July 02, 2026

Sound Horeg

Bagi warga, Q3 di Indonesia biasanya disibukkan dengan banyak acara, karena inilah waktu perpindahan semester sekolah serta peringatan hari kemerdekaan negara. Kalimat pembuka yang kurang seamless, yah yuk bisa yuk nulis lebih bagus lagi. Okay, kembali. Sebagai perantau yang masih ingin tetap memiliki kedekatan dengan kampung halaman, saya tergabung di grup fb warga desa. Konsisten menjadi silent reader di grup fb itu menjadikan saya cukup update dan tak kehabisan bahan obrolan saat pulang kampung.

Baru-baru ini, grup ramai dengan topik soal karnaval tahunan. Sejak saya kecil memang karnaval adalah one of the most anticipated event bagi warga. Berada di desa yang lebih dekat ke pesisir pantai daripada ke pusat kabupaten membuat kami sangat antusias dengan jenis hiburan sekecil apapun.

Seiring waktu, karnaval di desa juga berkembang. Dari yang didominasi pawai orang-orang berjalan kaki, kini diselipi penggunaan kereta beroda dan kendaraan bermotor. Mulai dari penggunaan sound system volume wajar hingga berlomba dari segi volume dan ukuran sound. 

Waktu kecil, saya pikir karnaval dan hajatan dengan sound sangat keras itu semata karena pengaturannya tidak benar. Selayaknya menggeser jarum penunjuk frekuensi radio dengan tidak pas, jadi kemresek dan suaranya tumpang tindih. Ternyata, suara sound yang bikin dada ndredeg dan kaca jendela bergetar itu memang diatur super keras. Prank prank :)


Di Jawa Timur, sound horeg kian menjamur tak hanya sekadar menjadi pendukung hajatan, namun memiliki panggungnya sendiri pada agenda karnaval tahunan. Warga berlomba menyewa sound horeg terbaik, baik menyewa secara perorangan atau mengumpulkan iuran dari rumah ke rumah.

Persoalan tahun ini di desa saya adalah kabar bahwa karnaval khusus sound horeg akan ditempatkan di Jalur Lintas Selatan. Jalan yang membentang dari ujung barat hingga timur pulau Jawa, yang di beberapa titik masih dalam pembangunan hingga belum tersambung utuh sepenuhnya.


Di tahun 2026 ketika hampir semua orang punya akses ke internet dan sosial media, suara warga desa yang tidak setuju dengan pemindahan lokasi karnaval ini jadi cukup nyaring. Menurut sebagian warga, JLS cukup jauh dari pemukiman dan pusat desa. Kira-kira sekitar 25 menitan dengan motor di jalan desa yang jarang macet itu memang lumayan jauh.

Selain itu, menurut warga ini adalah saat yang tepat untuk merayakan jalan utama desa yang baru diperbaiki. Ya, dengan mengadakan acara di jalan yang dibangun dengan pajak. “Toh, agenda ini hanya setahun sekali”, ketik beberapa komentar memaklumi.


Sebagai warga desa yang walaupun secara dokumen kependudukan sudah pindah, menurut saya ide menempatkan karnaval khusus sound horeg di JLS itu tepat, jauh dari pemukiman sehingga yang datang dan nonton ya memang yang mau dan niat saja. JLS yang kanan-kirinya sawah, kebun dan pesisir itu juga relatif sepi, tidak seperti jalan utama desa yang ramai dilewati warga karena berada diantara pasar, sekolah dan tempat layanan publik.

Soal jalan utama desa yang baru diperbaiki itu mungkin merayakannya cukup dengan mencegah kendaraan kelebihan muatan untuk melintasinya (walau tentu ini bukan tugas warga YAKAAAN) Tapi yang jelas, beberapa truk pengangkut sound horeg sudah pasti kelebihan muatan.


Di daerah yang sama ini waktu kampanye pilkada, salah satu calonnya berjanji untuk memberdayakan pegiat sound horeg. Celakanya, iming-iming kampanye biasanya lebih banyak menguntungkan kontestan politik dibanding rakyat kebanyakan. Dalam hal itu, pegiat sound horeg merasa perlu menagih janji karena sudah berkontribusi memenangkan ybs. Di sisi lain, pemberian izin dengan regulasi yang sudah ada, namun tanpa diiringi pengawasan langsung yang konsisten akan menjadi sia-sia. 


