Awal Agustus ini ternyata cukup menggembirakan dengan piala FA Cup ke-14 yang kembali dibawa pulang Arsenal. Sesuatu yang sungguh amat saya inginkan, meski harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri untuk prepare for the worst karena yah, memangnya apalagi yang bisa dilakukan penggemar Arsenal di musim yang kacau ini.
Surprisingly, permainannya malam itu juga cukup bagus apalagi setelah water break dan di babak kedua, meskipun sempat serasa disambar petir di menit-menit awal karena Chelsea melesatkan gol lebih dulu. Pertemuan dengan si biru memang tidak pernah biasa, kartu merah untuk Chelsea membuat mereka melanjutkan permainan bersepuluh saja. Arsenal yang tak kalah sering membuat blunder, malam itu cukup pandai menguasai diri dengan terus bersebelas hingga akhir permainan. Meskipun Luiz dan Giroud beberapa kali "bersentuhan", melihatnya saya otomatis nyeletuk "wow pertikaian mantan", meskipun hingga kini masih terasa aneh (dan sedikit kesal) bagi saya melihat Giroud berseragam biru dan bermain melawan Arsenal.
Hari-hari setelah selebrasi juara FA Cup akan kembali diisi dengan kekhawatiran, pertama soal perpanjangan kontrak Aubameyang, dia adalah pemain kunci yang hampir selalu menyelamatkan Arsenal pada setiap pertandingan, bahkan 2 gol kemenangan kemarin adalah buah kaki Auba.
Penantian ini membuat kami berlomba-lomba terus menumbuhkan harapan ditengah banyaknya kabar yang membuat resah soal tawaran-tawaran yang datang padanya (ya, klub mana yang tidak tertarik pada pemain yang jadi langganan kandidat top scorer). Para fans Arsenal memperhatikan setiap unggahan akun official bahkan sampai tahap menganalisa emoji yang digunakan. Entahlah. Tapi memang sebesar itu harapan kami agar Aubameyang tetap bertahan. Kami seolah tidak kapok berharap pada pemain top yang bisa kapan saja membuat keputusan yang mengecewakan dengan menetap ke klub rival, Ashley Cole, Robin van Persie, Cesc Fabregas etc.
Aubameyang tentu bukan pemain yang kami harapkan untuk mengikuti jejak mereka.
Kedua soal Community Shield yang lawannya adalah Liverpool, bagaimana tidak, Liverpool pasti tidak akan tinggal diam setelah Arsenal membuatnya gagal meraih the Centurions di liga primer musim ini, kepercayaan diri mereka setelah menjuarai liga primer juga pasti jadi bekal ampuh untuk laga mendatang, sungguh amat tulus doa saya agar Arsenal tetap baik-baik saja 29 Agustus nanti, hal yang selalu saya ucapkan saat titik kritis di babak kedua setiap Arsenal bermain adalah "gapnya jangan jauh-jauh dong plis".
Saya tidak pernah nyaman menyandarkan harapan kemenangan pada Arsenal, tapi Arsenal adalah salah satu hal yang tidak pernah punya cukup alasan untuk dapat saya tinggalkan.
Saya bukan tipikal fans yang terus menerus memuji klub idolanya setinggi langit (apalagi di musim paling menyebalkan seperti ini) tapi nyatanya setelah mengumpat berkali-kali saya akan tetap kembali mendukung Arsenal sepenuh hati. Sesak memang menghadapi kenyataan menjadi penggemar Arsenal, tapi setelah melihat daftar klub liga Inggris rasanya tidak ada klub lain yang pantas menerima ketabahan saya selain Arsenal (LAH NARSIS) tidak ada klub lain yang sanggup membuat saya jatuh cinta selain Arsenal.
Oh ya, hadirnya Kieran Tierney dalam skuad Arsenal musim ini juga adalah angin baru yang tak hanya menyejukkan pola permainan Arsenal, tapi juga mata saya. Setelah kepergian RvP (lagi-lagi pada Agustus, 2012) saya tidak lagi mencurahkan fokus ke salah satu pemain sampai melabeli diri sebagai bucin (waktu itu tentu istilah ini belum lahir). Namun setelah melihat KT dan permainannya, semua berubah. *sfx ciecie* Awalnya saya skeptis, biasanya pemain berparas rupawan di Arsenal bermain biasa saja, rata-rata air, tapi ternyata KT mampu membuktikan keraguan itu tidak benar. Hal lain yang menarik perhatian adalah kausnya yang selalu dimasukkan ke dalam celana, dan itu bertahan sampai peluit akhir permainan ditiup, sungguh kerapian yang paripurna. Tak berhenti di penampilan saja, kesederhanaannya begitu nampak jelas ketika dia turun dari bus pemain dengan membawa kantong plastik minimarket, lalu permintaan maafnya ketika mengacungkan jari tengah saat foto bersama di ruang ganti, foto yang tidak sengaja diunggah Emi itu langsung mengalihkan fokus netizen pada jari tengah KT dan yang paling baru adalah kebingungannya untuk merayakan gol pertamanya di Arsenal, wajahnya terlihat datar dan tidak percaya bahwa bola assist dari Aubameyang telah ia lesakkan ke gawang Watford.
Arsenal lagi-lagi membuat satu alasan tambahan untuk dicintai dengan membuat saya kembali menjadi bucin pada salah satu pemainnya, dan hal ini justru terjadi pada musim terburuknya.
Saya selalu tidak percaya diri menghadapi Agustus setiap tahunnya. Bahkan saya tutup semua akses menuju tanggal lahir saya yang jatuh di Agustus itu. Karena tepat setelahnya, momen itu kembali membayangi. Saya hampir selalu menantikan sekaligus ingin menghindari Agustus pada saat yang bersamaan. Namun seperti tagline kemenangan Arsenal di FA Cup tahun ini, Always Forward.
Sesulit apapun kondisinya, harus selalu maju kedepan, tidak ada gunanya terus memandangi masa lalu yang sudah pasti tidak bisa diutak-atik, pun dengan terus ketakutan pada Agustus di tahun-tahun yang akan datang, hanya karena satu Agustus yang menyedihkan.
Terima kasih Arsenal, untuk membuka Agustus dengan kemenangan yang menjelma jadi pelukan paling hangat. Hasil apapun selanjutnya di Agustus ini serta musim-musim selanjutnya, saya akan tetap menjadi pendukungmu garis yak-yakan. Terima kasih Arsenal, untuk membuat jatuh cinta kembali terasa menyenangkan. Meski tetap saja alasan terbesar sakit kepalaku juga karena kejutan-kejutan (re: blunder) permainanmu.
Salam,
Anggi yang masih goonerette.

No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.