November 28, 2019

pernah.

saya pernah jadi yang (terlihat) paling tegar,
ketika bapak pulang.
sebelum akhirnya
menjadi;
rapuh ketika yang lain telah pulih,
pendiam di keramaian,
penakut paling handal.
menjadi;
rapuh sebab bapak tidak disini,
pendiam sebab bapak tidak bicara lagi,
penakut sebab selain bapak, siapa yang akan membersamai?



saya pernah,
melaluinya,
berusaha melawan,
dan pulih.
karena cinta bapak dimana-mana.
mengiringi langkah dan menaungi jalan.

apakah;
bapak tidak disini,
bapak tidak bicara lagi,
bapak tidak membersamai?

iya dan tidak.
iya, sebab begitu mata dunia memandangnya.
tidak, sebab selamanya bapak hidup melalui mata hati kami yang mencintainya.



kesayangan bapak selalu,
anggi

October 27, 2019

merapikan kembali mimpi yang berserakan.

dulu jauh belum masuk kampus almamater, saya rajin menuliskan mimpi-mimpi yang ingin dicapai, mulai yang kecil sampai yang agak mustahil tercapai.
semakin dewasa rasanya semakin ingin jadi realistis saja, mengikuti alur dan tidak terlalu ambisius mengejar sesuatu.
lalu hari ini, hmm belakangan ini maksudnya, mulai sadar.
kenapa tidak?
toh mimpi itu gratis kan? lagipula bukannya sudah sering juga menertawai mimpi-mimpi yang gagal atau belum tercapai?
di sisi lain juga sering pula terkagum-kagum pada kenyataan yang luar biasa sekali hingga rencana dan mimpi yang dianggap hanya khayalan level teenlit ternyata bisa juga jadi nyata.
kenapa saya yang hari ini tidak berani lagi menulis mimpi-mimpi untuk masa depan?
apa sudah lelah ditampar kenyataan?
dengan atau tanpa catatan itupun akan selalu ada kemungkinan disapa kenyataan pahit, iya kan?
jadi,
kenapa tidak menulis lagi?
tulis saja, jika sering terbaca mungkin lama-lama akan jadi sugesti positif agar diri berusaha lebih keras lagi, berdoa lebih sering lagi, memberi lebih tulus lagi.
jangan takut ya.
kamu akan baik-baik saja, dengan atau tanpa mimpi yang jadi nyata.
kamu boleh bermimpi,
kamu boleh menulis apapun yang kamu ingin,
dan kamu juga boleh berharap untuk tetap baik-baik saja ketika semua belum terjadi.
masih ingat kan bait doa yang diulang-ulang saat sma?

"ya Allah mohon ampunkan dosaku dan dosa kedua orangtua ku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku, ya Allah, aku percaya janji-Mu nyata, kuasa-Mu tak terbatas dan Engkau selalu punya cara. semoga setiap langkah selalu diiringi ridho-Mu,  ya Allah mohon ampunkan dosaku dan orang-orang yang menyakitiku, semoga aku tidak melakukan hal yang sama seperti mereka. ya Allah perkenankanlah doaku." 

mari kembali bermimpi dan mengusahakannya (lagi)!

October 19, 2019

seminggu di jakarta.

mengemas barang,
berpindah dari kota satu ke kota lainnya,
menyelami kemacetan di sisi lain pulau jawa,
di tempat dimana umumnya merasa sama sekali bukan jawa.

porter stasiun yang baik hati,
pengemudi taksi yang baik hati,
pemilik kos yang baik hati,
meski tak pernah diantar orang tua dalam setiap fase perpindahan ke kota baru,
kebaikan orang di sekelilingku pasti berasal dari doa tulus ibu bapakku.

kadang,
ingin rasanya diantar kedua orang tua di stasiun,
seperti anak lainnya.

akupun berdoa sepanjang jalan,
agar terus dipertemukan dengan hati-hati baik,
menulis lebih banyak,
mengimbangi kapasitas ingatan yang terbatas,
mencuci lebih sering,
membeli berbagai wewangian,
sabun, parfum, pengharum ruangan.

jakarta,
yang ramai dan tak sekalipun tidur,
panasnya sesak

surabaya,
yang ramai dan tak pernah nyenyak,
panasnya menusuk

kembali berjalan seperti ketika tiba di surabaya,
kembali menumbuhkan keberanian,
tapi tetap sendiri dan menangis,
melihat ketidakberuntungan di kanan kiri, di setiap sudut kota ini.

semoga di jakarta aku bertumbuh jadi manfaat dan bahagia untuk sekelilingku.
semoga aku tidak hanya sekedar menangisi keadaan,
semoga aku mampu menjadi perantara bahagia mereka atas doa yang dikabulkan Tuhan.

sakit di telingaku muncul lagi saat menulis ini,
mungkin aku harus segera menyudahinya,
aku permisi menangis dulu ya.

jangan lupa bersyukur! 

October 17, 2019

siomay dan sakit di telingaku.

jalan pulangku kali ini terasa berbeda, perhatianku tertuju pada gerobak siomay di pinggir jalan.
yang sempat kulewati lalu sebelum akhirnya putar balik kembali.

malam ini gerimis tipis, si penjual memasang payung dan jas hujannya.
gerobak berwarna biru diatas sepeda tua yang pedalnya tak lagi utuh.

"pak, masih?"tanyaku.
"iya masih, bu"jawabnya.

tak perlu dijelaskan bukan mengapa aku dipanggil ibu? entahlah, rasanya wajahku belum pantas dipanggil ibu.
tapi yang jelas bukan itu inti tulisan ini.

"seporsi dibungkus yah"
"iya bu"
"pak, uangnya 50an, ada kembalian?"
"ada kok ada" ucapnya antusias sambil menuang bumbu kacang ke dalam plastik.

segera setelah itu beliau mengeluarkan isi dompetnya, lalu mengorek sisi gerobak yang lain.
dengan raut wajah kecewa beliau berkata "maaf bu, uangnya ngga cukup, bawa aja, kalo saya lewat rumah ibu aja bayarnya"

"saya tukerin bentar ya pak"

"jangan repot-repot, bu. bawa aja"

setelah berlari ke toko kelontong, aku kembali dan membayar siomayku dengan uang pas.

bagaimana mungkin seorang penjual siomay,
ditengah gerimis,
dengan panci yang masih penuh,
menawari orang asing sepertiku untuk membawa seporsi dagangannya?
dengan cuma-cuma?

aku berlalu meneruskan jalan pulang, menahan sakit di telingaku.
hal sama yang selalu terjadi saat aku menahan tangis.