Secara pribadi, persoalan sound horeg ini pernah saya temui dan lumayan membekas. Saat menikah, saya mencoba bilang dari awal untuk jangan pakai sound horeg, boleh lagu apapun tapi jangan sampai volumenya bikin getar pintu jendela. Tapi apa yang terjadi saat hari H? yap! vendor sound (yang sekaligus vendor tenda) malah menolak mengecilkan suara soundnya. Menjaga image bahwa performa soundnya dapat diandalkan lebih penting daripada mengikuti permintaan klien. Bahkan, walau si pengantinnya (ya, saya) langsung yang minta volume sound diturunkan.

Saya cuma berharap saat itu tidak ada tetangga yang kemudian terganggu dan amit-amit mbatin jelek karena sound keras yang diluar kendali saya. Sungguh volume yang tidak ramah, utamanya bagi lansia dan bayi-bayi, suasana tentu jadi tidak kondusif bagi mereka. 


Rasanya “setahun sekali” tidak bisa jadi pembenaran untuk mengorbankan banyak telinga. Karena selain karnaval yang setahun sekali, gempuran sound horeg hajatan tak mungkin hanya muncul setahun sekali, kan?

Bagi saya, lebih nyaman mendengarkan musik dengan volume sampai batas tertentu. Tak sampai menggetarkan dada secara literal. Jika ada yang bisa menikmati sound horeg dengan nyaman, kiranya menyediakan ruang toleransi yang lapang untuk kami yang punya preferensi berbeda.

Selain itu, apapun yang berlebihan memang tidak baik, dan mendekatkan pada bahaya. 


Salam.

A. 

May 19, 2026

Bagaimana Rasanya Makan Sushi Pertama Kali?

