*: kehilangan dalam konteks meninggal, idk but saya hanya belum merasa nyaman untuk menulis kematian, meski barusan telah menuliskannya:) walau saya pun tidak setuju bahwa saya telah kehilangannya, yah setidaknya mungkin itu kalimat yang bisa menggambarkan kondisi ini meski tidak mewakili perasaan saya terhadap kondisi itu setelahnya. ok case closed!
Hai!
Untuk membuat tulisan ini sedikit lebih terstruktur maka #BagaimanaRasanya kali ini akan ditulis dalam bentuk Q & A.
Meskipun tentu saja questionnya juga dari diriku sendiri, karena sungguh saya belum sanggup bertanya di kolom pertanyaan story instagram haha takut diabaikan:))
Setidaknya semoga memberi sedikit gambaran, bukan untuk mempersiapkan, karena tak pernah ada kata siap untuk sebuah kehilangan, hanya semoga setelah membaca tulisan ini kalian yang belum mengalaminya bisa menempatkan diri (berempati) kepada teman atau siapapun yang kalian ajak bicara.
Karena sosok orang terdekat yang saya maksud disini adalah Bapak, maka perspektif tulisan ini adalah dari sisi seorang anak perempuan yang Bapaknya telah meninggal delapan tahun silam.
Baiklah, mari kita mulai.
Q: Apa yang kamu rasakan ketika tahu Bapakmu sudah meninggal?
Kosong. Rasanya ada yang berat sekali di dada tapi tidak bisa diungkapkan. Melihat Ibu dan Kakak histeris. Yang saya ingat pagi itu, saya belum menangis, tapi langsung lari meminta pertolongan keluar rumah. Masih berharap bapak hanya pingsan dan bisa diselamatkan.
Rasanya ingin berusaha sekeras mungkin menolak kenyataan.
Q: Apa yang kamu lakukan di hari ketika Bapakmu sudah meninggal?
Menangis. Memeluk bapak lalu bilang "besok ulang tahunku pak"
Ikut membasuh kaki bapak untuk terakhir kali.
Melihat banyak orang datang ke rumah dengan tatapan iba dan menguatkan.
Berjalan mengikuti rombongan untuk memakamkan Bapak.
Melihat jenazah diturunkan ke liang lahat.
Kembali ke rumah, memandang cermin dan bertanya kenapa aku dan kenapa hari ini.
Lalu duduk disamping ibu. Kemudian hari-hari terus berlalu seperti biasa, namun perasaan saya tak lagi sama.
Q: Bagaimana kamu bangkit dari rasa duka?
Sesungguhnya saya belum paham bangkit itu definisinya seperti apa ((lah padahal nanya-nanya sendiri wkwk)), jika hanya dalam konteks bisa hidup terlihat baik-baik saja dan menjalani aktivitas seperti biasa maka bisa dibilang ya saya telah bangkit sejak 2-3 bulan setelah Bapak berpulang.
Bagaimana caranya? simply dengan ya let it flow, ikuti saja kalau ceritanya memang begini. Menangis kapanpun dirasa ingin.
Tapi kalau bangkit berarti mampu menerima orang baru untuk mengganti sosok Bapak di rumah, hingga kini, tidak.
Entah, bukan belum tapi saya memang sengaja membatasi diri dan membiarkan hal ini, bahwa saya tidak ingin menerima orang lain ada di posisi Bapak.
Bukan sesuatu yang baik untuk dicontoh ya, hal seperti ini tidak bisa berlaku di semua keluarga, tapi saya sudah berulang kali mengkomunikasikannya dengan ibu, bahwa saya belum bisa dan saya minta maaf kalau hal itu mungkin menyulitkan ibu, tapi syukurlah ibu saya pun mengamininya.
Saya rasa, itu berperan besar menyembuhkan duka saya.
Q: Bagaimana caramu melepas rindu setelah Bapak tidak di rumah lagi?
Berdoa, mengunjungi makamnya, tidur di kamarnya, menulis setiap kenangan yang tiba-tiba muncul di kepala, mengabarkan kebaikannya melalui setiap tulisan atau pembicaraan sehari-hari. Saya masih sering berkata "kata Bapakku dulu", "Iya Bapakku juga gitu" seolah-olah Bapak selalu dekat dengan saya dan baru menasihati saya kemarin sore.
