| atas kanan ke bawah kiri: chuka idako (baby octopus), tobiko (telur ikan), ebi (udang), tamago (telur) salmon belly, salmon, maguro (tuna), smoked duck |
| aburi maguro (ikan tuna setengah matang dengan nasi) |
| atas kanan ke bawah kiri: chuka idako (baby octopus), tobiko (telur ikan), ebi (udang), tamago (telur) salmon belly, salmon, maguro (tuna), smoked duck |
| aburi maguro (ikan tuna setengah matang dengan nasi) |
Tulisan ini menghuni draft cukup lama, menurut saya tulisan yang sarat dengan emosi negatif baiknya didiamkan saja beberapa waktu sebelum benar-benar diunggah ke alam liar internet. Setelah hari ini dibaca lagi, sepertinya masih cukup oke diunggah, yah entah dua tiga tahun ke depan kalau kepribadian dan pengetahuan sudah lebih baik lagi. Hahaha. Sepertinya blog ini tempat yang cukup lega untuk saya sepenuhnya jadi manusia di dunia maya, saat instagram terlalu silau dan twitter terlalu bising. Anyway, let's gauuwr.
Beberapa hari ini linimasa media sosial ramai dengan topik penerima beasiswa dan bahasan yang menyangkut tentang diaspora. Sebagai warga biasa yang tak punya irisan dengan kedua topik itu tentu saya hanya jadi penonton yang menyimak saja.
Sudah dua atau tiga tahun berjalan saya membisukan beberapa kata kunci berkaitan dengan beasiswa dan sekolah ke luar negeri, semata agar lebih mudah mengelola perasaan. Kegagalan melanjutkan sekolah dengan beasiswa dan tinggal di luar negeri itu adalah pukulan cukup keras untuk saya. Jadi, setiap kali ada bahasan mengenai hal itu pasti sering muncul rasa iri dan penyesalan sebab merasa kurang berusaha lebih keras. Saya tidak ingin perasaan iri menguasai diri, lebih-lebih sampai berdampak buruk bagi orang lain. Biar beginipun, saya masih punya semangat jadi manusia yang baik hahaha.
Dengan berita itu muncul kembali, rupanya masih bisa memicu perasaan iri dan sesal lagi. Pertama, saya cukup muak dengan narasi from zero to hero apalagi jika si TS (thread starter) tidak berasal dari kondisi yang zero-zero banget. Memang rasanya cerita keberhasilan akan jadi lebih mantap jika si pencerita mengalami kondisi sulit atau tidak ideal dalam perjalanannya. Namun, mendefinisikan kesusahan itu memang cakupannya cukup lebar. Hingga tak jarang sesuatu yang bagi satu pihak susah banget, eh untuk pihak yang lain biasa saja. Perasaannya valid, netizen yang mengecek kebenarannya juga tidak salah. Apalagi jika semua data sudah dibuka secara sukarela lewat unggahan pribadi di media sosial.
Kedua, memanfaatkan celah peraturan untuk keuntungan pribadi. Kompas moral itu yang membedakan orang biasa dengan orang-orang culas. Terus berjalan di jalan kebenaran dan idealis memegang nilai-nilai kebaikan memang sulit, yang mudah kan masak mie instan. Selain itu setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dalam berpikir, berbicara atau bertindak. Tapi merencanakan penghidupan lebih baik sembari menginjak harkat dan martabat orang lain tentu bukan kesalahan yang mudah dimaafkan. Kalau Pandji bilang; ketersinggungan itu diambil/diterima bukan diberikan. Batasnya memang tipis sekali. Sebagai orang yang tinggal di negara ini, mengalami berbagai emosi dan dampak langsungnya, saya tersinggung dengan ungkapan "cukup aku WNI, anakku jangan." Ada perasaan marah kalau ingat saya yang ingin lanjut kuliah di ITB dengan beasiswa pemerintah itu sampai dua kali tidak lulus juga. Hanya di dalam negeri, tidak keluar kemana-mana lho, masih ga acc juga. Ya emang kurang pinter, jadi marah dan cari-cari alasan karena iri. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.
Selama ini saya bertanya-tanya apa ya yang membuat orang-orang berkecukupan secara materi, mampu secara akademik atau profesional untuk pindah dan tinggal ke luar negeri, tapi memutuskan untuk tetap disini. Bahkan, banyak dari mereka yang berjuang secara langsung untuk membuat negara ini lebih baik, walau berbuah hujatan. Saya selalu bersyukur masih banyak orang pintar, baik, berani dan kaya yang mau memperjuangkan kebaikan negara ini. Orang-orang dengan level intelektual, emosional dan spiritual yang matang. Berada dalam kondisi berkecukupan namun masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.
