saya adalah orang yang bisa ditemukan di pojok ruangan saat kalian berada di satu ruang yang penuh dengan manusia. seringkali, saya merasa mendengar suara yang amat riuh sampai jadi sesak di dada saat saya diam sendirian di tempat ramai.
saya pernah pergi ke kampus lalu langsung masuk ke kamar mandi karena saat itu saya tidak menemukan seorangpun dari teman angkatan saya (fun fact: hal menggelikan ini terjadi saat saya di semester 9, bukan jaman maba)
saat duduk di semester 6, dokter mendiagnosis saya terkena bronkitis dan menyarankan untuk selalu mengenakan masker saat keluar rumah, saya bahkan selalu mengenakan masker hingga bulan-bulan berikutnya setelah penyakit tersebut sudah tidak lagi mengganggu. ya, nyatanya saya sungguh merasa aman bersembunyi dibalik masker.
berteman itu sulit sekali bagi saya yang tidak pernah punya cukup nyali untuk memulai pembicaraan.
maka sebagai orang yang tidak pandai memulai pembicaraan, saya akan senang sekali jika mendapat pesan atau pertanyaan, sekalipun akhir-akhir ini tidak semua pertanyaan menyenangkan untuk dijawab, saya akan selalu berusaha menjawabnya karena saya juga #Team0Notif, saya tidak akan membiarkan pesan terbaca tanpa dibalas.
saya sangat menghargai keberanian orang-orang yang membawa saya pada gerbang percakapan, maka tak heran kadang saya bisa terlalu antusias dan membahas banyak hal jika orang yang mengajak saya bicara atau berkirim pesan merupakan orang yang saya anggap "aman" (maaf, tapi N dan J dalam INFJ saya memang bekerja seperti itu).
sungguh, ketika saya sudah merasa berbicara atau berteman dengan orang yang "aman" saya akan berubah jadi presenter bola yang tidak berhenti bicara sampai dipotong iklan.
sementara itu ketika saya dihadapkan pada kesempatan membuka percakapan, entah kenapa, rasanya membalas instagram story milik following friends saja saya merasa perlu berpikir berulang kali, apakah kata-kata yang saya pilih sudah tepat, apakah kami sudah benar-benar sedekat itu hingga wajar bagi saya ikut berkomentar.
saya merasa amat sulit bertanya "apa kabar" bahkan terhadap teman sebelah kamar (dulu).
saya adalah semacam manusia (ya, saya yakin bukan tumbuh-tumbuhan) yang selalu memikirkan 3-4 scenes kedepan, tentang apa yang kiranya akan terjadi akibat perbuatan/kata-kata saya.
sungguh, judul the overthinker dalam blog ini bukan semata untuk keren-kerenan saja, memang demikian lah adanya.
saya tidak pernah ingin berada pada kondisi tersebut, sampai kini pun susah payah saya mengendalikan pemikiran yang bercabang dan kebiasaan menganalisa yang terlalu kebablasan.
rasanya penuh sekali di kepala.
tulisan ini pun, begitu.
buah dari pemikiran yang mbulet dan saya yakin beberapa waktu nanti saya baca lagi tulisan ini, saya akan menertawai diri sendiri.
namun, setelah banyak menyembunyikan postingan lama di blog ini, saya jadi semakin paham bahwa tidak seharusnya itu dilakukan, setidaknya dari tulisan-tulisan saya yang berantakan itu saya bisa melihat proses sekaligus mengingat momen di dalamnya.
mungkin melihat-lihat kembali percakapan di gawai saya saat ini, saya sudah mengalami kemajuan dalam merespon pesan teman-teman.
ya, selain sudah lebih cepat membalas karena tidak ada masalah jaringan juga karena saya merasa perlu obrolan-obrolan baru untuk menjaga kewarasan. hahaha.
terima kasih untuk teman-teman baik yang bertanya kabar, mengajak diskusi atau randomly kirim meme untuk dijelaskan artinya, ahahaha.
