Halo, apa kabar?
Semoga di tengah kondisi yang mendukung kita untuk mengeluh dan mengumpat kita tetap memilih bersyukur dan berdoa ya, hehe.
#BagaimanaRasanya sudah masuk tulisankeempat kelima, yang tiga empat sebelumnya sudah dibaca belum? ((maap banget nulis gini, berasa laku aja ni blog WKWKWKKW))
Sebelumnya saya ragu akan menulis dengan topik ini atau ganti yang lain saja, tapi karena yang lain belum melintas di kepala jadi ya sudah, gas ae lah. (ini draft sejak september 2020, hehe hepi eniv draft)
Jadi, #BagaimanaRasanya menjadi mahasiswa desain produk? (desain produk industri lebih spesifiknya) Oh, sebentar...
Semoga di tengah kondisi yang mendukung kita untuk mengeluh dan mengumpat kita tetap memilih bersyukur dan berdoa ya, hehe.
#BagaimanaRasanya sudah masuk tulisan
Sebelumnya saya ragu akan menulis dengan topik ini atau ganti yang lain saja, tapi karena yang lain belum melintas di kepala jadi ya sudah, gas ae lah. (ini draft sejak september 2020, hehe hepi eniv draft)
Jadi, #BagaimanaRasanya menjadi mahasiswa desain produk? (desain produk industri lebih spesifiknya) Oh, sebentar...
Memang desain produk itu apa sih? Mengutip Karl T. Ulrich, beliau mendefinisikan desain produk adalah memahami dan memberi bentuk pada produk ataupun jasa yang memenuhi kebutuhan.
Jadi dalam #BagaimanaRasanya kali ini saya akan membaginya dalam empat poin utama ya.
Jadi dalam #BagaimanaRasanya kali ini saya akan membaginya dalam empat poin utama ya.
1. Mata Kuliah dan Hal-hal yang Dipelajari
Disclaimer: Kurikulum di setiap kampus mungkin berbeda dan cara penilaian juga selalu berubah seiring waktu. Semua yang tertulis disini berdasar pengalaman saya sebagai mahasiswa desain produk industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember tahun 2014-2019.
Saat saya jadi mahasiswa ada 36 Mata kuliah yang harus dipenuhi dengan total 144 sks seperti normalnya sks jenjang sarjana. Mata kuliahnya sedikit (jika dibandingkan jurusan lain) karena setiap mata kuliah beban sksnya cukup besar. Sks paling kecil adalah pendidikan agama dengan 2 sks. Sedangkan tugas akhir memiliki sks terbesar sejumlah 8 sks.
Di semester pertama, mata kuliah jurusan yang jadi (((dasar/basic/fondasi))) adalah dasar desain produk, gambar produk dan gambar teknik. Ketiga matkul tersebut akan dilanjutkan di semester 2. Dasar desain produk mempelajari tentang titik, garis, warna, ruang dan tekstur. Mahasiswa akan mengeksplorasi perpaduan diantara hal-hal tersebut. Membuat komposisi titik dan garis baik yang hitam-putih maupun berwarna, di semester satu masih berkutat di dua dimensi, namun di semester dua akan masuk ke membuat komposisi dalam tiga dimensi.
Di matkul gambar produk, saya berlatih menarik garis lurus tanpa penggaris (kuncinya satu helaan napas, satu tarikan garis, bondo nekat yakin), membuat lingkaran tanpa jangka, berlatih membuat garis tebal tipis dengan satu pensil yang sama, kemudian cara menggambar produk secara proporsional lengkap dengan letak bayangannya. Dalam matkul ini penggunaan pensil tidak lama. Setelah itu, mahasiswa akan mulai menggambar dengan pulpen. Tidak bisa dihapus :) harus yakin serta penuh perhitungan sejak awal supaya gambar produk yang dihasilkan merepresentasikan ide dengan baik dan proporsional.
