Jika hidup seperti permainan telepon seluler, maka saya pasti akan memilih mode easy selamanya. Sebagai pecinta kedamaian dan zona nyaman, saya hampir selalu menghindari konflik. Sialnya, hidup yang katanya hanya sekali ini, tak begitu cara mainnya. Sebab yang saya rasakan selama ini malah mode easy tak pernah berfungsi. Saya sering sekali terjebak dalam victim mentality, merasa diri adalah korban dan dunia bergerak seakan melawan kita. Entah masih, atau sudah berlalu. Tapi hal tersebut sedikit banyak memengaruhi tindakan dan proses pengambilan keputusan.
Saya sering melakukan sesuatu dengan terlampau berhati-hati,
berhasil sampai selesai, namun hanya berakhir di meja belajar. Jarang berani
menunjukkan buah karya tangan dan pikiran, menulis di blog ini adalah salah
satu cara paling aman. Mengeluarkan isi kepala di ruang terbuka, dengan sedikit
mata yang fokus padanya.
Saya punya banyak ketakutan dan kekhawatiran. Saya takut
ditertawakan, sebab itu menyakitkan, maka saya terlebih dahulu menjadikan
kelemahan sebagai lelucon untuk ditertawakan. Saya khawatir orang akan fokus
pada bagian tubuh saya yang kurang sempurna (dan beberapa orang memang dengan
lantang mengatakannya). Maka saya terus menerus bercermin dan mencoba menerima
diri saya apa adanya. Meski sambil menangis mengingat kalimat yang bahkan tak
lagi mereka ingat. Ketakutan dan kekhawatiran ini jika semuanya ditulis bisa
jadi menyaingi panjang kisah sedih yang tak sudah-sudah.
Dengan berkali-kali jatuh bangun sendiri, kadang belum cukup
pelajaran untuk bisa berhati-hati. Lalu, saya baru sadar, bahwa pada dasarnya
hidup memang sulit. Kita yang mengimajinasikan hidup seharusnya mudah, mulus
tanpa aral melintang. Lalu kita sendiri yang akhirnya kecewa, merasa jadi
korban saat ekspektasi tak menyentuh kenyataan.
Sadar bahwa hidup memang akan sulit dan penuh tantangan
adalah awal untuk kesadaran-kesadaran berikutnya. Kita selalu bisa berencana, dan itu merupakan hal gratis di dunia. Tapi
sadar bahwa banyak faktor yang beririsan dengan rencana kita, bisa jadi akan
memberi sedikit rasa siap untuk gagal.
Siap untuk gagal tidak terlihat fancy ditengah tren FOMO dan sukses di usia muda. Tapi siap untuk gagal adalah salah satu
kesadaran paling dasar, sebab kemungkinan terburuk selalu mungkin terjadi. Saya
yakin, siap dan mampu menerima keberhasilan setiap waktu. Tapi untuk gagal dan
harus memperbaiki “kekacauan”? Butuh proses panjang serta hati yang lapang. Melalui
hari-hari penuh kejadian tidak menyenangkan.
Hidup yang terasa konstan dalam mode hardcore gulungkoming molakmalik ini, entah akan sampai kapan. Hal
yang saya percaya, jalan terjal diciptakan untuk pejalan yang tangguh. Meski dalam
perjalanannya sambil menangis tersedu-sedu, dengan sol sepatu yang kian menipis
dan semangat yang hampir habis.
Hari-hari sulit bagaikan tanah tandus merindukan hujan,
nyatanya tetap memberi kesempatan kelopak untuk mekar dan menebarkan harapan. Walau
kadang muncul sedikit, lalu terkikis. Tumbuh lagi, lalu terbang disapu badai. Nyatanya,
selalu ada harapan. Bahkan melalui jalan paling membingungkan sekalipun.
Wajah baru dari the overthinker, blooming day: when the petals unfold along the perplexing way.
Semoga penulis akan lebih rajin menuliskan cerita-cerita
bahagia, atau cerita sedih yang bisa diambil hikmahnya. Juga semoga diberi
kesempatan untuk menjalani hari-harinya dalam mode easy peasy lemon squeezy.
Salam,
a.


No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.