Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama saya tidak di rumah bersama ibu dan kakak. Sebagai orang yang hampir selalu menangis bahkan untuk hal-hal kecil sembari tetap wani ngadeg jejeg mantep*, saya tidak merasa hal ini sulit dilakukan. Namun, sedih jelas ada. Memangnya manusia macam apa yang tidak sedih merayakan lebaran jauh dari keluarga?
Lebaran tahun ini tidak ada pagi yang ramai dengan barisan makanan di meja, tidak ada wangi cat yang baru beberapa hari menempel di pintu dan jendela, tidak ada momen ingin-menangis-tapi-gengsi saat minta maaf pada ibuk dan kakak, tidak ada tamu-tamu yang saling mengunjungi satu sama lain.
Banyak ketiadaan di lebaran tahun ini. Meski bagi saya ketiadaan yang paling nyata adalah tidak adanya Bapak di rumah kami.
Tahun ini adalah tahun kedelapan Bapak tidak merayakan lebaran bersama kami. Hari ketiga lebaran 2012 adalah waktu Bapak pulang, menuju tempat istirahat yang jauh dan lapang.
Tahun itu adalah tahun pertama saya melewati lebaran yang sangat kelam, menyambut ulang tahun ke-16 dengan amat berat hati.
Bapak pulang pukul lima pagi seusai subuh, sehari sebelum hari kelahiran saya. Beberapa hari sebelum kepulangannya, Bapak berpesan "kapan mau mandiri? bapak itu tidak hidup selamanya" sembari mengantar saya ke depan pintu kamar mandi.
Bagaimana pesan itu disampaikan, melihat cara bapak berdiri, melipat tangan sambil memandangi langit-langit. Hingga kini saya masih ingat dengan jelas.
Sebab, bagaimana mungkin kamu melupakan pesan yang akan terus berguna untuk hidup bertahun-tahun ke depan?
Lebaran tahun-tahun berikutnya suasana rumah kami tak jauh berbeda, hanya saja kami tak lagi mencium wangi Bapak ketika keluar dari kamarnya, kami tak lagi melihatnya mengaduk kopi hitam setiap pagi, bangku favorit Bapak di depan meja TV tak lagi terisi, daun-daun jatuh di kebun tak lagi diolah menjadi kompos.
Lebaran kami tak jauh berbeda setelah Bapak pulang.
Melainkan perasaan kami melihat rumah dan seisinya lah yang berubah.
Lebaran 2020 memang berat dijalani, tapi saya pernah melalui lebaran yang jauh lebih sulit daripada kali ini.
Bapak memang tidak akan merayakan lebaran bersama kami lagi, tapi saya harus bersyukur bahwa Ibuk dan kakak masih berada di satu dimensi waktu yang sama.
Bapak memang tidak terlihat mendampingi kami, tapi ketika saya berjanji untuk tidak meninggalkannya di masa lalu, ketika itu pula Bapak terus hidup di dalam hati kami semua.
Bapak, lebaran tahun ini Ibuk sendirian di rumah. Maafkan saya belum bisa mendampingi ibuk merayakan Idul Fitri. Ketika kondisi sulit ini berlalu, saya janji akan lekas pulang dan memeluk ibuk.
Bapak, tahun ini saya menjaga beberapa tanaman hidup di kamar, saya berusaha meniru kebiasaan bapak menyayangi mereka, saya ingin selalu merasa dekat dengan Bapak.
Bapak bagi saya adalah surat cinta yang tak pernah usai ditulis, setiap lembar ingatan saya terus memunculkan hal-hal baik tentangnya.
Bapak bagi saya adalah cahaya terang, yang sekalipun dalam tempat paling gelap tak pernah berpikir untuk meredup.
Bapak bagi saya adalah rumah, tempat dimana segalanya terasa cukup dan selalu hangat.
Terima kasih untuk cinta Bapak yang tak pernah habis bagi kami, untuk setiap kilas balik kejadian baik yang tak berhenti berputar.
Untuk kali pertama, kami tak merayakan lebaran dengan berkumpul di rumah, pak.
Sampai jumpa lagi nanti, pada hari lebaran yang abadi.
InsyaAllah.
Selamat menyambut lebaran 2020, semoga selalu dikelilingi kebaikan dan orang-orang baik.
Maafkan saya lahir dan batin ya, terima kasih sudah membaca.
Salam,
Anggi.
*berani berdiri tegak mantap :D
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.