June 13, 2020

Menikmati Jatuh Hati

Anyeong yeorobun~
Hehehehehehehehe... agak tumben banget ya judul postnya ga mellow sedih-sedih, capek banget kayanya brandingan blognya kelam terus???
Beberapa bulan terakhir ini saya baru sadar penuh bahwa ternyata perasaan bahagia itu muncul dari mana saja.
Dari semua kemungkinan, bahagia karena jatuh hati terhadap seseorang atau sesuatu itu yang paling menyenangkan untuk dirasakan. Rasanya seperti dipeluk, hangat.
Anyway, sejak awal tahun ini saya rutin mengisi diary di app presently, dimana saya hanya boleh menuliskan hal-hal baik yang saya syukuri.
Jadi hari ini saya ingin menulis daftar kebahagiaan ketika saya sadar telah jatuh hati, siapa tahu di masa depan bisa jadi mantra untuk menguatkan diri sendiri.

1. Jatuh hati pada gerak tubuh.
Ternyata bergerak itu membebaskan! Saya bahagia sekali pernah punya keinginan kuat menurunkan berat badan dan mulai olahraga. Awalnya saya pikir semangat itu takkan bertahan lama, tapi nyatanya hingga 5 bulan berlalu saya masih berusaha mengikuti jadwal olahraga yang saya buat sendiri. Bahkan, untuk pertama kalinya saya beli baju olahraga lengkap dengan matras yoga, ahahaha sungguh kemauan kuat yang sudah lama tidak menghampiri! 
Hari ketika saya menulis ini, saya telah mengurangi berat badan sebanyak 8kg! Ternyata bisa ya.
Sore tadi saya memandang lekat-lekat diri sendiri di cermin, rasanya belum pernah merasa sebahagia ini melihat diri sendiri. Semoga bahagianya terus bertahan lama.

2. Jatuh hati pada wewangian.
Sebelum membaca pentingnya mindfullness, saya tidak terlalu memperhatikan wangi apa yang saya kenakan, parfum, lotion, sabun mandi, semua saya beli berdasarkan diskon paling menguntungkan yang saya lihat. Tapi hari ini, saya menikmati setiap kali wewangian itu menyapa hidung ahahaha!
Wangi manis vanilla dari parfum, wangi segar buah dari sabun mandi dan wangi bunga dari lotion, rasanya menyenangkan sekali dikelilingi wewangian yang membuat hati gembira.

3. Jatuh hati pada tanaman!
Hmm, lumayan terbaca aneh ya, tapi suatu prestasi bagi saya di tahun 2020 ini bisa merawat beberapa pot tanaman, meskipun ada juga yang harus direlakan menjadi pupuk kompos, karena mati.
Setidaknya tanaman itu tak mati sia-sia, tapi saya jadi belajar banyak hal, bahwa karakter setiap tanaman itu unik dan harus lebih jeli mengamati tumbuh-kembangnya setiap hari.
Saya juga sering ngobrol dengan tanaman-tanaman saya, ahaha, meminta maaf dan minta agar mereka mau bertahan hidup bersama saya (???)
Bahagia sekali rasanya jatuh hati lalu melihat mereka bertambah tinggi, daun-daun baru unfurling, juga menerima protes melalui warna daun yang kekuningan ketika ada yang salah dengan cara saya merawat mereka.

4. Jatuh hati pada Arsenal.
Bukan hal baru, saya sudah jatuh hati sejak lama, tapi rasanya setiap hari seperti kasmaran. Excitementnya tetap sama, deg-degannya masih selalu ada, posesifnya ketika dengar rumor transfer pemain juga tidak berubah sejak dulu pertama saya kenal klub ini.
Lalu karena pandemi, liga yang ditunda beberapa waktu itu ternyata menumbuhkan rindu luar biasa. 
Meskipun tidak jarang, saya emosi menonton pertandingan yang sudah ditunggu-tunggu, tapi nyatanya jatuh hati membuat saya selalu kembali mendukung wholeheartedly!

