang pasti, saya tidak akan pernah membalas, setelah melalui fase menyedihkan saya akan membawa pulang toples pengalaman dan ketika telah meninggalkan tempat itu maka daftar tempat terlarang dikunjungi dalam buku catatan saya akan bertambah. sikap saya terhadap subjek yang membuat fase menyedihkan itu terjadi akan berbeda-beda, namun hanya ada dua pilihan, diantara saya tetap berteman baik atau bersikap seolah-olah keberadaannya serupa partikel debu mikroskopis.
ya, bukan hal sulit untuk saya berlaku sedemikian kejam terhadap subjek yang sudah meruntuhkan tembok percaya diri yang saya bangun setiap hari.
setiap hal yang terjadi selalu berhubungan erat dengan tembok ini, kepercayaan diri saya adalah tembok paling kuat yang saya pertahankan, sekaligus tembok paling rentan dalam hubungannya dengan manusia lain.
berkali-kali saya menyalahkan diri sendiri ketika tembok ini runtuh, tapi hari ini saya adalah orang pertama yang akan kembali memperbaikinya saat ada barang sekepingpun yang jatuh darinya.
    memaafkan dan mempertahankan kepercayaan diri itu adalah dua hal yang harus saya jaga keseimbangannya. saya pernah dengan sangat gegabah memutuskan mengampuni kesalahan besar subjek yang begitu lekat dalam ruang ingatan, lalu pemaafan itu berujung pada ringkihnya tembok kepercayaan diri, saya begitu mudah menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak pantas menerima kebahagiaan. menangis seolah jadi jalan pintas untuk meredakan konflik dalam ruang penyimpanan folder yang terlanjur berantakan, padahal saat itu menangis tidak meredakan apapun, lalu tubuh bereaksi dengan sangat jelas dan membuat saya semakin menyedihkan di depan cermin.
    hari ini, saya akan tetap menangis kapanpun saya butuh merelease folder tertentu. saya akan memaafkan ketika telah siap dan selesai merapikan foldernya, dan saya akan terus mempertahankan tembok kepercayaan diri dengan atau tanpa bantuan subjek manapun.
dulu saya pernah bertanya pada bapak yang pernah menulis kata berdikari di buku hariannya, bapak bilang berdikari itu artinya berdiri diatas kaki sendiri. saya merespon itu dengan mata berbinar dan menganggap kata itu hebat sekali jika bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari, dan bapak pun mengamininya, siapapun itu, lelaki atau perempuan, ketika telah dewasa harus mampu berdikari. dalam artian yang sebenar-benarnya.
dalam hal ini, saya mencoba langkah kecil untuk berdikari atas segala penguasaan emosi dan pengendalian diri sendiri.

selamat terus belajar menjadi kebaikan dan orang baik, anggi.
selamat terus berusaha memaafkan dan mengambil pelajaran.
sebelum hidup kaya raya, mari hidup kaya rasa, hahaha~

July 03, 2020

menumbuhkan percaya



setelah melalui beberapa episode yang kurang menyenangkan, saya selalu berusaha keras menumbuhkan percaya. percaya bahwa kebaikan selalu ada, terhampar dimana-mana.
saya terus berusaha menumbuhkan percaya sambil terus bertanya-tanya:

"apakah saya layak menerima kebaikan?"

"bagaimana cara meletakkan percaya di tempat yang tepat?"

"bagaimana memaafkan?"

semua pertanyaan diatas tidak pernah benar-benar saya temukan jawabannya hingga kini.
saya pemalas yang menghindari resiko. tidak berusaha mencari jawabannya karena takut menerima kenyataan yang berlawanan dengan harapan.
kritik dari diri sendiri jauh lebih banyak daripada kritik yang saya terima dari orang lain.
selalu merasa jadi orang yang paling rapi menyimpan dendam, lalu memperlihatkan wajah yang biasa saja.

disisi lain, saya yang marah pernah berpikir:
"menangis berkali-kali bukan jaminan luka akan enggan menghampiri, ikut ambil bagian menyembuhkan sakit orang lain bukan jaminan kau takkan merasakan sakit yang sama, menjadi orang baik juga bukan jaminan kau akan diperlakukan dengan baik pula. lalu kenapa tidak berbuat semena-mena saja? daripada harus menjadi satu-satunya yang menanggung kecewa."

lalu yang muncul hanya kalimat sanggahan semacam ini: "kau akan dan selalu baik-baik saja. pilihlah pilihan-pilihan baik yang tak menyakiti orang lain. kau tetap berhak melindungi dirimu sendiri, meskipun harus melalui kesulitan. berusahalah menjadi baik."

bapak melarang saya berbuat hal-hal buruk, ibuk pun demikian. mereka selalu memberi pengertian ketika orang lain melakukan sesuatu yang tak kita kehendaki, itu bukanlah niat buruk mereka, anggap saja itu diluar kesengajaan.
bapak dan ibuk mungkin bisa dan terbiasa melakukannya.
tapi anak perempuannya tidak. beberapa hari ini saya baru sadar, saya bertindak jauh dari harapan mereka. saya mendendam, saya menuduh, saya menyeret semua orang merasa bersalah.
bapak dan ibuk membuat saya selalu percaya kebaikan ada bersama saya, mengiringi setiap langkah.
maka untuk kembali pada jalan yang sudah ditunjukkan bapak ibuk, saya harus kembali diam dan sedikit demi sedikit meluruhkan dendam. supaya tidak lagi menyebabkan luka untuk orang lain.

saya menangis sendirian, sedangkan saya tahu itulah hal yang paling dibenci bapak dan ibuk. 
tetap berdiri hingga hari ini bukan pilihan, saya terus melakukannya karena hati bapak dan ibuk tak pantas dihadiahi kecewa.
telinga saya sakit luar biasa menahan tangis menulis blog hari ini.
air mata tetap jatuh, harapan juga belum kembali utuh.

saya ingin menjadi kebaikan yang mengelilingi orang lain seraya kembali menumbuhkan percaya, dalam diam, dengan aman.

semoga dimampukan.

July 01, 2020

pesan ibuk.

"tidak apa-apa, jangan putus asa, tolong jangan patah hati, ya." pesan ibuk melalui sambungan telepon.

seperti biasa telingaku sakit menahan tangis menulisnya.
terasa dua kali lebih menyakitkan daripada saat mendengarnya langsung kemarin.

June 20, 2020

melihatku menerima

jika perasaan memiliki skala yang terukur, aku sungguh ingin tahu hari ini sedang berada di angka berapa.

[revisi 1]
jika perasaan memiliki skala yang terukur, aku akan menerima tanpa harus bertanya kenapa.

[revisi 2]
jika perasaan memiliki skala yang terukur, aku pasti tetap kewalahan menerimanya.

kau tahu kenapa?
sebab aku selalu buruk berurusan dengan angka.

selamat malam, 
a.

