May 01, 2020

Bagaimana Rasanya Tidak Pandai Matematika?

Saya sebenarnya sempat menjadi A+ student, saat sekolah dasar.
Saya sering mendapat nilai sempurna saat ulangan matematika, angka yang tidak sekalipun saya dapat di SMA.

Entah bagaimana mulanya, saya tidak ingat pasti, yang jelas saya merasa matematika bukanlah teman baik untuk diajak kerja sama saat ujian sekolah.
Sulit.

Saya perlu berulang kali menghitung untuk memastikan jawaban yang ujung-ujungnya tidak ada di pilihan yang tersedia, bahkan tidak ada mepet-mepetnya!

Saya belajar bersama teman sebangku yang pandai matematika, diberi soal, dicontohkan cara mengerjakannya, dan saya bisa. Sempurna.
Esoknya, soal dengan model yang sama muncul di ujian.
Ketika hasil dibagikan, saya melompati satu cara dan itu membuat hasil akhir pengerjaan saya berbeda dengan jawaban yang benar. No excuse! Salah!

Saya bisa mengingat jumlah tulang vertebrata, saya bisa menggambar lingkaran tanpa jangka, saya sanggup menggaris lurus tanpa penggaris, tapi saya meminta bantuan ke segala penjuru untuk sekadar mencari alas segitiga.
Saya bisa mengerjakan soal matematika hanya saat tidak dilihat guru dan tidak dipanggil ke depan kelas.
Rumit.

Baru-baru ini saya merasakan tes kraepelin dan pauli.
Setelah mengerjakan dengan keterpaksaan, kecemasan dan tangan yang gemetar, rasanya saya benar-benar ingin memeluk kenyataan yang ada saja.
Matematika bukan teman baik saya.
Angka-angka yang berpacu dengan waktu itu membuat saya merasa amat bodoh.

Sementara itu, seorang teman berotak kiri mengatakan, saya harus mampu mengerjakan jenis tes itu untuk bisa bekerja di multinational company.
Sekali lagi, saya hanya ingin segera pulang dan memeluk kenyataan yang ada.
Matematika bukan untuk saya. 

Saya tidak pernah benci belajar matematika, saya hanya menemukan kegembiraan saat tidak dipaksa menghitung dengan cepat.
Saya tidak pernah benci angka, saya hanya lebih suka mengukur volume ruang daripada mencari x yang entah sedang dimana.

Saya sering iri pada teman-teman yang pandai matematika, sedang saya tidak pernah benar-benar menyelesaikan soal dengan sempurna, selalu ada angka yang salah atau simbol yang tidak tepat.
Saya selalu merasa orang yang pandai matematika itu hidupnya pasti mudah sekali, angka dan rumus itu menjadikannya kritis luar biasa.
Sedangkan saya tetap biasa-biasa saja dan jadi langganan tetap ujian remedial.

Menjadi tidak pandai pada hal yang umum itu berat.
Bisa saja langsung dipukul rata bahwa kamu sama sekali tidak punya kemampuan apapun.
Gagal di matematika bisa sama dengan gagal dalam segalanya, setidaknya itulah yang tersirat dari ucapan guru matematika SMA saya, saat saya ujian remedial yang kedua kalinya.

Kira-kira begitulah rasanya tidak pandai matematika. 

Saya bersyukur sudah pernah belajar matematika dan melewatinya (meskipun dalam kehidupan sehari-hari tetap terlibat dengan matematika sederhana, setidaknya saya tidak harus memberi nilai untuk x atau menemukan y).
Meskipun finish di angka dua koma lima.
Yang jelas, saya tidak akan lagi membandingkan kemampuan saya dengan orang lain hanya karena saya tidak pandai matematika.

Selamat kembali belajar matematika dasar!

Salam,
Anggi
(ditulis Juli 2019)

1 comment:

  1. Ikan selamanya akan terlihat bodoh jika dinilai kemampuannya dlm memanjat pohon

    ReplyDelete

Note: only a member of this blog may post a comment.