aku selalu benci berada di kota besar,
melihat orang lain tidak seberuntung aku,
lalu aku tak bisa berbuat banyak,
dan menangis sendirian.

bagaimana mungkin aku memilih menukarkan uang lalu membayar sesuai harganya?
kenapa aku tidak memilih untuk menyerahkan selembar biru yang kupunya?

penyesalan kali ini kubawa pulang,
kutumpahkan bersama tangis yang kutahan sejak tadi.

hujan di luar sudah berhenti,
ketika hujan di mataku semakin deras lagi.

dear anggi, semoga ketika rezeki lapang maupun sempit, kamu tak lupa berbagi.
agar tak perlu menahan tangis penyesalan.
agar tenang hatinya.
agar bisa selalu melihat kebahagiaan mengelilingimu.
selamat kembali berusaha,
menghidupkan bahagia❤

September 12, 2019

bekal untuk masa depan dari teman-teman.

mendengar cerita tentang kehilangan keluarga.
mendengar cerita tentang kesedihan yang disimpan sendiri, menumpuk lama, memupuk getir, menumbuhkan dendam.
mendengar cerita tentang kehilangan harta benda dalam kondisi traumatis.
melihat rumah-rumah yang tidak nyaman ditinggali.
dalam rentang waktu berdekatan.
sungguh tidak semudah menulis catatan ini.

kepada hati-hati tulus yang berkenan membagi ceritanya, terima kasih.
terima kasih untuk tetap terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya tidak.
terima kasih untuk percaya pada dua telingaku.
terima kasih sudah menjadi halaman yang akan kembali dibuka kelak ketika merasa putus asa.
sebab kalian pernah dalam kondisi sulit dan berhasil melewatinya,
maka aku,
dan
kamu,
kita semua,
siapapun yang yang membaca catatan ini, juga akan berhasil melewatinya,
setiap duka,
setiap luka,
setiap kegagalan,
kita semua akan baik-baik saja.
meski dalam timeline media sosial selalu ada yang pesimis tentang hal itu.

kita semua akan baik-baik saja.
sebab, apapun rencana Tuhan, selalu lebih baik daripada rencana kita sendiri.
meskipun kadang sulit dimengerti dan diterima, pasti ada kebaikan yang menyertai.
kita tidak tahu telah diselamatkan dari berapa banyak keburukan ketika diberi duka dan luka.
tapi Sang Pemegang Waktu tahu itu, maka ikhlaskan.
dan
ikhlas adalah pelajaran seumur hidup, tidak ada waktu berhenti untuk ikhlas, selama kita masih bernafas.

ikhlaskan,
kita semua akan baik-baik saja.
karena Tuhan Maha Baik.

selamat kembali belajar,
bekerja,
berjalan,
mengejar,
merawat,
menyembuhkan.

selamat kembali menjadi baik-baik saja!

September 09, 2019

ok.

it's ok to cry.
kamu tidak harus kuat setiap saat.

September 07, 2019

2014-2015

merindukan suasana asrama.
sunyi tidak selalu menyenangkan.
namun berjalan sendirian itu jauh lebih menenangkan.

merindukan suasana asrama,
atau
merindukan tapak kaki yang lebih kuat dari hari ini?

merindukan suasana asrama,
atau
hanya ingin kembali beku?

selamat terus merawat luka.
semoga tetap tenang,
hatinya.

August 28, 2019

sebenarnya tulisan ini akan lebih baik jika tetap disimpan menjadi draft.

kepada,
diriku

mengapa terus berputar-putar mencari topik pembicaraan?
mengapa tetap berusaha keras mempertahankan percakapan?
tidak cukupkah kenyataan yang membentang jelas?
sepasang telapak tanganmu itu terlalu jauh untuk meraih bulan,
kalimatnya bersinar terlalu terang untuk bola matamu,
gagasannya terlalu dalam untuk diselami orang asing, sepertimu.

kembalilah,
cukupkan.

someone on the internet said: "the people who are meant to be in your life will always gravitate back towards you, no matter how far they wander."

meski itu sepasang hati asing yang tak saling bertaut sebelumnya.
that's it, i'm done.

August 22, 2019

22 Agustus 2019

Terima kasih kepada hati hati baik yang telah menyediakan energi untuk menyapa saya lebih dulu, hari ini.

Terima kasih untuk ketulusan kalian mengingat tanggal ini.

Maaf jika belum mampu menyediakan telinga untuk setiap cerita,
Maaf jika belum mampu menerbitkan meme baru untuk memantik tawa,
Maaf jika banyak kata dan tulisan yang menyakiti,

Tolong tetap sudi berteman dengan saya,
karena kalian adalah orang-orang baik yang mengelilingi saya, kebaikan yang saya minta pada Tuhan, ada dan tumbuh, salah satunya lewat kalian.

Salam,
Anggi❤

August 21, 2019

21 Agustus 2012

Sebuah judul yang tak perlu dijelaskan.
Kepada diriku, tolong dengan sangat
Ikhlaslah,
Ikhlaslah,
Ikhlaslah.

Salam,
Anak perempuan Bapak

August 14, 2019

Agustus Telah Tiba.

Beberapa hari menjelang tanggal yang paling ingin ku hapus dari kalender.
Ingin menangis keras-keras dan membaca kembali semua tulisan tentang Bapak.



what if i told you: my dad's funeral is exactly on the day before my 16th birthday?



Apa kalian akan terus menangisi bulan dan hari itu di tahun-tahun selanjutnya?
Atau tetap tersenyum dan terlihat biasa saja?


Aku sesungguhnya benci melihat diri sendiri tidak berhenti menulis dan meluapkan kesedihan, terus menerus mengabarkan pada dunia seberapa besar rindu yang dirasakan, sesuatu yang tidak semua orang ingin membacanya.

Tapi aku juga tidak cukup pandai untuk tetap baik-baik saja menahan sesak & tidak menulis apapun.

Lalu hari ini aku meminta maaf kepada siapapun yang membaca tulisanku yg terlihat menyedihkan dan tidak terlalu penting melalui sebuah tweet yang juga tidak ditulis dengan kalimat yang terkesan serius.

Kadang aku hanya menulis untuk menumpahkan yang tidak lagi dapat dibendung dan bukan untuk dibaca orang lain apalagi mendapatkan feedback.

P.s.: banyak sekali kata tidak dalam tulisan ini, mungkin bisa menyiratkan betapa aku selalu tenggelam pada kubangan airmata bulan Agustus.
Atau tidak sama sekali? Entahlah.

Salam,
Anggi.

