August 10, 2021

Seminggu Tanpa Twitter

    Seminggu bukan waktu yang lama untuk menunggu lagu atau siniar baru rilis. Seminggu juga bukan waktu yang lama untuk beraktivitas di kamar saja karena WFH. Tapi jangankan seminggu, buat saya dua jam sangat berat tanpa scrolling down linimasa twitter. Saya sangat vokal di twitter, mulai dari mengeluhkan pekerjaan sehari-hari, jadi bucin Arsenal dan BTS hingga mengomentari shitpost maupun berita faktual yang mirip shitpost. Seolah kalimat "tiada kesan tanpa kehadiranmu" di undangan ultah anak-anak itu cocok jadi motto hubungan saya dan twitter. Selama ini saya bahkan perlu bantuan timer untuk mengakomodir kebutuhan memenuhi target pekerjaan dengan tetap aktif bermain twitter. Saya merasa baik-baik saja ketika bisa menyelesaikan pekerjaan tapi tetap bermain media sosial. Sampai rasanya ingin cepat-cepat beres dan punya waktu luang untuk sekedar scrolling linimasa. Merasa bisa menyeimbangkan waktu produktif dan bermain-main tanpa sadar ternyata sudah kecanduan. Kecanduan sampai setiap buka ponsel,yang dituju pertama adalah aplikasi media sosial. Pikiran terasa penuh karena menyerap informasi yang terlalu banyak. Perhatian terbagi-bagi pada persoalan yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan diri sendiri.

    Tepat hari terakhir bulan Juli, saya menonton video yang menjelaskan tentang digital minimalism. Judul buku yang ditulis oleh Cal Newport tersebut menjelaskan tentang filosofi penggunaan teknologi ketika penggunanya dengan cermat memusatkan waktu onlinenya hanya pada hal-hal yang jelas manfaatnya. Hal ini terjadi saat seorang digital minimalist berusaha mengembalikan konsentrasi dan perhatian pada hal-hal penting di dunia nyata, tidak mudah terdistraksi dengan aplikasi di ponsel. Seorang digital minimalist akan senantiasa bertanya pada dirinya apakah aplikasi di ponselnya memberi manfaat atau tidak, jika tidak maka lebih baik diuninstall. Setelah menonton video itu saya mencoba dengan langkah kecil, mencoba sign out dari dua aplikasi sumber terbesar distraksi saya; twitter dan instagram. Karena memang hanya twitter dan ig media sosial yang ada di ponsel saya. Ya, bahkan sign out saja adalah hal yang hampir jarang saya lakukan saking kecanduannya main dua aplikasi ini. Tapi buat saya, instagram-free jauh berkali lipat lebih gampang daripada twitter-free. Karena saya buka ig tidak lebih sering daripada twitter. Hari pertama, sungguh berat rasanya. Tangan saya seperti sudah otomatis membuka aplikasi tersebut setiap saat ada waktu luang, namun karena harus sign in dan teringat sedang dalam misi menantang diri sendiri akhirnya saya batalkan niat itu. Hari ketiga akhirnya saya uninstall ig dan twitter dari ponsel saya, berikut dengan beberapa aplikasi marketplace dan berbagai aplikasi yang sudah tidak pernah saya buka dalam kurun waktu sebulan terakhir. Boom! sebanyak itu ya, sampah aplikasi yang tersimpan, hehehehe.

    Awalnya rasa ketakutan ketinggalan informasi itu sangat lekat membayangi pikiran saya. Banyak "bagaimana" yang berputar-putar di kepala. Saya takut pesan-pesan di dm tak terbalas, lalu saya pikir jika sangat penting toh seseorang bisa menghubungi saya langsung via whatsapp. Saya takut ketinggalan info Arsenal terkini, ah ternyata selalu ada google yang bisa saya jadikan tempat bertanya saat butuh. Websitenya juga selalu bisa dibuka kapan saja. Saya takut tidak tahu berita terbaru, yah mungkin ini adalah cara baru untuk baca berita langsung dari sumbernya, buka portal berita dan cari topik apa yang ingin dibaca hari itu. Cukup. Bagaimana dengan ulasan buku yang saya baca dan saya arsipkan di sorotan ig? Oh kan tetap bisa buka ig ketika perlu mengunggah saja. Kata kuncinya bukan tidak boleh, tapi dengan maksud dan keperluan apa kamu masuk kembali, hehehe.

    Ternyata seminggu tanpa twitter, tak apa.

    Saya hari ini tentu jauh dari seorang digital minimalist. Tapi langkah awal seminggu tanpa twitter ini saya rasakan betul bedanya. Saya masih akan terus melanjutkannya, karena kemarin secara tak sengaja membuka tautan artikel yang menuju ke twitter dan rasa kepo scroll-scroll itu sudah tak lagi ada. Nafsu scrolling down twitter saya sudah sangat berkurang. Sesuatu yang tidak saya sangka akan saya alami. Saya seolah kembali ke masa-masa awal kuliah sebelum punya ponsel pintar, saya sangat bisa dan biasa saja pergi keluar tanpa sibuk cek media sosial. Saya bisa memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan aktifitas non-digital seperti melukis, membaca buku, menulis jurnal, bahkan bersih-bersih kamar lebih sering dari biasanya. Jadi tidak sabar menyelesaikan daftar bacaan yg tersedia sebelum mulai membaca buku digital minimalism-nya Cal Newport, yang sudah masuk wishlist. Hal lain yang sangat terasa yaitu mulai kembalinya konsentrasi. Saya bisa memusatkan pikiran lebih lama terhadap suatu pekerjaan atau topik bahasan. Perhatian dan konsentrasi sangat penting, pastikan betul-betul dicurahkan pada kegiatan yang membawa manfaat.

"Simply put, humans aren't wired to be constantly wired." - Cal Newport

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.