May 19, 2026

Bagaimana Rasanya Makan Sushi Pertama Kali?

    Halo, kembali di seri #BagaimanaRasanya edisi makan makan makan (terlalu opening mbak...itu...mbak). Tulisan ini tidak ditulis langsung saat pertama kali mengalaminya, tapi menurut saya pengalaman ini layak diabadikan dalam sebuah tulisan. Dulu sushi bagi saya adalah makanan yang asing (selain memang bukan berasal dari dalam negeri), sekarang alhamdulillah sudah masuk ke alternatif menu makan kalau lagi jalan-jalan ke mal. Saat remaja, konsep makan ikan segar mentah hanya sesuatu yang saya lihat di televisi.     
    Seingat saya, pertama kali makan sushi adalah saat SMA sekitar tahun 2011-2012an (daym, age reveal). Waktu itu orang tua salah satu teman SMA saya baru buka tempat makan sushi di kota kami. Saya makan disana bersama beberapa teman sekelas. Melihat menu dengan nama yang sungguh tidak familiar jujur saja bikin bingung. Untungnya dijelaskan apa saja isian sushi tiap menunya. Seingat saya juga waktu itu konsepnya fusion (sotoy), alias menunya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Jadi, sepertinya semua menu pakai sajian ikan matang.
    Sayangnya saya sudah tidak ingat menu apa yang dipesan, yang saya ingat adalah sushi roll dengan ujung ekor udang menyembul, dan taburan kremesan diatasnya. Waktu itu saya juga masih kebingungan memegang sumpit. Lalu ketika mencocol sushi ke kecap asin juga terlalu nyemplung, alhasil rasa asinnya terlalu mendominasi beberapa suapan awal. Betul-betul banyak kejutan :) Rasanya sih bisa diterima dengan baik, yah seperti makan nasi dengan lauk saja hanya ini bentuknya berbeda. Nah pengalaman makan sushi dengan ikan matang itulah benchmark pertama dalam khazanah persushian saya.
    Fast forward lanjut saat pertama kali makan sushi (beneran) yang ikannya segar dan mentah. Sepertinya, pertama kalinya ini ketika sudah bekerja di Jakarta tahun 2020an. Waktu itu saya makan di tempat sushi yang ada conveyor beltnya, jadi banyak sushi dalam wadah tertutup yang jalan-jalan dibawa conveyor belt mengelilingi setiap meja. Waktu itu teman saya yang sudah biasa makan sushi (beneran) pesan menu salmon sashimi. Lalu dia menawari saya untuk mencoba, saya ikuti cara makannya. Ambil daging salmon potong dengan sumpit, celup secara penuh di campuran kecap asin dan bubuk cabai, lalu santap. Ok, tentu rasanya asing. Teksturnya kenyal tapi mudah dikunyah. Sedikit seperti meleleh di mulut. Ada rasa laut yang kurang bisa saya jelaskan, ada rasa ikan, sedikit asin, dan segar seperti meneguk air. Rasa ikannya tidak terasa amis pasar ikan. Ternyata, bisa diterima dan tertelan dengan baik.
    Kemudian di tahun 2025 kemarin, saya pertama kali mencoba raw scallop. Menurut saya rasa laut yang tadi kurang bisa saya jelaskan itu, lebih sedikit terasa mendingan daripada si salmon sashimi. Hanya saja, setiap makan sashimi, penampakan yang mentah itu masih sedikit mengirim informasi "siaga" ke otak saya. Hahahaha, padahal rasanya sudah bisa diterima. Oh iya, saus cocolan itu jadi aspek penting juga saat makan sashimi, biasanya cukup dengan kecap asin + bubuk cabai. Namun, baru-baru ini, saus dressing salad (sepertinya thousand island) + tobiko ternyata enak juga.
    Ketika pesan menu di tempat makan sushi, jangan malu bertanya. Karena umumnya nama menu-menunya pakai bahasa jepang, beberapa resto menuliskan uraian singkat menu tersebut terdiri dari apa saja. Walau tetap membingungkan untuk orang awam, karena nama olahannya tetap dalam bahasa jepang. Seperti maguro yang adalah ikan tuna, tobiko itu telur ikan, tamago itu telur dadar, dan sebagainya. Jadi, daripada menebak-nebak dari gambar, begitu merasa bingung langsung tanya saja, waiter/waitress akan menjelaskan. Lebih baik bertanya daripada tidak tertelan dan kaget saat sudah dihidangkan di meja.


