October 09, 2021

Bagaimana Rasanya Menjadi Mahasiswa Desain Produk?

Halo, apa kabar?
Semoga di tengah kondisi yang mendukung kita untuk mengeluh dan mengumpat kita tetap memilih bersyukur dan berdoa ya, hehe.
#BagaimanaRasanya sudah masuk tulisan keempat kelima, yang tiga empat sebelumnya sudah dibaca belum? ((maap banget nulis gini, berasa laku aja ni blog WKWKWKKW))
Sebelumnya saya ragu akan menulis dengan topik ini atau ganti yang lain saja, tapi karena yang lain belum melintas di kepala jadi ya sudah, gas ae lah. (ini draft sejak september 2020, hehe hepi eniv draft)

Jadi, #BagaimanaRasanya menjadi mahasiswa desain produk? (desain produk industri lebih spesifiknya) Oh, sebentar...
Memang desain produk itu apa sih? Mengutip Karl T. Ulrich, beliau mendefinisikan desain produk adalah memahami dan memberi bentuk pada produk ataupun jasa yang memenuhi kebutuhan.

Jadi dalam #BagaimanaRasanya kali ini saya akan membaginya dalam empat poin utama ya.

1. Mata Kuliah dan Hal-hal yang Dipelajari
Disclaimer: Kurikulum di setiap kampus mungkin berbeda dan cara penilaian juga selalu berubah seiring waktu. Semua yang tertulis disini berdasar pengalaman saya sebagai mahasiswa desain produk industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember tahun 2014-2019.

    Saat saya jadi mahasiswa ada 36 Mata kuliah yang harus dipenuhi dengan total 144 sks seperti normalnya sks jenjang sarjana. Mata kuliahnya sedikit (jika dibandingkan jurusan lain) karena setiap mata kuliah beban sksnya cukup besar. Sks paling kecil adalah pendidikan agama dengan 2 sks. Sedangkan tugas akhir memiliki sks terbesar sejumlah 8 sks.
    Di semester pertama, mata kuliah jurusan yang jadi (((dasar/basic/fondasi))) adalah dasar desain produk, gambar produk dan gambar teknik. Ketiga matkul tersebut akan dilanjutkan di semester 2. Dasar desain produk mempelajari tentang titik, garis, warna, ruang dan tekstur. Mahasiswa akan mengeksplorasi perpaduan diantara hal-hal tersebut. Membuat komposisi titik dan garis baik yang hitam-putih maupun berwarna, di semester satu masih berkutat di dua dimensi, namun di semester dua akan masuk ke membuat komposisi dalam tiga dimensi. 
    Di matkul gambar produk, saya berlatih menarik garis lurus tanpa penggaris (kuncinya satu helaan napas, satu tarikan garis, bondo nekat yakin), membuat lingkaran tanpa jangka, berlatih membuat garis tebal tipis dengan satu pensil yang sama, kemudian cara menggambar produk secara proporsional lengkap dengan letak bayangannya. Dalam matkul ini penggunaan pensil tidak lama. Setelah itu, mahasiswa akan mulai menggambar dengan pulpen. Tidak bisa dihapus :)  harus yakin serta penuh perhitungan sejak awal supaya gambar produk yang dihasilkan merepresentasikan ide dengan baik dan proporsional. 
    Lalu di matkul gambar teknik, mempelajari tentang membuat gambar yang sesuai standar, sehingga lebih universal untuk dipahami orang diluar lingkup desain produk, gambar ini yang nantinya akan menjadi sarana komunikasi dari proses desain ke produksi. 
    Di semester tiga sampai delapan ada 6 mata kuliah (((inti))) yang pada masa saya kuliah hanya bisa diambil satu matkul per semester. Desain produk styling biasanya disebut perancangan satu (selanjutnya disebut sesuai urutan dalam kurikulum saat itu); mempelajari tentang proses desain produk2 apparel dan produk2 yang bisa dikenakan sebagai penunjang penampilan, sebagai contoh saat saya kuliah tugasnya membuat desain koper dan perhiasan kayu. Lalu, Desain produk appliance; mempelajari proses desain produk penunjang produktivitas manusia baik elektrik maupun manual. Saat saya kuliah saya mendesain handle manual juicer dan facade body radio. 
    Selanjutnya, desain produk furnitur; yah seperti namanya yang sudah jelas akan mempelajari proses mendesain furnitur, baik sebagai tempat menyimpan barang ataupun mengerjakan sesuatu. Kemudian yang terakhir adalah desain produk transportasi; disini tugasnya bermacam-macam mulai dari mendesain sepeda hingga mobil. Setiap luaran matkul perancangan berupa produk 1:1 atau model terskala. Lengkap dengan dokumentasi pengerjaan yang terekam dalam portfolio, gambar sketsa, gambar digital, gambar teknik serta model-model yang dibuat sebelum produk sebenarnya.
    Karena setiap luaran tugas dalam desain produk umumnya adalah produk nyata, produk fisik, maka ada matkul modelisasi manual, yang mana mahasiswa dilatih untuk menggunakan alat-alat pembantu dalam membuat model/ produk. Sebenarnya sejak semester satu juga telah dilatih untuk mulai familiar dengan modelisasi manual. Jadi bukan hal asing bagi mahasiswa desain produk untuk membawa gergaji, bor listrik ataupun resin dan serat fiber di tasnya :)
    Dalam desain produk konseptual (di jurusan lain setara dengan pra-TA) mahasiswa akan mulai menentukan topik TA-nya, bisa memilih satu dari empat perancangan inti. Lalu melakukan riset dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk TA. Sehingga ketika masuk masa TA, maka sudah bisa fokus ke perancangan produk secara lebih detail beserta strategi pemasarannya.
    Sebagai calon desainer produk, maka mahasiswa akan mempelajari tidak hanya proses mengembangkan desain, namun juga mencari latar belakang dan urgensi sebuah desain. Kadang tidak setiap masalah perlu penyelesaian dengan produk baru, hanya perlu perbaikan. Kadang juga pengembangan produk tidak harus menunggu urgensi, namun bisa juga untuk menciptakkan tren baru. Oleh karena itu mahasiswa desain produk mempelajari proses pra-desain seperti mengamati pasar dan konsumen dalam matkul tren dan gaya hidup, memahami sistem dan teknologi material supaya produk yang didesain tetap achieveable dan realistis untuk di produksi. Serta mempelajari komunikasi pemasaran sebagai dasar menentukan value atas produk yang didesain dan bagaimana mendeliver produk tersebut ke pasar.
    Secara sederhana, di jurusan desain produk industri mahasiswa akan mempelajari proses suatu produk dari tahap pembentukan konsep (ideasi), riset, desain, produksi hingga pemasaran.

