February 23, 2026

Oh, Hidup di Kota!

Hampir lima tahun tinggal di Ibukota, rasanya tetap banyak hal yang membuat tercengang. Perbedaan nilai-nilai dan cara hidup yang cukup signifikan walau dalam satu bendera yang sama. I guess, you can take the girl out of kabupaten, but you can't take the kabupaten out of the girl. Dan, ya tidak semua yang berasal dan berada di kabupaten citranya negatif, begitu pula sebaliknya.

Cukup banyak pemikiran baru yang saya alami di Jakarta. Orang-orang yang paham betul akan haknya dan tidak segan untuk komplain atau mengkonfrontir sesuatu. Saya, tumbuh dan terbiasa hidup dalam garis batas kesopanan, kadang komplain atau sekadar menuntut hak sama dengan melanggar kesopanan. Terbiasa menerima apa yang diberikan tanpa tapi.

Namun, tak jarang pemikiran yang begitu individualis ini mengakibatkan ketidaknyamanan. Pada beberapa kesempatan, ada permintaan tolong yang tak dihiraukan dan tanya yang diabaikan. Hanya karena, tidak mau terlibat masalah atau memotong waktunya. Ya, di kota besar waktu adalah uang (literally & figuratively).

Salah satu yang paling saya amati perbedaannya ialah saat pernikahan. Umumnya, saat ada hajatan di desa, tetangga berbondong-bondong saling membantu. Di kota, kini event organizer semakin marak. Salah satu penyebabnya tentu karena budaya saling membantu mulai ditinggalkan. Pergeseran budaya selalu punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, semua jadi lebih praktis. Sanak saudara bisa menikmati acara dengan nyaman karena tidak perlu ada yang masih sibuk di dapur saat ada perayaan. Sisi negatifnya, ya setiap yang transaksional pasti ada biayanya. Selain itu, suasana "guyub" saat rewang itu kadang terasa priceless, dan melihatnya luntur ditelan zaman menyisakan rasa getir yang sulit dijelaskan. Bittersweet.

Tentang hujan, adalah hal lain yang saya rasakan berbeda antara di kampung dan di kota. Di usia anak-anak dulu, hujan terasa menyenangkan. Bisa tidur pakai selimut, sebab di hari-hari biasa udara sudah cukup gerah untuk pakai selimut. Lalu makan mi kuah dan lihat hujan dari balik jendela. Seiring waktu berlalu, dan ekonomi orangtua bergejolak (lol) hujan tidak lagi nyaman. Rumah bocor jadi kekhawatiran yang muncul setiap tetes hujan mulai menitik. Walau tak lama dan tak menimbulkan kesusahan berarti, tapi cukup membekas. Atap bocor di kosan blok U juga jadi pengalaman tidak nyaman saat hujan. 

Saat kuliah dua semester awal saya tidak dibekali kendaraan, jadi dari asrama ke kampus harus jalan kaki. Dengan keadaan itu, tas saya terasa lebih berat karena tiap musim hujan harus tambah muatan jas hujan dan payung lipat. Sebagai orang yang prepare mentok, saya tidak merasa tenang jika harus memilih salah satunya. Karena keduanya dipakai saat hujan yang berbeda, jas hujan ketika hujan deras dan payung ketika gerimis. Saya, tentu saja tidak bisa memprediksi hujan seperti apa yang akan turun hari itu. Pengalaman jalan kaki pakai jas hujan sudah saya rasakan sejak kuliah, pun tetap saya rasakan saat bekerja. Jujur tidak nyaman, karena perasaan saya beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh. Entah kenapa, padahal kan tidak ada aturan khusus ya, jas hujan cuma boleh dipakai pengendara dan bukan pejalan kaki, Hahahah. Ya, itu dulu saat saya lebih muda, masih banyak memikirkan apa kata orang. Sekarang sih, gaaaas do whatever is right and safe for me, and vice versa, you do you.

Kembali ke masa kecil, bisa langsung tidur nyenyak saat hujan deras di luar adalah privilege. Sebab saya tahu sedang berada dalam kondisi aman, maka bisa tidur saat hujan tanpa banyak pikiran. Saya tumbuh besar di kampung yang relatif aman dari banjir. Ketika dewasa dan tinggal di kota besar. Hujan seakan jadi ancaman dan datang dengan menakutkan. Ada pikiran takut banjir dan atap kebocoran. Tidak ada lagi cerita hujan saatnya tidur nyenyak safe and sound. Apalagi tinggal di kota yang rawan banjir.

Tulisan ini beberapa lama tersimpan dalam draft, hari ini hujan sejak pagi dan ya... walaupun bahasannya mungkin kesana kemari, setidaknya semoga ini menjadi pemantik untuk kembali aktif disini. Sebab rasanya kepala semakin berisik, butuh yapping dengan lebih terstruktur dan waras disini. Haha.


Salam,
A.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.