December 27, 2022

ten years of loving you (harder).

August 21 this year marked ten years without you by my side. They lied. Time doesn't heal. The grief is still there. Luckily, your love makes it bearable. ðŸ’–

So, how's life up there, Bapak?

I'm good. Yesterday I turned 26. People said 25 is the critical point where everyone is going thru a quarter-life crisis. 

First, why do we call that specific time of our life a quarter of life as if we'll live til 100?

Second, my critical point is already started when you're back to the eternal place, ten frickin' years ago. I don't know. I don't think I could relate to that now because every single day without you is a crisis. Was my 25 hard? yes, as we get older, the storm also gets bigger, right? Hehe, but turning 16 without you is the most traumatic experience ever.

I'm 26, and I bravely across the street every day on my way going to work. Such self-development, isn't it? You will be happy to know that little thing as you always did back then.

Bapak, you're the kindest one in my life. see you again, someday! there are zillion stories I could tell you later when the weather is nice! I love you! I hope we still know each other when we meet again; I hope your memories don't fade as I tried my best to keep you warm inside my heart.




(08/2022)


saat luka tak lagi terasa

saya lupa alasan pertama kali membuat blog dan memutuskan untuk terus mengisinya dengan tulisan-tulisan yang biasa saja. sepertinya waktu itu saya mencari pelarian atas kehilangan terbesar pertama yang saya alami.

banyak hal yang tidak menyenangkan, dan saya selalu punya cara untuk melarikan diri darinya. saya ahli melarikan diri dari rasa sakit, denial.

waktu itu ibuk dirawat di rumah sakit. berbagai skenario berlari-larian di kepala saya. tapi saya tidak yakin telah merasa cukup khawatir. saya hanya tidur lebih lama dari hari-hari biasanya. setelah ibuk sembuh, rasa khawatir saya tidak berkurang, rasa bersalah karena tidak bisa selalu disampingnya juga semakin bertambah. 

saat luka tak lagi terasa. saya bingung harus berada di titik emosi yang mana. saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia akan berakhir sendirian. tapi, saya terlihat mempersiapkannya terlalu dini. menarik diri. mengabaikan rasa sakit. menolak terikat secara emosi. belakangan saya tahu istilah yang tepat untuk perasaan ini adalah anticipatory grief. rasanya luar biasa tidak nyaman, ada perasaan ingin mempertahankan, disusul perasaan bersalah akibat membayangkan yang belum terjadi. bagi saya, kehilangan seseorang dan melalui proses berduka tidak menjadi lebih mudah seiring berlalunya waktu.

saya bisa mendeskripsikan perasaan ini dengan baik, tapi kadang saya tidak benar-benar merasakan sesuatu yang ingin saya rasakan. terlihat ada banyak hal yang saya keluarkan dan susun baik dalam tulisan, namun lebih banyak lagi perasaan yang dipendam atau bahkan disangkal. saya beruntung tubuh saya memproses stress dengan memunculkan alarm secara fisik; bagi saya yang sering menyangkal perasaan sendiri dan memendam emosi, ini adalah anugerah. saya tahu kapan harus menumpahkan seluruh perasaan dan mengakuinya dengan benar.

hari ini saya selesai membaca buku yang begitu menghangatkan hati, katanya "di dunia ini tidak ada yang namanya 100%, karena tidak ada yang sempurna". sepertinya hal itu harus saya tanamkan baik-baik dalam ingatan. saya selalu merasa luka akibat duka ini tak pernah berkurang. saya selalu menganggap kalimat "waktu akan menyembuhkan" itu omong kosong. sepuluh tahun sejak bapak saya pulang, dan tahap-tahap kedukaan itu masih bergulir seakan mengiringi putaran jarum jam.

satu hari saya bisa sangat bahagia, lapang dada, merasa yakin bahwa bapak juga akan bahagia melihat saya tersenyum. namun, di hari yang lain saya bisa menangis beberapa malam berturut-turut sampai sesak dan sembap. perasaan yang aneh, ketika bisa melanjutkan hidup, namun seolah tidak sepenuhnya merelakan ingatan tentang bapak ditelan waktu.

