Bagi warga, Q3 di Indonesia biasanya disibukkan dengan banyak acara, karena inilah waktu perpindahan semester sekolah serta peringatan hari kemerdekaan negara. Kalimat pembuka yang kurang seamless, yah yuk bisa yuk nulis lebih bagus lagi. Okay, kembali. Sebagai perantau yang masih ingin tetap memiliki kedekatan dengan kampung halaman, saya tergabung di grup fb warga desa. Konsisten menjadi silent reader di grup fb itu menjadikan saya cukup update dan tak kehabisan bahan obrolan saat pulang kampung.
Baru-baru ini, grup ramai dengan topik soal karnaval tahunan. Sejak saya kecil memang karnaval adalah one of the most anticipated event bagi warga. Berada di desa yang lebih dekat ke pesisir pantai daripada ke pusat kabupaten membuat kami sangat antusias dengan jenis hiburan sekecil apapun.
Seiring waktu, karnaval di desa juga berkembang. Dari yang didominasi pawai orang-orang berjalan kaki, kini diselipi penggunaan kereta beroda dan kendaraan bermotor. Mulai dari penggunaan sound system volume wajar hingga berlomba dari segi volume dan ukuran sound.
Waktu kecil, saya pikir karnaval dan hajatan dengan sound sangat keras itu semata karena pengaturannya tidak benar. Selayaknya menggeser jarum penunjuk frekuensi radio dengan tidak pas, jadi kemresek dan suaranya tumpang tindih. Ternyata, suara sound yang bikin dada ndredeg dan kaca jendela bergetar itu memang diatur super keras. Prank prank :)
Di Jawa Timur, sound horeg kian menjamur tak hanya sekadar menjadi pendukung hajatan, namun memiliki panggungnya sendiri pada agenda karnaval tahunan. Warga berlomba menyewa sound horeg terbaik, baik menyewa secara perorangan atau mengumpulkan iuran dari rumah ke rumah.
Persoalan tahun ini di desa saya adalah kabar bahwa karnaval khusus sound horeg akan ditempatkan di Jalur Lintas Selatan. Jalan yang membentang dari ujung barat hingga timur pulau Jawa, yang di beberapa titik masih dalam pembangunan hingga belum tersambung utuh sepenuhnya.
Di tahun 2026 ketika hampir semua orang punya akses ke internet dan sosial media, suara warga desa yang tidak setuju dengan pemindahan lokasi karnaval ini jadi cukup nyaring. Menurut sebagian warga, JLS cukup jauh dari pemukiman dan pusat desa. Kira-kira sekitar 25 menitan dengan motor di jalan desa yang jarang macet itu memang lumayan jauh.
Selain itu, menurut warga ini adalah saat yang tepat untuk merayakan jalan utama desa yang baru diperbaiki. Ya, dengan mengadakan acara di jalan yang dibangun dengan pajak. “Toh, agenda ini hanya setahun sekali”, ketik beberapa komentar memaklumi.
Sebagai warga desa yang walaupun secara dokumen kependudukan sudah pindah, menurut saya ide menempatkan karnaval khusus sound horeg di JLS itu tepat, jauh dari pemukiman sehingga yang datang dan nonton ya memang yang mau dan niat saja. JLS yang kanan-kirinya sawah, kebun dan pesisir itu juga relatif sepi, tidak seperti jalan utama desa yang ramai dilewati warga karena berada diantara pasar, sekolah dan tempat layanan publik.
Soal jalan utama desa yang baru diperbaiki itu mungkin merayakannya cukup dengan mencegah kendaraan kelebihan muatan untuk melintasinya (walau tentu ini bukan tugas warga YAKAAAN) Tapi yang jelas, beberapa truk pengangkut sound horeg sudah pasti kelebihan muatan.
Di daerah yang sama ini waktu kampanye pilkada, salah satu calonnya berjanji untuk memberdayakan pegiat sound horeg. Celakanya, iming-iming kampanye biasanya lebih banyak menguntungkan kontestan politik dibanding rakyat kebanyakan. Dalam hal itu, pegiat sound horeg merasa perlu menagih janji karena sudah berkontribusi memenangkan ybs. Di sisi lain, pemberian izin dengan regulasi yang sudah ada, namun tanpa diiringi pengawasan langsung yang konsisten akan menjadi sia-sia.
Secara pribadi, persoalan sound horeg ini pernah saya temui dan lumayan membekas. Saat menikah, saya mencoba bilang dari awal untuk jangan pakai sound horeg, boleh lagu apapun tapi jangan sampai volumenya bikin getar pintu jendela. Tapi apa yang terjadi saat hari H? yap! vendor sound (yang sekaligus vendor tenda) malah menolak mengecilkan suara soundnya. Menjaga image bahwa performa soundnya dapat diandalkan lebih penting daripada mengikuti permintaan klien. Bahkan, walau si pengantinnya (ya, saya) langsung yang minta volume sound diturunkan.
Saya cuma berharap saat itu tidak ada tetangga yang kemudian terganggu dan amit-amit mbatin jelek karena sound keras yang diluar kendali saya. Sungguh volume yang tidak ramah, utamanya bagi lansia dan bayi-bayi, suasana tentu jadi tidak kondusif bagi mereka.
Rasanya “setahun sekali” tidak bisa jadi pembenaran untuk mengorbankan banyak telinga. Karena selain karnaval yang setahun sekali, gempuran sound horeg hajatan tak mungkin hanya muncul setahun sekali, kan?
Bagi saya, lebih nyaman mendengarkan musik dengan volume sampai batas tertentu. Tak sampai menggetarkan dada secara literal. Jika ada yang bisa menikmati sound horeg dengan nyaman, kiranya menyediakan ruang toleransi yang lapang untuk kami yang punya preferensi berbeda.
Selain itu, apapun yang berlebihan memang tidak baik, dan mendekatkan pada bahaya.
Salam.
A.