    Halo, kembali di seri #BagaimanaRasanya edisi makan makan makan (terlalu opening mbak...itu...mbak). Tulisan ini tidak ditulis langsung saat pertama kali mengalaminya, tapi menurut saya pengalaman ini layak diabadikan dalam sebuah tulisan. Dulu sushi bagi saya adalah makanan yang asing (selain memang bukan berasal dari dalam negeri), sekarang alhamdulillah sudah masuk ke alternatif menu makan kalau lagi jalan-jalan ke mal. Saat remaja, konsep makan ikan segar mentah hanya sesuatu yang saya lihat di televisi.     
    Seingat saya, pertama kali makan sushi adalah saat SMA sekitar tahun 2011-2012an (daym, age reveal). Waktu itu orang tua salah satu teman SMA saya baru buka tempat makan sushi di kota kami. Saya makan disana bersama beberapa teman sekelas. Melihat menu dengan nama yang sungguh tidak familiar jujur saja bikin bingung. Untungnya dijelaskan apa saja isian sushi tiap menunya. Seingat saya juga waktu itu konsepnya fusion (sotoy), alias menunya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Jadi, sepertinya semua menu pakai sajian ikan matang.
    Sayangnya saya sudah tidak ingat menu apa yang dipesan, yang saya ingat adalah sushi roll dengan ujung ekor udang menyembul, dan taburan kremesan diatasnya. Waktu itu saya juga masih kebingungan memegang sumpit. Lalu ketika mencocol sushi ke kecap asin juga terlalu nyemplung, alhasil rasa asinnya terlalu mendominasi beberapa suapan awal. Betul-betul banyak kejutan :) Rasanya sih bisa diterima dengan baik, yah seperti makan nasi dengan lauk saja hanya ini bentuknya berbeda. Nah pengalaman makan sushi dengan ikan matang itulah benchmark pertama dalam khazanah persushian saya.
    Fast forward lanjut saat pertama kali makan sushi (beneran) yang ikannya segar dan mentah. Sepertinya, pertama kalinya ini ketika sudah bekerja di Jakarta tahun 2020an. Waktu itu saya makan di tempat sushi yang ada conveyor beltnya, jadi banyak sushi dalam wadah tertutup yang jalan-jalan dibawa conveyor belt mengelilingi setiap meja. Waktu itu teman saya yang sudah biasa makan sushi (beneran) pesan menu salmon sashimi. Lalu dia menawari saya untuk mencoba, saya ikuti cara makannya. Ambil daging salmon potong dengan sumpit, celup secara penuh di campuran kecap asin dan bubuk cabai, lalu santap. Ok, tentu rasanya asing. Teksturnya kenyal tapi mudah dikunyah. Sedikit seperti meleleh di mulut. Ada rasa laut yang kurang bisa saya jelaskan, ada rasa ikan, sedikit asin, dan segar seperti meneguk air. Rasa ikannya tidak terasa amis pasar ikan. Ternyata, bisa diterima dan tertelan dengan baik.
    Kemudian di tahun 2025 kemarin, saya pertama kali mencoba raw scallop. Menurut saya rasa laut yang tadi kurang bisa saya jelaskan itu, lebih sedikit terasa mendingan daripada si salmon sashimi. Hanya saja, setiap makan sashimi, penampakan yang mentah itu masih sedikit mengirim informasi "siaga" ke otak saya. Hahahaha, padahal rasanya sudah bisa diterima. Oh iya, saus cocolan itu jadi aspek penting juga saat makan sashimi, biasanya cukup dengan kecap asin + bubuk cabai. Namun, baru-baru ini, saus dressing salad (sepertinya thousand island) + tobiko ternyata enak juga.
    Ketika pesan menu di tempat makan sushi, jangan malu bertanya. Karena umumnya nama menu-menunya pakai bahasa jepang, beberapa resto menuliskan uraian singkat menu tersebut terdiri dari apa saja. Walau tetap membingungkan untuk orang awam, karena nama olahannya tetap dalam bahasa jepang. Seperti maguro yang adalah ikan tuna, tobiko itu telur ikan, tamago itu telur dadar, dan sebagainya. Jadi, daripada menebak-nebak dari gambar, begitu merasa bingung langsung tanya saja, waiter/waitress akan menjelaskan. Lebih baik bertanya daripada tidak tertelan dan kaget saat sudah dihidangkan di meja.

atas kanan ke bawah kiri: 
chuka idako (baby octopus), tobiko (telur ikan), ebi (udang), tamago (telur)
salmon belly, salmon, maguro (tuna), smoked duck

    
aburi maguro (ikan tuna setengah matang dengan nasi)

    Oh ya, kalau ingin coba sashimi atau sushi dengan isian mentah tapi belum berani, bisa coba menu-menu dengan awalan aburi (flame-seared/partially grilled/setengah matang). Nah, kalau sudah terbiasa dengan teksturnya nanti mungkin bisa lebih pede mencoba yang beneran fresh~ and raw~ and fun fun fun. Menurut saya pengalaman makan sushi banyak senangnya, karena ada banyak sekali varian yang bisa dicoba. ternyata bahan makanan asal sudah berkualitas baik, rasanya tetap enak walau minim pengolahan/proses masak.

Salam, 
A.

Tulisan Marah-marah

Tulisan ini menghuni draft cukup lama, menurut saya tulisan yang sarat dengan emosi negatif baiknya didiamkan saja beberapa waktu sebelum benar-benar diunggah ke alam liar internet. Setelah hari ini dibaca lagi, sepertinya masih cukup oke diunggah, yah entah dua tiga tahun ke depan kalau kepribadian dan pengetahuan sudah lebih baik lagi. Hahaha. Sepertinya blog ini tempat yang cukup lega untuk saya sepenuhnya jadi manusia di dunia maya, saat instagram terlalu silau dan twitter terlalu bising. Anyway, let's gauuwr.

Beberapa hari ini linimasa media sosial ramai dengan topik penerima beasiswa dan bahasan yang menyangkut tentang diaspora. Sebagai warga biasa yang tak punya irisan dengan kedua topik itu tentu saya hanya jadi penonton yang menyimak saja. 