Sebagai perempuan yang punya love and hate relationship dengan tubuhnya sendiri, olahraga tidaklah familiar untuk saya dalam waktu yang lama. Sejak remaja, saya selalu merasa jadi yang paling gendut di lingkar pertemanan. Pikiran ini terus bertahan hingga saya tumbuh dewasa, bahkan di kala berat badan saya baik dan normal, lebih ideal daripada saat ini. Sederhananya, saya tetap merasa gendut saat berada di berat badan terendah pun. Dari segi makanan dan cara makan juga, saya cenderung kurang bisa mengontrol porsi dan keinginan. Walau sedikit banyak telah paham akan kebutuhan nutrisi, namun secara sadar maupun tidak sadar sering kali terjebak ke "treat yourself better". Padahal better tidak berarti semaunya dan tidak kenal cukup. Oh... Ya Allah, semoga seiring waktu, kesadaran diri terbentuk dan punya hubungan baik dengan cara makan.
Saya pernah rutin mat pilates & barre di 2020-2021 secara mandiri dengan bantuan video YouTube. Tapi tidak pernah memilih yoga karena merasa pose-posenya terlalu sulit dan tidak cocok untuk saya yang fleksibilitasnya kurang. Saya memilih latihan yang mudah dulu supaya lebih gampang memelihara konsistensi, sayangnya lalu tenggelam dalam rutinitas yang telah diciptakan dan tidak mengeksplor lebih lanjut jenis latihan tubuh yang lain, hahaha. Setelah itu, walau tidak dalam waktu yang intens, saya mulai familiar dengan olahraga menggunakan dumbbell, lalu ditambah dengan lompat tali dan jalan kaki. Pilihan olahraga saya semakin bervariasi namun belum dilakukan secara rutin/terjadwal.
Di bulan Mei 2025 saya daftar membership gym bersama suami, ikut PT session 10x tapi PT-nya banyak sekali klien jadi susah punya jadwal rutin, saya tidak bisa mengatur jadwal sepihak dan somehow, ketidakteraturan is my kryptonite. Sesungguhnya main alat gym tidak seberat yang saya bayangkan, sebab banyak pilihan beban yang bisa disesuaikan. Namun, karena terbiasa gym dengan PT, maka keterampilan mengatur alat sebelum siap digunakan kurang saya dapatkan. Biasanya langsung dibantu dan tidak dibiarkan terbiasa mengatur alat sendiri. Akhirnya, saya menyisihkan opsi gym sementara waktu dan mencoba eksplor kelas-kelas. Mulai dari Poundfit, TRX, CID, Senam, dan Yoga. Dari banyak kelas ini, saya putuskan untuk coba konsisten di satu sampai dua kelas dulu sebelum nanti cross training sesuai kebutuhan. (Coyyy... atlet kahhhh)
Setelah kelas yoga, yang tentu saja seperti perkiraan, terasa sulit. Saya tetap memutuskan akan memilih kelas-kelas yoga. Karena pace-nya relatif lebih ringan dibanding Poundfit atau senam. Untuk saya, perasaan nyaman karena tidak merasa dikejar-kejar dan harus cepat mengikuti tempo musik ini adalah prioritas. Selain itu, yoga akan bermanfaat bagi saya yang bertahun-tahun struggling dengan konsentrasi. Lalu, soal fleksibilitas dan mobilitas badan, memang tidak semua orang terberkati dengan kemampuan itu secara alami, Namun, tetap bisa dilatih. Guru yoganya sendiri juga bilang, come as you are, practice and all is coming.
Selain rutin mengikuti yoga di kelas gym, saya juga beberapa kali memberanikan diri mencoba latihan di studio yoga, ternyata suasananya berbeda. Di kelas gym, mungkin karena faktor banyak jenis kelas dan berbagai macam orang dengan olahraga pilihannya, rules and etiquette-nya tidak sesaklek di studio yoga yang memang fokus pada yoga saja. Dimana kondisi harus dipertahankan sesunyi dan setenang mungkin untuk menjaga konsentrasi. Namun, dari segi biaya tentu gym subscription lebih murah untuk hitungan kelas yang bisa diikuti daripada sekali datang ke studio yoga. Maka, untuk pemula yang ingin belajar dengan guru dan lebih ekonomis, kelas yoga di gym adalah stepping stone yang bagus. Sedangkan di studio, saya bisa mendapatkan pengalaman latihan sesuai pakem dan kondisi paling mendekati ideal. Selain itu perbedaan bahasa pengajaran juga menjadikan pengalaman keduanya lebih kaya lagi. Memahami dan lebih familiar dengan nama-nama pose dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Sanskrit. Secara keseluruhan, saya tetap menikmati kondisi berlatih baik di kelas gym dan studio yoga sebab masing-masing punya manfaat tersendiri untuk saya.
Setelah rutin yoga, saya mulai beli matras yang nyaman. Saya juga banyak follow dan menonton konten praktisi yoga di media sosial. Menyimpan banyak drills and tutorials yang belum dibuka lagi sampai sekarang, ya... namanya juga usaha, hahahaha. Sekarang saya sudah rutin yoga tiga sampai lima kelas seminggu, bahkan bisa dua kelas dalam sehari. Sebuah kemajuan besar untuk seseorang yang sempat benci pelajaran olahraga ketika sekolah. Semoga ini jadi kegiatan yang berlangsung lama hingga lebur jadi kebiasaan sehari-hari, senantiasa sparks joy dan membawa kebaikan. Aamiin!