Oh ya! dan menangis, tapi meratapi kematian itu dilarang, jadi saya hanya menangis untuk meluapkan emosi saja, saya menangis ya hanya karena ingin, bukan untuk mengharap Bapak kembali karena itu mirip seperti tidak menerima qadha&qadar.
Q: Apakah kamu merasa sedih ketika orang bertanya kapan dan mengapa Bapakmu meninggal?
Dulu iya, di tahun-tahun pertama. Saya merasa terganggu ketika harus kembali mengingat hari itu.
Tapi sekarang, tidak lagi. Saya lebih sedih saat melihat ekspresi rasa bersalah orang lain ketika mereka merasa telah menyinggung saya dengan pertanyaan itu, please believe me i really mean it ketika saya bilang "gapapa kok, santai aja"
Q: Apakah kamu memiliki trauma setelah kejadian itu?
Mungkin tidak separah itu sampai pantas disebut trauma, tapi saya selalu takut membangunkan orang yg sedang tidur, saya khawatir jika ibu yang sering tidur disamping saya tidak bernapas seperti biasa. Saya merasa tidak siap jika harus mengalami kejadian yang sama, lagi.
Jujur, diluar konteks keluarga, saya benci dibuat terbiasa dengan sesuatu yang akhirnya akan pergi, maka sejak itu saya membiasakan diri untuk sendirian and stood up for myself.
Q: Apakah kamu merasa tersinggung ketika orang lain membicarakan Bapaknya dihadapanmu?
Iya. Kadang saya merasa iri ketika mereka menceritakan sesuatu yang baru terjadi dan itu masih bisa nyata dirasakan, sedangkan saya hanya bisa menceritakan cerita lama yang susah-payah saya ingat.
Tapi sekarang saya lebih melihat hal itu sebagai kebahagiaan, bahagia melihat orang lain masih merasakan hal-hal membahagiakan dan saya juga bisa ikut merasakan kebahagiaan melalui cerita itu.
Q: Apa yang bisa kamu sampaikan untuk mereka yang Bapak Ibunya masih hidup?
Kalian punya waktu, punya teman-teman dan punya kehidupan kalian sendiri. Tapi seiring itu juga umur orang tua terus menua, mereka tidak menunggu kita memiliki waktu luang, kita yang harus selalu meluangkan waktu. Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita masing-masing akan dihentikan. Maka sebelum itu terjadi, appreciate those who don't give up on you since day one and please don't take them for granted.
Hai!
Untuk membuat tulisan ini sedikit lebih terstruktur maka #BagaimanaRasanya kali ini akan ditulis dalam bentuk Q & A.
Meskipun tentu saja questionnya juga dari diriku sendiri, karena sungguh saya belum sanggup bertanya di kolom pertanyaan story instagram haha takut diabaikan:))
Setidaknya semoga memberi sedikit gambaran, bukan untuk mempersiapkan, karena tak pernah ada kata siap untuk sebuah kehilangan, hanya semoga setelah membaca tulisan ini kalian yang belum mengalaminya bisa menempatkan diri (berempati) kepada teman atau siapapun yang kalian ajak bicara.
Karena sosok orang terdekat yang saya maksud disini adalah Bapak, maka perspektif tulisan ini adalah dari sisi seorang anak perempuan yang Bapaknya telah meninggal delapan tahun silam.
Baiklah, mari kita mulai.
Q: Apa yang kamu rasakan ketika tahu Bapakmu sudah meninggal?
Kosong. Rasanya ada yang berat sekali di dada tapi tidak bisa diungkapkan. Melihat Ibu dan Kakak histeris. Yang saya ingat pagi itu, saya belum menangis, tapi langsung lari meminta pertolongan keluar rumah. Masih berharap bapak hanya pingsan dan bisa diselamatkan.
Rasanya ingin berusaha sekeras mungkin menolak kenyataan.
Q: Apa yang kamu lakukan di hari ketika Bapakmu sudah meninggal?
Menangis. Memeluk bapak lalu bilang "besok ulang tahunku pak"
Ikut membasuh kaki bapak untuk terakhir kali.
Melihat banyak orang datang ke rumah dengan tatapan iba dan menguatkan.
Berjalan mengikuti rombongan untuk memakamkan Bapak.
Melihat jenazah diturunkan ke liang lahat.
Kembali ke rumah, memandang cermin dan bertanya kenapa aku dan kenapa hari ini.