June 15, 2020

lalu lintas kepalaku sedang kacau

(I)
jalan yang satu penuh rasa bersalah, jalan yang lainnya disesaki rasa marah.
seluruh trotoar dipenuhi tumpukan kertas berisi syair-syair yang tak sempat dikumandangkan.
sebagian terbang mengikuti tiupan angin, sebagian yang lain hanyut bersama arus selokan entah menuju kemana.
seluruh lampu lalu lintas kompak berhenti pada warna merah, sementara semua harapan terus lalu lalang.
tak peduli apabila saling menggores luka satu sama lain.
pembatas jalan sudah sejak lama tak lagi utuh, berkali-kali dihantam kenyataan yang melaju kencang dini hari.
lalu lintas kepalaku sedang kacau dan aku tak sanggup melakukan apapun untuk memperbaikinya.

saat ini aku hanya ingin menikmati sedihku sendiri, tanpa interupsi.

(II)
bila sudah begini, bagaimana caranya menumbuhkan tunas-tunas bernama percaya?
benihnya telah kusimpan sejak lama, di dalam kertas berisi syair-syair itu.
tapi
lalu lintas kepalaku masih kacau dan aku tak mungkin berjalan menyusurinya.

sampai nanti aku berjanji untuk hanya mempercayai diriku sendiri.

(III)
entah bila, aku hendak mengubah konklusi poin I dan II.
lalu lintas kepalaku pernah kacau dan aku tak pernah benar-benar merapikannya.

aku masih dibayangi sisa-sisa kekacauan masa lampau.

(IV)
yang terlewat diketahui dunia,
aku adalah gabungan luka, kecewa, sedih dan amarah dari masa ke masa.
dan kendaraan bahagiaku tidak selalu melaju sempurna.

lalu lintas kepalaku sedang kacau.
sehingga tulisan ini sebaiknya tak perlu dibaca dengan saksama.

salam,
a.

sebuah deskripsi dalam folder jangan lagi

    setelah menyikapi patah hati, kemudian menikmati jatuh hati, kini saya harus kembali ke titik awal, mendeskripsikan patah hati.
pernah tidak, ada di titik ketika menangis rasanya tidak meredakan apapun lagi?
seseorang tidak lagi merasakan sakit di dada saat dihantam kenyataan yang tak sesuai harapannya, tidak pula ada nyeri di kepala saat waktu tidurnya terlambat beberapa jam dari biasanya.
perasaan akibat banyak kejadian buruk datang bertubi-tubi ternyata sesulit ini dideskripsikan.
saya selalu berpikir saya telah cukup kuat setelah melewati satu gerbang kesulitan, tapi ada saja hal baru yang datang diluar dugaan.
saya kira saya well-prepared, ternyata masih selalu kalah dibawah kelemahan diri sendiri; 
terlalu banyak memaklumi, 
tidak tegas pada diri sendiri, 
banyak berkhayal.

    saya adalah satu-satunya yang memahat kecewa, lalu mengajak hati lain ikut serta merasa perlu bertanggung jawab.
saya adalah yang paling bersalah untuk setiap kalimat ringkas yang tertulis jelas, sebab seluruh kata itu menuntun saya pada gerbang sakit hati yang lainnya.
saya adalah penulis skenario yang paling tidak bertanggung jawab, saya memilih peran yang salah, saya menulis cerita yang membuat tokoh lain merasa lelah.
saya adalah satu-satunya yang pantas kalah, dalam sebuah pertandingan yang tidak pernah sekalipun dimulai.

    deskripsi patah hati bagi saya adalah seluruh isi paragraf kedua dalam tulisan ini.
esok dan seterusnya akan saya layangkan maaf menuju langit luas, supaya lepas segala risau, supaya bahagia kembali pada masing-masing jiwa yang pernah mencoba usaha terbaiknya.
teruntuk seluruh cerita yang pernah dengan sengaja saya rangkai, akan saya rapikan hari ini, folder itu saya beri nama: jangan lagi.

    untukku di masa depan, banyak-banyaklah membaca, supaya kau lekas pandai mengartikan sebuah tanda. teruslah menulis hal-hal baik dengan jelas, hingga kau tak harus berkali-kali menghapus dan mengetik ulang. tetaplah berdiri dengan kepala tegak, sebab betapapun mengecewakannya keputusan yang kau buat sendiri, ingatlah bapak tidak pernah tidak bangga melihatmu seberani hari ini.
kau tidak lagi pulang untuk mengadukan segala resah yang disimpan sendiri, maka kuat-kuatlah.
kau tidak lagi menangis untuk mengundang simpati, maka tersenyumlah.
kau sudah melewati sesuatu dengan susah payah, maka belajarlah.
terima kasih, masih terus berjalan dan menopang diri sendiri hingga hari ini. 
tidak perlu sibuk mencari, perhatikanlah langkahmu sendiri. tolong, jangan lagi.

    untukmu, berbahagialah. sisakan sedikit maaf untukku.

salam,
a.

internal memo (6)

Baru semalam berencana menyudahi seri ini.
Nyatanya malah terbit episode baru yang sungguh diluar ekspektasi.
Tiba-tiba ada di level yang mana kamu tahu itu sakit, tapi tidak ada air mata yang keluar.
Luar biasa ya kejutan kehidupan, tuh.
Boleh minta jeda napas bentar ngga?
Setelah sakit-sakit yang kemarin itu, kukira sudah saatnya merawat harapan.
Ternyata terlalu asyik merawat harapan sampai lupa menginjak bumi.
Salah sendiri.
Anggi, sudah saatnya untuk hanya percaya pada diri sendiri.
Sudah saatnya untuk tidak terus mencari.
Sudah saatnya berhenti.

Selamat subuh.
Anggi, dirimu berarti.

June 13, 2020

Menikmati Jatuh Hati

Anyeong yeorobun~
Hehehehehehehehe... agak tumben banget ya judul postnya ga mellow sedih-sedih, capek banget kayanya brandingan blognya kelam terus???
Beberapa bulan terakhir ini saya baru sadar penuh bahwa ternyata perasaan bahagia itu muncul dari mana saja.
Dari semua kemungkinan, bahagia karena jatuh hati terhadap seseorang atau sesuatu itu yang paling menyenangkan untuk dirasakan. Rasanya seperti dipeluk, hangat.
Anyway, sejak awal tahun ini saya rutin mengisi diary di app presently, dimana saya hanya boleh menuliskan hal-hal baik yang saya syukuri.
Jadi hari ini saya ingin menulis daftar kebahagiaan ketika saya sadar telah jatuh hati, siapa tahu di masa depan bisa jadi mantra untuk menguatkan diri sendiri.

1. Jatuh hati pada gerak tubuh.
Ternyata bergerak itu membebaskan! Saya bahagia sekali pernah punya keinginan kuat menurunkan berat badan dan mulai olahraga. Awalnya saya pikir semangat itu takkan bertahan lama, tapi nyatanya hingga 5 bulan berlalu saya masih berusaha mengikuti jadwal olahraga yang saya buat sendiri. Bahkan, untuk pertama kalinya saya beli baju olahraga lengkap dengan matras yoga, ahahaha sungguh kemauan kuat yang sudah lama tidak menghampiri! 
Hari ketika saya menulis ini, saya telah mengurangi berat badan sebanyak 8kg! Ternyata bisa ya.
Sore tadi saya memandang lekat-lekat diri sendiri di cermin, rasanya belum pernah merasa sebahagia ini melihat diri sendiri. Semoga bahagianya terus bertahan lama.