atas kanan ke bawah kiri:
chuka idako (baby octopus), tobiko (telur ikan), ebi (udang), tamago (telur)
salmon belly, salmon, maguro (tuna), smoked duck
    
aburi maguro (ikan tuna setengah matang dengan nasi)

    Oh ya, kalau ingin coba sashimi atau sushi dengan isian mentah tapi belum berani, bisa coba menu-menu dengan awalan aburi (flame-seared/partially grilled/setengah matang). Nah, kalau sudah terbiasa dengan teksturnya nanti mungkin bisa lebih pede mencoba yang beneran fresh~ and raw~ and fun fun fun. Menurut saya pengalaman makan sushi banyak senangnya, karena ada banyak sekali varian yang bisa dicoba. ternyata bahan makanan asal sudah berkualitas baik, rasanya tetap enak walau minim pengolahan/proses masak.

Salam, 
A.

Tulisan Marah-marah

Tulisan ini menghuni draft cukup lama, menurut saya tulisan yang sarat dengan emosi negatif baiknya didiamkan saja beberapa waktu sebelum benar-benar diunggah ke alam liar internet. Setelah hari ini dibaca lagi, sepertinya masih cukup oke diunggah, yah entah dua tiga tahun ke depan kalau kepribadian dan pengetahuan sudah lebih baik lagi. Hahaha. Sepertinya blog ini tempat yang cukup lega untuk saya sepenuhnya jadi manusia di dunia maya, saat instagram terlalu silau dan twitter terlalu bising. Anyway, let's gauuwr.

Beberapa hari ini linimasa media sosial ramai dengan topik penerima beasiswa dan bahasan yang menyangkut tentang diaspora. Sebagai warga biasa yang tak punya irisan dengan kedua topik itu tentu saya hanya jadi penonton yang menyimak saja. 

Sudah dua atau tiga tahun berjalan saya membisukan beberapa kata kunci berkaitan dengan beasiswa dan sekolah ke luar negeri, semata agar lebih mudah mengelola perasaan. Kegagalan melanjutkan sekolah dengan beasiswa dan tinggal di luar negeri itu adalah pukulan cukup keras untuk saya. Jadi, setiap kali ada bahasan mengenai hal itu pasti sering muncul rasa iri dan penyesalan sebab merasa kurang berusaha lebih keras. Saya tidak ingin perasaan iri menguasai diri, lebih-lebih sampai berdampak buruk bagi orang lain. Biar beginipun, saya masih punya semangat jadi manusia yang baik hahaha.

Dengan berita itu muncul kembali, rupanya masih bisa memicu perasaan iri dan sesal lagi. Pertama, saya cukup muak dengan narasi from zero to hero apalagi jika si TS (thread starter) tidak berasal dari kondisi yang zero-zero banget. Memang rasanya cerita keberhasilan akan jadi lebih mantap jika si pencerita mengalami kondisi sulit atau tidak ideal dalam perjalanannya. Namun, mendefinisikan kesusahan itu memang cakupannya cukup lebar. Hingga tak jarang sesuatu yang bagi satu pihak susah banget, eh untuk pihak yang lain biasa saja. Perasaannya valid, netizen yang mengecek kebenarannya juga tidak salah. Apalagi jika semua data sudah dibuka secara sukarela lewat unggahan pribadi di media sosial.