saya akan selalu berusaha berani memulai pembicaraan agar jadi sebaik kalian❤
salam,
anggi yang (semoga masih) teman kalian
saya pernah pergi ke kampus lalu langsung masuk ke kamar mandi karena saat itu saya tidak menemukan seorangpun dari teman angkatan saya (fun fact: hal menggelikan ini terjadi saat saya di semester 9, bukan jaman maba)
saat duduk di semester 6, dokter mendiagnosis saya terkena bronkitis dan menyarankan untuk selalu mengenakan masker saat keluar rumah, saya bahkan selalu mengenakan masker hingga bulan-bulan berikutnya setelah penyakit tersebut sudah tidak lagi mengganggu. ya, nyatanya saya sungguh merasa aman bersembunyi dibalik masker.
berteman itu sulit sekali bagi saya yang tidak pernah punya cukup nyali untuk memulai pembicaraan.
maka sebagai orang yang tidak pandai memulai pembicaraan, saya akan senang sekali jika mendapat pesan atau pertanyaan, sekalipun akhir-akhir ini tidak semua pertanyaan menyenangkan untuk dijawab, saya akan selalu berusaha menjawabnya karena saya juga #Team0Notif, saya tidak akan membiarkan pesan terbaca tanpa dibalas.
saya sangat menghargai keberanian orang-orang yang membawa saya pada gerbang percakapan, maka tak heran kadang saya bisa terlalu antusias dan membahas banyak hal jika orang yang mengajak saya bicara atau berkirim pesan merupakan orang yang saya anggap "aman" (maaf, tapi N dan J dalam INFJ saya memang bekerja seperti itu).
sungguh, ketika saya sudah merasa berbicara atau berteman dengan orang yang "aman" saya akan berubah jadi presenter bola yang tidak berhenti bicara sampai dipotong iklan.
sementara itu ketika saya dihadapkan pada kesempatan membuka percakapan, entah kenapa, rasanya membalas instagram story milik following friends saja saya merasa perlu berpikir berulang kali, apakah kata-kata yang saya pilih sudah tepat, apakah kami sudah benar-benar sedekat itu hingga wajar bagi saya ikut berkomentar.
saya merasa amat sulit bertanya "apa kabar" bahkan terhadap teman sebelah kamar (dulu).
saya adalah semacam manusia (ya, saya yakin bukan tumbuh-tumbuhan) yang selalu memikirkan 3-4 scenes kedepan, tentang apa yang kiranya akan terjadi akibat perbuatan/kata-kata saya.
sungguh, judul the overthinker dalam blog ini bukan semata untuk keren-kerenan saja, memang demikian lah adanya.
saya tidak pernah ingin berada pada kondisi tersebut, sampai kini pun susah payah saya mengendalikan pemikiran yang bercabang dan kebiasaan menganalisa yang terlalu kebablasan.
rasanya penuh sekali di kepala.
tulisan ini pun, begitu.
buah dari pemikiran yang mbulet dan saya yakin beberapa waktu nanti saya baca lagi tulisan ini, saya akan menertawai diri sendiri.
namun, setelah banyak menyembunyikan postingan lama di blog ini, saya jadi semakin paham bahwa tidak seharusnya itu dilakukan, setidaknya dari tulisan-tulisan saya yang berantakan itu saya bisa melihat proses sekaligus mengingat momen di dalamnya.
mungkin melihat-lihat kembali percakapan di gawai saya saat ini, saya sudah mengalami kemajuan dalam merespon pesan teman-teman.
ya, selain sudah lebih cepat membalas karena tidak ada masalah jaringan juga karena saya merasa perlu obrolan-obrolan baru untuk menjaga kewarasan. hahaha.
terima kasih untuk teman-teman baik yang bertanya kabar, mengajak diskusi atau randomly kirim meme untuk dijelaskan artinya, ahahaha.
saya akan selalu berusaha berani memulai pembicaraan agar jadi sebaik kalian❤
salam,
anggi yang (semoga masih) teman kalian

No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.