saat luka tak lagi terasa, saya tahu benar sakitnya tak lagi disana. hanya saja ada bekas samar nyaris tak terlihat yang bisa kapan saja memicu tangis paling keras dan sunyi sekaligus. tangis itu terdengar keras di hadapan tuhan, sebab saya acapkali menyalahkan takdir dan menjadi lebih setan daripada setan itu sendiri. tangis itu menjadi sunyi di antara deru jalanan yang tak pernah mati, di antara pintu-pintu yang tertutup rapat dimana manusianya enggan saling bertegur sapa.

saya, telah membaca berbagai macam jenis dan fase berduka, beberapa diantaranya sesuai dengan apa yang pernah terjadi dan saya alami. namun, kenyataan bahwa tak satupun teori dapat memetakan durasi berduka sedikit melegakan saya. setidaknya, saya masih bisa merasa normal walau mungkin itu tidak sesuai kenyataan.

dalam berduka, saat luka tak lagi terasa, bukan berarti kesembuhan telah di depan mata. saya berhenti minta disembuhkan, sebab penerimaan tampaknya lebih masuk akal dan mampu saya usahakan. saya tidak mungkin sembuh dari kehilangan yang begitu besar. namun saya bisa menerima bahwa tiada milik Tuhan yang mampu saya pertahankan saat diminta kembali. ternyata, manusia sanggup melanjutkan hidup dengan harapan baru sambil terus mempertahankan ingatan baik tentang masa lalu. walau mengingatnya sepaket dengan merasakan pahitnya kehilangan. untuk bapak, saya rela merasakan semuanya sekaligus, berkali-kali, seumur hidup.

sampai jumpa lagi, bapak.


(ditulis dalam rentang waktu september - desember 2022)

August 22, 2022

Cultivating Hope in Times of Trouble



I used to have hopes and dreams until they became nightmares because it seems unattainable now. 
I'm afraid to think about it because I know I'm not putting enough effort on it.

In times of trouble, I find it more difficult to see what I want and how I'll overcome my fears. All that I have done these past few years felt like nothing. I've gone the extra mile yet I don't feel good enough. I still have the guts to blame myself for not doing something better or faster. Despite all the rough ride and unhealed scars, the fact that I'm still functioning should be more than enough.

The hardest thing about having hope isn't when it comes off. It is when you know; it's still possible anyway, but also there's a long and arduous way to go.
To live and let your dreams keep blooming is troublesome. You may hate your current reality when you're drowning in your future fantasies. On the other hand, you should get to grips with today's challenge to secure a better future.
I clinch that a clear-cut definition of hope is by looking at your past as a learning source, doing your best to tackle your current reality, and mastering the visions plausibly by celebrating baby steps.
Countless times of my life I've spent trying to put my dreams away, yet they still have their way back again and again. All hell breaks loose, but a speck of hope rekindles a nearly extinguished desire.
I love living my mediocre life, but having ambitious plans and goals somehow shake it to the core. 

This day, when I plunge into sorrow, I try to live day by day. I'm looking for one particular reason; why I have to hold on and keep on going. 

Setting your standard so high (nearly impossible), and wishing on them to make your future self proud is courageous. 
Living your mediocre life while keeping your dreams alive is resilient. 
You don't have to make it all by now, it's okay to compile the big picture pixel by pixel.
It's okay to take another turnaround and slow your pace down sometimes. 
All those dreams and hopes can always wait for you to recharge your zing or even redirect your focus. 
You matter. 
Your happiness matters. 
Your feelings are valid. 
Your hope? It might be gazing at you as you come a little bit closer slowly but surely.
Someday, when the weather is nice you accomplish all those impossible tasks on your wishlist, you'll be grateful not only for what you get but also for how the journey shapes you as a person.

I hope we can always find the "why" so that we could maintain the expectation while striving for the best thing we can do.

March 20, 2022

The Captive of Love


It's exciting to hear love stories, high school sweethearts who end up being together even years after high school ends. Unfortunately, not everyone deserves beautiful love stories and fairy tales. It seems like the phrase "life's not always rainbows and butterflies" is real!


Yup, I must say that I'm one of those people who don't experience fairy tales all my life. (chill- it doesn't mean you'll never). Once I fell in love with someone I thought was made for my eternity, but surprise, nothing last forever in life, let alone something that you find randomly in your college life HAHA.


I refuse to believe that we're heading toward a big problem which of course not only we couldn't handle but also would be our total deadlock. I watch Disney princess a lot. I do believe in magic and all epilogue which said: "happily ever after". Until there come one rainy day (literally and figuratively) where I received a phone call, a final determination, the end page of those long stories. My love story ends in sorry.