Kedua, memanfaatkan celah peraturan untuk keuntungan pribadi. Kompas moral itu yang membedakan orang biasa dengan orang-orang culas. Terus berjalan di jalan kebenaran dan idealis memegang nilai-nilai kebaikan memang sulit, yang mudah kan masak mie instan. Selain itu setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dalam berpikir, berbicara atau bertindak. Tapi merencanakan penghidupan lebih baik sembari menginjak harkat dan martabat orang lain tentu bukan kesalahan yang mudah dimaafkan. Kalau Pandji bilang; ketersinggungan itu diambil/diterima bukan diberikan. Batasnya memang tipis sekali. Sebagai orang yang tinggal di negara ini, mengalami berbagai emosi dan dampak langsungnya, saya tersinggung dengan ungkapan "cukup aku WNI, anakku jangan." Ada perasaan marah kalau ingat saya yang ingin lanjut kuliah di ITB dengan beasiswa pemerintah itu sampai dua kali tidak lulus juga. Hanya di dalam negeri, tidak keluar kemana-mana lho, masih ga acc juga. Ya emang kurang pinter, jadi marah dan cari-cari alasan karena iri. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.

Ketiga, konflik kepentingan. Selain soal topik diatas, negara ini sudah sejak lama berkelindan dengan konflik kepentingan di kalangan pemangku kebijakannya. Yah, memang nyaman kok bisa dapat akses cepat dan mudah. Sekarang pun, posisi penting diisi bukan berdasarkan kemampuan dan rekam jejak profesional (merit-based), tapi berdasarkan relasi. Akan selalu ada banyak kebetulan untuk jadi pembenaran nepotisme. "Ah dia kapabel kok untuk posisi tersebut, hanya saja kebetulan keponakan si A.", "Oh dia kan lulusan luar negeri, tidak hanya sekadar adik si B."
Yah, anjing (menggonggong, kafilah berlalu).
Lalu, hal lain yang lebih mindblowing adalah betapa satu kasus viral bisa ditumpangi kepentingan lain supaya mampu menutup atau meredam kasus lainnya. Tentu sudah bukan hal asing lagi, soal daftar kasus yang bisa sewaktu-waktu dikeluarkan lalu dimanfaatkan untuk pengalih perhatian. Hah, semakin susah melihat mana yang organik dan tidak.

Selama ini saya bertanya-tanya apa ya yang membuat orang-orang berkecukupan secara materi, mampu secara akademik atau profesional untuk pindah dan tinggal ke luar negeri, tapi memutuskan untuk tetap disini. Bahkan, banyak dari mereka yang berjuang secara langsung untuk membuat negara ini lebih baik, walau berbuah hujatan. Saya selalu bersyukur masih banyak orang pintar, baik, berani dan kaya yang mau memperjuangkan kebaikan negara ini. Orang-orang dengan level intelektual, emosional dan spiritual yang matang. Berada dalam kondisi berkecukupan namun masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.

Saya ingat pernah baca komik mini di koran, ada anak dan ibunya yang melihat kondisi tidak ideal. Seorang penyapu jalanan yang bukan cita-cita anak kebanyakan. Si anak bilang "aku mau belajar yang rajin supaya besar nanti tak jadi seperti dia.", Si ibu menjawab "nak, belajarlah yang rajin supaya besar nanti kamu bisa membuat dunia lebih ramah baginya."
Betapa besar perbedaan antara dua kalimat itu. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (lainnya).

Salam,
A.

February 23, 2026

Yoga

Sebagai perempuan yang punya love and hate relationship dengan tubuhnya sendiri, olahraga tidaklah familiar untuk saya dalam waktu yang lama. Sejak remaja, saya selalu merasa jadi yang paling gendut di lingkar pertemanan. Pikiran ini terus bertahan hingga saya tumbuh dewasa, bahkan di kala berat badan saya baik dan normal, lebih ideal daripada saat ini. Sederhananya, saya tetap merasa gendut saat berada di berat badan terendah pun. Dari segi makanan dan cara makan juga, saya cenderung kurang bisa mengontrol porsi dan keinginan. Walau sedikit banyak telah paham akan kebutuhan nutrisi, namun secara sadar maupun tidak sadar sering kali terjebak ke "treat yourself better". Padahal better tidak berarti semaunya dan tidak kenal cukup. Oh... Ya Allah, semoga seiring waktu, kesadaran diri terbentuk dan punya hubungan baik dengan cara makan.

