September 13, 2020

Garis Start Setiap Orang Berbeda.

    2020 sudah hampir genap tiga triwulan. Melihat kalender rasanya waktu berlalu begitu cepat, padahal menjalani setiap harinya dengan napas tersengal-sengal. Tahun ini berat untuk semua orang, walau dalam skala yang berbeda. Lini masa media sosial dipenuhi keluhan serta kalimat harapan. Tahun ini sungguh menunjukkan banyak hal, tentang bagaimana kapabilitas negara melindungi rakyatnya, bagaimana para pemimpin meletakkan prioritas dalam kebijakannya, tentang empati dan penerimaan. Tapi tulisan ini tentu tidak akan fokus membahas bagaimana hubungan pemerintah dan covid-19, karena semua sudah ada porsinya, dan hal itu tentu bukan sesuatu yang biasa tersaji di meja makan saya (((meskipun ingin sekali menulis surat terbuka, tapi nyatanya lebih banyak luapan emosi tidak penting)))
    Tahun ini jika masih diberi kesempatan, maka saya akan menghabiskan sepanjang 2020 dengan status sebagai pekerja. Bukan kali pertama saya bekerja secara profesional, namun ini adalah pekerjaan pertama dengan hitam diatas putih yang jelas serta dalam waktu penuh. Saya sering merasa sangat terlambat, ketika tahun pertama saya bekerja adalah tahun kedua atau bahkan ketiga bagi teman saya. Lulus di semester sembilan bukan sesuatu yang mudah diterima bagi si ambis seperti saya. Menerima kenyataan gagal lulus tepat waktu sejak semester enam saja sudah sesak rasanya. Semua itu membuat saya secara konstan mengedarkan CV dan portofolio sejak Oktober 2018, padahal saya baru akan presentasi tugas akhir Januari 2019.
    Tujuan utama saya selepas kuliah adalah bekerja, alasannya sederhana saja, uang. Ya, saya perlu uang untuk menghidupi diri sendiri. Selama kuliah saya adalah penerima bidikmisi, dua semester awal saya termasuk dalam daftar pembayar UKT terendah, lima ratus ribu per semester, jumlah yang amat murah untuk ukuran kuliah sarjana, namun selalu dibayarkan di hari terakhir oleh Kakak. Terlihat drama ya? sayang sekali itu kenyataan yang sulit saya lupa karena di hari itu saya selalu cemas dan hanya bisa berdoa. Tahun pertama saya kuliah, Kakak baru setahun lulus, belum punya pekerjaan tetap tapi harus mengambil alih posisi Bapak. Berat sekali menjadi anak sulung. Tujuh bulan setelah lulus, setelah 9x gagal memenuhi panggilan tes, 10x gagal lolos tes, akhirnya saya mendapat pekerjaan full-time pertama. Banyak sekali jobdesk pekerjaan tidak linier dengan latar belakang pendidikan, namun tetap saya paksakan untuk terus mendaftar, seambisius itu. Beruntungnya, pekerjaan saat ini, linier dengan pendidikan sebelumnya dan seringkali terasa seperti mengerjakan tugas kuliah setiap hari. Saya bahkan tidak memikirkan bagaimana jalur karir setelah lulus, pikiran saya hanya penuh terisi bagaimana cara cepat mendapat pekerjaan, punya gaji, dan tidak lagi jadi beban. Saya ingat betul betapa menyenangkan rasanya dompet terisi dengan uang yang diperoleh sendiri hahaha, itu terjadi saat kerja paruh waktu saat kuliah.
    Seringkali saya melihat betapa teman-teman saya telah jauh di depan. Lalu melihat diri saya amat menyedihkan di depan cermin. Waktu luang yang dihabiskan dengan melihat tayangan 15 detik berisi update kehidupan orang lain nyatanya sering memicu kekhawatiran tak terkendali. Saya sering menghitung berapa banyak yang harus saya tabung untuk a, untuk b, untuk c. Saya memperkirakan berapa lama saya harus bekerja untuk sampai di titik 1, titik 2, titik 3. Lalu 2020 yang luar biasa ini menyadarkan pelan-pelan. Bahwa jalur yang terbentang kedepan ini bukan sesuatu yang harus dibandingkan loh. Membandingkan pencapaian diri sendiri dengan milik orang lain adalah pembahasan tiada ujung. Akan jauh lebih menyenangkan melihat bagaimana proses yang telah dilewati, melihat keberhasilan sebagai cermin untuk selalu bersyukur, melihat kegagalan sebagai bahan bakar supaya semangat untuk terus berjalan. Akan jauh lebih bermanfaat untuk mengelola emosi dengan baik dan mengkondisikannya dalam "tab" netral, supaya tidak lekas goyah melihat bagaimana dunia berputar.
    Garis start setiap orang berbeda, dan kita harus terus mengingatnya sebagai perjalanan, bukan perlombaan. Kata Bapak: tidak apa-apa meskipun “melaju” pelan, asal terus dilakukan. kebiasaan baik itu dilakukan sedikit demi sedikit secara konsisten. Perkataan Bapak itu nampak sesuai dengan bagaimana saya harus bersikap dewasa ini, ditengah situasi yang memaksa saya untuk merutuki keadaan dan larut dalam kesedihan, saya harus tetap mampu menyeimbangkan laju, kapan harus melaju pelan, menerima dan istirahat, untuk kembali melaju dengan kecepatan penuh meraih centang-centang di kolom target.
    2020 yang banyak dikutuk orang-orang ini, adalah kali pertama saya ulang tahun lengkap dengan kue yang diatasnya ada lilin menyala, meski kue dan lilin itu di rumah bersama Ibuk. Tahun ini adalah tahun dimana Arsenal kembali mempertemukan piala FA dan Community Shield. Tahun ini adalah tahun dimana saya akhirnya berani menjelaskan isi kepala saya. Meski 2020 dibenci banyak orang, tapi tahun ini tetap menyediakan bahagia dan banyak waktu berpikir bagi saya.
    Garis start setiap orang berbeda, tapi akan singgah dan finish dimana adalah sesuatu yang selalu pantas diusahakan. Dengan garis start dan bekal yang berbeda itu, semoga kamu tidak takut untuk terus mengusahakan harapanmu ya, Anggi. Kamu pasti bisa, jika tidak hari ini, mungkin, besok, seminggu lagi atau beberapa tahun lagi, siapa tahu? Jangan berhenti meminta dan menunjukkan kesungguhanmu di hadapan Tuhan. 

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.