April 17, 2020

Menyikapi Patah Hati

Hai, apa kabar hari ini?
Banyak sekali kabar buruk dan tak menyenangkan akhir-akhir ini. Tapi karena dunia selalu punya dua sisi, kabar baik juga sebenarnya banyak sekali. Hanya nampaknya kita lebih cepat tanggap untuk merespon berita buruk dan membuatnya semakin ramai diperbincangkan (ups hehe!)
Jadi, sudah berapa kali patah hati?
Rasanya tidak ada manusia yang tak pernah patah hati, iya kan?
Buktinya, lihat saja lagu-lagu sedih selalu bersemi setiap tahun.
Semakin sedih dan relatable liriknya, niscaya akan semakin banyak orang yang jatuh hati pada lagu itu.
Wow, sebuah ironi ya. Betapa kita mudah jatuh hati pada lagu-lagu bertema patah hati.
Kenapa? we always know why :)
Anyway, patah hati itu selalu berat ya, sekalipun sudah dilewati lebih dari sekali dua kali.
Terlebih lagi, tidak pernah ada template yang sama untuk merawat luka yang berbeda.
Bahkan kita bisa patah hati untuk hal-hal kecil yang terjadi diluar dugaan, misalnya sudah merencanakan pergi ke minimarket untuk beli es krim, tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya!

Tapi sudah pasti bukan patah hati semacam itu yang akan dibahas disini.
Yah, saya yakin, kita telah cukup dewasa untuk menangani patah hati kecil yang terjadi setiap hari. Namun selalu ada satu case patah hati yang tak pernah siap kita hadapi, sedewasa apapun kita saat ini.
Patah hati ditinggal pergi yang terkasih, patah hati melihat yang dulu dekat kini sudah diselubungi kabut pekat, tak lagi terlihat, patah hati untuk kesempatan yang disia-siakan, patah hati karena tak sempat mengungkapkan, patah hati karena pernah memberi kesempatan pada yang salah.
Sakit ya rasanya?
Berusaha menyibukkan diri dengan apapun agar tak lagi punya tempat untuk mengingat kenangan masa lalu, tapi tiba-tiba lagu favoritnya terdengar lewat shuffle, oh shiz! teringat lagi.
Berusaha tidak menangis lagi, menganggap diri sendiri sekuat apa yang selalu dikatakan di depan cermin, tapi mendadak memori di kepala dengan berani meneriakkan kalimat pujiannya yang pernah dikatakan padamu, lagi-lagi harus menyiapkan waktu untuk menangis sendiri.
Sudah setengah terlelap lalu tiba-tiba di dalam mimpi dia dengan pongah masuk dan berinteraksi lagi denganmu! oh! sial, bangun dengan keadaan lelah setengah mati, menyadari sedih yang belum usai juga.

Panjang ya proses healing-nya?
Panjang sekali, melewati malam-malam dengan bantal basah yang mengantarmu tidur.
Melalui pagi hari dengan mata yang bengkak.
Recent playlist penuh berisi lagu-lagu sedih yang dikumpulkan hari demi hari.
Butuh kekuatan ekstra untuk menyisir isi galeri telepon genggam lalu membuat sebuah folder, untuk mengumpulkan foto-foto yang berhubungan dengan masa yang telah usai.
Namun butuh kekuatan ekstra super duper mega besar lagi untuk bisa memencet tab delete di folder itu.
Memutar otak setiap kali orang yang mengenal kisahmu itu mempertanyakan kondisi terkini, dijawab dengan opsi manis atau pahit ya? Pada akhirnya kita akan memilih yang paling aman diceritakan, lalu menyimpan sisanya untuk siap dilumat habis oleh keterbatasan ingatan, lalu setelahnya kita benar-benar siap bangun dan bersinar kembali.
Kita tidak pernah bisa memilih skenario seperti apa yang akan dijalani, meski sudah merasa menjalani satu cerita dengan sangat baik, mengusahakan yang terbaik, being 110% for it, but in the end all the things still fall apart. Yah, nyatanya hidup memang seperti itu.
Kita tidak pernah bisa memprediksi apakah hidup akan menghujani kita dengan emoticon hati atau tahi :)