Saya pernah rutin mat pilates & barre di 2020-2021 secara mandiri dengan bantuan video YouTube. Tapi tidak pernah memilih yoga karena merasa pose-posenya terlalu sulit dan tidak cocok untuk saya yang fleksibilitasnya kurang. Saya memilih latihan yang mudah dulu supaya lebih gampang memelihara konsistensi, sayangnya lalu tenggelam dalam rutinitas yang telah diciptakan dan tidak mengeksplor lebih lanjut jenis latihan tubuh yang lain, hahaha. Setelah itu, walau tidak dalam waktu yang intens, saya mulai familiar dengan olahraga menggunakan dumbbell, lalu ditambah dengan lompat tali dan jalan kaki. Pilihan olahraga saya semakin bervariasi namun belum dilakukan secara rutin/terjadwal.

Di bulan Mei 2025 saya daftar membership gym bersama suami, ikut PT session 10x tapi PT-nya banyak sekali klien jadi susah punya jadwal rutin, saya tidak bisa mengatur jadwal sepihak dan somehow, ketidakteraturan is my kryptonite. Sesungguhnya main alat gym tidak seberat yang saya bayangkan, sebab banyak pilihan beban yang bisa disesuaikan. Namun, karena terbiasa gym dengan PT, maka keterampilan mengatur alat sebelum siap digunakan kurang saya dapatkan. Biasanya langsung dibantu dan tidak dibiarkan terbiasa mengatur alat sendiri. Akhirnya, saya menyisihkan opsi gym sementara waktu dan mencoba eksplor kelas-kelas. Mulai dari Poundfit, TRX, CID, Senam, dan Yoga. Dari banyak kelas ini, saya putuskan untuk coba konsisten di satu sampai dua kelas dulu sebelum nanti cross training sesuai kebutuhan. (Coyyy... atlet kahhhh)

Setelah kelas yoga, yang tentu saja seperti perkiraan, terasa sulit. Saya tetap memutuskan akan memilih kelas-kelas yoga. Karena pace-nya relatif lebih ringan dibanding Poundfit atau senam. Untuk saya, perasaan nyaman karena tidak merasa dikejar-kejar dan harus cepat mengikuti tempo musik ini adalah prioritas. Selain itu, yoga akan bermanfaat bagi saya yang bertahun-tahun struggling dengan konsentrasi. Lalu, soal fleksibilitas dan mobilitas badan, memang tidak semua orang terberkati dengan kemampuan itu secara alami, Namun, tetap bisa dilatih. Guru yoganya sendiri juga bilang, come as you are, practice and all is coming.

Di Juni-Desember tahun 2025 kemarin saya berhasil melalui 67 kelas yoga, yang ternyata banyak macamnya. Ada kelas:
- Backbend yoga yang pose/asana-nya fokus pada tulang belakang, membuka dada dan bahu serta tulang pinggul untuk melawan postur dan kebiasaan duduk yang tidak tegak/ bungkuk.
- Hatha yoga dengan pace pelan, fokus lebih dalam pada napas dan lebih banyak menahan asana, cocok untuk pemula karena guru akan lebih banyak memperbaiki alignment.
- Vinyasa yoga dengan pace lebih cepat, dinamis dan banyak transisi dari satu asana ke asana lain. Cocok untuk yang sudah mahir dan paham alignment.
- Inside flow yoga yang merupakan versi modern dari vinyasa dengan memadukan musik sebagai kuncian setiap pose. Pose dan transisi akan mengikuti tempo dan mood lagu. Challenging karena selain harus paham asana, juga harus menghafal dan peka terhadap bit musik.
- Power yoga secara transisi lebih padat dan ditujukan untuk membentuk otot dan fleksibilitas. Memang saat di kelas power yoga juga terasa lebih berat dibanding backbend.