2. Jatuh hati pada wewangian.
Sebelum membaca pentingnya mindfullness, saya tidak terlalu memperhatikan wangi apa yang saya kenakan, parfum, lotion, sabun mandi, semua saya beli berdasarkan diskon paling menguntungkan yang saya lihat. Tapi hari ini, saya menikmati setiap kali wewangian itu menyapa hidung ahahaha!
Wangi manis vanilla dari parfum, wangi segar buah dari sabun mandi dan wangi bunga dari lotion, rasanya menyenangkan sekali dikelilingi wewangian yang membuat hati gembira.

3. Jatuh hati pada tanaman!
Hmm, lumayan terbaca aneh ya, tapi suatu prestasi bagi saya di tahun 2020 ini bisa merawat beberapa pot tanaman, meskipun ada juga yang harus direlakan menjadi pupuk kompos, karena mati.
Setidaknya tanaman itu tak mati sia-sia, tapi saya jadi belajar banyak hal, bahwa karakter setiap tanaman itu unik dan harus lebih jeli mengamati tumbuh-kembangnya setiap hari.
Saya juga sering ngobrol dengan tanaman-tanaman saya, ahaha, meminta maaf dan minta agar mereka mau bertahan hidup bersama saya (???)
Bahagia sekali rasanya jatuh hati lalu melihat mereka bertambah tinggi, daun-daun baru unfurling, juga menerima protes melalui warna daun yang kekuningan ketika ada yang salah dengan cara saya merawat mereka.

4. Jatuh hati pada Arsenal.
Bukan hal baru, saya sudah jatuh hati sejak lama, tapi rasanya setiap hari seperti kasmaran. Excitementnya tetap sama, deg-degannya masih selalu ada, posesifnya ketika dengar rumor transfer pemain juga tidak berubah sejak dulu pertama saya kenal klub ini.
Lalu karena pandemi, liga yang ditunda beberapa waktu itu ternyata menumbuhkan rindu luar biasa. 
Meskipun tidak jarang, saya emosi menonton pertandingan yang sudah ditunggu-tunggu, tapi nyatanya jatuh hati membuat saya selalu kembali mendukung wholeheartedly!

5. Jatuh hati pada Jakarta!
Lebaran 2020 adalah pertama kalinya saya tidak menghabiskan hari raya di rumah. Coronavirus memaksa saya bertahan di Jakarta, sepanjang puasa dan masa wfh saya mengurung diri di kamar. Lantas, bagaimana saya bisa bilang saya jatuh hati pada Jakarta?
Jakarta adalah kota kedua yang ingin saya selami setelah Surabaya, tidak ada alasan istimewa untuk saya memilih Jakarta, saya hanya butuh pekerjaan layak untuk segera menghidupi diri sendiri, dan di Jakarta lah pilihan itu bisa sedikit lebih mudah ditemui.
Setelah sembilan bulan di Jakarta yang saya habiskan dengan tidak banyak kemana-mana, 
saya telah jatuh hati pada trotoarnya yang lebih banyak direbut pengendara motor, 
pada suara mrt di atas kepala saya, 
pada kebiasaan mereka mempertanyakan kata aku-kamu, 
pada klakson yang sama galaknya dengan matahari Surabaya, 
pada nasi yang tak ditanak hingga pulen di warung-warung makannya, 
pada semua yang sungguh tidak saya bayangkan akan terus saya maklumi, 
saya yang susah memaklumi sesuatu yang tak ideal, kali ini harus berlapang dada hidup berdampingan dengan ketidak-idealan yang semakin terlihat nyata setiap hari.
Bila jatuh hati perihal menerima dan membiasakan diri, maka saya yakin telah jatuh hati pada Jakarta.

6. Jatuh hati pada seseorang.
Hehehehehe, jadi malu. Agak geli ya, mengaku pada diri sendiri kalau sedang jatuh hati.
Tapi apa boleh buat, telan saja. Meskipun tidak tahu besok, lusa, tiga bulan atau tahun depan akan jadi seperti apa atau menuntun ke arah mana.
Saya berusaha menikmati prosesnya. Meskipun lebih banyak khayalan manis yang hanya berputar di kepala, tapi setiap hari saya sampaikan semuanya pada Tuhan.
Siapa tahu Tuhan bilang boleh,
siapa tahu ceritanya nanti seperti yang diharapkan,
siapa tahu...
Menyenangkan rasanya punya semangat untuk terus menyayangi diri sendiri lebih baik lagi.
Ya, saya mungkin jatuh hati pada seseorang, tapi setelah belajar dari yang sudah-sudah, saya tidak akan membiarkan diri saya kehilangan jati diri. 
Saya tidak akan berjuang terlalu keras untuk fit-in dalam standar orang lain dengan mengabaikan kebahagiaan diri sendiri, saya mungkin tidak akan berlari mengejarnya, saya akan membebaskan semuanya, semaunya.
Saya hanya ingin menikmati proses jatuh hati, karena ketika saya jatuh hati, lagu sedih tidak terasa perlu ditangisi, jari jemari saya lebih lincah menari diatas keyboard, saya tersenyum lebih banyak, dan yang paling penting saya bisa menerima diri sendiri jauh lebih baik lagi.
Apapun yang terjadi nanti, sesuai ataupun tak sesuai harapan saya, tentang kepada siapa saya jatuh hati, saya telah membebaskannya sejak hari ini.
Sesuatu yang sudah digariskan untuk bersama saya, akan menemui jalannya hingga sampai ke depan mata.
Sebaliknya, sesuatu yang bukan untuk saya, takkan bertahan meski digenggam sekuat tenaga.
Saya mungkin rajin meminta skenario di kepala saya ini jadi nyata, hanya saja saya tidak banyak tahu.
Tuhan lebih tahu, jadi sudah sepantasnya saya ikut apapun jawaban yang dikirimkan di masa depan.

Hari ini, ketika saya sadar telah jatuh hati, saya membaca kembali surat-surat yang pernah saya tulis, entah apakah yang dituju sudah membacanya atau bahkan sama sekali tak merasa ditunjuk, satu yang pasti, thank you for the chance to crossing each other's path! 

Que sera sera whatever will be, will be!

Jika menikmati jatuh hati seindah ini dan saya menyadarinya sedari dulu, mungkin saya takkan terlalu lama diam memaklumi kesalahan berulang yang merampas kepercayaan diri untuk sekedar mengunggah swafoto di media sosial, yang berkali-kali membuat saya meragukan diri sendiri, yang terus memaksa saya terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak.
Menyesal itu salah satu tanda seseorang sudah belajar, kan?
Semoga tulisan ini selalu jadi pengingat untuk tidak lagi menggadai kebahagiaan diri sendiri hanya untuk merasa dicintai.

Salam,
A.

May 22, 2020

Bapak dan Lebaran

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama saya tidak di rumah bersama ibu dan kakak. Sebagai orang yang hampir selalu menangis bahkan untuk hal-hal kecil sembari tetap wani ngadeg jejeg mantep*, saya tidak merasa hal ini sulit dilakukan. Namun, sedih jelas ada. Memangnya manusia macam apa yang tidak sedih merayakan lebaran jauh dari keluarga?

