jalan pulangku kali ini terasa berbeda, perhatianku tertuju pada gerobak siomay di pinggir jalan.
yang sempat kulewati lalu sebelum akhirnya putar balik kembali.
malam ini gerimis tipis, si penjual memasang payung dan jas hujannya.
gerobak berwarna biru diatas sepeda tua yang pedalnya tak lagi utuh.
"pak, masih?"tanyaku.
"iya masih, bu"jawabnya.
tak perlu dijelaskan bukan mengapa aku dipanggil ibu? entahlah, rasanya wajahku belum pantas dipanggil ibu.
tapi yang jelas bukan itu inti tulisan ini.
"seporsi dibungkus yah"
"iya bu"
"pak, uangnya 50an, ada kembalian?"
"ada kok ada" ucapnya antusias sambil menuang bumbu kacang ke dalam plastik.
segera setelah itu beliau mengeluarkan isi dompetnya, lalu mengorek sisi gerobak yang lain.
dengan raut wajah kecewa beliau berkata "maaf bu, uangnya ngga cukup, bawa aja, kalo saya lewat rumah ibu aja bayarnya"
"saya tukerin bentar ya pak"
"jangan repot-repot, bu. bawa aja"
setelah berlari ke toko kelontong, aku kembali dan membayar siomayku dengan uang pas.
bagaimana mungkin seorang penjual siomay,
ditengah gerimis,
dengan panci yang masih penuh,
menawari orang asing sepertiku untuk membawa seporsi dagangannya?
dengan cuma-cuma?
aku berlalu meneruskan jalan pulang, menahan sakit di telingaku.
hal sama yang selalu terjadi saat aku menahan tangis.
aku selalu benci berada di kota besar,
melihat orang lain tidak seberuntung aku,
lalu aku tak bisa berbuat banyak,
dan menangis sendirian.
bagaimana mungkin aku memilih menukarkan uang lalu membayar sesuai harganya?
kenapa aku tidak memilih untuk menyerahkan selembar biru yang kupunya?
penyesalan kali ini kubawa pulang,
kutumpahkan bersama tangis yang kutahan sejak tadi.
hujan di luar sudah berhenti,
ketika hujan di mataku semakin deras lagi.
dear anggi, semoga ketika rezeki lapang maupun sempit, kamu tak lupa berbagi.
agar tak perlu menahan tangis penyesalan.
agar tenang hatinya.
agar bisa selalu melihat kebahagiaan mengelilingimu.
selamat kembali berusaha,
menghidupkan bahagia❤
yang sempat kulewati lalu sebelum akhirnya putar balik kembali.
malam ini gerimis tipis, si penjual memasang payung dan jas hujannya.
gerobak berwarna biru diatas sepeda tua yang pedalnya tak lagi utuh.
"pak, masih?"tanyaku.
"iya masih, bu"jawabnya.
tak perlu dijelaskan bukan mengapa aku dipanggil ibu? entahlah, rasanya wajahku belum pantas dipanggil ibu.
tapi yang jelas bukan itu inti tulisan ini.
"seporsi dibungkus yah"
"iya bu"
"pak, uangnya 50an, ada kembalian?"
"ada kok ada" ucapnya antusias sambil menuang bumbu kacang ke dalam plastik.
segera setelah itu beliau mengeluarkan isi dompetnya, lalu mengorek sisi gerobak yang lain.
dengan raut wajah kecewa beliau berkata "maaf bu, uangnya ngga cukup, bawa aja, kalo saya lewat rumah ibu aja bayarnya"
"saya tukerin bentar ya pak"
"jangan repot-repot, bu. bawa aja"
setelah berlari ke toko kelontong, aku kembali dan membayar siomayku dengan uang pas.
bagaimana mungkin seorang penjual siomay,
ditengah gerimis,
dengan panci yang masih penuh,
menawari orang asing sepertiku untuk membawa seporsi dagangannya?
dengan cuma-cuma?
aku berlalu meneruskan jalan pulang, menahan sakit di telingaku.
hal sama yang selalu terjadi saat aku menahan tangis.
aku selalu benci berada di kota besar,
melihat orang lain tidak seberuntung aku,
lalu aku tak bisa berbuat banyak,
dan menangis sendirian.
bagaimana mungkin aku memilih menukarkan uang lalu membayar sesuai harganya?
kenapa aku tidak memilih untuk menyerahkan selembar biru yang kupunya?
penyesalan kali ini kubawa pulang,
kutumpahkan bersama tangis yang kutahan sejak tadi.
hujan di luar sudah berhenti,
ketika hujan di mataku semakin deras lagi.
dear anggi, semoga ketika rezeki lapang maupun sempit, kamu tak lupa berbagi.
agar tak perlu menahan tangis penyesalan.
agar tenang hatinya.
agar bisa selalu melihat kebahagiaan mengelilingimu.
selamat kembali berusaha,
menghidupkan bahagia❤
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.