Maaf ya kembali membiru.
Semoga siapapun yang tak sengaja menemukan tulisan ini dan membacanya tidak ikut sedih hatinya, semoga kebaikan selalu mengelilingi kalian❤

July 31, 2019

Meluapkan Kemarahan kepada Tuhan.

Marahnya seorang anak manusia.
Meluap-luap beriring air mata yang ditabung sejak lama.
Esok ulang tahunnya, hari ini Bapaknya tutup usia.

Marahnya seorang anak manusia.
Merasa paling dihancurkan kenyataan.

Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk menggugat mengapa hari itu tiba.

Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk meminta kembali waktu untuk Bapaknya.

Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.
Mengapa tak pernah usai sakit hatinya?

Tuhan yang menyayanginya dengan sangat.
Tuhan yang tidak berpaling sekalipun dia datang dengan amarah.
Tuhan yang memberinya hidup dan kesempatan.

Marahnya seorang anak manusia.
Menentang garis hidup kepada Sang Pemberi Hidup.
Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.

Menangis.
Sujud.
Memohon ampun.

Marahnya seorang anak manusia.
Kepada dirinya yang kemarin.

Kemarahan yang teramat sangat.

Betapa kehilangan telah menguji kehambaannya dengan hebat.
Hampir ia lepas kehambaannya dengan sikap langit yang tinggi.
Bahkan langitpun enggan disamakan dengannya.

Sedangkan,
Tuhan terus menyelimutinya dengan rahmat.
Tuhan terus melimpahi hatinya dengan rahim.
Tuhan terus mendatangkan orang baik disekelilingnya.

Kemarahannya yang teramat sangat.
Yang sia-sia itu.
Luntur bersama air mata.

Semoga telah berlalu.
Semoga tak lagi berlaku.

July 26, 2019

kepada siapa pun surat ini tertuju.

terima kasih telah berbagi cerita dan menebar energi baik.
terima kasih sudah berkenan membumi meski tempatmu di langit.
terima kasih untuk halaman luas yang tak bosan dikunjungi.

semoga kelak bertemu kembali dengan frekuensi yang sama.
dalam suasana yang gembira.

salam,
sepotong hati yang menapak bumi

/////banyak lagu-lagu baru yang bikin lembut hatinya, mendukung suasana untuk nulis yang menye-menye begini hahaha, yasudah gapapa sekali-kali jadi cewe teenlit

July 19, 2019

Orang Tua dan Harapan

Bertemu dan bicara dengan orang-orang dari berbagai latar belakang berbeda (baik sosial, ekonomi dan pendidikan) selalu mengejutkan, kita seringkali mendapat banyak insight yang tidak didapat semata dengan bersekolah saja.

Waktu itu, ketika saya sedang mengendarai ojek, si Bapak membuka obrolan dengan menanyakan dimana saya sekolah, lalu berlanjut dengan beliau yang bercerita bahwa anaknya seusia saya dan juga sedang mengerjakan skripsi.
Bapak itu bercerita dengan semangat, bahwa pekerjaan barunya sebagai pengemudi ojek online bisa menghasilkan pendapatan lebih daripada pekerjaannya yang sebelumnya beliau jadi bisa mengirimi anaknya uang saku lebih di tanah rantau.
Bapak tersebut juga bercerita bahwa beliau tak sekalipun memilih-milih orderan yang masuk ke aplikasinya, beliau selalu mempertahankan performa baik agar ratingnya tidak turun.
Beliau berharap anaknya yang sebentar lagi lulus itu akan mendapat pekerjaan yang baik agar dapat menghidupi dirinya sendiri dengan layak.
"Saya sudah berusaha sangat keras untuk mengupayakan anak saya sekolah sampai perguruan tinggi itu biar apa mbak, ya cuma biar dia tidak bernasib seperti ayahnya", ujar beliau mengakhiri percakapan tentang keluarganya. (tentu saja cerita ini sudah dialih bahasakan ke bahasa indonesia ya, hahaha ngobrol sama pak ojek di Surabaya ya pake bahasa jawa lho)

Lalu hari ini, ART baru di rumah sepupu saya bercerita mengenai alasan mengapa beliau bekerja jauh dari rumah.
Beliau bercerita bahwa anaknya butuh biaya untuk terus sekolah, tidak bisa jika hanya mengandalkan pemasukan dari pekerjaan suaminya.
Beliau bercerita bahwa anaknya rajin dan suka menabung (akhirnya benar-benar bertemu seorang ibu yang mendeskripsikan anaknya dengan frasa ini! yay hahaha), bukan anak nakal dan amat penurut. Maka dari itu si ibu sungguh memperjuangkan pendidikan anaknya.
Beliau bilang nanti anaknya akan sekolah ke STM agar saat lulus bisa segera bekerja di bengkel milik saudaranya, dengan sekolah si ibu percaya bahwa anaknya kelak akan memiliki garis hidup lebih baik darinya.

Orang tua pada umumnya selalu mengharapkan hal-hal baik selalu meliputi anak-anaknya.
Dimulai dari nama yang diberikan, sudah barang tentu menyimpan makna dan harapan.
Orang tua selalu menaruh harapan baik dan optimis terhadap kehidupan anaknya di masa depan, sedangkan saya sendiri sebagai seorang anak lebih sering meragukan diri sendiri dan pesimis melihat kesempatan.
Orang tua yang selalu mengharapkan hal baik bagi anaknya itu, tidak berhenti dan sekadar berharap, mereka juga terus berusaha setiap hari, sepanjang masa mengupayakan jalan terbaik bagi anaknya menuju kehidupan di usia dewasa, karena mereka paham bahwa dirinya tak hidup selamanya untuk terus mendampingi anaknya (meminjam kalimat yang selalu diucapkan Bapak sebelum beliau pulang)

Saya tahu tulisan ini tidak akan bisa relate dengan anak-anak yang tumbuh tidak bersama orang tuanya, namun perkenankanlah saya untuk meminta maaf atas keterbatasan pengalaman, hal itu membuat saya tidak banyak mengerti dan bisa menulis tentangnya, meski saya tetap berusaha paham rasanya.
Intinya, di dunia yang rupa-rupa warnanya ini akan selalu ada harapan baik dari orang-orang yang menyayangi kalian, jadi jangan pernah menyerah, putus asa atau pesimis melihat masa depan! Semangat, ya!✨

xoxo,
anggi🌻

July 18, 2019

portfolio dua juta tahun.

membuat suatu karya tidaklah sulit bagi yang terbiasa.
kesulitan justru tiba saat harus mengumpulkan semua karya, memilih yang terbaik lalu menatanya menjadi beberapa halaman dengan penyampaian yang menarik.
berulang kali memastikan apakah kiranya akan membosankan atau bikin penasaran.
DANK!
memilih dari banyak pilihan tentu sulit apalagi kalau merasa tidak ada pilihan karena semua yang dikerjakan kok ya seperti banyak kurangnya.