Selain rutin mengikuti yoga di kelas gym, saya juga beberapa kali memberanikan diri mencoba latihan di studio yoga, ternyata suasananya berbeda. Di kelas gym, mungkin karena faktor banyak jenis kelas dan berbagai macam orang dengan olahraga pilihannya, rules and etiquette-nya tidak sesaklek di studio yoga yang memang fokus pada yoga saja. Dimana kondisi harus dipertahankan sesunyi dan setenang mungkin untuk menjaga konsentrasi. Namun, dari segi biaya tentu gym subscription lebih murah untuk hitungan kelas yang bisa diikuti daripada sekali datang ke studio yoga. Maka, untuk pemula yang ingin belajar dengan guru dan lebih ekonomis, kelas yoga di gym adalah stepping stone yang bagus. Sedangkan di studio, saya bisa mendapatkan pengalaman latihan sesuai pakem dan kondisi paling mendekati ideal. Selain itu perbedaan bahasa pengajaran juga menjadikan pengalaman keduanya lebih kaya lagi. Memahami dan lebih familiar dengan nama-nama pose dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Sanskrit. Secara keseluruhan, saya tetap menikmati kondisi berlatih baik di kelas gym dan studio yoga sebab masing-masing punya manfaat tersendiri untuk saya.

Setelah rutin yoga, saya mulai beli matras yang nyaman. Saya juga banyak follow dan menonton konten praktisi yoga di media sosial. Menyimpan banyak drills and tutorials yang belum dibuka lagi sampai sekarang, ya... namanya juga usaha, hahahaha. Sekarang saya sudah rutin yoga tiga sampai lima kelas seminggu, bahkan bisa dua kelas dalam sehari. Sebuah kemajuan besar untuk seseorang yang sempat benci pelajaran olahraga ketika sekolah. Semoga ini jadi kegiatan yang berlangsung lama hingga lebur jadi kebiasaan sehari-hari, senantiasa sparks joy dan membawa kebaikan. Aamiin!

Salam olahraga! Bzir~
A.

Oh, Hidup di Kota!

Hampir lima tahun tinggal di Ibukota, rasanya tetap banyak hal yang membuat tercengang. Perbedaan nilai-nilai dan cara hidup yang cukup signifikan walau dalam satu bendera yang sama. I guess, you can take the girl out of kabupaten, but you can't take the kabupaten out of the girl. Dan, ya tidak semua yang berasal dan berada di kabupaten citranya negatif, begitu pula sebaliknya.

Cukup banyak pemikiran baru yang saya alami di Jakarta. Orang-orang yang paham betul akan haknya dan tidak segan untuk komplain atau mengkonfrontir sesuatu. Saya, tumbuh dan terbiasa hidup dalam garis batas kesopanan, kadang komplain atau sekadar menuntut hak sama dengan melanggar kesopanan. Terbiasa menerima apa yang diberikan tanpa tapi.

Namun, tak jarang pemikiran yang begitu individualis ini mengakibatkan ketidaknyamanan. Pada beberapa kesempatan, ada permintaan tolong yang tak dihiraukan dan tanya yang diabaikan. Hanya karena, tidak mau terlibat masalah atau memotong waktunya. Ya, di kota besar waktu adalah uang (literally & figuratively).

Salah satu yang paling saya amati perbedaannya ialah saat pernikahan. Umumnya, saat ada hajatan di desa, tetangga berbondong-bondong saling membantu. Di kota, kini event organizer semakin marak. Salah satu penyebabnya tentu karena budaya saling membantu mulai ditinggalkan. Pergeseran budaya selalu punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, semua jadi lebih praktis. Sanak saudara bisa menikmati acara dengan nyaman karena tidak perlu ada yang masih sibuk di dapur saat ada perayaan. Sisi negatifnya, ya setiap yang transaksional pasti ada biayanya. Selain itu, suasana "guyub" saat rewang itu kadang terasa priceless, dan melihatnya luntur ditelan zaman menyisakan rasa getir yang sulit dijelaskan. Bittersweet.