2. Proses Kuliah
Jujur saya cukup lupa persentase perbandingan praktek dan teori dalam kuliah :)) hehe mianhae 
    -Kuliah di dalam kelas: dosen menyampaikan materi dan presentasi, kuliah normal selayaknya aktivitas belajar mengajar di kelas. Kelas saya saat itu cukup besar, diisi satu angkatan dalam semester awal. Mejanya juga berbeda dengan meja jurusan lain. Kursi dan meja yang menjadi satu pada umumnya adalah tempat belajar di jurusan lain, di jurusan desain produk industri, mejanya selebar kertas ukuran A0 atau A1 (((lagi-lagi lupa))) yang jelas cukup lebar untuk dipakai sendirian hehehe.
    -Kuliah di studio (di jurusan lebih familiar dengan sebutan bengkel) ada ruang untuk modelisasi, yang isinya gergaji, alat press, alat mencetak model, mesin CNC, 3d printer dll. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, jadi mahasiswa desain produk akan otomatis terbiasa memegang gergaji, mengamplas kayu, mencetak resin, sampai mengoperasikan mesin CNC. Ya, dalam pekerjaan nantinya kita mungkin tidak akan mengerjakan hal-hal tersebut, namun sebagai desainer wajib paham bagaimana proses dan cara mesin bekerja, supaya dapat memperhitungkan dan menyesuaikan dengan desain yang dibuat.
    -Kuliah tamu, biasanya dengan narasumber yang berkaitan dengan topik atau mata kulliah tertentu. Mengundang praktisi maupun alumni untuk mengajar di kelas.
    -Pameran; setiap akhir semester akan ada pameran yang menampilkan tugas besar dalam semester tersebut. Biasanya pameran dilakukan sesuai matkul, misal pameran matkul desain produk furnitur.
    -Proses penilaian tugas, biasanya dalam satu matkul, pembuatan tugas besar akan melalui proses asistensi, yaitu pemaparan ide dan progres secara rutin kepada dosen atau asisten dosen. Kemudian penilaian, dan perbaikan/revisi ketika nilai belum memenuhi batas minimal lulus. Penilaian dalam bentuk huruf A-E, dan kriteria yang dinilai juga tidak hanya produk finalnya saja. Tapi juga proses, kelengkapan portofolio, kerapian, kesesuaian ide, konsep awal dengan hasil akhir dan juga orisinalitas.

3. Prospek Pekerjaan Ketika Lulus (maupun Belum)
Prospek terbesar adalah sebagai entrepreneur. Karena ini bisa dilakukan bahkan sejak masa kuliah/ saat belum lulus. Ketika membuat produk, sudah pasti salah satu penilaiannya adalah layak/tidak untuk dijual. Dengan demikian sebenarnya, setiap hasil tugas mahasiswa desain produk adalah produk-produk yang siap dipasarkan (paling tidak hampir siap, atau butuh beberapa penyesuaian lagi)
Selain itu juga tentu saja menjadi desainer produk, bidang-bidang yang sudah memiliki role ini antara lain di bidang otomotif, menjadi Car designer, desainer di karoseri, desainer sepeda. Lalu desainer di bidang appliance, fashion designer, jewellery designer dll.
Di bidang turunannya juga bisa menjadi, desainer grafis, 3D modeller, desainer UI, desainer UX, hingga ke posisi social media strategist, product development staff, project manager sampai marketing.