cover portfolio tahun 2018👻
cover portfolio Januari 2019💫
cover portfolio Juli 2019🍒
dengan berkali-kali drag and drop images, aplikasi yang crash, gagal saving, dan dari dua juta tahun pembuatannya setiap kali memutuskan membuat dokumen baru itu, 1,8 juta tahunnya dihabiskan dengan bingung milih font, yang padahal ujung-ujungnya gitu-gitu aja.

dari cover dan tema layout minimalis yang sebenarnya didasar motivasi pokoke mari ketika mengerjakan portfolio pertama tahun 2017-2018.
kemudian menuju tema layout undangan nikah yang elegant dan mevvah diawal tahun ini, kemudian bulan ini membuat portfolio baru dengan tema layout yang warnanya sungguh cheerful dan tidak menggambarkan diri sendiri yang gak mentas-mentas membiru hahaha,
tapi lucu,
jadi yaudah.😴

ternyata warna yang tepat dan sedikit berani bisa memangkas waktu pengerjaan, karena antusiasme yang tinggi biarpun tetep crash beribu kali.

akhirnya terbit (lagi)!

semoga akan ada kabar baik setelah antusiasme tinggi anggi yang sungguh jarang sekali terjadi😁

xoxo,
anggi.

*lampiran puenting:
clearly stated~
 

July 14, 2019

mencicipi berbagai rasa sakit.

sebelum hidup kaya raya,
mari menyiapkan diri untuk kaya rasa.
bila tau rasa sakitnya,
niscaya akan mengerti dimana letak penawarnya.

mencicipi tidak menghabiskan seluruhnya.
lagi pula, siapa yang kuasa?

selamat terus bertahan.

selamat terus berjalan.

selamat jalan, rasa sakit.

July 12, 2019

sedih.

memangnya apa yang perlu ditulis saat merasa sedih?

July 06, 2019

Bekal untuk Masa Depan.

Terima kasih Anggi, untuk tidak menyerah disaat-saat sulit.
Jika hari kemarin berhasil dilalui, meski dengan susah payah.
Percayalah, bahwa hari ini pun begitu.
Nggak apa-apa lho menangis, kalau itu melegakan.
Nggak apa-apa lho makan lagi meskipun tadi sudah, jangan terlalu peduli pada komentar mereka soal berat badanmu (yang sebenarnya kamu tahu masih normal-normal aja).
Nggak apa-apa lho menulis catatan-catatan aneh semacam ini, toh kewarasanmu sepenuhnya tanggung jawabmu sendiri.
Terima kasih Anggi, untuk tidak berhenti berdo'a.
Kamu masih terus dan selalu berharap pada Dzat yang sama, bukan?
Lalu kenapa harus khawatir berlebihan?

salam,
dirimu di pertengahan 2019.

June 30, 2019

Bagaimana Rasanya Menjadi Anak Bungsu?

Sejak tulisan Bagaimana Rasanya Menjadi Pendukung Arsenal, tiba-tiba pagi ini saya sok ide lagi untuk menjadikan Bagaimana Rasanya menjadi konten tetap di blog ini, ahahaha ((konten)) yah mari kita saksikan saja sampai berapa lama pemilik folder bernama blogger labil ini konsisten dengan what-so-called kontennya.
Dan memang benar ya, kata Bapak bahwa bangun pagi-pagi sebelum alarm berbunyi itu akan membawa banyak ide-ide cemerlang ((seperti masa depan yang diharapkan (???)))

Okay, mari masuk ke topik sesuai judulnya. Maaf ya prolognya nggak banget, ternyata bangun pagi hanya menunjang munculnya ide bagus bukan lantas meningkatkan kemampuan menulis 2x lipat!

Saya lahir hampir 23 tahun yang lalu sebagai anak bungsu di keluarga sekaligus sebagai cucu termuda di dua keluarga.
Usia saya dan kakak terpaut jarak 8 tahun.
Ibuk selalu mengulang-ulang cerita bahwa saya adalah anak perempuan yang telah lama diharapkan Bapak (Maaf ya kakak, meskipun kamu mungkin nggak akan baca ini, tapi aku cuma mau stating aja kalo aku selangkah di depan :p)
Sebagai anak bungsu dan perempuan saya sungguh merasakan segala kenikmatan menjadi anak emas di rumah.
Sejak kecil apapun makanan yang saya inginkan akan menjadi menu yang tersaji di meja makan, karena orang pertama di rumah yang ditanya Ibuk soal menu hari ini adalah saya.
"Anggi mau makan apa?"
Sepertinya karena terlalu sering ditanya seperti itu waktu di rumah, kini saya jadi lebih sulit menentukan mau makan apa di tempat rantau karena sudah kehabisan jawaban dan tidak semua yang saya inginkan bisa tersaji di depan mata (dan tidak gratis pula) :(
Semua privilege anak bungsu itu semakin terasa ketika kakak pindah sekolah ke kota dan tinggal di rumah Pakdhe.
Saya semakin menguasai meja makan.


Saya belajar sepeda pertama kali saat TK, menggunakan sepeda bekas kakak.
Awalnya saya protes kenapa harus memakai sepeda bekas laki-laki, kan sepeda perempuan lebih bagus karena punya keranjang di depan, saya mengoceh gusar di depan Bapak Ibuk.
Esoknya Bapak sudah memasang keranjang didepan stang sepeda kakak. Oops no excuse, anggi!
Saya juga memakai baju bekas kakak waktu kecil, kaos-kaos gambar anime, piyama motif bola, bahkan hingga kini sweatshirt dan oversized tee di lemari saya adalah hasil penjarahan lemari kakak.
Begitulah bungsu, menguasai seluruh isi rumah sekalipun harta karunnya adalah barang bekas pakai.

Waktu kecil saya bukan anak yang menangis sesering teman sebaya saya, tapi hari ini saya menangis lebih sering dari bayi tetapi di rumah, disentuh kakak sedikit saja saya bisa berteriak dan merengek menggunakan privilege anak bungsu yang selalu innocent.
Ya, lingkungan yang diciptakan Bapak Ibuk sungguh membuat saya merasa aman dan dilindungi di rumah, entah bagi kakak ahahaha.
Namun walau begitu, bungsu tetaplah bungsu, tetap adalah anggota keluarga termuda yang dituntut untuk jadi penurut dan patuh.
Hal ini jadi privilege anak sulung yang bisa (dan sangat bisa) menyuruh-nyuruh adiknya kapan pun dan dimana pun.