Sudah dua atau tiga tahun berjalan saya membisukan beberapa kata kunci berkaitan dengan beasiswa dan sekolah ke luar negeri, semata agar lebih mudah mengelola perasaan. Kegagalan melanjutkan sekolah dengan beasiswa dan tinggal di luar negeri itu adalah pukulan cukup keras untuk saya. Jadi, setiap kali ada bahasan mengenai hal itu pasti sering muncul rasa iri dan penyesalan sebab merasa kurang berusaha lebih keras. Saya tidak ingin perasaan iri menguasai diri, lebih-lebih sampai berdampak buruk bagi orang lain. Biar beginipun, saya masih punya semangat jadi manusia yang baik hahaha.

Dengan berita itu muncul kembali, rupanya masih bisa memicu perasaan iri dan sesal lagi. Pertama, saya cukup muak dengan narasi from zero to hero apalagi jika si TS (thread starter) tidak berasal dari kondisi yang zero-zero banget. Memang rasanya cerita keberhasilan akan jadi lebih mantap jika si pencerita mengalami kondisi sulit atau tidak ideal dalam perjalanannya. Namun, mendefinisikan kesusahan itu memang cakupannya cukup lebar. Hingga tak jarang sesuatu yang bagi satu pihak susah banget, eh untuk pihak yang lain biasa saja. Perasaannya valid, netizen yang mengecek kebenarannya juga tidak salah. Apalagi jika semua data sudah dibuka secara sukarela lewat unggahan pribadi di media sosial.

Kedua, memanfaatkan celah peraturan untuk keuntungan pribadi. Kompas moral itu yang membedakan orang biasa dengan orang-orang culas. Terus berjalan di jalan kebenaran dan idealis memegang nilai-nilai kebaikan memang sulit, yang mudah kan masak mie instan. Selain itu setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dalam berpikir, berbicara atau bertindak. Tapi merencanakan penghidupan lebih baik sembari menginjak harkat dan martabat orang lain tentu bukan kesalahan yang mudah dimaafkan. Kalau Pandji bilang; ketersinggungan itu diambil/diterima bukan diberikan. Batasnya memang tipis sekali. Sebagai orang yang tinggal di negara ini, mengalami berbagai emosi dan dampak langsungnya, saya tersinggung dengan ungkapan "cukup aku WNI, anakku jangan." Ada perasaan marah kalau ingat saya yang ingin lanjut kuliah di ITB dengan beasiswa pemerintah itu sampai dua kali tidak lulus juga. Hanya di dalam negeri, tidak keluar kemana-mana lho, masih ga acc juga. Ya emang kurang pinter, jadi marah dan cari-cari alasan karena iri. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.

Ketiga, konflik kepentingan. Selain soal topik diatas, negara ini sudah sejak lama berkelindan dengan konflik kepentingan di kalangan pemangku kebijakannya. Yah, memang nyaman kok bisa dapat akses cepat dan mudah. Sekarang pun, posisi penting diisi bukan berdasarkan kemampuan dan rekam jejak profesional (merit-based), tapi berdasarkan relasi. Akan selalu ada banyak kebetulan untuk jadi pembenaran nepotisme. "Ah dia kapabel kok untuk posisi tersebut, hanya saja kebetulan keponakan si A.", "Oh dia kan lulusan luar negeri, tidak hanya sekadar adik si B."
Yah, anjing (menggonggong, kafilah berlalu).
Lalu, hal lain yang lebih mindblowing adalah betapa satu kasus viral bisa ditumpangi kepentingan lain supaya mampu menutup atau meredam kasus lainnya. Tentu sudah bukan hal asing lagi, soal daftar kasus yang bisa sewaktu-waktu dikeluarkan lalu dimanfaatkan untuk pengalih perhatian. Hah, semakin susah melihat mana yang organik dan tidak.

Selama ini saya bertanya-tanya apa ya yang membuat orang-orang berkecukupan secara materi, mampu secara akademik atau profesional untuk pindah dan tinggal ke luar negeri, tapi memutuskan untuk tetap disini. Bahkan, banyak dari mereka yang berjuang secara langsung untuk membuat negara ini lebih baik, walau berbuah hujatan. Saya selalu bersyukur masih banyak orang pintar, baik, berani dan kaya yang mau memperjuangkan kebaikan negara ini. Orang-orang dengan level intelektual, emosional dan spiritual yang matang. Berada dalam kondisi berkecukupan namun masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.