Embrace your broken heart.
Setidaknya itu tanda bahwa kita pernah sangat tulus menyayangi. Ya, sebab bagaimana mungkin kita tidak merasa sedih ketika semua yang diusahakan tiba-tiba berantakan, bagaimana mungkin kita akan biasa saja ketika telah berjalan jauh tapi tiba-tiba dua tangan yang saling bekerja sama ditinggalkan yang satu.
Kembalilah sadar bahwa selama ini mungkin kita terlalu semena-mena memperlakukan perasaan diri sendiri, sampai hati memasrahkan hati pada yang jelas-jelas hanya menawarkan setengah hati.
Pertama kali patah hati, saya rasanya seperti tidak ingin kembali sembarangan menaruh hati pada orang lain, oh tapi ternyata ketika sembuh, semua terlihat normal lagi. Terlebih ketika ada dua tangan yang sepertinya siap menangkap jatuhnya, wah bahagia sekali rasanya. Meskipun belum bahagia sampai akhir. Yayaya here we go again, my heart, sorry but please be ready for another broken-heart-series. Hadeh!

It's okay to hate love songs when you're broken hearted.
Lah iyalah! Manusia mana yang bisa selalu ceria setiap hari rutin setiap tahun???! Dengarkan saja lagu-lagu patah hati, cari liriknya, hapalkan. Buat dirimu tenggelam di dalamnya, suatu saat nanti ketika sedihmu usai, maka responmu terhadap lagu-lagu patah hati itu hanyalah sebatas tawa lepas yang diiringi dengan ingatan betapa berat proses jadi manusia dewasa.

Melakukan semua hal menyenangkan, yang diinginkan, yang membuat bahagia, tanpa komentar judgemental. Sebab disadari atau tidak, orang terdekat kita adalah yang paling berpotensi menyakiti perasaan kita dengan komentarnya. Oh ya! dan lagi, privacy is a power, what people don't know, they can't destroy. Jadi sebisa mungkin, sesulit apapun, pastikan apa yang dibagi di sosial media memang benar-benar hanya hal yang telah layak dibagikan dan tidak berpotensi dijadikan alat untuk orang lain menyakiti kita di masa depan.

Tapi seperti apa yang telah tertulis di paragraf awal, tidak pernah ada template yang sama untuk merawat luka yang berbeda.
Jadi ya, nikmati saja. Yakinlah bahwa malam selalu akan berganti siang, setiap daun yang gugur selalu digantikan tunas baru, badai pun tak selamanya berada di area yang sama.
Sedihmu itu juga akan berlalu, cepat atau lambat.
Dan akan lebih cepat kalau memang ada kemauan besar untuk menyudahi masa-masa penuh ngilu dan membuka lembar baru.

Kita perlu sadar bahwa kita adalah sosok utuh yang tak perlu digenapi.
Seseorang yang akan datang di masa depan itu datang untuk menjadi partner membangun cerita hidup bersama, bukan untuk melengkapimu. Dengan atau tanpanya kamu harus yakin bisa tetap berdiri tegap.
Kita masing-masing telah lengkap dengan segala kurang dan lebih.
Kita tak saling bertemu hanya untuk bertukar kalimat manis yang akhirnya menguap habis ditelan waktu. Sehingga hanya menyisakan luka pada akhirnya.
Lebih dari itu, kita berusaha saling bertemu, saling mengerti dan saling berusaha untuk tidak menyerah, tak sekalipun berpikir untuk berbalik arah.
Tidak menemukan atau ditemukan, sebab kita bukan barang hilang.
Kita yang saling berusaha membangun self-worth hingga semesta setuju membuat garis kita saling bertemu di titik tertentu.

Patah hati itu hanya salah satu proses, yang harus dilewati untuk sampai ke titik dimana garis kita bersinggungan.
Patah hati itu, ya memang semenyebalkan itu.
Jadi, menyikapi patah hati harus bagaimana?
Yaaaaaa, jalani saja!

Selamat terus berusaha menuju titik yang disetujui semesta!

Salam,
Anggi

p.s.: jangan lupa olahraga, minum air yang cukup  dan makan tepat waktu!

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.