Dilahirkan sebagai anak bungsu harus siap dihadapkan dengan pencapaian anak sulung yang tentu lebih dulu berada di titik tertentu.
Hal ini semakin saya rasa sulit sekali saat saya mulai paham karakter si sulung dan bungsu di rumah ini sungguh berbeda.
Kakak adalah aktivis kampus, yang punya banyak teman, aktivitas yang padat dan selalu punya topik pembicaraan.
Saya hanyalah tipikal anak rumahan yang lebih senang berhari-hari menggambar dan membaca apa saja di dalam kamar kos dan hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.
Menjadi bungsu yang introvert saat kakak sulungnya adalah ekstrovert yang gemilang dalam pergaulan bukanlah hal mudah.
Sungguh sulit rasanya menyamai keberhasilannya sebagai anak sulung yang mempunyai social skill dengan nilai straight A+
"Jadi seperti kakak" dan "Oh ngga kayak kakaknya ya" adalah kalimat yang sering saya dengar dari orang-orang di luar rumah.
Apapun pencapaian saya akan selalu dibandingkan dengan si pendahulu.

Anak sulung di dunia nyata diibaratkan sebagai sekolah percontohan yang dijadikan teladan.
Begitupun di rumah saya, Kakak adalah influencer Arsenal nomor satu, yang menjadikan saya keracunan Arsenal sampai saat postingan ini diketik.
Tanda tangannya yang ada bentuk bintang-bintangnya itu juga saya jadikan referensi membuat tanda tangan.
Kakak yang waktu kecil selalu anteng dan nggak rewelan membuat saya yang kacau dan suka merengek minta pulang saat bertamu ke rumah orang jadi sedikit lebih tenang dan mau diajak kompromi.

Sejak sekolah dasar saya sudah menunjukkan ketertarikan belajar bahasa inggris.
Karena saat nonton teletubbies saya penasaran kenapa tulisan credit scenenya bukan bahasa yang saya kenal dan saya rasa keren sekali bisa berbicara bahasa yang dimengerti orang-orang seluruh dunia ketika nanti saya dewasa dan berkeliling dunia (wow bayangan anak kecil yang utopis).
Sampai saat ini hanya kemampuan berbahasa inggris saya yang sedikit lebih baik daripada kakak yang selalu jadi poin plus.
Ya itu salahnya sendiri yang selalu malas datang les bahasa, sedangkan saya selalu memastikan diri sudah duduk di kelas 15 menit sebelum les dimulai! (Memang karakter januari yang satu itu, yang sulit tepat waktu & bermasalah dengan konsistensi sungguh-sungguh ujian luar biasa bagi Agustus yang tepat waktu seperti saya, hingga kini)
On the other hand, kakak sangat pandai matematika sejak kecil sedangkan saya, ah tidak perlu dibahas juga rasanya saya sudah berkali-kali mengumumkan pada dunia bahwa nilai matematika saya tidak pernah lulus di ujian pertama alias selalu butuh kesempatan kedua bernama ujian remedial.
Saya akan gemetar dan berulang kali membaca deretan angka itu sebelum mulai menghitung, ini bukan kalimat hiperbolis hanya sebuah kenyataan ngaplok.
Dua ditambah lima saja saya harus menghitung dengan jari dan memastikannya berkali-kali.
Sebab, entah hanya kebetulan atau kejadian yang berulang memang senang datang pada saya, tapi saya sering sekali bisa menjawab pertanyaan atau kuis matematika di sekolah hanya pada saat saya tidak ditunjuk maju ke depan.
Lalu dengan anehnya ketika model soal yang sama diberikan dan saya ditunjuk maju ke depan, saya hampir selalu salah menjawab.
Kakak saya tidak pernah begitu, saya yakin dengan melihat nilai matematikanya yang selalu diatas rata-rata tanpa melalui ujian remedial dan Ibuk yang selalu dipuji guru SD kakak (yang juga guru SD saya) karena prestasinya itu.
Kemampuan yang berbeda menjadi pelecut semangat luar biasa untuk menguasai perhatian di rumah sepenuhnya untuk sama berhasilnya meski bukan di bidang yang sama.

Seperti itulah kurang lebih rasanya menjadi anak bungsu.
Menjadi yang selalu dieman-eman, selalu didengar pertama kali dan tidak mendapat tugas seberat anak sulung. Menyenangkan.
Pada akhirnya harus siap dengan segala konsekuensi bahwa anak sulung yang kuat pundaknya untuk jadi tumpuan dan tegar hatinya saat semua perhatian terbagi dengan hadirnya si bungsu, sungguh bukan sosok yang mudah digeser posisinya sebagai anak teladan di rumah. Intimidating as well!
Bahkan mungkin, seumur hidup saya mencoba pun takkan pernah bisa, karena seperti itulah polanya.
Ya, saya pikir anak sulung pantas menerima posisi anak teladan di rumah karena dia sudah berbesar hati berbagi kasih sayang dan perhatian Bapak Ibuk dengan adiknya, yang dulu hanya ia nikmati sendiri.
Meski saya juga paham Bapak Ibuk tidak pernah membedakan kasih sayangnya baik pada sulung atau bungsu, but i salute him for his gentleness & his passionate soul!


Saya bersyukur menjadi anak bungsu dengan segala kenikmatannya dan meski diberi pilihan untuk lahir kembali, saya tidak akan memilih jadi anak sulung.
Karena saya tidak yakin bisa seberani dan sekuat kakak! Ya kecuali kalau pilihannya sepaket; sulung dan ekstrovert, hmm mungkin bisa dipertimbangkan.
Marilah, anak-anak bungsu sekalian, kita bergandengan tangan dan rapatkan barisan untuk invasi selanjutnya ke seluruh dunia, membuang sifat menang sendiri yang sering muncul tiba-tiba dan sukar dikendalikan ini ke tempat paling terpencil di muka bumi hahahaha.

salam,
anggi

June 29, 2019

berteman dan memulai pembicaraan.

saya adalah orang yang bisa ditemukan di pojok ruangan saat kalian berada di satu ruang yang penuh dengan manusia. seringkali, saya merasa mendengar suara yang amat riuh sampai jadi sesak di dada saat saya diam sendirian di tempat ramai.
saya pernah pergi ke kampus lalu langsung masuk ke kamar mandi karena saat itu saya tidak menemukan seorangpun dari teman angkatan saya (fun fact: hal menggelikan ini terjadi saat saya di semester 9, bukan jaman maba)
saat duduk di semester 6, dokter mendiagnosis saya terkena bronkitis dan menyarankan untuk selalu mengenakan masker saat keluar rumah, saya bahkan selalu mengenakan masker hingga bulan-bulan berikutnya setelah penyakit tersebut sudah tidak lagi mengganggu. ya, nyatanya saya sungguh merasa aman bersembunyi dibalik masker.


