Sejak tulisan Bagaimana Rasanya Menjadi Pendukung Arsenal, tiba-tiba pagi ini saya sok ide lagi untuk menjadikan Bagaimana Rasanya menjadi konten tetap di blog ini, ahahaha ((konten)) yah mari kita saksikan saja sampai berapa lama pemilik folder bernama blogger labil ini konsisten dengan what-so-called kontennya.
Dan memang benar ya, kata Bapak bahwa bangun pagi-pagi sebelum alarm berbunyi itu akan membawa banyak ide-ide cemerlang ((seperti masa depan yang diharapkan (???)))
Okay, mari masuk ke topik sesuai judulnya. Maaf ya prolognya nggak banget, ternyata bangun pagi hanya menunjang munculnya ide bagus bukan lantas meningkatkan kemampuan menulis 2x lipat!
Saya lahir hampir 23 tahun yang lalu sebagai anak bungsu di keluarga sekaligus sebagai cucu termuda di dua keluarga.
Usia saya dan kakak terpaut jarak 8 tahun.
Ibuk selalu mengulang-ulang cerita bahwa saya adalah anak perempuan yang telah lama diharapkan Bapak (Maaf ya kakak, meskipun kamu mungkin nggak akan baca ini, tapi aku cuma mau stating aja kalo aku selangkah di depan :p)
Sebagai anak bungsu dan perempuan saya sungguh merasakan segala kenikmatan menjadi anak emas di rumah.
Sejak kecil apapun makanan yang saya inginkan akan menjadi menu yang tersaji di meja makan, karena orang pertama di rumah yang ditanya Ibuk soal menu hari ini adalah saya.
"Anggi mau makan apa?"
Sepertinya karena terlalu sering ditanya seperti itu waktu di rumah, kini saya jadi lebih sulit menentukan mau makan apa di tempat rantau karena sudah kehabisan jawaban dan tidak semua yang saya inginkan bisa tersaji di depan mata (dan tidak gratis pula) :(
Semua privilege anak bungsu itu semakin terasa ketika kakak pindah sekolah ke kota dan tinggal di rumah Pakdhe.
Saya semakin menguasai meja makan.
Saya belajar sepeda pertama kali saat TK, menggunakan sepeda bekas kakak.
Awalnya saya protes kenapa harus memakai sepeda bekas laki-laki, kan sepeda perempuan lebih bagus karena punya keranjang di depan, saya mengoceh gusar di depan Bapak Ibuk.
Esoknya Bapak sudah memasang keranjang didepan stang sepeda kakak. Oops no excuse, anggi!
Saya juga memakai baju bekas kakak waktu kecil, kaos-kaos gambar anime, piyama motif bola, bahkan hingga kini sweatshirt dan oversized tee di lemari saya adalah hasil penjarahan lemari kakak.
Begitulah bungsu, menguasai seluruh isi rumah sekalipun harta karunnya adalah barang bekas pakai.
Waktu kecil saya bukan anak yang menangis sesering teman sebaya saya,tapi hari ini saya menangis lebih sering dari bayi tetapi di rumah, disentuh kakak sedikit saja saya bisa berteriak dan merengek menggunakan privilege anak bungsu yang selalu innocent.
Ya, lingkungan yang diciptakan Bapak Ibuk sungguh membuat saya merasa aman dan dilindungi di rumah, entah bagi kakak ahahaha.
Namun walau begitu, bungsu tetaplah bungsu, tetap adalah anggota keluarga termuda yang dituntut untuk jadi penurut dan patuh.
Hal ini jadi privilege anak sulung yang bisa (dan sangat bisa) menyuruh-nyuruh adiknya kapan pun dan dimana pun.
Dilahirkan sebagai anak bungsu harus siap dihadapkan dengan pencapaian anak sulung yang tentu lebih dulu berada di titik tertentu.
Hal ini semakin saya rasa sulit sekali saat saya mulai paham karakter si sulung dan bungsu di rumah ini sungguh berbeda.
Kakak adalah aktivis kampus, yang punya banyak teman, aktivitas yang padat dan selalu punya topik pembicaraan.
Saya hanyalah tipikal anak rumahan yang lebih senang berhari-hari menggambar dan membaca apa saja di dalam kamar kos dan hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.
Menjadi bungsu yang introvert saat kakak sulungnya adalah ekstrovert yang gemilang dalam pergaulan bukanlah hal mudah.
Sungguh sulit rasanya menyamai keberhasilannya sebagai anak sulung yang mempunyai social skill dengan nilai straight A+
"Jadi seperti kakak" dan "Oh ngga kayak kakaknya ya" adalah kalimat yang sering saya dengar dari orang-orang di luar rumah.
