saya terus berusaha menumbuhkan percaya sambil terus bertanya-tanya:
"apakah saya layak menerima kebaikan?"
"bagaimana cara meletakkan percaya di tempat yang tepat?"
"bagaimana memaafkan?"
semua pertanyaan diatas tidak pernah benar-benar saya temukan jawabannya hingga kini.
saya pemalas yang menghindari resiko. tidak berusaha mencari jawabannya karena takut menerima kenyataan yang berlawanan dengan harapan.
kritik dari diri sendiri jauh lebih banyak daripada kritik yang saya terima dari orang lain.
selalu merasa jadi orang yang paling rapi menyimpan dendam, lalu memperlihatkan wajah yang biasa saja.
disisi lain, saya yang marah pernah berpikir:
"menangis berkali-kali bukan jaminan luka akan enggan menghampiri, ikut ambil bagian menyembuhkan sakit orang lain bukan jaminan kau takkan merasakan sakit yang sama, menjadi orang baik juga bukan jaminan kau akan diperlakukan dengan baik pula. lalu kenapa tidak berbuat semena-mena saja? daripada harus menjadi satu-satunya yang menanggung kecewa."
lalu yang muncul hanya kalimat sanggahan semacam ini: "kau akan dan selalu baik-baik saja. pilihlah pilihan-pilihan baik yang tak menyakiti orang lain. kau tetap berhak melindungi dirimu sendiri, meskipun harus melalui kesulitan. berusahalah menjadi baik."
bapak melarang saya berbuat hal-hal buruk, ibuk pun demikian. mereka selalu memberi pengertian ketika orang lain melakukan sesuatu yang tak kita kehendaki, itu bukanlah niat buruk mereka, anggap saja itu diluar kesengajaan.
bapak dan ibuk mungkin bisa dan terbiasa melakukannya.
tapi anak perempuannya tidak. beberapa hari ini saya baru sadar, saya bertindak jauh dari harapan mereka. saya mendendam, saya menuduh, saya menyeret semua orang merasa bersalah.
bapak dan ibuk membuat saya selalu percaya kebaikan ada bersama saya, mengiringi setiap langkah.
maka untuk kembali pada jalan yang sudah ditunjukkan bapak ibuk, saya harus kembali diam dan sedikit demi sedikit meluruhkan dendam. supaya tidak lagi menyebabkan luka untuk orang lain.
saya menangis sendirian, sedangkan saya tahu itulah hal yang paling dibenci bapak dan ibuk.
tetap berdiri hingga hari ini bukan pilihan, saya terus melakukannya karena hati bapak dan ibuk tak pantas dihadiahi kecewa.
telinga saya sakit luar biasa menahan tangis menulis blog hari ini.
air mata tetap jatuh, harapan juga belum kembali utuh.
saya ingin menjadi kebaikan yang mengelilingi orang lain seraya kembali menumbuhkan percaya, dalam diam, dengan aman.
semoga dimampukan.

No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.