berteman itu sulit sekali bagi saya yang tidak pernah punya cukup nyali untuk memulai pembicaraan.
maka sebagai orang yang tidak pandai memulai pembicaraan, saya akan senang sekali jika mendapat pesan atau pertanyaan, sekalipun akhir-akhir ini tidak semua pertanyaan menyenangkan untuk dijawab, saya akan selalu berusaha menjawabnya karena saya juga #Team0Notif, saya tidak akan membiarkan pesan terbaca tanpa dibalas.
saya sangat menghargai keberanian orang-orang yang membawa saya pada gerbang percakapan, maka tak heran kadang saya bisa terlalu antusias dan membahas banyak hal jika orang yang mengajak saya bicara atau berkirim pesan merupakan orang yang saya anggap "aman" (maaf, tapi N dan J dalam INFJ saya memang bekerja seperti itu).
sungguh, ketika saya sudah merasa berbicara atau berteman dengan orang yang "aman" saya akan berubah jadi presenter bola yang tidak berhenti bicara sampai dipotong iklan.
sementara itu ketika saya dihadapkan pada kesempatan membuka percakapan, entah kenapa, rasanya  membalas instagram story milik following friends saja saya merasa perlu berpikir berulang kali, apakah kata-kata yang saya pilih sudah tepat, apakah kami sudah benar-benar sedekat itu hingga wajar bagi saya ikut berkomentar.
saya merasa amat sulit bertanya "apa kabar" bahkan terhadap teman sebelah kamar (dulu).
saya adalah semacam manusia (ya, saya yakin bukan tumbuh-tumbuhan) yang selalu memikirkan 3-4 scenes kedepan, tentang apa yang kiranya akan terjadi akibat perbuatan/kata-kata saya.
sungguh, judul the overthinker dalam blog ini bukan semata untuk keren-kerenan saja, memang demikian lah adanya.
saya tidak pernah ingin berada pada kondisi tersebut, sampai kini pun susah payah saya mengendalikan pemikiran yang bercabang dan kebiasaan menganalisa yang terlalu kebablasan.
rasanya penuh sekali di kepala.
tulisan ini pun, begitu.
buah dari pemikiran yang mbulet dan saya yakin beberapa waktu nanti saya baca lagi tulisan ini, saya akan menertawai diri sendiri.
namun, setelah banyak menyembunyikan postingan lama di blog ini, saya jadi semakin paham bahwa tidak seharusnya itu dilakukan, setidaknya dari tulisan-tulisan saya yang berantakan itu saya bisa melihat proses sekaligus mengingat momen di dalamnya.
mungkin melihat-lihat kembali percakapan di gawai saya saat ini, saya sudah mengalami kemajuan dalam merespon pesan teman-teman.
ya, selain sudah lebih cepat membalas karena tidak ada masalah jaringan juga karena saya merasa perlu obrolan-obrolan baru untuk menjaga kewarasan. hahaha.
terima kasih untuk teman-teman baik yang bertanya kabar, mengajak diskusi atau randomly kirim meme untuk dijelaskan artinya, ahahaha.
saya akan selalu berusaha berani memulai pembicaraan agar jadi sebaik kalian❤

salam,
anggi yang (semoga masih) teman kalian

June 25, 2019

ibuk dan hatinya yang seluas samudera

ibuk adalah manusia pertama yang selalu menerima saya kembali dari setiap kegagalan.
ibuk menerima saya dengan tangan terbuka, peluk hangat dan kalimat penyemangat.
ibuk adalah manusia yang paling percaya saya mampu melakukan hal-hal baik yang saya sendiri meragukannya.
ibuk tidak pernah lelah meyakinkan saya bahkan ketika saya sendiri sibuk mengkhawatirkan skenario yang belum tentu terjadi.
ibuk adalah manusia dengan hati seluas samudera.
ibuk bilang tidak kecewa saat saya gagal, tapi ibuk kecewa jika saya meragukan diri sendiri.
dan kini saya mengerti, di dalam hatinya yang luas itu saya akan selalu aman menyelaminya.
terima kasih ibuk❤

June 21, 2019

Bagaimana Rasanya Menjadi Pendukung Arsenal?

Karena judulnya adalah pertanyaan maka sudah pasti isi tulisan ini adalah jawaban.
Tapi jawaban ini semata hanya dari perspektif saya sebagai pendukung Arsenal garis yak-yakan.
Tidak akan banyak berisi informasi soal Arsenal namun akan lebih banyak memuat opini pribadi, karena informasi soal Arsenal bisa didapatkan dengan mudah dengan bantuan Google.
Saya kenal Arsenal sejak SD tapi mulai dekat dan menjalin hubungan khusus (sek...yowis gapopo lanjut) sejak SMP.
Kakak saya adalah penyuka sepak bola, klub favoritnya antara lain Persebaya, timnas Perancis dan Arsenal.
Sebagai adik yang dulu begitu mengidolakan kakaknya (kok dulu? sekarang gimana...eh) saya ngide aja untuk tau soal Arsenal karena namanya lucu (tolong dipahami bahwa kata lucu bagi perempuan itu memang multitafsir & sering diucapkan untuk menyebut hal-hal yang dia sendiri bingung harus dilabeli apa; lucu disini saya maksudkan sebagai menarik)

Sejak itu, saya suka menonton Arsenal di TV, menemani bapak membaca bagian olahraga di koran yang biasanya selalu saya minta untuk dilewati dan mulai menyempatkan googling hal-hal berkaitan dengan Arsenal.
Menyenangkan dan selalu ada kosakata baru yang dipelajari sebagai penggemar baru.

Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, membuat saya benar-benar terperosok ke dalam jurang fangirling.

Saya menonton setiap pertandingan Arsenal yang ditayangkan di TV, ya kadang selip sih namanya juga manusia.
Saya mempelajari pengucapan nama pemain-pemainnya.
Saya menghafal nomor punggungnya.
Saya berubah dari anak kecil yang mengira nama Arsenal berasal dari nama pelatihnya (saat itu Arsene Wenger) menjadi seorang pendukung Arsenal yang membubuhkan VCC (Victoria Concordia Crescit) di dalam tanda tangannya.

Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, hanya menuntun saya untuk tahu tentang Arsenal saja, saya belum paham rivalitas dan kerasnya adu pendapat dengan pendukung klub lain.
Kaget.

