August 21, 2021

Sembilan Tahun

21-08-2021


Angka 12 di 2012 telah berganti posisi menjadi 2021. Hari ini genap sembilan tahun Bapak pulang kembali pada Tuhan. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka bahkan menghapus duka. Tapi sayangnya, tidak semua yang orang bilang itu benar. Sampai hari ini saya masih berharap sedang dalam mimpi, namun sembilan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah bunga tidur. Ini tentu bukan mimpi ketika saya bangun setiap hari menghadapi kenyataan yang sama. Sembilan tahun dan saya masih dalam proses menerima. Mungkin ini akan jadi perjalanan pertama saya yang garis finalnya bukan di dunia.

Bapak, apa kabar?

Saya baik-baik saja. Tidak selalu, tapi hari ini kebetulan sedang baik-baik saja. Tentu saja jika ada kesempatan untuk berbagi cerita secara langsung, saya takkan membagi cerita saat sedang tidak baik-baik saja.

Hati bapak yang lembut itu, bagaimana kabarnya?

Hati saya sedikit tenang akhir-akhir ini. Saya tidak banyak membaca informasi yang tak dibutuhkan, sama seperti Bapak yang memilih tetap tidak mengenal ponsel sampai hari terakhir Bapak disini.

Bapak, apakah disana menyenangkan?

Saya harap jawabannya adalah iya dengan anggukan kepala dan senyum yang lega. Saya tidak bisa membayangkan Bapak sendirian dan ketakutan, saya harap pelukan kasih dan ampunan Tuhan menyelimuti Bapak. Jarak ini tidak jauh, pak. Tidak, karena saat ini saya bisa merasakan kebaikan Bapak ada dimana-mana. Bapak ada di tiap senyum ramah yang menyapa saya di kota yang asing. Bapak ada di semangat yang tiba-tiba muncul ketika saya jatuh sendirian. Bapak ada dalam setiap rasa syukur dan perasaan cukup di tengah dunia yang menuntut lebih. Semoga disana menyenangkan ya pak, sebagaimana Bapak berusaha mendahulukan bahagianya orang lain sebelum diri sendiri.

Bapak, nanti saat kita bertemu dan berkumpul kembali, kita masih akan punya ingatan yang sama, kan?

Saya harap Tuhan memberi kesempatan itu untuk keluarga kita. Sampai hari ini saya berusaha terus menjaga ingatan baik tentang Bapak. Sebenarnya saya begitu takut ingatan itu terkikis lalu hilang tanpa bisa saya temukan lagi. Ketika Bapak tidak disini, ingatan itu satu-satunya yang tersisa untuk dipeluk kuat-kuat supaya tetap merasa dekat. Kami tidak pernah meninggalkan Bapak di masa lalu, Bapak akan selalu hidup di hati kami.

Bapak, semoga saya bisa jadi salah satu dari tiga perkara amalan yang tak terputus untukmu. Sampai bertemu lagi, dalam waktu yang lebih lama, di keadaan yang jauh lebih membahagiakan. Di garis final itu, kita akan kembali berkumpul dan merayakan pertemuan. Semoga.


Dengan cinta,

A.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.