jalan yang satu penuh rasa bersalah, jalan yang lainnya disesaki rasa marah.
seluruh trotoar dipenuhi tumpukan kertas berisi syair-syair yang tak sempat dikumandangkan.
sebagian terbang mengikuti tiupan angin, sebagian yang lain hanyut bersama arus selokan entah menuju kemana.
seluruh lampu lalu lintas kompak berhenti pada warna merah, sementara semua harapan terus lalu lalang.
tak peduli apabila saling menggores luka satu sama lain.
pembatas jalan sudah sejak lama tak lagi utuh, berkali-kali dihantam kenyataan yang melaju kencang dini hari.
lalu lintas kepalaku sedang kacau dan aku tak sanggup melakukan apapun untuk memperbaikinya.
saat ini aku hanya ingin menikmati sedihku sendiri, tanpa interupsi.
(II)
bila sudah begini, bagaimana caranya menumbuhkan tunas-tunas bernama percaya?
benihnya telah kusimpan sejak lama, di dalam kertas berisi syair-syair itu.
tapi
lalu lintas kepalaku masih kacau dan aku tak mungkin berjalan menyusurinya.
sampai nanti aku berjanji untuk hanya mempercayai diriku sendiri.
(III)
entah bila, aku hendak mengubah konklusi poin I dan II.
lalu lintas kepalaku pernah kacau dan aku tak pernah benar-benar merapikannya.
aku masih dibayangi sisa-sisa kekacauan masa lampau.
(IV)
yang terlewat diketahui dunia,
aku adalah gabungan luka, kecewa, sedih dan amarah dari masa ke masa.
dan kendaraan bahagiaku tidak selalu melaju sempurna.
lalu lintas kepalaku sedang kacau.
sehingga tulisan ini sebaiknya tak perlu dibaca dengan saksama.
salam,
a.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.