Tulisan ini menghuni draft cukup lama, menurut saya tulisan yang sarat dengan emosi negatif baiknya didiamkan saja beberapa waktu sebelum benar-benar diunggah ke alam liar internet. Setelah hari ini dibaca lagi, sepertinya masih cukup oke diunggah, yah entah dua tiga tahun ke depan kalau kepribadian dan pengetahuan sudah lebih baik lagi. Hahaha. Sepertinya blog ini tempat yang cukup lega untuk saya sepenuhnya jadi manusia di dunia maya, saat instagram terlalu silau dan twitter terlalu bising. Anyway, let's gauuwr.
Beberapa hari ini linimasa media sosial ramai dengan topik penerima beasiswa dan bahasan yang menyangkut tentang diaspora. Sebagai warga biasa yang tak punya irisan dengan kedua topik itu tentu saya hanya jadi penonton yang menyimak saja.
Sudah dua atau tiga tahun berjalan saya membisukan beberapa kata kunci berkaitan dengan beasiswa dan sekolah ke luar negeri, semata agar lebih mudah mengelola perasaan. Kegagalan melanjutkan sekolah dengan beasiswa dan tinggal di luar negeri itu adalah pukulan cukup keras untuk saya. Jadi, setiap kali ada bahasan mengenai hal itu pasti sering muncul rasa iri dan penyesalan sebab merasa kurang berusaha lebih keras. Saya tidak ingin perasaan iri menguasai diri, lebih-lebih sampai berdampak buruk bagi orang lain. Biar beginipun, saya masih punya semangat jadi manusia yang baik hahaha.
Dengan berita itu muncul kembali, rupanya masih bisa memicu perasaan iri dan sesal lagi. Pertama, saya cukup muak dengan narasi from zero to hero apalagi jika si TS (thread starter) tidak berasal dari kondisi yang zero-zero banget. Memang rasanya cerita keberhasilan akan jadi lebih mantap jika si pencerita mengalami kondisi sulit atau tidak ideal dalam perjalanannya. Namun, mendefinisikan kesusahan itu memang cakupannya cukup lebar. Hingga tak jarang sesuatu yang bagi satu pihak susah banget, eh untuk pihak yang lain biasa saja. Perasaannya valid, netizen yang mengecek kebenarannya juga tidak salah. Apalagi jika semua data sudah dibuka secara sukarela lewat unggahan pribadi di media sosial.
Kedua, memanfaatkan celah peraturan untuk keuntungan pribadi. Kompas moral itu yang membedakan orang biasa dengan orang-orang culas. Terus berjalan di jalan kebenaran dan idealis memegang nilai-nilai kebaikan memang sulit, yang mudah kan masak mie instan. Selain itu setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dalam berpikir, berbicara atau bertindak. Tapi merencanakan penghidupan lebih baik sembari menginjak harkat dan martabat orang lain tentu bukan kesalahan yang mudah dimaafkan. Kalau Pandji bilang; ketersinggungan itu diambil/diterima bukan diberikan. Batasnya memang tipis sekali. Sebagai orang yang tinggal di negara ini, mengalami berbagai emosi dan dampak langsungnya, saya tersinggung dengan ungkapan "cukup aku WNI, anakku jangan." Ada perasaan marah kalau ingat saya yang ingin lanjut kuliah di ITB dengan beasiswa pemerintah itu sampai dua kali tidak lulus juga. Hanya di dalam negeri, tidak keluar kemana-mana lho, masih ga acc juga. Ya emang kurang pinter, jadi marah dan cari-cari alasan karena iri. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.
Yah, anjing (menggonggong, kafilah berlalu).
Lalu, hal lain yang lebih mindblowing adalah betapa satu kasus viral bisa ditumpangi kepentingan lain supaya mampu menutup atau meredam kasus lainnya. Tentu sudah bukan hal asing lagi, soal daftar kasus yang bisa sewaktu-waktu dikeluarkan lalu dimanfaatkan untuk pengalih perhatian. Hah, semakin susah melihat mana yang organik dan tidak.
Selama ini saya bertanya-tanya apa ya yang membuat orang-orang berkecukupan secara materi, mampu secara akademik atau profesional untuk pindah dan tinggal ke luar negeri, tapi memutuskan untuk tetap disini. Bahkan, banyak dari mereka yang berjuang secara langsung untuk membuat negara ini lebih baik, walau berbuah hujatan. Saya selalu bersyukur masih banyak orang pintar, baik, berani dan kaya yang mau memperjuangkan kebaikan negara ini. Orang-orang dengan level intelektual, emosional dan spiritual yang matang. Berada dalam kondisi berkecukupan namun masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.
Betapa besar perbedaan antara dua kalimat itu. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (lainnya).
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.