February 08, 2022

Memperbaiki Judul (Sekaligus Pola Pikir)

Jika hidup seperti permainan telepon seluler, maka saya pasti akan memilih mode easy selamanya. Sebagai pecinta kedamaian dan zona nyaman, saya hampir selalu menghindari konflik. Sialnya, hidup yang katanya hanya sekali ini, tak begitu cara mainnya. Sebab yang saya rasakan selama ini malah mode easy tak pernah berfungsi. Saya sering sekali terjebak dalam victim mentality, merasa diri adalah korban dan dunia bergerak seakan melawan kita. Entah masih, atau sudah berlalu. Tapi hal tersebut sedikit banyak memengaruhi tindakan dan proses pengambilan keputusan.

Saya sering melakukan sesuatu dengan terlampau berhati-hati, berhasil sampai selesai, namun hanya berakhir di meja belajar. Jarang berani menunjukkan buah karya tangan dan pikiran, menulis di blog ini adalah salah satu cara paling aman. Mengeluarkan isi kepala di ruang terbuka, dengan sedikit mata yang fokus padanya.

Saya punya banyak ketakutan dan kekhawatiran. Saya takut ditertawakan, sebab itu menyakitkan, maka saya terlebih dahulu menjadikan kelemahan sebagai lelucon untuk ditertawakan. Saya khawatir orang akan fokus pada bagian tubuh saya yang kurang sempurna (dan beberapa orang memang dengan lantang mengatakannya). Maka saya terus menerus bercermin dan mencoba menerima diri saya apa adanya. Meski sambil menangis mengingat kalimat yang bahkan tak lagi mereka ingat. Ketakutan dan kekhawatiran ini jika semuanya ditulis bisa jadi menyaingi panjang kisah sedih yang tak sudah-sudah.

Dengan berkali-kali jatuh bangun sendiri, kadang belum cukup pelajaran untuk bisa berhati-hati. Lalu, saya baru sadar, bahwa pada dasarnya hidup memang sulit. Kita yang mengimajinasikan hidup seharusnya mudah, mulus tanpa aral melintang. Lalu kita sendiri yang akhirnya kecewa, merasa jadi korban saat ekspektasi tak menyentuh kenyataan.

Sadar bahwa hidup memang akan sulit dan penuh tantangan adalah awal untuk kesadaran-kesadaran berikutnya. Kita selalu bisa berencana, dan itu merupakan hal gratis di dunia. Tapi sadar bahwa banyak faktor yang beririsan dengan rencana kita, bisa jadi akan memberi sedikit rasa siap untuk gagal.

Siap untuk gagal tidak terlihat fancy ditengah tren FOMO dan sukses di usia muda. Tapi siap untuk gagal adalah salah satu kesadaran paling dasar, sebab kemungkinan terburuk selalu mungkin terjadi. Saya yakin, siap dan mampu menerima keberhasilan setiap waktu. Tapi untuk gagal dan harus memperbaiki “kekacauan”? Butuh proses panjang serta hati yang lapang. Melalui hari-hari penuh kejadian tidak menyenangkan.

Hidup yang terasa konstan dalam mode hardcore gulungkoming molakmalik ini, entah akan sampai kapan. Hal yang saya percaya, jalan terjal diciptakan untuk pejalan yang tangguh. Meski dalam perjalanannya sambil menangis tersedu-sedu, dengan sol sepatu yang kian menipis dan semangat yang hampir habis.

Hari-hari sulit bagaikan tanah tandus merindukan hujan, nyatanya tetap memberi kesempatan kelopak untuk mekar dan menebarkan harapan. Walau kadang muncul sedikit, lalu terkikis. Tumbuh lagi, lalu terbang disapu badai. Nyatanya, selalu ada harapan. Bahkan melalui jalan paling membingungkan sekalipun.


Wajah baru dari the overthinker, blooming day: when the petals unfold along the perplexing way.

Semoga penulis akan lebih rajin menuliskan cerita-cerita bahagia, atau cerita sedih yang bisa diambil hikmahnya. Juga semoga diberi kesempatan untuk menjalani hari-harinya dalam mode easy peasy lemon squeezy.


Salam,

a.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.