Apapun pencapaian saya akan selalu dibandingkan dengan si pendahulu.
Anak sulung di dunia nyata diibaratkan sebagai sekolah percontohan yang dijadikan teladan.
Begitupun di rumah saya, Kakak adalah influencer Arsenal nomor satu, yang menjadikan saya keracunan Arsenal sampai saat postingan ini diketik.
Tanda tangannya yang ada bentuk bintang-bintangnya itu juga saya jadikan referensi membuat tanda tangan.
Kakak yang waktu kecil selalu anteng dan nggak rewelan membuat saya yang kacau dan suka merengek minta pulang saat bertamu ke rumah orang jadi sedikit lebih tenang dan mau diajak kompromi.
Sejak sekolah dasar saya sudah menunjukkan ketertarikan belajar bahasa inggris.
Karena saat nonton teletubbies saya penasaran kenapa tulisan credit scenenya bukan bahasa yang saya kenal dan saya rasa keren sekali bisa berbicara bahasa yang dimengerti orang-orang seluruh dunia ketika nanti saya dewasa dan berkeliling dunia (wow bayangan anak kecil yang utopis).
Sampai saat ini hanya kemampuan berbahasa inggris saya yang sedikit lebih baik daripada kakak yang selalu jadi poin plus.
Ya itu salahnya sendiri yang selalu malas datang les bahasa, sedangkan saya selalu memastikan diri sudah duduk di kelas 15 menit sebelum les dimulai! (Memang karakter januari yang satu itu, yang sulit tepat waktu & bermasalah dengan konsistensi sungguh-sungguh ujian luar biasa bagi Agustus yang tepat waktu seperti saya, hingga kini)
On the other hand, kakak sangat pandai matematika sejak kecil sedangkan saya, ah tidak perlu dibahas juga rasanya saya sudah berkali-kali mengumumkan pada dunia bahwa nilai matematika saya tidak pernah lulus di ujian pertama alias selalu butuh kesempatan kedua bernama ujian remedial.
Saya akan gemetar dan berulang kali membaca deretan angka itu sebelum mulai menghitung, ini bukan kalimat hiperbolis hanya sebuah kenyataan ngaplok.
Dua ditambah lima saja saya harus menghitung dengan jari dan memastikannya berkali-kali.
Sebab, entah hanya kebetulan atau kejadian yang berulang memang senang datang pada saya, tapi saya sering sekali bisa menjawab pertanyaan atau kuis matematika di sekolah hanya pada saat saya tidak ditunjuk maju ke depan.
Lalu dengan anehnya ketika model soal yang sama diberikan dan saya ditunjuk maju ke depan, saya hampir selalu salah menjawab.
Kakak saya tidak pernah begitu, saya yakin dengan melihat nilai matematikanya yang selalu diatas rata-rata tanpa melalui ujian remedial dan Ibuk yang selalu dipuji guru SD kakak (yang juga guru SD saya) karena prestasinya itu.
Kemampuan yang berbeda menjadi pelecut semangat luar biasauntuk menguasai perhatian di rumah sepenuhnya untuk sama berhasilnya meski bukan di bidang yang sama.
Seperti itulah kurang lebih rasanya menjadi anak bungsu.
Menjadi yang selalu dieman-eman, selalu didengar pertama kali dan tidak mendapat tugas seberat anak sulung. Menyenangkan.
Pada akhirnya harus siap dengan segala konsekuensi bahwa anak sulung yang kuat pundaknya untuk jadi tumpuan dan tegar hatinya saat semua perhatian terbagi dengan hadirnya si bungsu, sungguh bukan sosok yang mudah digeser posisinya sebagai anak teladan di rumah. Intimidating as well!
Bahkan mungkin, seumur hidup saya mencoba pun takkan pernah bisa, karena seperti itulah polanya.
Ya, saya pikir anak sulung pantas menerima posisi anak teladan di rumah karena dia sudah berbesar hati berbagi kasih sayang dan perhatian Bapak Ibuk dengan adiknya, yang dulu hanya ia nikmati sendiri.
Meski saya juga paham Bapak Ibuk tidak pernah membedakan kasih sayangnya baik pada sulung atau bungsu, but i salute him for his gentleness & his passionate soul!
Saya bersyukur menjadi anak bungsu dengan segala kenikmatannya dan meski diberi pilihan untuk lahir kembali, saya tidak akan memilih jadi anak sulung.