I denied all the possibility to realize my new status, I rejected the fact that it was my last page, I couldn't write anything again after that day. I wasted my energy, our plan is pointless, my love frittered away.


I put my angst till it fully occupies my head. I act based on my head's direction, rage is in control of me. I regularly have my meltdown, before going to work, in the middle of lunch break, after hours, it doesn't matter whether it's weekday or weekend.


I cried till I have nothing to cry about, I look for a haven that will listen to my story without judging or telling me what I did wrong. All I have to do is look up to what I've forgotten in the meantime, I once have dreams that you shattered down, I once live through positive minds that you blew up.


A year after those thunderstorms, I nonchalantly decided to be alone forever (HA HA HA). I briefly made a breakdown about what it costs me to live a happy life alone. Turned out, it costs me my peace y'all hahaha why? because, no way Asian parents would let their kids (especially, the daughter) live alone forever. I freshly turned 24 the time I made that resolution, yet my mom told me to be okay and let it be like 1000 times per day :) She knew me very well, she knew I'll never be okay to stand betrayal and everything.


Despite all my preparation to live alone, I tried close friend bumble LOL. I asked my friends to be my matchmaker (by said my friends, it means every single one of them. I asked them directly. what a shame hahaha). OMG, the urge to left the loneliness sped up by the time.


But, do being treated poorly make me change my direction concerning love? No. I'm longing for a true significant other who shares the same direction and language toward love. I'm still against infidelity. Period. I think we can love wholeheartedly while fully realizing all the risks because everything comes with terms and conditions, right?. Once you agree to sign up yourself to those lists then voila! Be prepared for the worst. You know what? If you keep doing whatever floats your boat, although it seems like nonsense and quite impossible, nonetheless you'll get closer to your stopping place. Never let this port of call stop you from doing so. Just go for it!


It's all the price I have to pay after years of being the captive of something I thought was love. I shouldn't take it deeply, maybe just be another regular person with a common mindset. I shouldn't take it deeply before I checked all of my screening questions. I should have known better (at least after this post up in my blog)


But, yeah maybe I should stop correcting how I give love. That's okay to choose to be the right and decent person in a relationship. That's very good to always choose faithful over treachery. This line isn't my verdict of what is my exes look like, but I thank Taylor Swift for describing them very well!


Hehe fun fact of this messy piece: It is neatly arranged according to 5 stages of grief by Kubler-Ross :)

March 19, 2022

The Scars and Its Elixir


Life has been hard lately. I didn't think I would come this far only to find out that I need therapy. I know life has thrown its grande problem to me ever since. It will never be okay or enough, I'll never be able to walk my life as normal as somebody else. The fact slaps and reality bites. You're holding on towards something bigger which works merely like a domino effect. It means that when you're doing bad today, it will be more difficult for your tomorrow because you have to get all your shit together before starting over again. Careful, all fellas in line, shit it out beautifully!!!- hehe seems like now we're competing against each other, the fact that no, people, no. Chill out, we're competing against our past cliche.

Now, the fact that people my age starting a new family or posting their skyrocketing career doesn't annoy me that much again. Well, I mean it has somehow made me think that my self-worth is less than theirs. I think that my choice to resist the hype of love stories or fairy tales after being broken-hearted is a crooked choice. What annoys me so much now is the reality that put me in a deep dark hole called past decision. The present reality as a result of my impulsive, sloppy, and improper past decision.

I regularly question my decision, what I've said/tweeted/thought, because I know it will affect my future life. I tend to be so hotheaded when it comes to people commenting about something in myself which of course I didn't ask them to :) Back then, I backfired their comments with the same curse. now, I realize what I did was just as dark as my scars.

I'm more than concerned with all those people calling out myself as fat, unworthy of love, or too ambitious for a career. How dare you say such a thing knowing that you never really walk in my shoes? I'm so sorry if there were scars in you, something that you projecting by cursing someone else. I know what it feels like, but I seek for help, I cried my heart out, I eliminated all the expletives before they touch you directly. I've been a shitty person all my life, I thought this was karma, but I stand up and correct my behavior. Made up the new mold so that my future self will be happier cherish this day as a warm nostalgic past.

So, what is the elixir to my scars? it's the term of letting go. You have no control over what's gonna happen, but you can decide to what extent will you survive. Let it be. 

This is the last line, the rest is just me giving myself encouragement and affirmation :) Hope you feel good about yourself, being loved and in love with everything that you do, surrounded by kind people and spread kindness as well!