Lalu di matkul gambar teknik, mempelajari tentang membuat gambar yang sesuai standar, sehingga lebih universal untuk dipahami orang diluar lingkup desain produk, gambar ini yang nantinya akan menjadi sarana komunikasi dari proses desain ke produksi.
Di semester tiga sampai delapan ada 6 mata kuliah (((inti))) yang pada masa saya kuliah hanya bisa diambil satu matkul per semester. Desain produk styling biasanya disebut perancangan satu (selanjutnya disebut sesuai urutan dalam kurikulum saat itu); mempelajari tentang proses desain produk2 apparel dan produk2 yang bisa dikenakan sebagai penunjang penampilan, sebagai contoh saat saya kuliah tugasnya membuat desain koper dan perhiasan kayu. Lalu, Desain produk appliance; mempelajari proses desain produk penunjang produktivitas manusia baik elektrik maupun manual. Saat saya kuliah saya mendesain handle manual juicer dan facade body radio.
Selanjutnya, desain produk furnitur; yah seperti namanya yang sudah jelas akan mempelajari proses mendesain furnitur, baik sebagai tempat menyimpan barang ataupun mengerjakan sesuatu. Kemudian yang terakhir adalah desain produk transportasi; disini tugasnya bermacam-macam mulai dari mendesain sepeda hingga mobil. Setiap luaran matkul perancangan berupa produk 1:1 atau model terskala. Lengkap dengan dokumentasi pengerjaan yang terekam dalam portfolio, gambar sketsa, gambar digital, gambar teknik serta model-model yang dibuat sebelum produk sebenarnya.
Karena setiap luaran tugas dalam desain produk umumnya adalah produk nyata, produk fisik, maka ada matkul modelisasi manual, yang mana mahasiswa dilatih untuk menggunakan alat-alat pembantu dalam membuat model/ produk. Sebenarnya sejak semester satu juga telah dilatih untuk mulai familiar dengan modelisasi manual. Jadi bukan hal asing bagi mahasiswa desain produk untuk membawa gergaji, bor listrik ataupun resin dan serat fiber di tasnya :)
Dalam desain produk konseptual (di jurusan lain setara dengan pra-TA) mahasiswa akan mulai menentukan topik TA-nya, bisa memilih satu dari empat perancangan inti. Lalu melakukan riset dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk TA. Sehingga ketika masuk masa TA, maka sudah bisa fokus ke perancangan produk secara lebih detail beserta strategi pemasarannya.
Sebagai calon desainer produk, maka mahasiswa akan mempelajari tidak hanya proses mengembangkan desain, namun juga mencari latar belakang dan urgensi sebuah desain. Kadang tidak setiap masalah perlu penyelesaian dengan produk baru, hanya perlu perbaikan. Kadang juga pengembangan produk tidak harus menunggu urgensi, namun bisa juga untuk menciptakkan tren baru. Oleh karena itu mahasiswa desain produk mempelajari proses pra-desain seperti mengamati pasar dan konsumen dalam matkul tren dan gaya hidup, memahami sistem dan teknologi material supaya produk yang didesain tetap achieveable dan realistis untuk di produksi. Serta mempelajari komunikasi pemasaran sebagai dasar menentukan value atas produk yang didesain dan bagaimana mendeliver produk tersebut ke pasar.
Secara sederhana, di jurusan desain produk industri mahasiswa akan mempelajari proses suatu produk dari tahap pembentukan konsep (ideasi), riset, desain, produksi hingga pemasaran.
2. Proses Kuliah
Jujur saya cukup lupa persentase perbandingan praktek dan teori dalam kuliah :)) hehe mianhae
-Kuliah di dalam kelas: dosen menyampaikan materi dan presentasi, kuliah normal selayaknya aktivitas belajar mengajar di kelas. Kelas saya saat itu cukup besar, diisi satu angkatan dalam semester awal. Mejanya juga berbeda dengan meja jurusan lain. Kursi dan meja yang menjadi satu pada umumnya adalah tempat belajar di jurusan lain, di jurusan desain produk industri, mejanya selebar kertas ukuran A0 atau A1 (((lagi-lagi lupa))) yang jelas cukup lebar untuk dipakai sendirian hehehe.
