sebelum oktober 2020 usai dan blog semakin tidak terurus, haha. semakin sering menulis berarti semakin banyak pula resah di kepala yang harus dikeluarkan, entah dalam bentuk menangis atau menulis.
akhir-akhir ini saya banyak nonton film dan serial tv, oh tentu saja hal itu lalu mengurangi intensitas membaca buku, sungguh sebuah selingan~ (dan info yang tidak penting)
sesuatu yang sering saya lakukan sebelum nonton adalah mencari spoiler, ya ini bukan salah ketik. lalu orang sekeliling saya yang nggak banyak-banyak amat itu nanya, apa serunya nonton film kalo uda tau ceritanya? ya justru itu saya mau pastikan nonton film yang memang sesuai dengan harapan saya, termasuk soal akhir ceritanya. karena cukup dalam hidup ini saja semua tidak bisa selalu sesuai harapan, yakan ya mwehehe (kok tetiba sudah sampai kesimpulan)
saya tidak pernah marah ketika orang lain membagikan spoiler, tapi saya berusaha tidak melakukan hal yang sama karena memang pada umumnya itu dihindari. film yang bagus dan jelas penyampaian ceritanya akan membuat saya lupa pernah membaca spoiler, dan pada akhirnya akan tetap merasa “penuh” dengan semua harapan yang terpenuhi di akhir cerita.
akhir yang bahagia memang pilihan yang paling sering saya ambil ketika menentukan akan nonton film apa, poin kedua setelah genre. tiga genre preferensi saya adalah romcom, horror (psychological horror, supernatural horror) dan fantasi.
romcom punya banyak pilihan film dengan akhir yang bahagia tapi horror tidak, bahkan kadang perlu googling “(insert film title here) ending explained” atau menonton ulang untuk tahu maksudnya. mengharapkan akhir yang bahagia dengan nonton film horror saja sudah sebuah ironi, tapi saya tetap melakukannya~
lalu mengapa mengharapkan akhir yang bahagia? ya, nonton film kan sarana untuk lari sebentar dari problematika hidup sehari-hari (jyaa) jadi wajar dong kalo cari yang happy-happy. karena buat saya, konsekuensi menonton film dengan akhir bahagia itu sejujurnya lebih berat daripada film yang berakhir sedih/ tragis. film dengan akhir bahagia membuat saya enggan nonton film baru karena merasa perlu mengingat rasa “penuh” dan bahagianya (wow agak lebay). film yang berakhir sedih mengembalikan saya pada kenyataan secara tiba-tiba setelah 1-2jam larut di dalamnya, bahwa ya di dunia nyata tidak semuanya berakhir bahagia.
lalu kenapa film horror?
nonton film horror itu sarana melawan ketakutan sendiri, jauh sebelum hari ini, saya harus selalu ditemani bapak untuk nonton sinetron dan reality show bertema hantu di lativi. setelah bapak tidak lagi disini, mau tidak mau, suka tidak suka semuanya ya harus sendiri, setelah terus-menerus membiasakan diri akhirnya ya bisa juga. selalu menganggap bahwa yaudahsih film horror serem, tapi kalo balik ke kenyataan, menghadapi dunia luar dan semua tantangannya juga ga kalah serem (ga gitu woy)
nonton di siang hari, nonton di tempat ramai, yakin bahwa saya tidak diberkati kemampuan melihat mereka, dan berusaha mencari hal-hal yang ramashok di film horror bisa menurunkan persentase kengeriannya.
tapi saya nggak selalu bertujuan nyari akhir yang bahagia ketika nonton film horror, ya karena susah juga nyarinya. tapi di genre lain saya usahakan hahaha.
menyenangkan rasanya bisa tahu sesuatu akan berakhir seperti apa.
mengapa mengharapkan akhir yang bahagia? karena harapan baik menjaga kita tetap hidup.
dengan terus mengharapkan hal baik setiap hari kan meningkatkan probabilitas kebahagiaan terwujud~ (sok tau nih, kaya pegang kunci laboraturium mimpi)
siapa tahu dari sekian banyak harapan yang telah mengangkasa akan dikembalikan satu saja yang sesuai persis dengan kemauan. atau mungkin lebih, ya terserah Tuhan saja, aku sih anaknya ga suka nolak rejeki.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.