Karena judulnya adalah pertanyaan maka sudah pasti isi tulisan ini adalah jawaban.
Tapi jawaban ini semata hanya dari perspektif saya sebagai pendukung Arsenal garis yak-yakan.
Tidak akan banyak berisi informasi soal Arsenal namun akan lebih banyak memuat opini pribadi, karena informasi soal Arsenal bisa didapatkan dengan mudah dengan bantuan Google.
Saya kenal Arsenal sejak SD tapi mulai dekat dan menjalin hubungan khusus (sek...yowis gapopo lanjut) sejak SMP.
Kakak saya adalah penyuka sepak bola, klub favoritnya antara lain Persebaya, timnas Perancis dan Arsenal.
Sebagai adik yang dulu begitu mengidolakan kakaknya (kok dulu? sekarang gimana...eh) saya ngide aja untuk tau soal Arsenal karena namanya lucu (tolong dipahami bahwa kata lucu bagi perempuan itu memang multitafsir & sering diucapkan untuk menyebut hal-hal yang dia sendiri bingung harus dilabeli apa; lucu disini saya maksudkan sebagai menarik)
Sejak itu, saya suka menonton Arsenal di TV, menemani bapak membaca bagian olahraga di koran yang biasanya selalu saya minta untuk dilewati dan mulai menyempatkan googling hal-hal berkaitan dengan Arsenal.
Menyenangkan dan selalu ada kosakata baru yang dipelajari sebagai penggemar baru.
Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, membuat saya benar-benar terperosok ke dalam jurang fangirling.
Saya menonton setiap pertandingan Arsenal yang ditayangkan di TV, ya kadang selip sih namanya juga manusia.
Saya mempelajari pengucapan nama pemain-pemainnya.
Saya menghafal nomor punggungnya.
Saya berubah dari anak kecil yang mengira nama Arsenal berasal dari nama pelatihnya (saat itu Arsene Wenger) menjadi seorang pendukung Arsenal yang membubuhkan VCC (Victoria Concordia Crescit) di dalam tanda tangannya.
Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, hanya menuntun saya untuk tahu tentang Arsenal saja, saya belum paham rivalitas dan kerasnya adu pendapat dengan pendukung klub lain.
Kaget.
Setelah identitas saya sebagai pendukung Arsenal diketahui teman-teman di SMA, segera saja saya masuk ke dalam arena tanding pride kelas pendukung layar kaca.
Sejak sering ece-ecean dengan pendukung klub lain, saya baru sadar bahwa menjadi dan gagal menjadi juara liga itu penting.
Karena sebelumnya saya hanya mendukung Arsenal sebatas sayang saja, yang akan saya dukung baik disaat sulit maupun senang, buat saya juara atau tidak, tidak jadi masalah.
Eh ternyata, menjadi pendukung klub yang sudah lama prestasinya begitu-begitu saja kok ya miris sekali, sering menjadi bahan tertawaan dan sasaran empuk pendukung klub sebelah.
Nelongso~
Rupanya waktu itu, saya belum cinta karena tidak menunjukkan harapan dan keinginan untuk Arsenal meraih juara liga.
Tapi jawaban ini semata hanya dari perspektif saya sebagai pendukung Arsenal garis yak-yakan.
Tidak akan banyak berisi informasi soal Arsenal namun akan lebih banyak memuat opini pribadi, karena informasi soal Arsenal bisa didapatkan dengan mudah dengan bantuan Google.
Saya kenal Arsenal sejak SD tapi mulai dekat dan menjalin hubungan khusus (sek...yowis gapopo lanjut) sejak SMP.
Kakak saya adalah penyuka sepak bola, klub favoritnya antara lain Persebaya, timnas Perancis dan Arsenal.
Sebagai adik yang dulu begitu mengidolakan kakaknya (kok dulu? sekarang gimana...eh) saya ngide aja untuk tau soal Arsenal karena namanya lucu (tolong dipahami bahwa kata lucu bagi perempuan itu memang multitafsir & sering diucapkan untuk menyebut hal-hal yang dia sendiri bingung harus dilabeli apa; lucu disini saya maksudkan sebagai menarik)
Sejak itu, saya suka menonton Arsenal di TV, menemani bapak membaca bagian olahraga di koran yang biasanya selalu saya minta untuk dilewati dan mulai menyempatkan googling hal-hal berkaitan dengan Arsenal.
Menyenangkan dan selalu ada kosakata baru yang dipelajari sebagai penggemar baru.
Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, membuat saya benar-benar terperosok ke dalam jurang fangirling.
Saya menonton setiap pertandingan Arsenal yang ditayangkan di TV, ya kadang selip sih namanya juga manusia.
Saya mempelajari pengucapan nama pemain-pemainnya.
Saya menghafal nomor punggungnya.
Saya berubah dari anak kecil yang mengira nama Arsenal berasal dari nama pelatihnya (saat itu Arsene Wenger) menjadi seorang pendukung Arsenal yang membubuhkan VCC (Victoria Concordia Crescit) di dalam tanda tangannya.
Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, hanya menuntun saya untuk tahu tentang Arsenal saja, saya belum paham rivalitas dan kerasnya adu pendapat dengan pendukung klub lain.
Kaget.
Setelah identitas saya sebagai pendukung Arsenal diketahui teman-teman di SMA, segera saja saya masuk ke dalam arena tanding pride kelas pendukung layar kaca.
Sejak sering ece-ecean dengan pendukung klub lain, saya baru sadar bahwa menjadi dan gagal menjadi juara liga itu penting.
Karena sebelumnya saya hanya mendukung Arsenal sebatas sayang saja, yang akan saya dukung baik disaat sulit maupun senang, buat saya juara atau tidak, tidak jadi masalah.
Eh ternyata, menjadi pendukung klub yang sudah lama prestasinya begitu-begitu saja kok ya miris sekali, sering menjadi bahan tertawaan dan sasaran empuk pendukung klub sebelah.
Nelongso~
Rupanya waktu itu, saya belum cinta karena tidak menunjukkan harapan dan keinginan untuk Arsenal meraih juara liga.
Sejak saat itu GBHN saya mendukung Arsenal berubah, tidak lagi diam-diam nonton dan berkomentar, tapi juga menulis kritik dan pujian.
Tidak lagi cinta buta membabi buta.
Tidak lagi terus menutup identitas sebagai pendukung Arsenal.
Saya tidak lagi mendukung setiap hal yang terjadi di London Utara tanpa kecuali, saya juga ikut memakai #WengerOut pada waktunya, tapi juga tetap sering merindukan opa Wenger setelahnya.
Saya pernah begitu memuja RvP pada masanya, lalu uring-uringan tidak jelas setiap namanya disebut karena dia pindah ke klub yang amat menggelikan hati (re: memuakkan)
Saya pernah dengan ikhlas melepas Fabregas kembali ke Inggris untuk klub biru dan menerima kedatangan Cech dari klub yang sama, tapi kini ingin misuh sekeras-kerasnya ketika Cech kembali membiru (meski tak jadi pemain) setelah pertandingan kemarin.
Saya yang sering merasa sakit hati dibully pendukung klub lain, jadi lebih kalem menghadapi ece-ecean yang receh, karena memang nyatanya, kadang Arsenal bisa sebegitu buruk performanya.
Saya yang sering membalas bullyan pendukung lain, jadi lebih keras lagi melontarkan kalimat mengejek mereka (eh), ya karena tidak jarang, Arsenal menunjukan permainan yang selaras dengan lirik chantsnya; "we're by far the greatest team, the world has ever seen".
Bangga tapi kadang juga marah.
Tapi semarah-marahnya saya pada Arsenal, saya selalu mampu menemukan alasan untuk kembali mencintainya lagi. (ya...gimana? oke ga tuh)
Yah, begitulah kira-kira rasanya menjadi pendukung Arsenal.
Bisa sangat pongah dan gembira di satu malam, namun bisa berubah jadi penuh amarah dan kecewa di malam lainnya.
Penuh harapan di awal musim, lalu terpuruk dalam laga-laga penting hingga gagal lolos UCL di akhir musim.
Begitu seringnya menempati posisi empat sampai jadi 4rsen4l spesialis ranking 4.
Saya sebenarnya mencintai Arsenal apa adanya, tapi benar kata Tulus; Jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan.
Jadi, selain menjadi pendukung Arsenal garis yak-yakan saya juga akan aktif misuhi dan memberi kritik (meskipun nggak ngaruh-ngaruh amat).
Karena saya mau Arsenal terus berbenah dan meraih juara liga, ya setidaknya sebelum saya menikah lah, pleeeeeease.
Tidak dalam waktu dekat ini kok, jadi masih ada waktu berlatih dan beli pemain baru lagi, okay?
salam,
Anggi yang masih mendukung Arsenal.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.