-Kuliah di studio (di jurusan lebih familiar dengan sebutan bengkel) ada ruang untuk modelisasi, yang isinya gergaji, alat press, alat mencetak model, mesin CNC, 3d printer dll. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, jadi mahasiswa desain produk akan otomatis terbiasa memegang gergaji, mengamplas kayu, mencetak resin, sampai mengoperasikan mesin CNC. Ya, dalam pekerjaan nantinya kita mungkin tidak akan mengerjakan hal-hal tersebut, namun sebagai desainer wajib paham bagaimana proses dan cara mesin bekerja, supaya dapat memperhitungkan dan menyesuaikan dengan desain yang dibuat.
-Kuliah tamu, biasanya dengan narasumber yang berkaitan dengan topik atau mata kulliah tertentu. Mengundang praktisi maupun alumni untuk mengajar di kelas.
-Pameran; setiap akhir semester akan ada pameran yang menampilkan tugas besar dalam semester tersebut. Biasanya pameran dilakukan sesuai matkul, misal pameran matkul desain produk furnitur.
-Proses penilaian tugas, biasanya dalam satu matkul, pembuatan tugas besar akan melalui proses asistensi, yaitu pemaparan ide dan progres secara rutin kepada dosen atau asisten dosen. Kemudian penilaian, dan perbaikan/revisi ketika nilai belum memenuhi batas minimal lulus. Penilaian dalam bentuk huruf A-E, dan kriteria yang dinilai juga tidak hanya produk finalnya saja. Tapi juga proses, kelengkapan portofolio, kerapian, kesesuaian ide, konsep awal dengan hasil akhir dan juga orisinalitas.
3. Prospek Pekerjaan Ketika Lulus (maupun Belum)
Prospek terbesar adalah sebagai entrepreneur. Karena ini bisa dilakukan bahkan sejak masa kuliah/ saat belum lulus. Ketika membuat produk, sudah pasti salah satu penilaiannya adalah layak/tidak untuk dijual. Dengan demikian sebenarnya, setiap hasil tugas mahasiswa desain produk adalah produk-produk yang siap dipasarkan (paling tidak hampir siap, atau butuh beberapa penyesuaian lagi)
Selain itu juga tentu saja menjadi desainer produk, bidang-bidang yang sudah memiliki role ini antara lain di bidang otomotif, menjadi Car designer, desainer di karoseri, desainer sepeda. Lalu desainer di bidang appliance, fashion designer, jewellery designer dll.
Di bidang turunannya juga bisa menjadi, desainer grafis, 3D modeller, desainer UI, desainer UX, hingga ke posisi social media strategist, product development staff, project manager sampai marketing.
4. Kesan dan Opini Pribadi
Disini sebenarnya baru masuk #BagaimanaRasanya yang sebenarnya hehehe, karena poin-poin diatas adalah fakta dan pengetahuan umum tentang kuliah desain produk industri. Maka saya akan bagi lagi dalam tiga poin;
a. Sebelum Masuk
Saat SMA saya pertama kali tahu jurusan ini ketika kelas sebelas. Ketika itulah saya merasa "WAINI NIIIIH" karena selama sekolah saya selalu kesulitan menyesuaikan kemampuan dengan kurikulum sekolah yang penuh pelajaran eksakta (siapa suruh masuk ipa).
Saya bertekad untuk tidak kuliah di jurusan yang tidak sesuai kemampuan saya (waktu itu masih yakin kalo mampu kuliah desain WKWKWKWK)
Selain itu saya menghindari jurusan yang mengharuskan saya bertemu matematika, fisika dan kimia.
Begitulah alasan saya yang sangat berbeda dengan jawaban saat ditanya dosen di kelas, yah namanya juga maba. Saat itu ditanya mengapa ingin masuk despro dan ingin jadi apa. Saya jawab dengan naif dan mantap "Karena saya suka menggambar dan ingin jadi toys designer". Kalo inget sih lumayan pengen ngakak sampai tahun baru.
