saya lupa alasan pertama kali membuat blog dan memutuskan untuk terus mengisinya dengan tulisan-tulisan yang biasa saja. sepertinya waktu itu saya mencari pelarian atas kehilangan terbesar pertama yang saya alami.
banyak hal yang tidak menyenangkan, dan saya selalu punya cara untuk melarikan diri darinya. saya ahli melarikan diri dari rasa sakit, denial.
waktu itu ibuk dirawat di rumah sakit. berbagai skenario berlari-larian di kepala saya. tapi saya tidak yakin telah merasa cukup khawatir. saya hanya tidur lebih lama dari hari-hari biasanya. setelah ibuk sembuh, rasa khawatir saya tidak berkurang, rasa bersalah karena tidak bisa selalu disampingnya juga semakin bertambah.
saat luka tak lagi terasa. saya bingung harus berada di titik emosi yang mana. saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia akan berakhir sendirian. tapi, saya terlihat mempersiapkannya terlalu dini. menarik diri. mengabaikan rasa sakit. menolak terikat secara emosi. belakangan saya tahu istilah yang tepat untuk perasaan ini adalah anticipatory grief. rasanya luar biasa tidak nyaman, ada perasaan ingin mempertahankan, disusul perasaan bersalah akibat membayangkan yang belum terjadi. bagi saya, kehilangan seseorang dan melalui proses berduka tidak menjadi lebih mudah seiring berlalunya waktu.
saya bisa mendeskripsikan perasaan ini dengan baik, tapi kadang saya tidak benar-benar merasakan sesuatu yang ingin saya rasakan. terlihat ada banyak hal yang saya keluarkan dan susun baik dalam tulisan, namun lebih banyak lagi perasaan yang dipendam atau bahkan disangkal. saya beruntung tubuh saya memproses stress dengan memunculkan alarm secara fisik; bagi saya yang sering menyangkal perasaan sendiri dan memendam emosi, ini adalah anugerah. saya tahu kapan harus menumpahkan seluruh perasaan dan mengakuinya dengan benar.
hari ini saya selesai membaca buku yang begitu menghangatkan hati, katanya "di dunia ini tidak ada yang namanya 100%, karena tidak ada yang sempurna". sepertinya hal itu harus saya tanamkan baik-baik dalam ingatan. saya selalu merasa luka akibat duka ini tak pernah berkurang. saya selalu menganggap kalimat "waktu akan menyembuhkan" itu omong kosong. sepuluh tahun sejak bapak saya pulang, dan tahap-tahap kedukaan itu masih bergulir seakan mengiringi putaran jarum jam.
satu hari saya bisa sangat bahagia, lapang dada, merasa yakin bahwa bapak juga akan bahagia melihat saya tersenyum. namun, di hari yang lain saya bisa menangis beberapa malam berturut-turut sampai sesak dan sembap. perasaan yang aneh, ketika bisa melanjutkan hidup, namun seolah tidak sepenuhnya merelakan ingatan tentang bapak ditelan waktu.
saat luka tak lagi terasa, saya tahu benar sakitnya tak lagi disana. hanya saja ada bekas samar nyaris tak terlihat yang bisa kapan saja memicu tangis paling keras dan sunyi sekaligus. tangis itu terdengar keras di hadapan tuhan, sebab saya acapkali menyalahkan takdir dan menjadi lebih setan daripada setan itu sendiri. tangis itu menjadi sunyi di antara deru jalanan yang tak pernah mati, di antara pintu-pintu yang tertutup rapat dimana manusianya enggan saling bertegur sapa.
saya, telah membaca berbagai macam jenis dan fase berduka, beberapa diantaranya sesuai dengan apa yang pernah terjadi dan saya alami. namun, kenyataan bahwa tak satupun teori dapat memetakan durasi berduka sedikit melegakan saya. setidaknya, saya masih bisa merasa normal walau mungkin itu tidak sesuai kenyataan.
dalam berduka, saat luka tak lagi terasa, bukan berarti kesembuhan telah di depan mata. saya berhenti minta disembuhkan, sebab penerimaan tampaknya lebih masuk akal dan mampu saya usahakan. saya tidak mungkin sembuh dari kehilangan yang begitu besar. namun saya bisa menerima bahwa tiada milik Tuhan yang mampu saya pertahankan saat diminta kembali. ternyata, manusia sanggup melanjutkan hidup dengan harapan baru sambil terus mempertahankan ingatan baik tentang masa lalu. walau mengingatnya sepaket dengan merasakan pahitnya kehilangan. untuk bapak, saya rela merasakan semuanya sekaligus, berkali-kali, seumur hidup.
sampai jumpa lagi, bapak.
(ditulis dalam rentang waktu september - desember 2022)
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.