Sebagai perempuan yang punya love and hate relationship dengan tubuhnya sendiri, olahraga tidaklah familiar untuk saya dalam waktu yang lama. Sejak remaja, saya selalu merasa jadi yang paling gendut di lingkar pertemanan. Pikiran ini terus bertahan hingga saya tumbuh dewasa, bahkan di kala berat badan saya baik dan normal, lebih ideal daripada saat ini. Sederhananya, saya tetap merasa gendut saat berada di berat badan terendah pun. Dari segi makanan dan cara makan juga, saya cenderung kurang bisa mengontrol porsi dan keinginan. Walau sedikit banyak telah paham akan kebutuhan nutrisi, namun secara sadar maupun tidak sadar sering kali terjebak ke "treat yourself better". Padahal better tidak berarti semaunya dan tidak kenal cukup. Oh... Ya Allah, semoga seiring waktu, kesadaran diri terbentuk dan punya hubungan baik dengan cara makan.
Saya pernah rutin mat pilates & barre di 2020-2021 secara mandiri dengan bantuan video YouTube. Tapi tidak pernah memilih yoga karena merasa pose-posenya terlalu sulit dan tidak cocok untuk saya yang fleksibilitasnya kurang. Saya memilih latihan yang mudah dulu supaya lebih gampang memelihara konsistensi, sayangnya lalu tenggelam dalam rutinitas yang telah diciptakan dan tidak mengeksplor lebih lanjut jenis latihan tubuh yang lain, hahaha. Setelah itu, walau tidak dalam waktu yang intens, saya mulai familiar dengan olahraga menggunakan dumbbell, lalu ditambah dengan lompat tali dan jalan kaki. Pilihan olahraga saya semakin bervariasi namun belum dilakukan secara rutin/terjadwal.
Di bulan Mei 2025 saya daftar membership gym bersama suami, ikut PT session 10x tapi PT-nya banyak sekali klien jadi susah punya jadwal rutin, saya tidak bisa mengatur jadwal sepihak dan somehow, ketidakteraturan is my kryptonite. Sesungguhnya main alat gym tidak seberat yang saya bayangkan, sebab banyak pilihan beban yang bisa disesuaikan. Namun, karena terbiasa gym dengan PT, maka keterampilan mengatur alat sebelum siap digunakan kurang saya dapatkan. Biasanya langsung dibantu dan tidak dibiarkan terbiasa mengatur alat sendiri. Akhirnya, saya menyisihkan opsi gym sementara waktu dan mencoba eksplor kelas-kelas. Mulai dari Poundfit, TRX, CID, Senam, dan Yoga. Dari banyak kelas ini, saya putuskan untuk coba konsisten di satu sampai dua kelas dulu sebelum nanti cross training sesuai kebutuhan. (Coyyy... atlet kahhhh)
Setelah kelas yoga, yang tentu saja seperti perkiraan, terasa sulit. Saya tetap memutuskan akan memilih kelas-kelas yoga. Karena pace-nya relatif lebih ringan dibanding Poundfit atau senam. Untuk saya, perasaan nyaman karena tidak merasa dikejar-kejar dan harus cepat mengikuti tempo musik ini adalah prioritas. Selain itu, yoga akan bermanfaat bagi saya yang bertahun-tahun struggling dengan konsentrasi. Lalu, soal fleksibilitas dan mobilitas badan, memang tidak semua orang terberkati dengan kemampuan itu secara alami, Namun, tetap bisa dilatih. Guru yoganya sendiri juga bilang, come as you are, practice and all is coming.
- Backbend yoga yang pose/asana-nya fokus pada tulang belakang, membuka dada dan bahu serta tulang pinggul untuk melawan postur dan kebiasaan duduk yang tidak tegak/ bungkuk.
- Hatha yoga dengan pace pelan, fokus lebih dalam pada napas dan lebih banyak menahan asana, cocok untuk pemula karena guru akan lebih banyak memperbaiki alignment.
- Vinyasa yoga dengan pace lebih cepat, dinamis dan banyak transisi dari satu asana ke asana lain. Cocok untuk yang sudah mahir dan paham alignment.
- Inside flow yoga yang merupakan versi modern dari vinyasa dengan memadukan musik sebagai kuncian setiap pose. Pose dan transisi akan mengikuti tempo dan mood lagu. Challenging karena selain harus paham asana, juga harus menghafal dan peka terhadap bit musik.
- Power yoga secara transisi lebih padat dan ditujukan untuk membentuk otot dan fleksibilitas. Memang saat di kelas power yoga juga terasa lebih berat dibanding backbend.
Selain rutin mengikuti yoga di kelas gym, saya juga beberapa kali memberanikan diri mencoba latihan di studio yoga, ternyata suasananya berbeda. Di kelas gym, mungkin karena faktor banyak jenis kelas dan berbagai macam orang dengan olahraga pilihannya, rules and etiquette-nya tidak sesaklek di studio yoga yang memang fokus pada yoga saja. Dimana kondisi harus dipertahankan sesunyi dan setenang mungkin untuk menjaga konsentrasi. Namun, dari segi biaya tentu gym subscription lebih murah untuk hitungan kelas yang bisa diikuti daripada sekali datang ke studio yoga. Maka, untuk pemula yang ingin belajar dengan guru dan lebih ekonomis, kelas yoga di gym adalah stepping stone yang bagus. Sedangkan di studio, saya bisa mendapatkan pengalaman latihan sesuai pakem dan kondisi paling mendekati ideal. Selain itu perbedaan bahasa pengajaran juga menjadikan pengalaman keduanya lebih kaya lagi. Memahami dan lebih familiar dengan nama-nama pose dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Sanskrit. Secara keseluruhan, saya tetap menikmati kondisi berlatih baik di kelas gym dan studio yoga sebab masing-masing punya manfaat tersendiri untuk saya.
Setelah rutin yoga, saya mulai beli matras yang nyaman. Saya juga banyak follow dan menonton konten praktisi yoga di media sosial. Menyimpan banyak drills and tutorials yang belum dibuka lagi sampai sekarang, ya... namanya juga usaha, hahahaha. Sekarang saya sudah rutin yoga tiga sampai lima kelas seminggu, bahkan bisa dua kelas dalam sehari. Sebuah kemajuan besar untuk seseorang yang sempat benci pelajaran olahraga ketika sekolah. Semoga ini jadi kegiatan yang berlangsung lama hingga lebur jadi kebiasaan sehari-hari, senantiasa sparks joy dan membawa kebaikan. Aamiin!
A.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.