May 19, 2026

Bagaimana Rasanya Makan Sushi Pertama Kali?

    Halo, kembali di seri #BagaimanaRasanya edisi makan makan makan (terlalu opening mbak...itu...mbak). Tulisan ini tidak ditulis langsung saat pertama kali mengalaminya, tapi menurut saya pengalaman ini layak diabadikan dalam sebuah tulisan. Dulu sushi bagi saya adalah makanan yang asing (selain memang bukan berasal dari dalam negeri), sekarang alhamdulillah sudah masuk ke alternatif menu makan kalau lagi jalan-jalan ke mal. Saat remaja, konsep makan ikan segar mentah hanya sesuatu yang saya lihat di televisi.     
    Seingat saya, pertama kali makan sushi adalah saat SMA sekitar tahun 2011-2012an (daym, age reveal). Waktu itu orang tua salah satu teman SMA saya baru buka tempat makan sushi di kota kami. Saya makan disana bersama beberapa teman sekelas. Melihat menu dengan nama yang sungguh tidak familiar jujur saja bikin bingung. Untungnya dijelaskan apa saja isian sushi tiap menunya. Seingat saya juga waktu itu konsepnya fusion (sotoy), alias menunya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Jadi, sepertinya semua menu pakai sajian ikan matang.
    Sayangnya saya sudah tidak ingat menu apa yang dipesan, yang saya ingat adalah sushi roll dengan ujung ekor udang menyembul, dan taburan kremesan diatasnya. Waktu itu saya juga masih kebingungan memegang sumpit. Lalu ketika mencocol sushi ke kecap asin juga terlalu nyemplung, alhasil rasa asinnya terlalu mendominasi beberapa suapan awal. Betul-betul banyak kejutan :) Rasanya sih bisa diterima dengan baik, yah seperti makan nasi dengan lauk saja hanya ini bentuknya berbeda. Nah pengalaman makan sushi dengan ikan matang itulah benchmark pertama dalam khazanah persushian saya.
    Fast forward lanjut saat pertama kali makan sushi (beneran) yang ikannya segar dan mentah. Sepertinya, pertama kalinya ini ketika sudah bekerja di Jakarta tahun 2020an. Waktu itu saya makan di tempat sushi yang ada conveyor beltnya, jadi banyak sushi dalam wadah tertutup yang jalan-jalan dibawa conveyor belt mengelilingi setiap meja. Waktu itu teman saya yang sudah biasa makan sushi (beneran) pesan menu salmon sashimi. Lalu dia menawari saya untuk mencoba, saya ikuti cara makannya. Ambil daging salmon potong dengan sumpit, celup secara penuh di campuran kecap asin dan bubuk cabai, lalu santap. Ok, tentu rasanya asing. Teksturnya kenyal tapi mudah dikunyah. Sedikit seperti meleleh di mulut. Ada rasa laut yang kurang bisa saya jelaskan, ada rasa ikan, sedikit asin, dan segar seperti meneguk air. Rasa ikannya tidak terasa amis pasar ikan. Ternyata, bisa diterima dan tertelan dengan baik.
    Kemudian di tahun 2025 kemarin, saya pertama kali mencoba raw scallop. Menurut saya rasa laut yang tadi kurang bisa saya jelaskan itu, lebih sedikit terasa mendingan daripada si salmon sashimi. Hanya saja, setiap makan sashimi, penampakan yang mentah itu masih sedikit mengirim informasi "siaga" ke otak saya. Hahahaha, padahal rasanya sudah bisa diterima. Oh iya, saus cocolan itu jadi aspek penting juga saat makan sashimi, biasanya cukup dengan kecap asin + bubuk cabai. Namun, baru-baru ini, saus dressing salad (sepertinya thousand island) + tobiko ternyata enak juga.
    Ketika pesan menu di tempat makan sushi, jangan malu bertanya. Karena umumnya nama menu-menunya pakai bahasa jepang, beberapa resto menuliskan uraian singkat menu tersebut terdiri dari apa saja. Walau tetap membingungkan untuk orang awam, karena nama olahannya tetap dalam bahasa jepang. Seperti maguro yang adalah ikan tuna, tobiko itu telur ikan, tamago itu telur dadar, dan sebagainya. Jadi, daripada menebak-nebak dari gambar, begitu merasa bingung langsung tanya saja, waiter/waitress akan menjelaskan. Lebih baik bertanya daripada tidak tertelan dan kaget saat sudah dihidangkan di meja.


atas kanan ke bawah kiri:
chuka idako (baby octopus), tobiko (telur ikan), ebi (udang), tamago (telur)
salmon belly, salmon, maguro (tuna), smoked duck
    
aburi maguro (ikan tuna setengah matang dengan nasi)

    Oh ya, kalau ingin coba sashimi atau sushi dengan isian mentah tapi belum berani, bisa coba menu-menu dengan awalan aburi (flame-seared/partially grilled/setengah matang). Nah, kalau sudah terbiasa dengan teksturnya nanti mungkin bisa lebih pede mencoba yang beneran fresh~ and raw~ and fun fun fun. Menurut saya pengalaman makan sushi banyak senangnya, karena ada banyak sekali varian yang bisa dicoba. ternyata bahan makanan asal sudah berkualitas baik, rasanya tetap enak walau minim pengolahan/proses masak.

Salam, 
A.