Setelah identitas saya sebagai pendukung Arsenal diketahui teman-teman di SMA, segera saja saya masuk ke dalam arena tanding pride kelas pendukung layar kaca.
Sejak sering ece-ecean dengan pendukung klub lain, saya baru sadar bahwa menjadi dan gagal menjadi juara liga itu penting.
Karena sebelumnya saya hanya mendukung Arsenal sebatas sayang saja, yang akan saya dukung baik disaat sulit maupun senang, buat saya juara atau tidak, tidak jadi masalah.
Eh ternyata, menjadi pendukung klub yang sudah lama prestasinya begitu-begitu saja kok ya miris sekali, sering menjadi bahan tertawaan dan sasaran empuk pendukung klub sebelah.
Nelongso~

Rupanya waktu itu, saya belum cinta karena tidak menunjukkan harapan dan keinginan untuk Arsenal meraih juara liga.

Sejak saat itu GBHN saya mendukung Arsenal berubah, tidak lagi diam-diam nonton dan berkomentar, tapi juga menulis kritik dan pujian.
Tidak lagi cinta buta membabi buta.
Tidak lagi terus menutup identitas sebagai pendukung Arsenal.
Saya tidak lagi mendukung setiap hal yang terjadi di London Utara tanpa kecuali, saya juga ikut memakai #WengerOut pada waktunya, tapi juga tetap sering merindukan opa Wenger setelahnya.
Saya pernah begitu memuja RvP pada masanya, lalu uring-uringan tidak jelas setiap namanya disebut karena dia pindah ke klub yang amat menggelikan hati (re: memuakkan)
Saya pernah dengan ikhlas melepas Fabregas kembali ke Inggris untuk klub biru dan menerima kedatangan Cech dari klub yang sama, tapi kini ingin misuh sekeras-kerasnya ketika Cech kembali membiru (meski tak jadi pemain) setelah pertandingan kemarin.

Saya yang sering merasa sakit hati dibully pendukung klub lain, jadi lebih kalem menghadapi ece-ecean yang receh, karena memang nyatanya, kadang Arsenal bisa sebegitu buruk performanya.
Saya yang sering membalas bullyan pendukung lain, jadi lebih keras lagi melontarkan kalimat mengejek mereka (eh), ya karena tidak jarang, Arsenal menunjukan permainan yang selaras dengan lirik chantsnya; "we're by far the greatest team, the world has ever seen".
Bangga tapi kadang juga marah.

Tapi semarah-marahnya saya pada Arsenal, saya selalu mampu menemukan alasan untuk kembali mencintainya lagi. (ya...gimana? oke ga tuh)

Yah, begitulah kira-kira rasanya menjadi pendukung Arsenal.
Bisa sangat pongah dan gembira di satu malam, namun bisa berubah jadi penuh amarah dan kecewa di malam lainnya.
Penuh harapan di awal musim, lalu terpuruk dalam laga-laga penting hingga gagal lolos UCL di akhir musim.
Begitu seringnya menempati posisi empat sampai jadi 4rsen4l spesialis ranking 4.

Saya sebenarnya mencintai Arsenal apa adanya, tapi benar kata Tulus; Jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan.
Jadi, selain menjadi pendukung Arsenal garis yak-yakan saya juga akan aktif misuhi dan memberi kritik (meskipun nggak ngaruh-ngaruh amat).
Karena saya mau Arsenal terus berbenah dan meraih juara liga, ya setidaknya sebelum saya menikah lah, pleeeeeease
Tidak dalam waktu dekat ini kok, jadi masih ada waktu berlatih dan beli pemain baru lagi, okay?

salam,
Anggi yang masih mendukung Arsenal.

June 20, 2019

Lapar dan Hari Ini

Lapar itu bukan kata yang asing, tinggal dibalik kamar kos sejak SMA membuat saya sering merasa lapar terlebih ketika akhir bulan menjelang.
Anak rumahan yang terbiasa makan banyak dan gratis di rumah, kemudian terkejut dengan harga makanan dan uang jajan di kota.
Saya pikir ketika jadi mahasiswa saya tidak akan lapar sesering waktu SMA.
Ternyata tidak juga.
Saat berstatus mahasiswa baru saya tinggal di asrama.
Waktu akhir bulan di asrama saya pernah 2 hari tidak makan nasi, hanya minum air putih dan makan permen. Bahkan sama sekali tidak ada uang tersisa untuk membeli mi instan!
Pada bulan berikutnya saya kembali merinci pengeluaran dan menyiapkan dana darurat untuk akhir bulan.
Hasilnya, nyaris setiap bulan dana darurat itu terpakai untuk membeli bahan tugas kuliah berupa kertas, cat, kayu dsb.
Tahun berlalu dan kondisi berubah.
Saya lebih sering makan nasi dengan lauk daripada makan mi instan dan permen.
Pada tahun terakhir perkuliahan, saya bahkan mampu membeli makanan melalui jasa delivery order.
Hal mewah yang empat tahun lalu saat tinggal di asrama hanya bisa saya dengar ceritanya dari teman kamar sebelah.

Hari ini saya bersyukur.
Bukan hanya karena telah melewati saat-saat lapar.
Tapi juga karena pernah merasakan lapar, dan tidak punya uang, seratus rupiahpun.
Pengalaman yang tidak menyenangkan dan juga tidak dialami semua orang.

Saya pernah lapar.
Lalu berusaha mencari uang di saku-saku baju, di kantong-kantong tas, dan di sela-sela lemari.
Lalu menangis karena tidak menemukan apapun selain struk indomaret dan tisu.

Saya pernah lapar.
Lalu melihat teman sekamar pulang membawa ayam penyet dan makan dengan lahap.
Lalu saya berusaha meyakinkan diri bahwa pipi gembul saya masih punya cadangan lemak untuk nggak luwe2 banget :)))

Saya pernah lapar.
Dan malu melihat kenyataan bahwa rasa lapar membuat saya lebih dekat dengan Tuhan.

Saya pernah lapar.
Dan menangis meminta Tuhan menolong saya melalui siapapun.
Saya ingat betul, esoknya seorang teman menawarkan traktiran makan soto di kantin kampus.

Hari ini saya kenyang dan senang, tidak menangis karena rasa lapar.
Tapi apakah saya tetap dekat dengan Tuhan?
Apakah tangis saya memohon kepada Tuhan sepasrah dan setulus saat merasa lapar?

Hari ini, saya harus rajin merasa malu.
Agar tidak terus tenggelam menjauh dari Tuhan.
Hanya karena sudah merasa kenyang dan senang.
Sungguh memang benar, lebih sulit mengingat Tuhan dalam kondisi mudah dan amat mudah mengingat Tuhan dalam kondisi sulit.

salam,
a.

