October 08, 2021

Jalan Terus, Ya!

Hari-hari ini kita semakin dekat dengan "halaman" kehidupan orang lain. Setiap detail kegiatan dan pencapaian bisa dilihat, bahkan saat tidak berusaha mencari tahu. Disadari atau tidak, ini bisa jadi bahan bakar yang menghanguskan kepercayaan diri sendiri. Dalam skala yang lebih besar, bisa membuat kita membandingkan diri sendiri dan orang lain, lalu lupa mensyukuri yang telah dicapai atau dimiliki.

Dalam usia berapapun ternyata memiliki tujuan yang ingin dicapai tetaplah penting. Di usia 25 tahun ini saya baru sadar akan hal itu. Dulu saya sempat berpikir, nantinya setelah cita-cita dan keinginan masa kecil sudah tercapai, lalu mau apalagi? Seiring bertambahnya usia, seringkali menginginkan sesuatu yang berbeda. Ada beberapa hal yang tetap dalam daftar keinginan, sedang yang lain telah digantikan oleh target baru. Memelihara tujuan yang perlu dicapai dengan usaha yang berkelanjutan dan dalam waktu yang cukup lama adalah salah satu tantangan terbesar. Ternyata kenyataan di usia dewasa kadang memaksa kita (atau paling tidak, saya) untuk mengubah rute, atau bahkan benar-benar merelakan sesuatu untuk hanya jadi angan selewat saja.

Hidup yang merupakan percobaan pertama bagi setiap yang menjalaninya ini, memang akan penuh ketidaksempurnaan pada perjalanannya, dan itu wajar. Menikmati perjalanan dan tetap fokus pada tujuan semakin sulit ya, akhir-akhir ini? Sepertinya dunia berputar semakin cepat, seakan berada di lomba lari setiap hari. Padahal tujuan akhirnya berbeda, bekalnya juga tidak sama, jalannya pun akan beragam rupa. Kalau sadar akan hal itu, nampaknya isi kepala yang sudah terbalut FOMO akan kembali pada titik tumpu, menyeimbangkan semangat yang hampir tumbang. Membatasi pengetahuan kita terhadap apa yang terjadi pada hidup orang lain lebih baik daripada terus membiarkan kita menumbuhkan asumsi yang tak perlu. Jika ingin tahu kabarnya, cari saja saat butuh. Bagi orang yang mudah memikirkan sesuatu dengan dalam dan detail (pada konteks yang tak selalu penting) seperti saya, ini adalah cara paling mudah mengendalikannya. 

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perjalanan memelihara tujuan dengan usaha yang berkelanjutan dan dalam waktu yang cukup lama butuh energi ekstra. Kelapangan hati dan keluwesan untuk senantiasa terbuka pada perbaikan juga jadi poin penting. Sebab, dunia tidak menawarkan keberhasilan setiap waktu kepada kita. Tidak semua usaha (yang kita pikir telah diusahakan sebaik mungkin) akan disambut hasil baik selaras dengan harapan. Kenyataan pahit, tapi itu adalah kemungkinan paling nyata yang harus diterima dan diakui adanya. Paling tidak dengan mengakui hal itu, ketika ada hasil yang tak sesuai harapan (alias gagal hehehe) kita tidak lantas tenggelam pada victim mentality. Pemikiran yang menganggap bahwa hidup ini melawan kita, menjadikan kita korban yang paling menderita. Kadang kita sudah berusaha semaksimal mungkin, bertemu kesempatan baik, namun hasilnya tetap tidak sesuai dengan harapan. Dengan menyadari bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai kehendak kita, kita bisa memulai kembali dengan membawa poin-poin perbaikan dari kegagalan sebelumnya. Sembari tetap menyiapkan hati yang lapang bila ternyata masih disambut kegagalan berikutnya. Ingat, gagal yang berkali-kali itu, bukan garansi untuk takkan pernah bertemu gagal lagi. Try again, at least when you fail, you fail better.

Apa yang kita inginkan di masa mendatang mungkin masih terlihat jauh dan sulit dicapai. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin. Sempatkan melihat diri kita di masa kini dan masa lalu, betapa banyak progres yang telah terjadi. Setidaknya, ternyata ada baiknya dulu tidak menyerah dan berhenti, ya kan? Jadi, apa ada alasan untuk menyerah dan berhenti sekarang? Tujuannya jelas, cara menuju kesana juga telah diperhitungkan, tinggal menjalaninya dengan hati yang lapang dan penuh syukur. Dunia memang tak selalu menghadiahkan kemenangan, tapi Tuhan selalu menyediakan imbalan yang pantas bagi tiap-tiap hati yang terus berjalan di jalan kebaikan. 

Ada satu kutipan dari Robert T. Kiyosaki yang cukup realistis serta bisa jadi penutup yang baik dari tulisan yang kurang runtut ini: "the size of your success is measured by: the strength of your desire, the size of your dream and how you handle dissapointment along the way"


Salam,

A.

1 comment:

  1. Terimakasih tulisan indahnya ♥️ mengingatkan diri untuk tidak terlalu panique atas pencapaian orang lain. Sebaik baik pembanding adalah diri kit di masalalu vs masa sekarang. Thabkyou nggi ♥️ di tunggu karya selanjutnyaa

    ReplyDelete

Note: only a member of this blog may post a comment.