Saya ingat pernah baca komik mini di koran, ada anak dan ibunya yang melihat kondisi tidak ideal. Seorang penyapu jalanan yang bukan cita-cita anak kebanyakan. Si anak bilang "aku mau belajar yang rajin supaya besar nanti tak jadi seperti dia.", Si ibu menjawab "nak, belajarlah yang rajin supaya besar nanti kamu bisa membuat dunia lebih ramah baginya."
Betapa besar perbedaan antara dua kalimat itu. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (lainnya).

Salam,
A.

February 23, 2026

Yoga

Sebagai perempuan yang punya love and hate relationship dengan tubuhnya sendiri, olahraga tidaklah familiar untuk saya dalam waktu yang lama. Sejak remaja, saya selalu merasa jadi yang paling gendut di lingkar pertemanan. Pikiran ini terus bertahan hingga saya tumbuh dewasa, bahkan di kala berat badan saya baik dan normal, lebih ideal daripada saat ini. Sederhananya, saya tetap merasa gendut saat berada di berat badan terendah pun. Dari segi makanan dan cara makan juga, saya cenderung kurang bisa mengontrol porsi dan keinginan. Walau sedikit banyak telah paham akan kebutuhan nutrisi, namun secara sadar maupun tidak sadar sering kali terjebak ke "treat yourself better". Padahal better tidak berarti semaunya dan tidak kenal cukup. Oh... Ya Allah, semoga seiring waktu, kesadaran diri terbentuk dan punya hubungan baik dengan cara makan.

Saya pernah rutin mat pilates & barre di 2020-2021 secara mandiri dengan bantuan video YouTube. Tapi tidak pernah memilih yoga karena merasa pose-posenya terlalu sulit dan tidak cocok untuk saya yang fleksibilitasnya kurang. Saya memilih latihan yang mudah dulu supaya lebih gampang memelihara konsistensi, sayangnya lalu tenggelam dalam rutinitas yang telah diciptakan dan tidak mengeksplor lebih lanjut jenis latihan tubuh yang lain, hahaha. Setelah itu, walau tidak dalam waktu yang intens, saya mulai familiar dengan olahraga menggunakan dumbbell, lalu ditambah dengan lompat tali dan jalan kaki. Pilihan olahraga saya semakin bervariasi namun belum dilakukan secara rutin/terjadwal.

Di bulan Mei 2025 saya daftar membership gym bersama suami, ikut PT session 10x tapi PT-nya banyak sekali klien jadi susah punya jadwal rutin, saya tidak bisa mengatur jadwal sepihak dan somehow, ketidakteraturan is my kryptonite. Sesungguhnya main alat gym tidak seberat yang saya bayangkan, sebab banyak pilihan beban yang bisa disesuaikan. Namun, karena terbiasa gym dengan PT, maka keterampilan mengatur alat sebelum siap digunakan kurang saya dapatkan. Biasanya langsung dibantu dan tidak dibiarkan terbiasa mengatur alat sendiri. Akhirnya, saya menyisihkan opsi gym sementara waktu dan mencoba eksplor kelas-kelas. Mulai dari Poundfit, TRX, CID, Senam, dan Yoga. Dari banyak kelas ini, saya putuskan untuk coba konsisten di satu sampai dua kelas dulu sebelum nanti cross training sesuai kebutuhan. (Coyyy... atlet kahhhh)

Setelah kelas yoga, yang tentu saja seperti perkiraan, terasa sulit. Saya tetap memutuskan akan memilih kelas-kelas yoga. Karena pace-nya relatif lebih ringan dibanding Poundfit atau senam. Untuk saya, perasaan nyaman karena tidak merasa dikejar-kejar dan harus cepat mengikuti tempo musik ini adalah prioritas. Selain itu, yoga akan bermanfaat bagi saya yang bertahun-tahun struggling dengan konsentrasi. Lalu, soal fleksibilitas dan mobilitas badan, memang tidak semua orang terberkati dengan kemampuan itu secara alami, Namun, tetap bisa dilatih. Guru yoganya sendiri juga bilang, come as you are, practice and all is coming.