May 22, 2019

menangis.

dari berbagai hal yang bisa dilakukan untuk menghibur diri sendiri, mengapa kamu memilih menangis?

"aku tidak cukup kuat untuk bercerita pada telinga yang lain, menulis juga tidak mengurangi apapun selain pikiran yang bertumpuk sesak di kepala."

lalu kenapa kamu menangisi hampir setiap hal?

"aku tidak menangisi setiap hal, itulah caraku merayakan sesuatu. dengan menangis."

lantas, bagaimana caranya membedakan kamu menangis bahagia atau menangis terluka?

"tidak bisa, aku menciptakan bias diantaranya. agar semua mata berhenti menduga-duga."

tapi, bias itu tercipta dengan penuh prasangka. dan itu berseberangan dengan harapanmu.

"sebab aku yakin, tidak ada yang terlalu peduli sampai meluangkan waktunya untuk terus mengurai prasangka. mereka akan pergi ketika tak menemukan jawaban pada ketukan pertama"

bagaimana jika sebaliknya?

"aku akan berhenti menangis dan memalingkan muka, saat ada mata yang terus berusaha menduga-duga."

tapi...

"..............................."






May 20, 2019

cheering myself up.

because at the end of the day, that will be my forever job.
:)

May 12, 2019

Percakapan di Telepon

Fancy Shoes mengalun dari perangkat berlayar 5 inchi di depanku.

"ya halo"

"kok tadi ndak diangkat?"

"iya maaf, lagi beli makan"

"nduk, lulus kuliah langsung cari kerja aja ya, sekolahnya nanti dulu"

"iya"
"tapi..."
"jangan suruh cepet-cepet nikah ya"

"ya enggaklah, ya nanti aja itu umur sekian atau sekian"

percakapan selanjutnya tidak dituliskan sebab terasa terlalu visioner dan menggelikan jika pada akhirnya tidak terjadi selaras dengan pernyataan.
Ibuk saya selalu memberi pengertian bahwa sebagai perempuan, saya harus mampu sesegera mungkin mandiri berkaitan tentang segala hal berbau finansial.
Sebab bukan hanya orang tua yang tak hidup selamanya, kelak pasangan pun begitu.
Perempuan harus siap dengan segala sesuatu, serba bisa tidak selamanya hanya perlu dimiliki lelaki saja.
Itu mengapa ibuk selalu khawatir dengan keinginan saya untuk lanjut sekolah lagi, sebab saya belum menjelaskan rencananya dengan rinci.
Sebenarnya ibuk tidak perlu khawatir karena jika pada akhirnya sekolah saya lanjut atau tidak.
Saya akan tetap mengusahakan diri untuk mandiri.
Ibuk juga tidak perlu khawatir nantinya anak perempuannya yang satu-satunya ini akan menikah tepat di angka ke berapa.
Sebab ibuk pasti tahu, betapa keras kepala saya.
Untuk itu saya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan urusan dengan diri saya, dengan mimpi-mimpi yang belum usai dicapai.
Ibuk sungguh tidak perlu khawatir, sebab ia telah benar-benar memberikan insight yang luar biasa bagi perempuan yang biasa saja seperti saya.
Saya sebenarnya tahu ibuk khawatir ketika saya memutuskan sekolah lagi, saya akan lupa pulang dan merencanakan keluarga baru, hahaha.
Sungguh ibuk, jangan khawatir tentang itu.
Deep down inside, saya juga bercita-cita mampu menjadi ibu dengan insight yang sama hebatnya denganmu.
Menjadi perempuan berarti menjadikan sisi rasional dan emosionalnya seimbang sehingga tidak melulu hanyut pada stereotype bahwa sisi emosional kita adalah kelemahan yang utama dan pantas dijadikan pembenaran akan segala hal.
Menjadi perempuan tidak sama dengan selalu menadahkan tangan meminta perhatian dan materi.
Menjadi perempuan bukan sama dengan bergantung pada manusia lain.
Menjadi perempuan sama dengan menjadi pribadi yang utuh sebagai manusia, bukan kepingan yang harus dilengkapi.
Agar ketika kita memutuskan untuk ikut ambil bagian pada hidup orang lain, kita tidak menambah bebannya dan atau mengurangi kebahagiannya.

Salam,
Anggi*

*dalam rangka menerbitkan tulisan yang menumpuk di draft.




April 14, 2019

saya tidak membencimu, sebenarnya saya hanya belum selesai dengan diri sendiri.

saya selalu berhadapan dengan ketidakmampuan mengelola konflik.
hari ini saya membenci kamu.
bukan atas apa yang kamu lakukan,
tapi karena saya yang membiarkan kamu mengacak-acak emosi saya.
saya tahu seharusnya satu-satunya yang patut saya benci adalah diri sendiri.
tapi biarlah saya membenci kamu.
sebab ini satu-satunya cara agar saya tak keliru.
membedakan maklum dan terlalu.
saya harus membakar habis dendam saya hari ini.
segera,
agar esok tidak ada lagi yang membenci kamu.

sebuah tulisan lama, diterbitkan karena mendadak jatuh cinta pada diksinya.
tidak istimewa, tapi saya senang pernah menulis dan mengakui kelemahan sendiri.

a hello.


Selamat tahun 2019!
Yah telat kok nemen ya, udah april baru nulis selamat tahun 2019. Yah namanya juga blogger labil, kadang nulis, kadang nganggur. Tahun ini dibuka dengan masa-masa sidang TA yang harus melalui malam-malam penuh tangisan di dalam kamar kos kemudian di bulan ini sedang dalam masa transisi dari status mahasiswa menuju manusia mandiri berdikari (hopefully). Melihat banyak kesempatan baik yang diambil maupun dilewatkan dengan sengaja, mengikuti sepak terjang Arsenal yang tidak selalu memenangkan 3 poin, menempuh ratusan kilometer untuk menjemput kesempatan baru dan menakar keberanian, mengumpulkan meme tentang pemilu untuk bahan roasting di kemudian hari, menghapus file-file yang nyatanya sudah tidak lagi punya tempat di masa datang, bahkan thumbnailnya saja tidak terlihat. 

Hah. 

Rasanya hari demi hari kadang terasa lama sekali. Menatap mata setiap orang yang ditemui sungguh terlihat terik sekali. Tapi sepertinya semua akan tetap baik-baik saja. Karena, kata Bapak aku pasti bisa.
Selamat melanjutkan tahun 2019, semoga selalu tenang hatinya. 
Kangen Bapak Ibuk.

Cheers,
Anggi