Tentang hujan, adalah hal lain yang saya rasakan berbeda antara di kampung dan di kota. Di usia anak-anak dulu, hujan terasa menyenangkan. Bisa tidur pakai selimut, sebab di hari-hari biasa udara sudah cukup gerah untuk pakai selimut. Lalu makan mi kuah dan lihat hujan dari balik jendela. Seiring waktu berlalu, dan ekonomi orangtua bergejolak (lol) hujan tidak lagi nyaman. Rumah bocor jadi kekhawatiran yang muncul setiap tetes hujan mulai menitik. Walau tak lama dan tak menimbulkan kesusahan berarti, tapi cukup membekas. Atap bocor di kosan blok U juga jadi pengalaman tidak nyaman saat hujan. 

Saat kuliah dua semester awal saya tidak dibekali kendaraan, jadi dari asrama ke kampus harus jalan kaki. Dengan keadaan itu, tas saya terasa lebih berat karena tiap musim hujan harus tambah muatan jas hujan dan payung lipat. Sebagai orang yang prepare mentok, saya tidak merasa tenang jika harus memilih salah satunya. Karena keduanya dipakai saat hujan yang berbeda, jas hujan ketika hujan deras dan payung ketika gerimis. Saya, tentu saja tidak bisa memprediksi hujan seperti apa yang akan turun hari itu. Pengalaman jalan kaki pakai jas hujan sudah saya rasakan sejak kuliah, pun tetap saya rasakan saat bekerja. Jujur tidak nyaman, karena perasaan saya beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh. Entah kenapa, padahal kan tidak ada aturan khusus ya, jas hujan cuma boleh dipakai pengendara dan bukan pejalan kaki, Hahahah. Ya, itu dulu saat saya lebih muda, masih banyak memikirkan apa kata orang. Sekarang sih, gaaaas do whatever is right and safe for me, and vice versa, you do you.

Kembali ke masa kecil, bisa langsung tidur nyenyak saat hujan deras di luar adalah privilege. Sebab saya tahu sedang berada dalam kondisi aman, maka bisa tidur saat hujan tanpa banyak pikiran. Saya tumbuh besar di kampung yang relatif aman dari banjir. Ketika dewasa dan tinggal di kota besar. Hujan seakan jadi ancaman dan datang dengan menakutkan. Ada pikiran takut banjir dan atap kebocoran. Tidak ada lagi cerita hujan saatnya tidur nyenyak safe and sound. Apalagi tinggal di kota yang rawan banjir.

Tulisan ini beberapa lama tersimpan dalam draft, hari ini hujan sejak pagi dan ya... walaupun bahasannya mungkin kesana kemari, setidaknya semoga ini menjadi pemantik untuk kembali aktif disini. Sebab rasanya kepala semakin berisik, butuh yapping dengan lebih terstruktur dan waras disini. Haha.


Salam,
A.