Lebaran tahun ini tidak ada pagi yang ramai dengan barisan makanan di meja, tidak ada wangi cat yang baru beberapa hari menempel di pintu dan jendela, tidak ada momen ingin-menangis-tapi-gengsi saat minta maaf pada ibuk dan kakak, tidak ada tamu-tamu yang saling mengunjungi satu sama lain.
Banyak ketiadaan di lebaran tahun ini. Meski bagi saya ketiadaan yang paling nyata adalah tidak adanya Bapak di rumah kami.
Tahun ini adalah tahun kedelapan Bapak tidak merayakan lebaran bersama kami. Hari ketiga lebaran 2012 adalah waktu Bapak pulang, menuju tempat istirahat yang jauh dan lapang.
Tahun itu adalah tahun pertama saya melewati lebaran yang sangat kelam, menyambut ulang tahun ke-16 dengan amat berat hati.
Bapak pulang pukul lima pagi seusai subuh, sehari sebelum hari kelahiran saya. Beberapa hari sebelum kepulangannya, Bapak berpesan "kapan mau mandiri? bapak itu tidak hidup selamanya" sembari mengantar saya ke depan pintu kamar mandi.
Bagaimana pesan itu disampaikan, melihat cara bapak berdiri, melipat tangan sambil memandangi langit-langit. Hingga kini saya masih ingat dengan jelas.
Sebab, bagaimana mungkin kamu melupakan pesan yang akan terus berguna untuk hidup bertahun-tahun ke depan?

Lebaran tahun-tahun berikutnya suasana rumah kami tak jauh berbeda, hanya saja kami tak lagi mencium wangi Bapak ketika keluar dari kamarnya, kami tak lagi melihatnya mengaduk kopi hitam setiap pagi, bangku favorit Bapak di depan meja TV tak lagi terisi, daun-daun jatuh di kebun tak lagi diolah menjadi kompos.
Lebaran kami tak jauh berbeda setelah Bapak pulang.
Melainkan perasaan kami melihat rumah dan seisinya lah yang berubah.

Lebaran 2020 memang berat dijalani, tapi saya pernah melalui lebaran yang jauh lebih sulit daripada kali ini.
Bapak memang tidak akan merayakan lebaran bersama kami lagi, tapi saya harus bersyukur bahwa Ibuk dan kakak masih berada di satu dimensi waktu yang sama.
Bapak memang tidak terlihat mendampingi kami, tapi ketika saya berjanji untuk tidak meninggalkannya di masa lalu, ketika itu pula Bapak terus hidup di dalam hati kami semua.

Bapak, lebaran tahun ini Ibuk sendirian di rumah. Maafkan saya belum bisa mendampingi ibuk merayakan Idul Fitri. Ketika kondisi sulit ini berlalu, saya janji akan lekas pulang dan memeluk ibuk.
Bapak, tahun ini saya menjaga beberapa tanaman hidup di kamar, saya berusaha meniru kebiasaan bapak menyayangi mereka, saya ingin selalu merasa dekat dengan Bapak.

Bapak bagi saya adalah surat cinta yang tak pernah usai ditulis, setiap lembar ingatan saya terus memunculkan hal-hal baik tentangnya.
Bapak bagi saya adalah cahaya terang, yang sekalipun dalam tempat paling gelap tak pernah berpikir untuk meredup.
Bapak bagi saya adalah rumah, tempat dimana segalanya terasa cukup dan selalu hangat.

Terima kasih untuk cinta Bapak yang tak pernah habis bagi kami, untuk setiap kilas balik kejadian baik yang tak berhenti berputar.
Untuk kali pertama, kami tak merayakan lebaran dengan berkumpul di rumah, pak.
Sampai jumpa lagi nanti, pada hari lebaran yang abadi.
InsyaAllah.


Selamat menyambut lebaran 2020, semoga selalu dikelilingi kebaikan dan orang-orang baik.
Maafkan saya lahir dan batin ya, terima kasih sudah membaca.


Salam,
Anggi.

*berani berdiri tegak mantap :D

May 17, 2020

internal memo (5)

Belakangan ini saya meminta sesuatu yang jarang saya minta kepada Tuhan sebelumnya.
Saya berdoa tentang suatu hal yang tidak saya duga akan saya katakan di waktu ini.
Saya rasa tidak pernah salah meminta apapun kepada Tuhan.
Kapanpun.

Semoga kali ini Tuhan memperkenankan doa saya.
Menyertakan kelapangan hati untuk saya menerimanya,
beserta sebaik-baiknya jawaban.

Saya yakin, kepada Tuhan,
saya takkan salah meletakkan harap.

Selamat kembali melangitkan doa-doa baik.
Selamat kembali menghirup udara segar harapan.
Selamat terus mengusahakan masa depan yang penuh kebahagiaan, Anggi.

*ditulis dengan amat bahagia setelah menyelesaikan membaca 2 buku berbeda,
teruntuk Anggi di masa depan, kamu pernah sebahagia ini, hatimu pernah sangat penuh harapan baik seperti hari ini.
Jangan sedih lagi, ya.

May 05, 2020

internal memo (4)

melihat kenyataan akhir-akhir ini yang semakin mudah menangis akan hal-hal kecil, rasanya memang harus diakui bahwa kamu belum sanggup hidup tanpa ekspektasi.
rasanya hanya denial saja.
kamu pikir sudah cukup siap, nyatanya mungkin kamu sedang menipu diri sendiri.
kamu pikir sudah cukup kuat, ternyata ada sesuatu yang diluar kendali, datang tiba-tiba.
jadwal tidurmu berantakan, kamu memaksa untuk terus bekerja meski sudah harus istirahat, mencuci semua baju kotor dalam satu waktu, menyikat lantai kamar mandi setiap hari padahal tak begitu perlu, semua sibuk yang dirangkai sendiri.
sesuatu yang sama sekali bukan kamu.
kamu terus lari menghindar.
kamu menangis karena sebenarnya ingin lebih berhati-hati bersikap, berkata-kata, dan bertanya.
kamu sepertinya tidak sedang baik-baik saja,
tapi terus menyangkal.
kamu ingin terlihat baik-baik saja,
hanya supaya tidak dikasihani.
sulit ya, mengakui kelemahanmu sendiri?
memang sulit, merasa sudah selesai melewati satu fase paling melelahkan, merasa kembali punya harapan, lalu ternyata layu sebelum berkembang.
tapi bukankah semuanya berawal dari dirimu sendiri?
siapa suruh kamu terus merawat ekspektasi?
tahu sendiri batu takkan menjadi lunak hanya karena terus disiram air.
memangnya siapa yang jamin kamu takkan jatuh lagi, sampai begitu berani?
setelah semua ini, kamu pasti sangat menyesal ya, karena bisa saja kamu kehilangan banyak kesempatan untuk obrolan-obrolan menyenangkan.
andai saja, kamu mau berhati-hati dan tidak mencoba jadi berani.
andai saja, kamu tidak menumpahkannya.
andai saja, kamu tetap diam.

mungkin kamu akan tetap tidak baik-baik saja.

oh ternyata akan sama saja, jadi yaudahlah ya :)

"does that scare you?"
yes, i have to admit it DOES.
i'm so scared that i made others feel bad because of me.
yes, i'm not okay,
but it's okay,
i CAN take it,
you just have to promise me one thing:
"nothing"

tetaplah baik-baik saja, karena setidaknya dari sekian banyak hal yang tidak baik-baik saja, melihatmu baik-baik saja adalah satu hal baik yang bisa membantu saya kembali baik-baik saja.