My wounded heart, my lovely mind, my disastrous triteness, all that bring me closer to the elixir. I thank myself for being so incredibly strong. You're worthy of a bright and better future. You're more than enough, be it with someone you love or not. You're the complete whole package of love. Please consider that you already did something good, albeit there's so much unchecked checklist in your pocket, that is okay. You can try again tomorrow.

February 24, 2022

Mengapresiasi Sesuatu yang Layak Dilanjutkan Pemerintah

    Saya bukan pengagum fanatik pemerintahan negara saya sendiri. Menurut saya, mencintai tidak dengan serta merta menutup mata atas segala kesalahan atau kelalaian yang menyertainya. 
Pemerintah Indonesia kerap menuai kritik dari rakyatnya sendiri, dan saya rasa itu hal biasa dalam berdemokrasi. Tidak semua keputusan sejalan dengan harapan masyarakat, tidak semua program pemerintah disampaikan dengan cara yang efektif untuk dimengerti kaum awam.  

    Namun dari sekian banyak keputusan dan program pemerintah yang bisa dikritik atau bahkan membuat naik pitam, ada hal-hal yang bisa kita apresiasi. Dua yang terbaik menurut saya, Bidikmisi dan BPJS Kesehatan.  
 
    Saya akan mulai dari bidikmisi karena saya pribadi adalah alumni penerima bidikmisi. Bidikmisi adalah program bantuan dana di tingkat pendidikan tinggi, ditujukan bagi mahasiswa dari keluarga miskin. Pada tahun 2014 saya mendaftar bidikmisi melalui program SNMPTN (program seleksi perguruan tinggi negeri melalui nilai rapor). Namun karena saya tidak lolos, maka pendaftaran bidikmisi saya gugur. Saya lolos melalui jalur ujian masuk desain, yang mana tidak ada slot bagi penerima bidikmisi, hanya reguler dan mandiri. 

    Isi formulir data calon mahasiswa menjadi bekal penentuan uang kuliah tunggal (biaya kuliah persemester) yang harus dibayar. Waktu itu saya masuk kategori penerima UKT golongan terendah, 500 ribu rupiah per semester. Jumlah yang sama dengan biaya pendaftaran ujian masuk desain ((wkwkwk)). Lalu di semester dua saya dipanggil pihak kemahasiswaan untuk melengkapi berkas, nama saya termasuk mahasiswa yang eligible sebagai penerima bidikmisi pengganti. Bidikmisi pengganti demikian sebutannya di kampus saya, adalah slot bidikmisi yang kosong karena penerima sebelumnya terbukti tidak layak setelah cross-check data, pindah kampus atau mengundurkan diri. Mulai semester 3 saya bebas UKT dan menerima uang saku 600 ribu rupiah perbulan, dikirim melalui rekening yang khusus hanya bisa menerima transaksi dari bidikmisi. 

    Saya sempat kecewa menemui kenyataan bahwa dalam prakteknya, tidak semua penyaluran bidikmisi tepat sasaran. Beberapa orang yang datang dari keluarga berkecukupan ditunjang bidikmisi, lalu mereka menggunakan uang bidikmisi untuk membeli barang-barang tersier. Hal yang seperti itu menimbulkan kesan buruk untuk penerima bidikmisi yang memang tepat sasaran. Juga, merebut kesempatan untuk orang lain yang lebih membutuhkan. 

    Bagi saya bidikmisi adalah angin segar dalam masa-masa awal kuliah. Bidikmisi meringankan beban keluarga kami, dan membawa harapan untuk kuliah sampai lulus tanpa khawatir semester depan akan bayar UKT dengan uang dari mana lagi.  
Slogan bidikmisi yang berbunyi: menggapai asa, memutus rantai kemiskinan itu, nyata adanya dan terjadi pada saya, serta ribuan alumni lain. Hari ini kami punya bekal untuk memutus rantai kemiskinan di keluarga, salah satunya karena dukungan dan kesempatan dari pemerintah melalui bidikmisi. 