January 19, 2026

Hidup Sebagai Manusia Dewasa

    Saya di masa kecil berpikir jadi manusia dewasa itu lebih menyenangkan karena terlihat bebas dari aturan orang tua. Tidak perlu punya jam malam, bisa pergi kemana saja, boleh beli apa saja. Waktu itu, keponakan saya yang masih umur 6 tahun nyeletuk "aku mau jadi orang dewasa aja, bukan anak-anak" lalu saya tanya memangnya kenapa mau jadi orang dewasa. Dia jawab "kan enak jadi orang dewasa bisa main hp terus".
    Sebuah jawaban sederhana yang bisa jadi renungan sekaligus pukulan. "Orang dewasa bisa main hp terus" menurutnya adalah kebebasan, keleluasaaan yang belum dimiliki anak-anak. Sebab mereka masih hidup dalam naungan orang tua. "Orang dewasa bisa main hp terus" juga adalah pukulan telak, bisa jadi Ia mengamati orang dewasa di sekitarnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada bermain dengannya.
    Saya merasa waktu masih anak-anak, semangka banyak bijinya, aktivitas makan semangka jadi terasa sedikit tidak menggembirakan karena saya harus menyingkirkan bijinya satu-satu sebelum makan. Sementara hari-hari ini makan semangka terasa lebih nyaman karena banyak varietas semangka non-biji. Tidak hanya manusia ya yang berubah, ternyata hasil rekayasa hayati yang dulu sekadar dibaca di buku biologi sekarang memang ada di sekeliling. Ya, bahkan 3D printer dan mobil listrik yang waktu maba terdengar sangat futuristik itu, sekarang pun sudah marak dimana-mana.
    Dulu di masa sekolah, fase yang dilalui teman seangkatan seakan seragam. Sedang mempelajari bab sekian, mempersiapkan ulangan pelajaran tertentu, dan memilih ekskul mana yang nyaman dijalani. Hidup yang bertahun-tahun terasa berjalan sesuai manual book itu kemudian berubah drastis ketika masa sekolah usai. Pun di kehidupan perkuliahan, kelas-kelas yang diambil sangat bisa berbeda walau ada dalam satu jurusan. Itu bisa jadi salah satu faktor yang mempercepat atau melambatkan laju setiap orang. 
   Ketika sudah lulus kuliah, fase yang berbeda ini semakin lebar gap-nya. Ada yang melanjutkan jenjang lebih tinggi, bekerja, membangun keluarga dan lainnya. Seiring fase yang berbeda, perspektif pun berubah, bahkan standar hidup baik-buruk; benar-salah setiap orang juga SANGAT mungkin berubah.
    Ketika masih SD, waktu meraut pensil adalah salah satu "break" yang paling saya tunggu. Saya bisa keluar kelas, menghirup udara luar dan istirahat sebentar dari pelajaran yang berlangsung. Meraut pensil dengan cutter adalah favorit saya, sebab rasanya peraut biasa membuat runcingnya pensil jadi keterlaluan, tidak nyaman digunakan menulis karena goresan terlalu tipis.
    Ketika sudah mengalami kerja kantoran, break-nya tidak sekadar untuk bisa menghirup udara luar, tapi juga untuk menangis diam-diam di toilet. Lalu kembali ke meja kerja, seolah biasa saja. Seakan perasaan tertekan dan gelisah di toilet itu ikut hanyut ketika flush sudah ditekan. Lucu juga ya, ternyata sejak kecil terlatih mengelola emosi tanpa disadari (dan tetap kewalahan walau sudah "latihan").
  Setelah dewasa, ternyata memang punya kebebasan menentukan arah itu nikmat. Saya punya kewenangan sendiri tentang apa yang akan dilakukan, keputusan yang diambil serta tahu betul kemana resourcenya akan dicurahkan. Sementara itu, kebiasaan dan aturan-aturan yang membentuk saya sejak kecil adalah pagar yang bisa jadi membantu hidup masa dewasa ini lebih terstruktur. Jadi, meskipun dulu menyebalkan sekali mengikuti "cara main" orang tua, ternyata ada manfaatnya. Kadang malah ada perasaan mau jadi anak-anak lagi, yang tidak perlu mengerahkan 100% kemampuan otak untuk berpikir. Sebab orang tua biasanya sudah punya daftar to-do list untuk kita penuhi HAHA. 
    Sekarang, menentukan pilihan yang akan dijalani terasa lebih leluasa. Tentu saja, bisa sekadar punya pilihan berarti hidup sudah lebih baik. Apalagi sampai bisa menentukan pilihan secara merdeka. Tantangannya lebih kepada mengelola ekspektasi. Sebab tanpa disadari hari-hari ini kita melihat kehidupan orang lain terlalu intens. Lalu muncul perbandingan, secara diam-diam pikiran jadi terbelah fokusnya. Semoga senantiasa bisa kembali pada pertanyaan "melakukan ini untuk siapa, dan mengapa?" supaya penentuan keputusan selalu terang dan jelas.