Tulisan Marah-marah

Tulisan ini menghuni draft cukup lama, menurut saya tulisan yang sarat dengan emosi negatif baiknya didiamkan saja beberapa waktu sebelum benar-benar diunggah ke alam liar internet. Setelah hari ini dibaca lagi, sepertinya masih cukup oke diunggah, yah entah dua tiga tahun ke depan kalau kepribadian dan pengetahuan sudah lebih baik lagi. Hahaha. Sepertinya blog ini tempat yang cukup lega untuk saya sepenuhnya jadi manusia di dunia maya, saat instagram terlalu silau dan twitter terlalu bising. Anyway, let's gauuwr.

Beberapa hari ini linimasa media sosial ramai dengan topik penerima beasiswa dan bahasan yang menyangkut tentang diaspora. Sebagai warga biasa yang tak punya irisan dengan kedua topik itu tentu saya hanya jadi penonton yang menyimak saja. 

Sudah dua atau tiga tahun berjalan saya membisukan beberapa kata kunci berkaitan dengan beasiswa dan sekolah ke luar negeri, semata agar lebih mudah mengelola perasaan. Kegagalan melanjutkan sekolah dengan beasiswa dan tinggal di luar negeri itu adalah pukulan cukup keras untuk saya. Jadi, setiap kali ada bahasan mengenai hal itu pasti sering muncul rasa iri dan penyesalan sebab merasa kurang berusaha lebih keras. Saya tidak ingin perasaan iri menguasai diri, lebih-lebih sampai berdampak buruk bagi orang lain. Biar beginipun, saya masih punya semangat jadi manusia yang baik hahaha.

Dengan berita itu muncul kembali, rupanya masih bisa memicu perasaan iri dan sesal lagi. Pertama, saya cukup muak dengan narasi from zero to hero apalagi jika si TS (thread starter) tidak berasal dari kondisi yang zero-zero banget. Memang rasanya cerita keberhasilan akan jadi lebih mantap jika si pencerita mengalami kondisi sulit atau tidak ideal dalam perjalanannya. Namun, mendefinisikan kesusahan itu memang cakupannya cukup lebar. Hingga tak jarang sesuatu yang bagi satu pihak susah banget, eh untuk pihak yang lain biasa saja. Perasaannya valid, netizen yang mengecek kebenarannya juga tidak salah. Apalagi jika semua data sudah dibuka secara sukarela lewat unggahan pribadi di media sosial.

Kedua, memanfaatkan celah peraturan untuk keuntungan pribadi. Kompas moral itu yang membedakan orang biasa dengan orang-orang culas. Terus berjalan di jalan kebenaran dan idealis memegang nilai-nilai kebaikan memang sulit, yang mudah kan masak mie instan. Selain itu setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dalam berpikir, berbicara atau bertindak. Tapi merencanakan penghidupan lebih baik sembari menginjak harkat dan martabat orang lain tentu bukan kesalahan yang mudah dimaafkan. Kalau Pandji bilang; ketersinggungan itu diambil/diterima bukan diberikan. Batasnya memang tipis sekali. Sebagai orang yang tinggal di negara ini, mengalami berbagai emosi dan dampak langsungnya, saya tersinggung dengan ungkapan "cukup aku WNI, anakku jangan." Ada perasaan marah kalau ingat saya yang ingin lanjut kuliah di ITB dengan beasiswa pemerintah itu sampai dua kali tidak lulus juga. Hanya di dalam negeri, tidak keluar kemana-mana lho, masih ga acc juga. Ya emang kurang pinter, jadi marah dan cari-cari alasan karena iri. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.

Ketiga, konflik kepentingan. Selain soal topik diatas, negara ini sudah sejak lama berkelindan dengan konflik kepentingan di kalangan pemangku kebijakannya. Yah, memang nyaman kok bisa dapat akses cepat dan mudah. Sekarang pun, posisi penting diisi bukan berdasarkan kemampuan dan rekam jejak profesional (merit-based), tapi berdasarkan relasi. Akan selalu ada banyak kebetulan untuk jadi pembenaran nepotisme. "Ah dia kapabel kok untuk posisi tersebut, hanya saja kebetulan keponakan si A.", "Oh dia kan lulusan luar negeri, tidak hanya sekadar adik si B."
Yah, anjing (menggonggong, kafilah berlalu).
Lalu, hal lain yang lebih mindblowing adalah betapa satu kasus viral bisa ditumpangi kepentingan lain supaya mampu menutup atau meredam kasus lainnya. Tentu sudah bukan hal asing lagi, soal daftar kasus yang bisa sewaktu-waktu dikeluarkan lalu dimanfaatkan untuk pengalih perhatian. Hah, semakin susah melihat mana yang organik dan tidak.

Selama ini saya bertanya-tanya apa ya yang membuat orang-orang berkecukupan secara materi, mampu secara akademik atau profesional untuk pindah dan tinggal ke luar negeri, tapi memutuskan untuk tetap disini. Bahkan, banyak dari mereka yang berjuang secara langsung untuk membuat negara ini lebih baik, walau berbuah hujatan. Saya selalu bersyukur masih banyak orang pintar, baik, berani dan kaya yang mau memperjuangkan kebaikan negara ini. Orang-orang dengan level intelektual, emosional dan spiritual yang matang. Berada dalam kondisi berkecukupan namun masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.

Saya ingat pernah baca komik mini di koran, ada anak dan ibunya yang melihat kondisi tidak ideal. Seorang penyapu jalanan yang bukan cita-cita anak kebanyakan. Si anak bilang "aku mau belajar yang rajin supaya besar nanti tak jadi seperti dia.", Si ibu menjawab "nak, belajarlah yang rajin supaya besar nanti kamu bisa membuat dunia lebih ramah baginya."
Betapa besar perbedaan antara dua kalimat itu. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (lainnya).

Salam,
A.