Hampir lima tahun tinggal di Ibukota, rasanya tetap banyak hal yang membuat tercengang. Perbedaan nilai-nilai dan cara hidup yang cukup signifikan walau dalam satu bendera yang sama. I guess, you can take the girl out of kabupaten, but you can't take the kabupaten out of the girl. Dan, ya tidak semua yang berasal dan berada di kabupaten citranya negatif, begitu pula sebaliknya.
Cukup banyak pemikiran baru yang saya alami di Jakarta. Orang-orang yang paham betul akan haknya dan tidak segan untuk komplain atau mengkonfrontir sesuatu. Saya, tumbuh dan terbiasa hidup dalam garis batas kesopanan, kadang komplain atau sekadar menuntut hak sama dengan melanggar kesopanan. Terbiasa menerima apa yang diberikan tanpa tapi.
Namun, tak jarang pemikiran yang begitu individualis ini mengakibatkan ketidaknyamanan. Pada beberapa kesempatan, ada permintaan tolong yang tak dihiraukan dan tanya yang diabaikan. Hanya karena, tidak mau terlibat masalah atau memotong waktunya. Ya, di kota besar waktu adalah uang (literally & figuratively).
Salah satu yang paling saya amati perbedaannya ialah saat pernikahan. Umumnya, saat ada hajatan di desa, tetangga berbondong-bondong saling membantu. Di kota, kini event organizer semakin marak. Salah satu penyebabnya tentu karena budaya saling membantu mulai ditinggalkan. Pergeseran budaya selalu punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, semua jadi lebih praktis. Sanak saudara bisa menikmati acara dengan nyaman karena tidak perlu ada yang masih sibuk di dapur saat ada perayaan. Sisi negatifnya, ya setiap yang transaksional pasti ada biayanya. Selain itu, suasana "guyub" saat rewang itu kadang terasa priceless, dan melihatnya luntur ditelan zaman menyisakan rasa getir yang sulit dijelaskan. Bittersweet.
Tentang hujan, adalah hal lain yang saya rasakan berbeda antara di kampung dan di kota. Di usia anak-anak dulu, hujan terasa menyenangkan. Bisa tidur pakai selimut, sebab di hari-hari biasa udara sudah cukup gerah untuk pakai selimut. Lalu makan mi kuah dan lihat hujan dari balik jendela. Seiring waktu berlalu, dan ekonomi orangtua bergejolak (lol) hujan tidak lagi nyaman. Rumah bocor jadi kekhawatiran yang muncul setiap tetes hujan mulai menitik. Walau tak lama dan tak menimbulkan kesusahan berarti, tapi cukup membekas. Atap bocor di kosan blok U juga jadi pengalaman tidak nyaman saat hujan.
Saat kuliah dua semester awal saya tidak dibekali kendaraan, jadi dari asrama ke kampus harus jalan kaki. Dengan keadaan itu, tas saya terasa lebih berat karena tiap musim hujan harus tambah muatan jas hujan dan payung lipat. Sebagai orang yang prepare mentok, saya tidak merasa tenang jika harus memilih salah satunya. Karena keduanya dipakai saat hujan yang berbeda, jas hujan ketika hujan deras dan payung ketika gerimis. Saya, tentu saja tidak bisa memprediksi hujan seperti apa yang akan turun hari itu. Pengalaman jalan kaki pakai jas hujan sudah saya rasakan sejak kuliah, pun tetap saya rasakan saat bekerja. Jujur tidak nyaman, karena perasaan saya beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh. Entah kenapa, padahal kan tidak ada aturan khusus ya, jas hujan cuma boleh dipakai pengendara dan bukan pejalan kaki, Hahahah. Ya, itu dulu saat saya lebih muda, masih banyak memikirkan apa kata orang. Sekarang sih, gaaaas do whatever is right and safe for me, and vice versa, you do you.
Kembali ke masa kecil, bisa langsung tidur nyenyak saat hujan deras di luar adalah privilege. Sebab saya tahu sedang berada dalam kondisi aman, maka bisa tidur saat hujan tanpa banyak pikiran. Saya tumbuh besar di kampung yang relatif aman dari banjir. Ketika dewasa dan tinggal di kota besar. Hujan seakan jadi ancaman dan datang dengan menakutkan. Ada pikiran takut banjir dan atap kebocoran. Tidak ada lagi cerita hujan saatnya tidur nyenyak safe and sound. Apalagi tinggal di kota yang rawan banjir.
Tulisan ini beberapa lama tersimpan dalam draft, hari ini hujan sejak pagi dan ya... walaupun bahasannya mungkin kesana kemari, setidaknya semoga ini menjadi pemantik untuk kembali aktif disini. Sebab rasanya kepala semakin berisik, butuh yapping dengan lebih terstruktur dan waras disini. Haha.