5. Jatuh hati pada Jakarta!
Lebaran 2020 adalah pertama kalinya saya tidak menghabiskan hari raya di rumah. Coronavirus memaksa saya bertahan di Jakarta, sepanjang puasa dan masa wfh saya mengurung diri di kamar. Lantas, bagaimana saya bisa bilang saya jatuh hati pada Jakarta?
Jakarta adalah kota kedua yang ingin saya selami setelah Surabaya, tidak ada alasan istimewa untuk saya memilih Jakarta, saya hanya butuh pekerjaan layak untuk segera menghidupi diri sendiri, dan di Jakarta lah pilihan itu bisa sedikit lebih mudah ditemui.
Setelah sembilan bulan di Jakarta yang saya habiskan dengan tidak banyak kemana-mana, 
saya telah jatuh hati pada trotoarnya yang lebih banyak direbut pengendara motor, 
pada suara mrt di atas kepala saya, 
pada kebiasaan mereka mempertanyakan kata aku-kamu, 
pada klakson yang sama galaknya dengan matahari Surabaya, 
pada nasi yang tak ditanak hingga pulen di warung-warung makannya, 
pada semua yang sungguh tidak saya bayangkan akan terus saya maklumi, 
saya yang susah memaklumi sesuatu yang tak ideal, kali ini harus berlapang dada hidup berdampingan dengan ketidak-idealan yang semakin terlihat nyata setiap hari.
Bila jatuh hati perihal menerima dan membiasakan diri, maka saya yakin telah jatuh hati pada Jakarta.

6. Jatuh hati pada seseorang.
Hehehehehe, jadi malu. Agak geli ya, mengaku pada diri sendiri kalau sedang jatuh hati.
Tapi apa boleh buat, telan saja. Meskipun tidak tahu besok, lusa, tiga bulan atau tahun depan akan jadi seperti apa atau menuntun ke arah mana.
Saya berusaha menikmati prosesnya. Meskipun lebih banyak khayalan manis yang hanya berputar di kepala, tapi setiap hari saya sampaikan semuanya pada Tuhan.
Siapa tahu Tuhan bilang boleh,
siapa tahu ceritanya nanti seperti yang diharapkan,
siapa tahu...
Menyenangkan rasanya punya semangat untuk terus menyayangi diri sendiri lebih baik lagi.
Ya, saya mungkin jatuh hati pada seseorang, tapi setelah belajar dari yang sudah-sudah, saya tidak akan membiarkan diri saya kehilangan jati diri. 
Saya tidak akan berjuang terlalu keras untuk fit-in dalam standar orang lain dengan mengabaikan kebahagiaan diri sendiri, saya mungkin tidak akan berlari mengejarnya, saya akan membebaskan semuanya, semaunya.
Saya hanya ingin menikmati proses jatuh hati, karena ketika saya jatuh hati, lagu sedih tidak terasa perlu ditangisi, jari jemari saya lebih lincah menari diatas keyboard, saya tersenyum lebih banyak, dan yang paling penting saya bisa menerima diri sendiri jauh lebih baik lagi.
Apapun yang terjadi nanti, sesuai ataupun tak sesuai harapan saya, tentang kepada siapa saya jatuh hati, saya telah membebaskannya sejak hari ini.
Sesuatu yang sudah digariskan untuk bersama saya, akan menemui jalannya hingga sampai ke depan mata.
Sebaliknya, sesuatu yang bukan untuk saya, takkan bertahan meski digenggam sekuat tenaga.
Saya mungkin rajin meminta skenario di kepala saya ini jadi nyata, hanya saja saya tidak banyak tahu.
Tuhan lebih tahu, jadi sudah sepantasnya saya ikut apapun jawaban yang dikirimkan di masa depan.

Hari ini, ketika saya sadar telah jatuh hati, saya membaca kembali surat-surat yang pernah saya tulis, entah apakah yang dituju sudah membacanya atau bahkan sama sekali tak merasa ditunjuk, satu yang pasti, thank you for the chance to crossing each other's path! 

Que sera sera whatever will be, will be!

Jika menikmati jatuh hati seindah ini dan saya menyadarinya sedari dulu, mungkin saya takkan terlalu lama diam memaklumi kesalahan berulang yang merampas kepercayaan diri untuk sekedar mengunggah swafoto di media sosial, yang berkali-kali membuat saya meragukan diri sendiri, yang terus memaksa saya terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak.
Menyesal itu salah satu tanda seseorang sudah belajar, kan?
Semoga tulisan ini selalu jadi pengingat untuk tidak lagi menggadai kebahagiaan diri sendiri hanya untuk merasa dicintai.

Salam,
A.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.