Karena saya tidak yakin bisa seberani dan sekuat kakak! Ya kecuali kalau pilihannya sepaket; sulung dan ekstrovert, hmm mungkin bisa dipertimbangkan.
Marilah, anak-anak bungsu sekalian, kita bergandengan tangan dan rapatkan barisan untuk invasi selanjutnya ke seluruh dunia, membuang sifat menang sendiri yang sering muncul tiba-tiba dan sukar dikendalikan ini ke tempat paling terpencil di muka bumi hahahaha.
salam,
anggi
Dan memang benar ya, kata Bapak bahwa bangun pagi-pagi sebelum alarm berbunyi itu akan membawa banyak ide-ide cemerlang ((seperti masa depan yang diharapkan (???)))
Okay, mari masuk ke topik sesuai judulnya. Maaf ya prolognya nggak banget, ternyata bangun pagi hanya menunjang munculnya ide bagus bukan lantas meningkatkan kemampuan menulis 2x lipat!
Usia saya dan kakak terpaut jarak 8 tahun.
Ibuk selalu mengulang-ulang cerita bahwa saya adalah anak perempuan yang telah lama diharapkan Bapak (Maaf ya kakak, meskipun kamu mungkin nggak akan baca ini, tapi aku cuma mau stating aja kalo aku selangkah di depan :p)
Sebagai anak bungsu dan perempuan saya sungguh merasakan segala kenikmatan menjadi anak emas di rumah.
Sejak kecil apapun makanan yang saya inginkan akan menjadi menu yang tersaji di meja makan, karena orang pertama di rumah yang ditanya Ibuk soal menu hari ini adalah saya.
"Anggi mau makan apa?"
Sepertinya karena terlalu sering ditanya seperti itu waktu di rumah, kini saya jadi lebih sulit menentukan mau makan apa di tempat rantau karena sudah kehabisan jawaban dan tidak semua yang saya inginkan bisa tersaji di depan mata (dan tidak gratis pula) :(
Semua privilege anak bungsu itu semakin terasa ketika kakak pindah sekolah ke kota dan tinggal di rumah Pakdhe.
Saya semakin menguasai meja makan.
Saya belajar sepeda pertama kali saat TK, menggunakan sepeda bekas kakak.
Awalnya saya protes kenapa harus memakai sepeda bekas laki-laki, kan sepeda perempuan lebih bagus karena punya keranjang di depan, saya mengoceh gusar di depan Bapak Ibuk.
Saya juga memakai baju bekas kakak waktu kecil, kaos-kaos gambar anime, piyama motif bola, bahkan hingga kini sweatshirt dan oversized tee di lemari saya adalah hasil penjarahan lemari kakak.
Begitulah bungsu, menguasai seluruh isi rumah sekalipun harta karunnya adalah barang bekas pakai.
Waktu kecil saya bukan anak yang menangis sesering teman sebaya saya,
Ya, lingkungan yang diciptakan Bapak Ibuk sungguh membuat saya merasa aman dan dilindungi di rumah, entah bagi kakak ahahaha.
Namun walau begitu, bungsu tetaplah bungsu, tetap adalah anggota keluarga termuda yang dituntut untuk jadi penurut dan patuh.
Hal ini jadi privilege anak sulung yang bisa (dan sangat bisa) menyuruh-nyuruh adiknya kapan pun dan dimana pun.
Dilahirkan sebagai anak bungsu harus siap dihadapkan dengan pencapaian anak sulung yang tentu lebih dulu berada di titik tertentu.
Hal ini semakin saya rasa sulit sekali saat saya mulai paham karakter si sulung dan bungsu di rumah ini sungguh berbeda.
Kakak adalah aktivis kampus, yang punya banyak teman, aktivitas yang padat dan selalu punya topik pembicaraan.
Saya hanyalah tipikal anak rumahan yang lebih senang berhari-hari menggambar dan membaca apa saja di dalam kamar kos dan hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.
Menjadi bungsu yang introvert saat kakak sulungnya adalah ekstrovert yang gemilang dalam pergaulan bukanlah hal mudah.
Sungguh sulit rasanya menyamai keberhasilannya sebagai anak sulung yang mempunyai social skill dengan nilai straight A+
"Jadi seperti kakak" dan "Oh ngga kayak kakaknya ya" adalah kalimat yang sering saya dengar dari orang-orang di luar rumah.
Apapun pencapaian saya akan selalu dibandingkan dengan si pendahulu.
Anak sulung di dunia nyata diibaratkan sebagai sekolah percontohan yang dijadikan teladan.