Lalu duduk disamping ibu. Kemudian hari-hari terus berlalu seperti biasa, namun perasaan saya tak lagi sama.
Q: Bagaimana kamu bangkit dari rasa duka?
Sesungguhnya saya belum paham bangkit itu definisinya seperti apa ((lah padahal nanya-nanya sendiri wkwk)), jika hanya dalam konteks bisa hidup terlihat baik-baik saja dan menjalani aktivitas seperti biasa maka bisa dibilang ya saya telah bangkit sejak 2-3 bulan setelah Bapak berpulang.
Bagaimana caranya? simply dengan ya let it flow, ikuti saja kalau ceritanya memang begini. Menangis kapanpun dirasa ingin.
Tapi kalau bangkit berarti mampu menerima orang baru untuk mengganti sosok Bapak di rumah, hingga kini, tidak.
Entah, bukan belum tapi saya memang sengaja membatasi diri dan membiarkan hal ini, bahwa saya tidak ingin menerima orang lain ada di posisi Bapak.
Bukan sesuatu yang baik untuk dicontoh ya, hal seperti ini tidak bisa berlaku di semua keluarga, tapi saya sudah berulang kali mengkomunikasikannya dengan ibu, bahwa saya belum bisa dan saya minta maaf kalau hal itu mungkin menyulitkan ibu, tapi syukurlah ibu saya pun mengamininya.
Saya rasa, itu berperan besar menyembuhkan duka saya.
Q: Bagaimana caramu melepas rindu setelah Bapak tidak di rumah lagi?
Berdoa, mengunjungi makamnya, tidur di kamarnya, menulis setiap kenangan yang tiba-tiba muncul di kepala, mengabarkan kebaikannya melalui setiap tulisan atau pembicaraan sehari-hari. Saya masih sering berkata "kata Bapakku dulu", "Iya Bapakku juga gitu" seolah-olah Bapak selalu dekat dengan saya dan baru menasihati saya kemarin sore.
Oh ya! dan menangis, tapi meratapi kematian itu dilarang, jadi saya hanya menangis untuk meluapkan emosi saja, saya menangis ya hanya karena ingin, bukan untuk mengharap Bapak kembali karena itu mirip seperti tidak menerima qadha&qadar.
Q: Apakah kamu merasa sedih ketika orang bertanya kapan dan mengapa Bapakmu meninggal?
Dulu iya, di tahun-tahun pertama. Saya merasa terganggu ketika harus kembali mengingat hari itu.
Tapi sekarang, tidak lagi. Saya lebih sedih saat melihat ekspresi rasa bersalah orang lain ketika mereka merasa telah menyinggung saya dengan pertanyaan itu, please believe me i really mean it ketika saya bilang "gapapa kok, santai aja"
Q: Apakah kamu memiliki trauma setelah kejadian itu?
Mungkin tidak separah itu sampai pantas disebut trauma, tapi saya selalu takut membangunkan orang yg sedang tidur, saya khawatir jika ibu yang sering tidur disamping saya tidak bernapas seperti biasa. Saya merasa tidak siap jika harus mengalami kejadian yang sama, lagi.
Jujur, diluar konteks keluarga, saya benci dibuat terbiasa dengan sesuatu yang akhirnya akan pergi, maka sejak itu saya membiasakan diri untuk sendirian and stood up for myself.
Q: Apakah kamu merasa tersinggung ketika orang lain membicarakan Bapaknya dihadapanmu?
Iya. Kadang saya merasa iri ketika mereka menceritakan sesuatu yang baru terjadi dan itu masih bisa nyata dirasakan, sedangkan saya hanya bisa menceritakan cerita lama yang susah-payah saya ingat.
Tapi sekarang saya lebih melihat hal itu sebagai kebahagiaan, bahagia melihat orang lain masih merasakan hal-hal membahagiakan dan saya juga bisa ikut merasakan kebahagiaan melalui cerita itu.
Q: Apa yang bisa kamu sampaikan untuk mereka yang Bapak Ibunya masih hidup?
Kalian punya waktu, punya teman-teman dan punya kehidupan kalian sendiri. Tapi seiring itu juga umur orang tua terus menua, mereka tidak menunggu kita memiliki waktu luang, kita yang harus selalu meluangkan waktu. Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita masing-masing akan dihentikan. Maka sebelum itu terjadi, appreciate those who don't give up on you since day one and please don't take them for granted.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.