Di Juni-Desember tahun 2025 kemarin saya berhasil melalui 67 kelas yoga, yang ternyata banyak macamnya. Ada kelas:
- Backbend yoga yang pose/asana-nya fokus pada tulang belakang, membuka dada dan bahu serta tulang pinggul untuk melawan postur dan kebiasaan duduk yang tidak tegak/ bungkuk.
- Hatha yoga dengan pace pelan, fokus lebih dalam pada napas dan lebih banyak menahan asana, cocok untuk pemula karena guru akan lebih banyak memperbaiki alignment.
- Vinyasa yoga dengan pace lebih cepat, dinamis dan banyak transisi dari satu asana ke asana lain. Cocok untuk yang sudah mahir dan paham alignment.
- Inside flow yoga yang merupakan versi modern dari vinyasa dengan memadukan musik sebagai kuncian setiap pose. Pose dan transisi akan mengikuti tempo dan mood lagu. Challenging karena selain harus paham asana, juga harus menghafal dan peka terhadap bit musik.
- Power yoga secara transisi lebih padat dan ditujukan untuk membentuk otot dan fleksibilitas. Memang saat di kelas power yoga juga terasa lebih berat dibanding backbend.

Selain rutin mengikuti yoga di kelas gym, saya juga beberapa kali memberanikan diri mencoba latihan di studio yoga, ternyata suasananya berbeda. Di kelas gym, mungkin karena faktor banyak jenis kelas dan berbagai macam orang dengan olahraga pilihannya, rules and etiquette-nya tidak sesaklek di studio yoga yang memang fokus pada yoga saja. Dimana kondisi harus dipertahankan sesunyi dan setenang mungkin untuk menjaga konsentrasi. Namun, dari segi biaya tentu gym subscription lebih murah untuk hitungan kelas yang bisa diikuti daripada sekali datang ke studio yoga. Maka, untuk pemula yang ingin belajar dengan guru dan lebih ekonomis, kelas yoga di gym adalah stepping stone yang bagus. Sedangkan di studio, saya bisa mendapatkan pengalaman latihan sesuai pakem dan kondisi paling mendekati ideal. Selain itu perbedaan bahasa pengajaran juga menjadikan pengalaman keduanya lebih kaya lagi. Memahami dan lebih familiar dengan nama-nama pose dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Sanskrit. Secara keseluruhan, saya tetap menikmati kondisi berlatih baik di kelas gym dan studio yoga sebab masing-masing punya manfaat tersendiri untuk saya.

Setelah rutin yoga, saya mulai beli matras yang nyaman. Saya juga banyak follow dan menonton konten praktisi yoga di media sosial. Menyimpan banyak drills and tutorials yang belum dibuka lagi sampai sekarang, ya... namanya juga usaha, hahahaha. Sekarang saya sudah rutin yoga tiga sampai lima kelas seminggu, bahkan bisa dua kelas dalam sehari. Sebuah kemajuan besar untuk seseorang yang sempat benci pelajaran olahraga ketika sekolah. Semoga ini jadi kegiatan yang berlangsung lama hingga lebur jadi kebiasaan sehari-hari, senantiasa sparks joy dan membawa kebaikan. Aamiin!

Salam olahraga! Bzir~
A.

Oh, Hidup di Kota!

Hampir lima tahun tinggal di Ibukota, rasanya tetap banyak hal yang membuat tercengang. Perbedaan nilai-nilai dan cara hidup yang cukup signifikan walau dalam satu bendera yang sama. I guess, you can take the girl out of kabupaten, but you can't take the kabupaten out of the girl. Dan, ya tidak semua yang berasal dan berada di kabupaten citranya negatif, begitu pula sebaliknya.

Cukup banyak pemikiran baru yang saya alami di Jakarta. Orang-orang yang paham betul akan haknya dan tidak segan untuk komplain atau mengkonfrontir sesuatu. Saya, tumbuh dan terbiasa hidup dalam garis batas kesopanan, kadang komplain atau sekadar menuntut hak sama dengan melanggar kesopanan. Terbiasa menerima apa yang diberikan tanpa tapi.