May 01, 2020

Bagaimana Rasanya Tidak Pandai Matematika?

Saya sebenarnya sempat menjadi A+ student, saat sekolah dasar.
Saya sering mendapat nilai sempurna saat ulangan matematika, angka yang tidak sekalipun saya dapat di SMA.

Entah bagaimana mulanya, saya tidak ingat pasti, yang jelas saya merasa matematika bukanlah teman baik untuk diajak kerja sama saat ujian sekolah.
Sulit.

Saya perlu berulang kali menghitung untuk memastikan jawaban yang ujung-ujungnya tidak ada di pilihan yang tersedia, bahkan tidak ada mepet-mepetnya!

Saya belajar bersama teman sebangku yang pandai matematika, diberi soal, dicontohkan cara mengerjakannya, dan saya bisa. Sempurna.
Esoknya, soal dengan model yang sama muncul di ujian.
Ketika hasil dibagikan, saya melompati satu cara dan itu membuat hasil akhir pengerjaan saya berbeda dengan jawaban yang benar. No excuse! Salah!

Saya bisa mengingat jumlah tulang vertebrata, saya bisa menggambar lingkaran tanpa jangka, saya sanggup menggaris lurus tanpa penggaris, tapi saya meminta bantuan ke segala penjuru untuk sekadar mencari alas segitiga.
Saya bisa mengerjakan soal matematika hanya saat tidak dilihat guru dan tidak dipanggil ke depan kelas.
Rumit.

Baru-baru ini saya merasakan tes kraepelin dan pauli.
Setelah mengerjakan dengan keterpaksaan, kecemasan dan tangan yang gemetar, rasanya saya benar-benar ingin memeluk kenyataan yang ada saja.
Matematika bukan teman baik saya.
Angka-angka yang berpacu dengan waktu itu membuat saya merasa amat bodoh.

Sementara itu, seorang teman berotak kiri mengatakan, saya harus mampu mengerjakan jenis tes itu untuk bisa bekerja di multinational company.
Sekali lagi, saya hanya ingin segera pulang dan memeluk kenyataan yang ada.
Matematika bukan untuk saya. 

Saya tidak pernah benci belajar matematika, saya hanya menemukan kegembiraan saat tidak dipaksa menghitung dengan cepat.
Saya tidak pernah benci angka, saya hanya lebih suka mengukur volume ruang daripada mencari x yang entah sedang dimana.

Saya sering iri pada teman-teman yang pandai matematika, sedang saya tidak pernah benar-benar menyelesaikan soal dengan sempurna, selalu ada angka yang salah atau simbol yang tidak tepat.
Saya selalu merasa orang yang pandai matematika itu hidupnya pasti mudah sekali, angka dan rumus itu menjadikannya kritis luar biasa.
Sedangkan saya tetap biasa-biasa saja dan jadi langganan tetap ujian remedial.

Menjadi tidak pandai pada hal yang umum itu berat.
Bisa saja langsung dipukul rata bahwa kamu sama sekali tidak punya kemampuan apapun.
Gagal di matematika bisa sama dengan gagal dalam segalanya, setidaknya itulah yang tersirat dari ucapan guru matematika SMA saya, saat saya ujian remedial yang kedua kalinya.

Kira-kira begitulah rasanya tidak pandai matematika. 

Saya bersyukur sudah pernah belajar matematika dan melewatinya (meskipun dalam kehidupan sehari-hari tetap terlibat dengan matematika sederhana, setidaknya saya tidak harus memberi nilai untuk x atau menemukan y).
Meskipun finish di angka dua koma lima.
Yang jelas, saya tidak akan lagi membandingkan kemampuan saya dengan orang lain hanya karena saya tidak pandai matematika.

Selamat kembali belajar matematika dasar!

Salam,
Anggi
(ditulis Juli 2019)

April 29, 2020

(not an) internal memo*

since i made silence as a shield,
i hope my sincerity goes to you.
until this path comes to an end.

now, i won't scare you away.
but someday if i can't figure it out,
i will rewrite my story,
to win my life back,
to love myself more in another page of the book.

i wish you read something i wrote clearly, some other day.
i long to become the sweetest lullaby.

xx,
a.

*again

April 19, 2020

internal memo (3)

it's easier said than done.
but
this too shall pass.
you will flow elsewhere,
and it's okay.
it'll be okay.
please...
be nice to yourself, anggi.

sincerely,
yourself.

April 17, 2020

Menyikapi Patah Hati

Hai, apa kabar hari ini?
Banyak sekali kabar buruk dan tak menyenangkan akhir-akhir ini. Tapi karena dunia selalu punya dua sisi, kabar baik juga sebenarnya banyak sekali. Hanya nampaknya kita lebih cepat tanggap untuk merespon berita buruk dan membuatnya semakin ramai diperbincangkan (ups hehe!)
Jadi, sudah berapa kali patah hati?
Rasanya tidak ada manusia yang tak pernah patah hati, iya kan?
Buktinya, lihat saja lagu-lagu sedih selalu bersemi setiap tahun.
Semakin sedih dan relatable liriknya, niscaya akan semakin banyak orang yang jatuh hati pada lagu itu.
Wow, sebuah ironi ya. Betapa kita mudah jatuh hati pada lagu-lagu bertema patah hati.
Kenapa? we always know why :)
Anyway, patah hati itu selalu berat ya, sekalipun sudah dilewati lebih dari sekali dua kali.
Terlebih lagi, tidak pernah ada template yang sama untuk merawat luka yang berbeda.
Bahkan kita bisa patah hati untuk hal-hal kecil yang terjadi diluar dugaan, misalnya sudah merencanakan pergi ke minimarket untuk beli es krim, tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya!

Tapi sudah pasti bukan patah hati semacam itu yang akan dibahas disini.
Yah, saya yakin, kita telah cukup dewasa untuk menangani patah hati kecil yang terjadi setiap hari. Namun selalu ada satu case patah hati yang tak pernah siap kita hadapi, sedewasa apapun kita saat ini.
Patah hati ditinggal pergi yang terkasih, patah hati melihat yang dulu dekat kini sudah diselubungi kabut pekat, tak lagi terlihat, patah hati untuk kesempatan yang disia-siakan, patah hati karena tak sempat mengungkapkan, patah hati karena pernah memberi kesempatan pada yang salah.
Sakit ya rasanya?
Berusaha menyibukkan diri dengan apapun agar tak lagi punya tempat untuk mengingat kenangan masa lalu, tapi tiba-tiba lagu favoritnya terdengar lewat shuffle, oh shiz! teringat lagi.
Berusaha tidak menangis lagi, menganggap diri sendiri sekuat apa yang selalu dikatakan di depan cermin, tapi mendadak memori di kepala dengan berani meneriakkan kalimat pujiannya yang pernah dikatakan padamu, lagi-lagi harus menyiapkan waktu untuk menangis sendiri.
Sudah setengah terlelap lalu tiba-tiba di dalam mimpi dia dengan pongah masuk dan berinteraksi lagi denganmu! oh! sial, bangun dengan keadaan lelah setengah mati, menyadari sedih yang belum usai juga.