Saya ketika itu masuk lewat UMDES (Ujian Masuk Desain), di tahun 2014 ada 3 jenis seleksi, yaitu snmptn (jalur nilai rapot), sbmptn (jalur tes tulis nasional) dan ujian mandiri (jalur tes tulis institusi). Nah, karena sbmptn tidak secara spesifik mengukur kecerdasan visual yang diperlukan untuk menjadi mahasiswa desain, maka untuk masuk despro saat itu jalur tulisnya melalui UMDES.
Saya ikut UMDES karena tidak diterima saat snmptn (((ya pastilah, nilainya memprihatinkan)))
Saat itu ujiannya yang saya ingat ada lima kategori soal; verbal, musikal, motorik, kuantitatif dan visual. Di ujian kategori verbal, saya mengerjakan soal yang disajikan dalam bentuk data (tabel, grafik dll) dan menerjemahkannya dalam bentuk narasi. Selanjutnya di soal musikal, saya mendengarkan musik yang diputar panitia, selanjutnya menggambar sesuatu sesuai intrepretasi terhadap musik tersebut. Dalam soal motorik, disediakan kertas lipat dan kertas gambar untuk menjelaskan proses melipatnya. Kemudian di soal kuantitatif, menghitung efisiensi penggunaan bahan. Lalu di soal visual, menggambarkan sesuatu berdasarkan narasi yang telah diberikan.
Saat ujian itu, saya duduk di tribun gedung pusat robotika, dimana dari tempat saya duduk, meski mata minus saya cukup leluasa melihat hasil kerja peserta lain, yang mana sangat saya batasi karena akan mengganggu konsentrasi dan kepercayaan diri. Dalam ujian semacam ini mencontek adalah hal sia-sia karena model ujiannya memang akan menilai orisinalitas dan kekuatan reasoning.
b. Ketika Kuliah
Senang sekali rasanya bisa diterima di jurusan yang diinginkan. Semester awal perkuliahan cukup menyenangkan, sebelum akhirnya menerima nilai pertama dan kaget dengan standar yang cukup tinggi. Mengolah kepekaan visual memang proses yang panjang dan awalnya sungguh berat sekali. Ketelitian, kerapian, kesesuaian dan manajemen waktu sangat diuji di mata kuliah dasar. Untuk berikutnya siap masuk ke tahap perancangan.
"ADUH KOK SULIT YA" ketika masuk perancangan satu hehehehe. Ternyata baru sadar bahwa setiap bentuk desain harus punya reasoning yang tepat, apakah sesuai kebutuhan ataukah sebetulnya bisa disimplifikasi. Ketika kuliah seringkali masukan dosen terdengar seperti kritik yang menyebalkan, namun setelah melewati mata kuliah tersebut barulah sadar, bahwa apa yang dikerjakan memang pantas melalui proses perbaikan berkali-kali.
Saya ingat pernah (lebih tepatnya, sering) dapat nilai C- atau DE- hahaha nilai harian ataupun uts. Kalau dilihat lagi sekarang ya memang kualitas tugasnya pantas dapat nilai itu. Tapi kok ya nemen. Dulu saking padatnya tugas sampai tidak ada waktu meratapi nilai buruk, jadi lebih sibuk revisi, meskipun hasilnya kadang lebih buruk lagi WKWKWKWKW (((ya nasib)))
"Kenapa ya dulu pilih ini, tapi jurusan lainpun ku tak mampu" tepat saat masuk semester akhir yang offside.
Sempat ingin menyerah ya pasti ada, namanya juga mahasiswa, saat merasa kesulitan sungguhlah merasa semua kesusahan di dunia sedang bertumpu padanya. Padahal tidak tahu saja, kehidupan setelah kuliah hm jauh lebih bikin ngelus dada.
Beruntungnya selama kuliah dikelilingi teman angkatan yang suportif dan ambisius pada levelnya masing-masing haha. Saling membantu satu sama lain sampai saling menertawakan nilai masing-masing yang sama-sama buruknya.
