July 13, 2020

menangis

sebuah jurnal pengingat untuk anggi di masa depan, menangis itu tidak apa-apa, asal ibuk tidak tahu dan berdoalah Tuhan tidak memberitahu bapakmu.

    sekian banyak kegiatan yang bisa dilakukan, kenapa ya saya menjatuhkan pilihan untuk menangis? kadang saya bisa merasakan bahwa sudah lama tidak menangis membuat reaksi tubuh terhadap stress muncul kembali. tubuh saya bereaksi cukup buruk terhadap stress, dalam skala ringan rambut saya akan rontok lebih banyak dari biasa, dalam skala yang parah saya akan sakit perut dan bolak-balik wc lebih dari 5x. setelah menangis maka reaksi stress itu cukup mereda.
    saya cukup beruntung bisa mengenali reaksi stress dalam diri saya sendiri, karena sering kali saya mengabaikan perasaan saya sendiri. saya merasa baik-baik saja setelah melalui kejadian tidak menyenangkan, tapi saat menyisir rambut, helaian yang jatuh jauh lebih banyak, saya bisa tetap merespon obrolan dengan baik, tapi ketika itu pula saya harus bolak-balik ke wc. dengan reaksi tersebut, tubuh saya sedang memberi sinyal bahwa saya butuh waktu untuk menangis dan menata kembali folder-folder di kepala. mana folder yang harus direlease, tetap disimpan dan mana yang harus benar-benar dihapus.
    dalam folder tersimpan ada banyak hal yang masuk kategori "work in progress", sebagai pribadi yang sulit memaafkan kesalahan orang lain saya butuh waktu lama menyelesaikan suatu urusan yang tak menyenangkan. saya langsung menelan semua perasaan sedih dan kecewa, dalam etalase rasa cukup banyak toples pengalaman dengan berbagai rasa dan tingkatan yang berbeda, suatu saat ketika dibutuhkan, saya akan mengambil toples yang sesuai untuk menjadi pengingat atau bekal menjalani sesuatu yang baru.
kembali dalam kategori "work in progress", saya biasanya telah final memaafkan seseorang ketika telah mampu menertawakan kejadian itu dan menjadikannya konten kocak berupa meme atau cuitan yang tidak begitu penting. saya tidak pernah memaksa diri untuk memaafkan sesuatu, saya sadar betul batas kemampuan saya. 
    satu yang pasti, saya tidak akan pernah membalas, setelah melalui fase menyedihkan saya akan membawa pulang toples pengalaman dan ketika telah meninggalkan tempat itu maka daftar tempat terlarang dikunjungi dalam buku catatan saya akan bertambah. sikap saya terhadap subjek yang membuat fase menyedihkan itu terjadi akan berbeda-beda, namun hanya ada dua pilihan, diantara saya tetap berteman baik atau bersikap seolah-olah keberadaannya serupa partikel debu mikroskopis.
ya, bukan hal sulit untuk saya berlaku sedemikian kejam terhadap subjek yang sudah meruntuhkan tembok percaya diri yang saya bangun setiap hari.
setiap hal yang terjadi selalu berhubungan erat dengan tembok ini, kepercayaan diri saya adalah tembok paling kuat yang saya pertahankan, sekaligus tembok paling rentan dalam hubungannya dengan manusia lain.
berkali-kali saya menyalahkan diri sendiri ketika tembok ini runtuh, tapi hari ini saya adalah orang pertama yang akan kembali memperbaikinya saat ada barang sekepingpun yang jatuh darinya.
    memaafkan dan mempertahankan kepercayaan diri itu adalah dua hal yang harus saya jaga keseimbangannya. saya pernah dengan sangat gegabah memutuskan mengampuni kesalahan besar subjek yang begitu lekat dalam ruang ingatan, lalu pemaafan itu berujung pada ringkihnya tembok kepercayaan diri, saya begitu mudah menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak pantas menerima kebahagiaan. menangis seolah jadi jalan pintas untuk meredakan konflik dalam ruang penyimpanan folder yang terlanjur berantakan, padahal saat itu menangis tidak meredakan apapun, lalu tubuh bereaksi dengan sangat jelas dan membuat saya semakin menyedihkan di depan cermin.
    hari ini, saya akan tetap menangis kapanpun saya butuh merelease folder tertentu. saya akan memaafkan ketika telah siap dan selesai merapikan foldernya, dan saya akan terus mempertahankan tembok kepercayaan diri dengan atau tanpa bantuan subjek manapun.
dulu saya pernah bertanya pada bapak yang pernah menulis kata berdikari di buku hariannya, bapak bilang berdikari itu artinya berdiri diatas kaki sendiri. saya merespon itu dengan mata berbinar dan menganggap kata itu hebat sekali jika bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari, dan bapak pun mengamininya, siapapun itu, lelaki atau perempuan, ketika telah dewasa harus mampu berdikari. dalam artian yang sebenar-benarnya.
dalam hal ini, saya mencoba langkah kecil untuk berdikari atas segala penguasaan emosi dan pengendalian diri sendiri.

selamat terus belajar menjadi kebaikan dan orang baik, anggi.
selamat terus berusaha memaafkan dan mengambil pelajaran.
sebelum hidup kaya raya, mari hidup kaya rasa, hahaha~

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.