Panjang ya proses healing-nya?
Panjang sekali, melewati malam-malam dengan bantal basah yang mengantarmu tidur.
Melalui pagi hari dengan mata yang bengkak.
Recent playlist penuh berisi lagu-lagu sedih yang dikumpulkan hari demi hari.
Butuh kekuatan ekstra untuk menyisir isi galeri telepon genggam lalu membuat sebuah folder, untuk mengumpulkan foto-foto yang berhubungan dengan masa yang telah usai.
Namun butuh kekuatan ekstra super duper mega besar lagi untuk bisa memencet tab delete di folder itu.
Memutar otak setiap kali orang yang mengenal kisahmu itu mempertanyakan kondisi terkini, dijawab dengan opsi manis atau pahit ya? Pada akhirnya kita akan memilih yang paling aman diceritakan, lalu menyimpan sisanya untuk siap dilumat habis oleh keterbatasan ingatan, lalu setelahnya kita benar-benar siap bangun dan bersinar kembali.
Kita tidak pernah bisa memilih skenario seperti apa yang akan dijalani, meski sudah merasa menjalani satu cerita dengan sangat baik, mengusahakan yang terbaik, being 110% for it, but in the end all the things still fall apart. Yah, nyatanya hidup memang seperti itu.
Kita tidak pernah bisa memprediksi apakah hidup akan menghujani kita dengan emoticon hati atau tahi :)

Embrace your broken heart.
Setidaknya itu tanda bahwa kita pernah sangat tulus menyayangi. Ya, sebab bagaimana mungkin kita tidak merasa sedih ketika semua yang diusahakan tiba-tiba berantakan, bagaimana mungkin kita akan biasa saja ketika telah berjalan jauh tapi tiba-tiba dua tangan yang saling bekerja sama ditinggalkan yang satu.
Kembalilah sadar bahwa selama ini mungkin kita terlalu semena-mena memperlakukan perasaan diri sendiri, sampai hati memasrahkan hati pada yang jelas-jelas hanya menawarkan setengah hati.
Pertama kali patah hati, saya rasanya seperti tidak ingin kembali sembarangan menaruh hati pada orang lain, oh tapi ternyata ketika sembuh, semua terlihat normal lagi. Terlebih ketika ada dua tangan yang sepertinya siap menangkap jatuhnya, wah bahagia sekali rasanya. Meskipun belum bahagia sampai akhir. Yayaya here we go again, my heart, sorry but please be ready for another broken-heart-series. Hadeh!

It's okay to hate love songs when you're broken hearted.
Lah iyalah! Manusia mana yang bisa selalu ceria setiap hari rutin setiap tahun???! Dengarkan saja lagu-lagu patah hati, cari liriknya, hapalkan. Buat dirimu tenggelam di dalamnya, suatu saat nanti ketika sedihmu usai, maka responmu terhadap lagu-lagu patah hati itu hanyalah sebatas tawa lepas yang diiringi dengan ingatan betapa berat proses jadi manusia dewasa.

Melakukan semua hal menyenangkan, yang diinginkan, yang membuat bahagia, tanpa komentar judgemental. Sebab disadari atau tidak, orang terdekat kita adalah yang paling berpotensi menyakiti perasaan kita dengan komentarnya. Oh ya! dan lagi, privacy is a power, what people don't know, they can't destroy. Jadi sebisa mungkin, sesulit apapun, pastikan apa yang dibagi di sosial media memang benar-benar hanya hal yang telah layak dibagikan dan tidak berpotensi dijadikan alat untuk orang lain menyakiti kita di masa depan.

Tapi seperti apa yang telah tertulis di paragraf awal, tidak pernah ada template yang sama untuk merawat luka yang berbeda.
Jadi ya, nikmati saja. Yakinlah bahwa malam selalu akan berganti siang, setiap daun yang gugur selalu digantikan tunas baru, badai pun tak selamanya berada di area yang sama.
Sedihmu itu juga akan berlalu, cepat atau lambat.
Dan akan lebih cepat kalau memang ada kemauan besar untuk menyudahi masa-masa penuh ngilu dan membuka lembar baru.

Kita perlu sadar bahwa kita adalah sosok utuh yang tak perlu digenapi.
Seseorang yang akan datang di masa depan itu datang untuk menjadi partner membangun cerita hidup bersama, bukan untuk melengkapimu. Dengan atau tanpanya kamu harus yakin bisa tetap berdiri tegap.
Kita masing-masing telah lengkap dengan segala kurang dan lebih.
Kita tak saling bertemu hanya untuk bertukar kalimat manis yang akhirnya menguap habis ditelan waktu. Sehingga hanya menyisakan luka pada akhirnya.
Lebih dari itu, kita berusaha saling bertemu, saling mengerti dan saling berusaha untuk tidak menyerah, tak sekalipun berpikir untuk berbalik arah.
Tidak menemukan atau ditemukan, sebab kita bukan barang hilang.
Kita yang saling berusaha membangun self-worth hingga semesta setuju membuat garis kita saling bertemu di titik tertentu.

Patah hati itu hanya salah satu proses, yang harus dilewati untuk sampai ke titik dimana garis kita bersinggungan.
Patah hati itu, ya memang semenyebalkan itu.
Jadi, menyikapi patah hati harus bagaimana?
Yaaaaaa, jalani saja!

Selamat terus berusaha menuju titik yang disetujui semesta!

Salam,
Anggi

p.s.: jangan lupa olahraga, minum air yang cukup  dan makan tepat waktu!

April 06, 2020

(not an) internal memo



I once said,
"Don't wait until it's too late"
But if you did.
It means another late for me.
Now, I wish you already know.

Through this letter, I won't wait until it's too late.
I take the risk.
Because I know, I may have no chance since it began :)

Good luck on your life.

cheers,
Anggi.

April 03, 2020

Bagaimana Rasanya Menghadapi Kehilangan* Orang Terdekat?

*: kehilangan dalam konteks meninggal, idk but saya hanya belum merasa nyaman untuk menulis kematian, meski barusan telah menuliskannya:) walau saya pun tidak setuju bahwa saya telah kehilangannya, yah setidaknya mungkin itu kalimat yang bisa menggambarkan kondisi ini meski tidak mewakili perasaan saya terhadap kondisi itu setelahnya. ok case closed!

Hai!
Untuk membuat tulisan ini sedikit lebih terstruktur maka #BagaimanaRasanya kali ini akan ditulis dalam bentuk Q & A.
Meskipun tentu saja questionnya juga dari diriku sendiri, karena sungguh saya belum sanggup bertanya di kolom pertanyaan story instagram haha takut diabaikan:))
Setidaknya semoga memberi sedikit gambaran, bukan untuk mempersiapkan, karena tak pernah ada kata siap untuk sebuah kehilangan, hanya semoga setelah membaca tulisan ini kalian yang belum mengalaminya bisa menempatkan diri (berempati) kepada teman atau siapapun yang kalian ajak bicara.
Karena sosok orang terdekat yang saya maksud disini adalah Bapak, maka perspektif tulisan ini adalah dari sisi seorang anak perempuan yang Bapaknya telah meninggal delapan tahun silam.
Baiklah, mari kita mulai.

Q: Apa yang kamu rasakan ketika tahu Bapakmu sudah meninggal? 