Persaingan dalam angkatan mungkin berbeda dengan jurusan lain, sebab meski tugasnya sama, setiap luaran tugas kami akan selalu berbeda satu sama lain. Jadi persaingan itu tidak terasa (atau mungkin saya memang tidak fokus jadi kompetitif, lebih fokus revisi lagi revisi lagi)
Tugas-tugas kuliah di jurusan ini sungguh tidak umum untuk ukuran anak kuliahan, karena memang bukan jurusan populer juga
Saat saya kuliah banyak tugas-tugas yang jika harus dijelaskan pada orang tua, mungkin akan membuat mereka berpikir ulang tentang masa depan anaknya. Diantara lain, membuat kaki meja, menyusun struktur jembatan dengan sedotan L, membuat desain perahu kano, sampai jadi bentuk fisiknya dan dites di danau samping gedung kampus, membuat buku diary visual yang menceritakan apapun yang dialami dalam satu semester, sampai pertunjukan masquerade.
Untungnya anak kosan, orang tua di rumah tidak tahu tugas anaknya hehe tapi pemilik kos sedikit mengernyitkan alis sih melihat ada ulah apalagi si anak kuliah satu ini.
Baju penuh debu amplasan, rok kena resin, jari ketusuk serat fiber, mampir ke perpustakaan bawa gergaji sepertinya adalah template hidup sehari-hari.
Saya salut pada teman-teman saya yang tetap stay cool and fresh sepanjang hari. Saya hanya bisa membatin dan bertanya "kok bisa" dalam hati.
Sidang TA-nya juga tidak hanya 2x seperti selayaknya kuliah sarjana yang lain. Di jurusan ini sidang menuju lulus sarjana ada 4x. Sidang K1 untuk menguji kelayakan hasil kuliah desain konseptual, sidang K2 untuk memaparkan progres riset dan pembuatan model awal. Sidang K3 untuk pameran hasil TA dan penilaian awal. Sidang K4 sebagai sidang akhir dan penentuan kelulusan.
Setelah sidang K4, biasanya ada waktu revisi sebelum nilai akhir keluar. Setelahnya tinggal memenuhi dokumen yudisium sambil menunggu waktu wisuda.
c. Setelah Lulus
Ternyata bisa lulus juga. Dah gitu aja hehehe bercanda.
Saya belakangan baru sadar, kenapa hanya sedikit lulusan desain produk industri yang benar-benar bergelut di bidang industri menjadi desainer produk. Ya, sederhana saja. Karena negara kita bukan negara produsen, kita negara konsumen, barang-barang yang dipakai sehari-hari sebagian besar masih produk luar negeri. Produsen dalam negeri pun tidak seluruhnya aware dengan profesi desainer produk. Maka dari itu serapan lulusan despro tidak sebanyak jurusan lain. Kadang pikiran pede saya berpikir bahwa jurusan ini terlalu visioner untuk keadaan negara saat ini. Tapi di sisi lain, jurusan ini juga menawarkan range yang cukup luas untuk memilih jenis pekerjaan setelah lulus. Sebab pembelajarannya multidisiplin.
Jadi tips untuk calon mahasiswa desain produk industri, ketika kuliah maksimalkan untuk eksplor berbagai konsentrasi desain dan mulai tentukan akan fokus kemana, hingga nantinya saat lulus sudah tahu mau jadi apa dan kemana. Tenang, ada 8 semester untuk eksplor, tidak perlu merasa harus tahu end-goalnya sejak maba (meskipun jika sudah jelas sejak awal akan lebih membantu).
Jadi, #BagaimanaRasanya menjadi mahasiswa desain produk? Rasanya senang bisa melalui fase itu, cukup menyediakan banyak cerita yang tak habis dikenang, unik dan yang paling penting dadah dadah matfiskim hehehe ketemu dikit sih yang penting ga ketemu akar dan turunan.
Salam,
A.

No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.