June 20, 2019

Lapar dan Hari Ini

Lapar itu bukan kata yang asing, tinggal dibalik kamar kos sejak SMA membuat saya sering merasa lapar terlebih ketika akhir bulan menjelang.
Anak rumahan yang terbiasa makan banyak dan gratis di rumah, kemudian terkejut dengan harga makanan dan uang jajan di kota.
Saya pikir ketika jadi mahasiswa saya tidak akan lapar sesering waktu SMA.
Ternyata tidak juga.
Saat berstatus mahasiswa baru saya tinggal di asrama.
Waktu akhir bulan di asrama saya pernah 2 hari tidak makan nasi, hanya minum air putih dan makan permen. Bahkan sama sekali tidak ada uang tersisa untuk membeli mi instan!
Pada bulan berikutnya saya kembali merinci pengeluaran dan menyiapkan dana darurat untuk akhir bulan.
Hasilnya, nyaris setiap bulan dana darurat itu terpakai untuk membeli bahan tugas kuliah berupa kertas, cat, kayu dsb.
Tahun berlalu dan kondisi berubah.
Saya lebih sering makan nasi dengan lauk daripada makan mi instan dan permen.
Pada tahun terakhir perkuliahan, saya bahkan mampu membeli makanan melalui jasa delivery order.
Hal mewah yang empat tahun lalu saat tinggal di asrama hanya bisa saya dengar ceritanya dari teman kamar sebelah.

Hari ini saya bersyukur.
Bukan hanya karena telah melewati saat-saat lapar.
Tapi juga karena pernah merasakan lapar, dan tidak punya uang, seratus rupiahpun.
Pengalaman yang tidak menyenangkan dan juga tidak dialami semua orang.

Saya pernah lapar.
Lalu berusaha mencari uang di saku-saku baju, di kantong-kantong tas, dan di sela-sela lemari.
Lalu menangis karena tidak menemukan apapun selain struk indomaret dan tisu.

Saya pernah lapar.
Lalu melihat teman sekamar pulang membawa ayam penyet dan makan dengan lahap.
Lalu saya berusaha meyakinkan diri bahwa pipi gembul saya masih punya cadangan lemak untuk nggak luwe2 banget :)))

Saya pernah lapar.
Dan malu melihat kenyataan bahwa rasa lapar membuat saya lebih dekat dengan Tuhan.

Saya pernah lapar.
Dan menangis meminta Tuhan menolong saya melalui siapapun.
Saya ingat betul, esoknya seorang teman menawarkan traktiran makan soto di kantin kampus.

Hari ini saya kenyang dan senang, tidak menangis karena rasa lapar.
Tapi apakah saya tetap dekat dengan Tuhan?
Apakah tangis saya memohon kepada Tuhan sepasrah dan setulus saat merasa lapar?

Hari ini, saya harus rajin merasa malu.
Agar tidak terus tenggelam menjauh dari Tuhan.
Hanya karena sudah merasa kenyang dan senang.
Sungguh memang benar, lebih sulit mengingat Tuhan dalam kondisi mudah dan amat mudah mengingat Tuhan dalam kondisi sulit.

salam,
a.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.