    Kedua, BPJS Kesehatan. Program jaminan kesehatan bagi masyarakat indonesia ini merupakan salah satu program yang juga sangat membantu secara langsung. Pertama kali saya menggunakan kartu kepesertaan saya adalah ketika kerja praktek di Bali. Saat itu saya didiagnosa gejala apendisitis (infeksi usus buntu). Saya menebus obat dengan kartu BPJS Kesehatan. Kali kedua saat saya menjalani pemeriksaan dan rawat jalan setelah diagnosa bronkitis. Semua biayanya ditanggung BPJS Kesehatan. Bagi mahasiswa yang jangankan dana darurat, membagi biaya makan dan biaya tugas kuliah saja kesulitan. Jaminan kesehatan yang menanggung biaya tidak terduga saat sakit ini bisa terhitung sebagai berkat. Setidaknya dalam kondisi yang belum mapan itu, iuran yang dengan sadar disisihkan tiap bulan adalah bagian dari “dana darurat” dalam sisi kesehatan. 

    Selain apa yang saya alami sendiri, BPJS Kesehatan juga telah terbukti efektif dan bermanfaat. BPJS Kesehatan menanggung biaya pengobatan bagi pasien, membuat layanan kesehatan terjangkau bagi semua kalangan.  

    Tentu tidak semua cerita tentang BPJS Kesehatan adalah rainbows and butterflies, kalau kata orang barat. Pasti ada kekurangan dan ketidaksempurnaan pada prakteknya, sewajarnya program pemerintah lainnya. Namun saya yakin, manfaatnya jauh lebih banyak lagi. 

    Kekurangan yang ada dalam kedua program tersebut ada untuk menjadi fokus perbaikan dari waktu ke waktu. Satu yang jelas, tujuannya baik dan terbukti efektif. Maka, semoga dapat terus berlanjut dan semakin baik. 
Kadang saya bingung bahwa yang sering bikin naik pitam karena keputusan dan peraturannya ((yang cenderung tidak dipikir dengan matang)) adalah pemerintah yang sama, yang menyusun serta terus membawa manfaat dengan hadirnya bidikmisi dan BPJS Kesehatan. Begitulah hubungan antara rakyat dan negaranya, banyak keputusan bisa membuat kita murka seakan ingin ganti kewarganegaraan, namun ada juga program lain yang memantik rasa syukur bahwa kita adalah bagian darinya. 


Salam, 

A. 

February 08, 2022

merangkai harapan untuk tetap hidup

tahun demi tahun berlalu, tidak setiap hari saya lewati dengan sepenuhnya hadir dan sadar. sejak kepulangan bapak, saya hanya sibuk mencari pengalih perhatian atau menangis semalaman. ada celah kosong yang selamanya tidak akan bisa terisi kembali dan digantikan.

saya benci sakit, pahit, luka dan darah. hehe. sebab itu saya tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, hanya sering kesulitan menemukan alasan untuk terus menjalani sisa waktu. terlalu egois ketika hanya fokus menyembuhkan duka sendiri, dengan mengabaikan hati lain yang masih hidup dan nyata.

dulu, saya selalu merasa cukup. dengan bapak dan ibu yang selalu menghujani kasih sayang setiap waktu. bukan berarti saat bapak pulang lalu kasih ibu berkurang. tidak sama sekali. namun beda tetap terasa. banyak tanya yang belum sempat terjawab.

lingkaran terdekat saya sangat baik dan mendukung, siap mendengarkan dan memberi afirmasi positif. hanya saja, menjalani hidup bersama duka ya memang seperti ini adanya. selamanya, saya akan selalu butuh waktu untuk tidur seharian, atau menangis sendirian. selamanya, saya akan tetap merasa sesak luar biasa saat ingat agustus 21. sejauh ini yang saya rasakan, waktu tidak menyembuhkan duka, mungkin duka memang tidak datang bersama kesembuhan.

beruntungnya sebelum bapak pulang, banyak sekali kebaikan hatinya yang membekas dalam ingatan. setidaknya bila diadu, akan sama kuat dengan goresan duka atas kepulangannya.

untuk bapak, saya tidak akan menyerah pada keadaan. seperti yang bapak bilang “kamu harus mandiri, bapak tidak hidup selamanya”. waktu yang terus melaju, bukan tak mungkin akan mengikis ingatan baik masa lalu. oleh karena itu, takkan berhenti saya mengabadikan bapak dalam setiap tulisan. ini adalah upaya perlawanan, menolak kehilangan untuk kesekian kalinya. supaya bapak tidak tinggal di masa lalu, sebab bapak salah satu harapan saya tetap hidup dan tidak menyerah.

untuk ibu, saya akan terus mencari alasan mengapa saya harus terus berjalan, walau sulit. semoga saya dianugerahi sabar yang sama panjangnya dengan doa-doa ibu. semoga saya diberi kesempatan untuk menjadi penyejuk hati dan pemantik bahagia untuk ibu. 


salam,

a.

