February 08, 2022

merangkai harapan untuk tetap hidup

tahun demi tahun berlalu, tidak setiap hari saya lewati dengan sepenuhnya hadir dan sadar. sejak kepulangan bapak, saya hanya sibuk mencari pengalih perhatian atau menangis semalaman. ada celah kosong yang selamanya tidak akan bisa terisi kembali dan digantikan.

saya benci sakit, pahit, luka dan darah. hehe. sebab itu saya tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, hanya sering kesulitan menemukan alasan untuk terus menjalani sisa waktu. terlalu egois ketika hanya fokus menyembuhkan duka sendiri, dengan mengabaikan hati lain yang masih hidup dan nyata.

dulu, saya selalu merasa cukup. dengan bapak dan ibu yang selalu menghujani kasih sayang setiap waktu. bukan berarti saat bapak pulang lalu kasih ibu berkurang. tidak sama sekali. namun beda tetap terasa. banyak tanya yang belum sempat terjawab.

lingkaran terdekat saya sangat baik dan mendukung, siap mendengarkan dan memberi afirmasi positif. hanya saja, menjalani hidup bersama duka ya memang seperti ini adanya. selamanya, saya akan selalu butuh waktu untuk tidur seharian, atau menangis sendirian. selamanya, saya akan tetap merasa sesak luar biasa saat ingat agustus 21. sejauh ini yang saya rasakan, waktu tidak menyembuhkan duka, mungkin duka memang tidak datang bersama kesembuhan.

beruntungnya sebelum bapak pulang, banyak sekali kebaikan hatinya yang membekas dalam ingatan. setidaknya bila diadu, akan sama kuat dengan goresan duka atas kepulangannya.

untuk bapak, saya tidak akan menyerah pada keadaan. seperti yang bapak bilang “kamu harus mandiri, bapak tidak hidup selamanya”. waktu yang terus melaju, bukan tak mungkin akan mengikis ingatan baik masa lalu. oleh karena itu, takkan berhenti saya mengabadikan bapak dalam setiap tulisan. ini adalah upaya perlawanan, menolak kehilangan untuk kesekian kalinya. supaya bapak tidak tinggal di masa lalu, sebab bapak salah satu harapan saya tetap hidup dan tidak menyerah.

untuk ibu, saya akan terus mencari alasan mengapa saya harus terus berjalan, walau sulit. semoga saya dianugerahi sabar yang sama panjangnya dengan doa-doa ibu. semoga saya diberi kesempatan untuk menjadi penyejuk hati dan pemantik bahagia untuk ibu. 


salam,

a.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.