Saya bukan pengagum fanatik pemerintahan negara saya sendiri. Menurut saya, mencintai tidak dengan serta merta menutup mata atas segala kesalahan atau kelalaian yang menyertainya.
Pemerintah Indonesia kerap menuai kritik dari rakyatnya sendiri, dan saya rasa itu hal biasa dalam berdemokrasi. Tidak semua keputusan sejalan dengan harapan masyarakat, tidak semua program pemerintah disampaikan dengan cara yang efektif untuk dimengerti kaum awam.
Namun dari sekian banyak keputusan dan program pemerintah yang bisa dikritik atau bahkan membuat naik pitam, ada hal-hal yang bisa kita apresiasi. Dua yang terbaik menurut saya, Bidikmisi dan BPJS Kesehatan.
Saya akan mulai dari bidikmisi karena saya pribadi adalah alumni penerima bidikmisi. Bidikmisi adalah program bantuan dana di tingkat pendidikan tinggi, ditujukan bagi mahasiswa dari keluarga miskin. Pada tahun 2014 saya mendaftar bidikmisi melalui program SNMPTN (program seleksi perguruan tinggi negeri melalui nilai rapor). Namun karena saya tidak lolos, maka pendaftaran bidikmisi saya gugur. Saya lolos melalui jalur ujian masuk desain, yang mana tidak ada slot bagi penerima bidikmisi, hanya reguler dan mandiri.
Isi formulir data calon mahasiswa menjadi bekal penentuan uang kuliah tunggal (biaya kuliah persemester) yang harus dibayar. Waktu itu saya masuk kategori penerima UKT golongan terendah, 500 ribu rupiah per semester. Jumlah yang sama dengan biaya pendaftaran ujian masuk desain ((wkwkwk)). Lalu di semester dua saya dipanggil pihak kemahasiswaan untuk melengkapi berkas, nama saya termasuk mahasiswa yang eligible sebagai penerima bidikmisi pengganti. Bidikmisi pengganti demikian sebutannya di kampus saya, adalah slot bidikmisi yang kosong karena penerima sebelumnya terbukti tidak layak setelah cross-check data, pindah kampus atau mengundurkan diri. Mulai semester 3 saya bebas UKT dan menerima uang saku 600 ribu rupiah perbulan, dikirim melalui rekening yang khusus hanya bisa menerima transaksi dari bidikmisi.
Saya sempat kecewa menemui kenyataan bahwa dalam prakteknya, tidak semua penyaluran bidikmisi tepat sasaran. Beberapa orang yang datang dari keluarga berkecukupan ditunjang bidikmisi, lalu mereka menggunakan uang bidikmisi untuk membeli barang-barang tersier. Hal yang seperti itu menimbulkan kesan buruk untuk penerima bidikmisi yang memang tepat sasaran. Juga, merebut kesempatan untuk orang lain yang lebih membutuhkan.
Bagi saya bidikmisi adalah angin segar dalam masa-masa awal kuliah. Bidikmisi meringankan beban keluarga kami, dan membawa harapan untuk kuliah sampai lulus tanpa khawatir semester depan akan bayar UKT dengan uang dari mana lagi.
Slogan bidikmisi yang berbunyi: menggapai asa, memutus rantai kemiskinan itu, nyata adanya dan terjadi pada saya, serta ribuan alumni lain. Hari ini kami punya bekal untuk memutus rantai kemiskinan di keluarga, salah satunya karena dukungan dan kesempatan dari pemerintah melalui bidikmisi.
Kedua, BPJS Kesehatan. Program jaminan kesehatan bagi masyarakat indonesia ini merupakan salah satu program yang juga sangat membantu secara langsung. Pertama kali saya menggunakan kartu kepesertaan saya adalah ketika kerja praktek di Bali. Saat itu saya didiagnosa gejala apendisitis (infeksi usus buntu). Saya menebus obat dengan kartu BPJS Kesehatan. Kali kedua saat saya menjalani pemeriksaan dan rawat jalan setelah diagnosa bronkitis. Semua biayanya ditanggung BPJS Kesehatan. Bagi mahasiswa yang jangankan dana darurat, membagi biaya makan dan biaya tugas kuliah saja kesulitan. Jaminan kesehatan yang menanggung biaya tidak terduga saat sakit ini bisa terhitung sebagai berkat. Setidaknya dalam kondisi yang belum mapan itu, iuran yang dengan sadar disisihkan tiap bulan adalah bagian dari “dana darurat” dalam sisi kesehatan.
Selain apa yang saya alami sendiri, BPJS Kesehatan juga telah terbukti efektif dan bermanfaat. BPJS Kesehatan menanggung biaya pengobatan bagi pasien, membuat layanan kesehatan terjangkau bagi semua kalangan.
Tentu tidak semua cerita tentang BPJS Kesehatan adalah rainbows and butterflies, kalau kata orang barat. Pasti ada kekurangan dan ketidaksempurnaan pada prakteknya, sewajarnya program pemerintah lainnya. Namun saya yakin, manfaatnya jauh lebih banyak lagi.
Kekurangan yang ada dalam kedua program tersebut ada untuk menjadi fokus perbaikan dari waktu ke waktu. Satu yang jelas, tujuannya baik dan terbukti efektif. Maka, semoga dapat terus berlanjut dan semakin baik.
Kadang saya bingung bahwa yang sering bikin naik pitam karena keputusan dan peraturannya ((yang cenderung tidak dipikir dengan matang)) adalah pemerintah yang sama, yang menyusun serta terus membawa manfaat dengan hadirnya bidikmisi dan BPJS Kesehatan. Begitulah hubungan antara rakyat dan negaranya, banyak keputusan bisa membuat kita murka seakan ingin ganti kewarganegaraan, namun ada juga program lain yang memantik rasa syukur bahwa kita adalah bagian darinya.
Salam,
A.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.