Memperbaiki Judul (Sekaligus Pola Pikir)

Jika hidup seperti permainan telepon seluler, maka saya pasti akan memilih mode easy selamanya. Sebagai pecinta kedamaian dan zona nyaman, saya hampir selalu menghindari konflik. Sialnya, hidup yang katanya hanya sekali ini, tak begitu cara mainnya. Sebab yang saya rasakan selama ini malah mode easy tak pernah berfungsi. Saya sering sekali terjebak dalam victim mentality, merasa diri adalah korban dan dunia bergerak seakan melawan kita. Entah masih, atau sudah berlalu. Tapi hal tersebut sedikit banyak memengaruhi tindakan dan proses pengambilan keputusan.

Saya sering melakukan sesuatu dengan terlampau berhati-hati, berhasil sampai selesai, namun hanya berakhir di meja belajar. Jarang berani menunjukkan buah karya tangan dan pikiran, menulis di blog ini adalah salah satu cara paling aman. Mengeluarkan isi kepala di ruang terbuka, dengan sedikit mata yang fokus padanya.

Saya punya banyak ketakutan dan kekhawatiran. Saya takut ditertawakan, sebab itu menyakitkan, maka saya terlebih dahulu menjadikan kelemahan sebagai lelucon untuk ditertawakan. Saya khawatir orang akan fokus pada bagian tubuh saya yang kurang sempurna (dan beberapa orang memang dengan lantang mengatakannya). Maka saya terus menerus bercermin dan mencoba menerima diri saya apa adanya. Meski sambil menangis mengingat kalimat yang bahkan tak lagi mereka ingat. Ketakutan dan kekhawatiran ini jika semuanya ditulis bisa jadi menyaingi panjang kisah sedih yang tak sudah-sudah.

Dengan berkali-kali jatuh bangun sendiri, kadang belum cukup pelajaran untuk bisa berhati-hati. Lalu, saya baru sadar, bahwa pada dasarnya hidup memang sulit. Kita yang mengimajinasikan hidup seharusnya mudah, mulus tanpa aral melintang. Lalu kita sendiri yang akhirnya kecewa, merasa jadi korban saat ekspektasi tak menyentuh kenyataan.

Sadar bahwa hidup memang akan sulit dan penuh tantangan adalah awal untuk kesadaran-kesadaran berikutnya. Kita selalu bisa berencana, dan itu merupakan hal gratis di dunia. Tapi sadar bahwa banyak faktor yang beririsan dengan rencana kita, bisa jadi akan memberi sedikit rasa siap untuk gagal.

Siap untuk gagal tidak terlihat fancy ditengah tren FOMO dan sukses di usia muda. Tapi siap untuk gagal adalah salah satu kesadaran paling dasar, sebab kemungkinan terburuk selalu mungkin terjadi. Saya yakin, siap dan mampu menerima keberhasilan setiap waktu. Tapi untuk gagal dan harus memperbaiki “kekacauan”? Butuh proses panjang serta hati yang lapang. Melalui hari-hari penuh kejadian tidak menyenangkan.

Hidup yang terasa konstan dalam mode hardcore gulungkoming molakmalik ini, entah akan sampai kapan. Hal yang saya percaya, jalan terjal diciptakan untuk pejalan yang tangguh. Meski dalam perjalanannya sambil menangis tersedu-sedu, dengan sol sepatu yang kian menipis dan semangat yang hampir habis.

Hari-hari sulit bagaikan tanah tandus merindukan hujan, nyatanya tetap memberi kesempatan kelopak untuk mekar dan menebarkan harapan. Walau kadang muncul sedikit, lalu terkikis. Tumbuh lagi, lalu terbang disapu badai. Nyatanya, selalu ada harapan. Bahkan melalui jalan paling membingungkan sekalipun.


Wajah baru dari the overthinker, blooming day: when the petals unfold along the perplexing way.

Semoga penulis akan lebih rajin menuliskan cerita-cerita bahagia, atau cerita sedih yang bisa diambil hikmahnya. Juga semoga diberi kesempatan untuk menjalani hari-harinya dalam mode easy peasy lemon squeezy.


Salam,

a.