June 15, 2020

sebuah deskripsi dalam folder jangan lagi

    setelah menyikapi patah hati, kemudian menikmati jatuh hati, kini saya harus kembali ke titik awal, mendeskripsikan patah hati.
pernah tidak, ada di titik ketika menangis rasanya tidak meredakan apapun lagi?
seseorang tidak lagi merasakan sakit di dada saat dihantam kenyataan yang tak sesuai harapannya, tidak pula ada nyeri di kepala saat waktu tidurnya terlambat beberapa jam dari biasanya.
perasaan akibat banyak kejadian buruk datang bertubi-tubi ternyata sesulit ini dideskripsikan.
saya selalu berpikir saya telah cukup kuat setelah melewati satu gerbang kesulitan, tapi ada saja hal baru yang datang diluar dugaan.
saya kira saya well-prepared, ternyata masih selalu kalah dibawah kelemahan diri sendiri; 
terlalu banyak memaklumi, 
tidak tegas pada diri sendiri, 
banyak berkhayal.

    saya adalah satu-satunya yang memahat kecewa, lalu mengajak hati lain ikut serta merasa perlu bertanggung jawab.
saya adalah yang paling bersalah untuk setiap kalimat ringkas yang tertulis jelas, sebab seluruh kata itu menuntun saya pada gerbang sakit hati yang lainnya.
saya adalah penulis skenario yang paling tidak bertanggung jawab, saya memilih peran yang salah, saya menulis cerita yang membuat tokoh lain merasa lelah.
saya adalah satu-satunya yang pantas kalah, dalam sebuah pertandingan yang tidak pernah sekalipun dimulai.

    deskripsi patah hati bagi saya adalah seluruh isi paragraf kedua dalam tulisan ini.
esok dan seterusnya akan saya layangkan maaf menuju langit luas, supaya lepas segala risau, supaya bahagia kembali pada masing-masing jiwa yang pernah mencoba usaha terbaiknya.
teruntuk seluruh cerita yang pernah dengan sengaja saya rangkai, akan saya rapikan hari ini, folder itu saya beri nama: jangan lagi.

    untukku di masa depan, banyak-banyaklah membaca, supaya kau lekas pandai mengartikan sebuah tanda. teruslah menulis hal-hal baik dengan jelas, hingga kau tak harus berkali-kali menghapus dan mengetik ulang. tetaplah berdiri dengan kepala tegak, sebab betapapun mengecewakannya keputusan yang kau buat sendiri, ingatlah bapak tidak pernah tidak bangga melihatmu seberani hari ini.
kau tidak lagi pulang untuk mengadukan segala resah yang disimpan sendiri, maka kuat-kuatlah.
kau tidak lagi menangis untuk mengundang simpati, maka tersenyumlah.
kau sudah melewati sesuatu dengan susah payah, maka belajarlah.
terima kasih, masih terus berjalan dan menopang diri sendiri hingga hari ini. 
tidak perlu sibuk mencari, perhatikanlah langkahmu sendiri. tolong, jangan lagi.

    untukmu, berbahagialah. sisakan sedikit maaf untukku.

salam,
a.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.