Kosong. Rasanya ada yang berat sekali di dada tapi tidak bisa diungkapkan. Melihat Ibu dan Kakak histeris. Yang saya ingat pagi itu, saya belum menangis, tapi langsung lari meminta pertolongan keluar rumah. Masih berharap bapak hanya pingsan dan bisa diselamatkan.
Rasanya ingin berusaha sekeras mungkin menolak kenyataan.

Q: Apa yang kamu lakukan di hari ketika Bapakmu sudah meninggal?

Menangis. Memeluk bapak lalu bilang "besok ulang tahunku pak"
Ikut membasuh kaki bapak untuk terakhir kali.
Melihat banyak orang datang ke rumah dengan tatapan iba dan menguatkan.
Berjalan mengikuti rombongan untuk memakamkan Bapak.
Melihat jenazah diturunkan ke liang lahat.
Kembali ke rumah, memandang cermin dan bertanya kenapa aku dan kenapa hari ini.
Lalu duduk disamping ibu. Kemudian hari-hari terus berlalu seperti biasa, namun perasaan saya tak lagi sama.

Q: Bagaimana kamu bangkit dari rasa duka?

Sesungguhnya saya belum paham bangkit itu definisinya seperti apa ((lah padahal nanya-nanya sendiri wkwk)), jika hanya dalam konteks bisa hidup terlihat baik-baik saja dan menjalani aktivitas seperti biasa maka bisa dibilang ya saya telah bangkit sejak 2-3 bulan setelah Bapak berpulang.
Bagaimana caranya? simply dengan ya let it flow, ikuti saja kalau ceritanya memang begini. Menangis kapanpun dirasa ingin.
Tapi kalau bangkit berarti mampu menerima orang baru untuk mengganti sosok Bapak di rumah, hingga kini, tidak.
Entah, bukan belum tapi saya memang sengaja membatasi diri dan membiarkan hal ini, bahwa saya tidak ingin menerima orang lain ada di posisi Bapak.
Bukan sesuatu yang baik untuk dicontoh ya, hal seperti ini tidak bisa berlaku di semua keluarga, tapi saya sudah berulang kali mengkomunikasikannya dengan ibu, bahwa saya belum bisa dan saya minta maaf kalau hal itu mungkin menyulitkan ibu, tapi syukurlah ibu saya pun mengamininya.
Saya rasa, itu berperan besar menyembuhkan duka saya.

Q: Bagaimana caramu melepas rindu setelah Bapak tidak di rumah lagi?

Berdoa, mengunjungi makamnya, tidur di kamarnya, menulis setiap kenangan yang tiba-tiba muncul di kepala, mengabarkan kebaikannya melalui setiap tulisan atau pembicaraan sehari-hari. Saya masih sering berkata "kata Bapakku dulu", "Iya Bapakku juga gitu" seolah-olah Bapak selalu dekat dengan saya dan baru menasihati saya kemarin sore.
Oh ya! dan menangis, tapi meratapi kematian itu dilarang, jadi saya hanya menangis untuk meluapkan emosi saja, saya menangis ya hanya karena ingin, bukan untuk mengharap Bapak kembali karena itu mirip seperti tidak menerima qadha&qadar.

Q: Apakah kamu merasa sedih ketika orang bertanya kapan dan mengapa Bapakmu meninggal? 

Dulu iya, di tahun-tahun pertama. Saya merasa terganggu ketika harus kembali mengingat hari itu.
Tapi sekarang, tidak lagi. Saya lebih sedih saat melihat ekspresi rasa bersalah orang lain ketika mereka merasa telah menyinggung saya dengan pertanyaan itu, please believe me i really mean it ketika saya bilang "gapapa kok, santai aja"

Q: Apakah kamu memiliki trauma setelah kejadian itu?

Mungkin tidak separah itu sampai pantas disebut trauma, tapi saya selalu takut membangunkan orang yg sedang tidur, saya khawatir jika ibu yang sering tidur disamping saya tidak bernapas seperti biasa. Saya merasa tidak siap jika harus mengalami kejadian yang sama, lagi.
Jujur, diluar konteks keluarga, saya benci dibuat terbiasa dengan sesuatu yang akhirnya akan pergi, maka sejak itu saya membiasakan diri untuk sendirian and stood up for myself. 

Q: Apakah kamu merasa tersinggung ketika orang lain membicarakan Bapaknya dihadapanmu?

Iya. Kadang saya merasa iri ketika mereka menceritakan sesuatu yang baru terjadi dan itu masih bisa nyata dirasakan, sedangkan saya hanya bisa menceritakan cerita lama yang susah-payah saya ingat.
Tapi sekarang saya lebih melihat hal itu sebagai kebahagiaan, bahagia melihat orang lain masih merasakan hal-hal membahagiakan dan saya juga bisa ikut merasakan kebahagiaan melalui cerita itu.

Q: Apa yang bisa kamu sampaikan untuk mereka yang Bapak Ibunya masih hidup?

Kalian punya waktu, punya teman-teman dan punya kehidupan kalian sendiri. Tapi seiring itu juga umur orang tua terus menua, mereka tidak menunggu kita memiliki waktu luang, kita yang harus selalu meluangkan waktu. Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita masing-masing akan dihentikan. Maka sebelum itu terjadi, appreciate those who don't give up on you since day one and please don't take them for granted.



March 29, 2020

internal memo (2)

hari ini ingin menangis dan bercerita banyak sekali.
things been so complicated.
tiba-tiba ingin punya pekerjaan yang mendukung aku tetap di rumah bersama ibu.
tiba-tiba merasa sangat sendirian.
tiba-tiba ingin melepas semua mimpi dan rencana yang sudah diusahakan.
padahal tak apa menumpahkan tangis lalu menyeka air mata sendiri, karena memang selalu begitu.

sungguh,
sulit sekali ya menjadi mandiri tanpa backup bapak.
rasanya ingin menyerah.

tapi...
masih akan dan selalu ada harapan.

anggi, tolong jangan berhenti ya...

March 20, 2020

internal memo.

dear myself, i promise you, this year you gonna blow out a candle on the top of your favourite cake. you'll be happy on your birthday. i promise you!🌻💖

February 23, 2020

Menelan Desa, Mencicipi Kota

Jakarta adalah kota ketiga yang menjadi tempat tinggal, setelah Surabaya dan Jember.
Saya lahir dan menghabiskan masa sekolah di Jember, lahir sampai masa SMP di desa, lalu pindah ke kota dan tinggal di rumah kos saat SMA. Pindah ke Surabaya untuk kuliah lalu pindah lagi ke Jakarta untuk bekerja.
Saya cukup bisa menyesuaikan diri, luwes menjadi anak desa yang medhok notok jedog dan biasa dengan segala hal yang tidak fancy, tapi juga tau caranya memesan minuman yang gelas plastiknya ditulis dengan nama kita, dan bisa juga tetap melangkah tenang di eskalator. Bisa karena terbiasa. Sebelumnya pun saya selalu meng-google apapun yang baru pertama kali saya lakukan, terakhir saya mencari tahu bagaimana caranya naik pesawat domestik sendiri.