Namun, tak jarang pemikiran yang begitu individualis ini mengakibatkan ketidaknyamanan. Pada beberapa kesempatan, ada permintaan tolong yang tak dihiraukan dan tanya yang diabaikan. Hanya karena, tidak mau terlibat masalah atau memotong waktunya. Ya, di kota besar waktu adalah uang (literally & figuratively).

Salah satu yang paling saya amati perbedaannya ialah saat pernikahan. Umumnya, saat ada hajatan di desa, tetangga berbondong-bondong saling membantu. Di kota, kini event organizer semakin marak. Salah satu penyebabnya tentu karena budaya saling membantu mulai ditinggalkan. Pergeseran budaya selalu punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, semua jadi lebih praktis. Sanak saudara bisa menikmati acara dengan nyaman karena tidak perlu ada yang masih sibuk di dapur saat ada perayaan. Sisi negatifnya, ya setiap yang transaksional pasti ada biayanya. Selain itu, suasana "guyub" saat rewang itu kadang terasa priceless, dan melihatnya luntur ditelan zaman menyisakan rasa getir yang sulit dijelaskan. Bittersweet.

Tentang hujan, adalah hal lain yang saya rasakan berbeda antara di kampung dan di kota. Di usia anak-anak dulu, hujan terasa menyenangkan. Bisa tidur pakai selimut, sebab di hari-hari biasa udara sudah cukup gerah untuk pakai selimut. Lalu makan mi kuah dan lihat hujan dari balik jendela. Seiring waktu berlalu, dan ekonomi orangtua bergejolak (lol) hujan tidak lagi nyaman. Rumah bocor jadi kekhawatiran yang muncul setiap tetes hujan mulai menitik. Walau tak lama dan tak menimbulkan kesusahan berarti, tapi cukup membekas. Atap bocor di kosan blok U juga jadi pengalaman tidak nyaman saat hujan. 

Saat kuliah dua semester awal saya tidak dibekali kendaraan, jadi dari asrama ke kampus harus jalan kaki. Dengan keadaan itu, tas saya terasa lebih berat karena tiap musim hujan harus tambah muatan jas hujan dan payung lipat. Sebagai orang yang prepare mentok, saya tidak merasa tenang jika harus memilih salah satunya. Karena keduanya dipakai saat hujan yang berbeda, jas hujan ketika hujan deras dan payung ketika gerimis. Saya, tentu saja tidak bisa memprediksi hujan seperti apa yang akan turun hari itu. Pengalaman jalan kaki pakai jas hujan sudah saya rasakan sejak kuliah, pun tetap saya rasakan saat bekerja. Jujur tidak nyaman, karena perasaan saya beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh. Entah kenapa, padahal kan tidak ada aturan khusus ya, jas hujan cuma boleh dipakai pengendara dan bukan pejalan kaki, Hahahah. Ya, itu dulu saat saya lebih muda, masih banyak memikirkan apa kata orang. Sekarang sih, gaaaas do whatever is right and safe for me, and vice versa, you do you.

Kembali ke masa kecil, bisa langsung tidur nyenyak saat hujan deras di luar adalah privilege. Sebab saya tahu sedang berada dalam kondisi aman, maka bisa tidur saat hujan tanpa banyak pikiran. Saya tumbuh besar di kampung yang relatif aman dari banjir. Ketika dewasa dan tinggal di kota besar. Hujan seakan jadi ancaman dan datang dengan menakutkan. Ada pikiran takut banjir dan atap kebocoran. Tidak ada lagi cerita hujan saatnya tidur nyenyak safe and sound. Apalagi tinggal di kota yang rawan banjir.

Tulisan ini beberapa lama tersimpan dalam draft, hari ini hujan sejak pagi dan ya... walaupun bahasannya mungkin kesana kemari, setidaknya semoga ini menjadi pemantik untuk kembali aktif disini. Sebab rasanya kepala semakin berisik, butuh yapping dengan lebih terstruktur dan waras disini. Haha.


Salam,
A.