Begitupun di rumah saya, Kakak adalah influencer Arsenal nomor satu, yang menjadikan saya keracunan Arsenal sampai saat postingan ini diketik.
Tanda tangannya yang ada bentuk bintang-bintangnya itu juga saya jadikan referensi membuat tanda tangan.
Kakak yang waktu kecil selalu anteng dan nggak rewelan membuat saya yang kacau dan suka merengek minta pulang saat bertamu ke rumah orang jadi sedikit lebih tenang dan mau diajak kompromi.
Sejak sekolah dasar saya sudah menunjukkan ketertarikan belajar bahasa inggris.
Karena saat nonton teletubbies saya penasaran kenapa tulisan credit scenenya bukan bahasa yang saya kenal dan saya rasa keren sekali bisa berbicara bahasa yang dimengerti orang-orang seluruh dunia ketika nanti saya dewasa dan berkeliling dunia (wow bayangan anak kecil yang utopis).
Sampai saat ini hanya kemampuan berbahasa inggris saya yang sedikit lebih baik daripada kakak yang selalu jadi poin plus.
Ya itu salahnya sendiri yang selalu malas datang les bahasa, sedangkan saya selalu memastikan diri sudah duduk di kelas 15 menit sebelum les dimulai! (Memang karakter januari yang satu itu, yang sulit tepat waktu & bermasalah dengan konsistensi sungguh-sungguh ujian luar biasa bagi Agustus yang tepat waktu seperti saya, hingga kini)
On the other hand, kakak sangat pandai matematika sejak kecil sedangkan saya, ah tidak perlu dibahas juga rasanya saya sudah berkali-kali mengumumkan pada dunia bahwa nilai matematika saya tidak pernah lulus di ujian pertama alias selalu butuh kesempatan kedua bernama ujian remedial.
Saya akan gemetar dan berulang kali membaca deretan angka itu sebelum mulai menghitung, ini bukan kalimat hiperbolis hanya sebuah kenyataan ngaplok.
Dua ditambah lima saja saya harus menghitung dengan jari dan memastikannya berkali-kali.
Sebab, entah hanya kebetulan atau kejadian yang berulang memang senang datang pada saya, tapi saya sering sekali bisa menjawab pertanyaan atau kuis matematika di sekolah hanya pada saat saya tidak ditunjuk maju ke depan.
Lalu dengan anehnya ketika model soal yang sama diberikan dan saya ditunjuk maju ke depan, saya hampir selalu salah menjawab.
Kakak saya tidak pernah begitu, saya yakin dengan melihat nilai matematikanya yang selalu diatas rata-rata tanpa melalui ujian remedial dan Ibuk yang selalu dipuji guru SD kakak (yang juga guru SD saya) karena prestasinya itu.
Kemampuan yang berbeda menjadi pelecut semangat luar biasa
Seperti itulah kurang lebih rasanya menjadi anak bungsu.
Menjadi yang selalu dieman-eman, selalu didengar pertama kali dan tidak mendapat tugas seberat anak sulung. Menyenangkan.
Pada akhirnya harus siap dengan segala konsekuensi bahwa anak sulung yang kuat pundaknya untuk jadi tumpuan dan tegar hatinya saat semua perhatian terbagi dengan hadirnya si bungsu, sungguh bukan sosok yang mudah digeser posisinya sebagai anak teladan di rumah. Intimidating as well!
Bahkan mungkin, seumur hidup saya mencoba pun takkan pernah bisa, karena seperti itulah polanya.
Ya, saya pikir anak sulung pantas menerima posisi anak teladan di rumah karena dia sudah berbesar hati berbagi kasih sayang dan perhatian Bapak Ibuk dengan adiknya, yang dulu hanya ia nikmati sendiri.
Meski saya juga paham Bapak Ibuk tidak pernah membedakan kasih sayangnya baik pada sulung atau bungsu, but i salute him for his gentleness & his passionate soul!
Saya bersyukur menjadi anak bungsu dengan segala kenikmatannya dan meski diberi pilihan untuk lahir kembali, saya tidak akan memilih jadi anak sulung.
Karena saya tidak yakin bisa seberani dan sekuat kakak! Ya kecuali kalau pilihannya sepaket; sulung dan ekstrovert, hmm mungkin bisa dipertimbangkan.
Marilah, anak-anak bungsu sekalian, kita bergandengan tangan dan rapatkan barisan untuk invasi selanjutnya ke seluruh dunia, membuang sifat menang sendiri yang sering muncul tiba-tiba dan sukar dikendalikan ini ke tempat paling terpencil di muka bumi hahahaha.
salam,
anggi


No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.