Dulu saat saya masih tinggal di desa, minimarket tidak sebanyak sekarang, ayam crispy masih jarang ditemukan dan lampu-lampu jalan masih menggunakan bohlam yang sama dengan yang dipasang di rumah-rumah kami, kap lampunya pun menggunakan wadah sego berkatan (re: nasi tasyakuran atau pengajian) yang dibalik.
Jalan di desa saya hanya macet ketika ada kecelakaan lalu lintas, jembatan putus akibat banjir atau saat pagi buta rutinitas pasar tradisional tumpah ke jalanan.
Saya pikir pergi ke mall dan membeli KFC (gerai McD bahkan belum masuk di kota saya saat itu) adalah kemewahan, yang hanya bisa saya nikmati saat memperoleh juara kelas di akhir semester.
Maka membeli ayam dan tepung bumbu mama suka di pasar adalah salah satu cara untuk bisa makan ayam crispy meski saya ingat betul tak satupun hasilnya mendekati rasa tepung KFC, walau sudah mencoba berbagai cara mulai dari dilapis telur kocok satu kali, dua kali, atau langsung digulingkan di tepung.
AC adalah kemewahan yang lain, hanya bisa ditemui di minimarket, laboraturium sekolah atau rumah saudara di kota.
Saya hanya membeli baju baru ketika lebaran dan tahun ajaran baru (itupun jika seragam sebelumnya sudah sesak).
Saya tak punya banyak pilihan sepatu yang bisa dicocokkan dengan warna atau model pakaian yang dikenakan, hanya ada 2 pasang sepatu sekolah berwarna hitam, sepasang flat shoes untuk les dan segala acara formal, dan sepasang sandal untuk bermain.
Saya ingat harga sepatu SD saya empat puluh ribu rupiah, dibeli di pasar tradisional karena saat itu gagal juara satu. Sebab untuk beli sepatu di toko sepatu terbaik di desa, saya harus lebih dulu mengamankan posisi juara satu di kelas.

Ketika pindah ke kota saat SMA, saya baru tahu, bahwa untuk bisa pergi ke mall dan membeli ayam KFC, teman-teman saya tidak harus menunggu adanya sesuatu untuk dirayakan.
Bahkan ketika pindah lagi ke Surabaya, teman-teman saya menganggap KFC adalah jajanan makan siang yang dengan mudah mereka datangi ketika jam istirahat tiba.
Di kota banyak minimarket bersebelahan, lampu-lampu tak hanya difungsikan sebagai sarana penerangan jalan, tapi juga jadi hiasan di sepanjang jalan.
Jalanan macet dimana-mana, beberapa yang lain kepanasan sambil mengetuk head lampnya berkali-kali mengusir jenuh, sebagian yang lain mengklakson bertubi-tubi sambil ditiup angin segar AC.
AC tidak terlihat jadi barang mewah di kota, seluruh ruang kelas di kampus pun dipasang AC, bahkan kamar teman-teman saya di kota ternyata juga dipasang AC, bukan kipas angin yang menoleh ke kanan dan kiri.
Di kota, saya juga mengerti bahwa teman-teman saya tidak harus menunggu lebaran untuk beli baju baru, kapanpun mereka pergi ke mall, mereka mungkin saja pulang dengan seplastik baju baru.
Teman-teman di kampus saya pun tidak memakai sepatu yang sama 5 hari dalam seminggu, mereka memadu-padankan sepatunya dengan baju yang dikenakan, itu artinya mereka punya banyak pilihan sepatu di rak.
Hal baru lainnya yang saya temukan di kota adalah betapa brand menjadi sangat penting. Waktu itu saat hari-hari pertama masa kuliah, saya melihat seorang teman memasuki kelas dengan memakai hoodie (yang sebelumnya selalu saya sebut jaket/sweater) bertuliskan pull & bear. Kalimat yang terlintas di pikiran saya tak lain dan tak bukan adalah "ih apasih maksudnya pull & bear kenapa tulisannya aneh".
Setelah mulai terbiasa dengan kota, mall dan serba-serbi kehidupan manusianya, saya baru mengerti bahwa pull & bear adalah merk dagang yang cukup dikenal oleh kalangan seusia saya (pada umumnya). Lalu ketika mengetahui harganya saya jauh lebih terkejut lagi, hampir setara dengan 3/4 harga sewa kamar kos saya saat itu.

Melihat saya hari ini, lalu mengingat saya yang dulu. Ingin tertawa, lalu menangis dan bersyukur sekaligus. (tulisan selanjutnya bismillah bukan ditujukan untuk pamer, hanya sekedar merinci bahwa banyak yang bisa berubah ketika tinggal di tempat baru, yang bisa disyukuri dan jadi pengingat)
Hari ini, meski saya masih selalu memakai sepasang sepatu yang sama untuk ke kantor, tapi pilihan sepatu yang dimiliki sudah lebih banyak daripada saat itu. Saya bisa pergi ke mall kapanpun karena bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki atau naik kereta melewati dua stasiun saja untuk pergi ke mall yang lain. Dulu ketika tinggal di desa, perlu satu jam untuk tiba ke mall terbesar di kota saya saat itu. Saya sering bertanya pada teman-teman saya yang lahir dan besar di kota, "Bagaimana rasanya biasa pergi ke mall sejak kecil?" atau "Bagaimana rasanya memiliki kampung halaman di kota?".
Hari ini saya bersyukur bisa makan ayam crispy tanpa harus menunggu sesuatu untuk dirayakan (meski saya terus mencari sesuatu yang patut dirayakan agar bisa mengijinkan diri sendiri beli ayam KFC atau McD, yang harganya masih bisa ditukar dua porsi nasi campur). Kini saya paham dan melek brand juga kenapa harganya bisa jadi semahal itu, bukan karena rajin membelinya tapi karena saya sekolah desain. (bau sangit-sangit sombong)
Hingga kini pun saya hanya punya beberapa barang keluaran brand terkenal, dan sebagian besar barang bekas.

Sejujurnya, saya tak ingin ketika tinggal di kota mengubah perspektif saya 180 derajat. Saya tidak ingin menjadi terlalu konsumtif dan impulsif, hanya karena apapun mudah dijangkau secara jarak. Maka ketika keinginan-keinginan itu mulai muncul saya ingat lagi, bahwa dulu saya bisa hidup seperti itu dan tetap baik-baik saja.
Ketika ada hal-hal tidak menyenangkan di kota, saya harus ingat bahwa dulu, tinggal di kota adalah salah satu hal yang paling ingin dialami.
Lalu ketika merasa jenuh dengan bisingnya kota, saya harus lekas bersyukur, masih memiliki kampung halaman di desa yang akan selalu menjadi rumah.
Saya tidak akan pernah malu mengaku sebagai anak desa, dimanapun berada.

Semoga hal-hal baik yang dibiasakan di rumah saya yang berada di desa itu (yang satu-satunya akses transportasi publiknya hanya bus ekonomi), terus melekat pada diri saya, hingga kapanpun.
Semoga kota ini tetap berseri dan memberi banyak pengalaman untuk dibagikan dan disyukuri.
Semoga kelak bisa kembali ke desa, memberi manfaat yang nyata sebagai wujud cinta. Masih jauh dari terwujud, mungkin. Tapi apa salahnya berdoa. Everything you can imagine is real! kan kata Pablo Picasso.

Selamat Malam, Jakarta.
Salam,
Anggi, yang amat merindukan desa.