4. Kesan dan Opini Pribadi
Disini sebenarnya baru masuk #BagaimanaRasanya yang sebenarnya hehehe, karena poin-poin diatas adalah fakta dan pengetahuan umum tentang kuliah desain produk industri. Maka saya akan bagi lagi dalam tiga poin;

        a. Sebelum Masuk
Saat SMA saya pertama kali tahu jurusan ini ketika kelas sebelas. Ketika itulah saya merasa "WAINI NIIIIH" karena selama sekolah saya selalu kesulitan menyesuaikan kemampuan dengan kurikulum sekolah yang penuh pelajaran eksakta (siapa suruh masuk ipa).
Saya bertekad untuk tidak kuliah di jurusan yang tidak sesuai kemampuan saya (waktu itu masih yakin kalo mampu kuliah desain WKWKWKWK)
Selain itu saya menghindari jurusan yang mengharuskan saya bertemu matematika, fisika dan kimia.
Begitulah alasan saya yang sangat berbeda dengan jawaban saat ditanya dosen di kelas, yah namanya juga maba. Saat itu ditanya mengapa ingin masuk despro dan ingin jadi apa. Saya jawab dengan naif dan mantap "Karena saya suka menggambar dan ingin jadi toys designer". Kalo inget sih lumayan pengen ngakak sampai tahun baru.
Saya ketika itu masuk lewat UMDES (Ujian Masuk Desain), di tahun 2014 ada 3 jenis seleksi, yaitu snmptn (jalur nilai rapot), sbmptn (jalur tes tulis nasional) dan ujian mandiri (jalur tes tulis institusi). Nah, karena sbmptn tidak secara spesifik mengukur kecerdasan visual yang diperlukan untuk menjadi mahasiswa desain, maka untuk masuk despro saat itu jalur tulisnya melalui UMDES.
Saya ikut UMDES karena tidak diterima saat snmptn (((ya pastilah, nilainya memprihatinkan)))
Saat itu ujiannya yang saya ingat ada lima kategori soal; verbal, musikal, motorik, kuantitatif dan visual. Di ujian kategori verbal, saya mengerjakan soal yang disajikan dalam bentuk data (tabel, grafik dll) dan menerjemahkannya dalam bentuk narasi. Selanjutnya di soal musikal, saya mendengarkan musik yang diputar panitia, selanjutnya menggambar sesuatu sesuai intrepretasi terhadap musik tersebut. Dalam soal motorik, disediakan kertas lipat dan kertas gambar untuk menjelaskan proses melipatnya. Kemudian di soal kuantitatif, menghitung efisiensi penggunaan bahan. Lalu di soal visual, menggambarkan sesuatu berdasarkan narasi yang telah diberikan.
Saat ujian itu, saya duduk di tribun gedung pusat robotika, dimana dari tempat saya duduk, meski mata minus saya cukup leluasa melihat hasil kerja peserta lain, yang mana sangat saya batasi karena akan mengganggu konsentrasi dan kepercayaan diri. Dalam ujian semacam ini mencontek adalah hal sia-sia karena model ujiannya memang akan menilai orisinalitas dan kekuatan reasoning.

        b. Ketika Kuliah
Senang sekali rasanya bisa diterima di jurusan yang diinginkan. Semester awal perkuliahan cukup menyenangkan, sebelum akhirnya menerima nilai pertama dan kaget dengan standar yang cukup tinggi. Mengolah kepekaan visual memang proses yang panjang dan awalnya sungguh berat sekali. Ketelitian, kerapian, kesesuaian dan manajemen waktu sangat diuji di mata kuliah dasar. Untuk berikutnya siap masuk ke tahap perancangan.
"ADUH KOK SULIT YA" ketika masuk perancangan satu hehehehe. Ternyata baru sadar bahwa setiap bentuk desain harus punya reasoning yang tepat, apakah sesuai kebutuhan ataukah sebetulnya bisa disimplifikasi. Ketika kuliah seringkali masukan dosen terdengar seperti kritik yang menyebalkan, namun setelah melewati mata kuliah tersebut barulah sadar, bahwa apa yang dikerjakan memang pantas melalui proses perbaikan berkali-kali.
Saya ingat pernah (lebih tepatnya, sering) dapat nilai C- atau DE- hahaha nilai harian ataupun uts. Kalau dilihat lagi sekarang ya memang kualitas tugasnya pantas dapat nilai itu. Tapi kok ya nemen. Dulu saking padatnya tugas sampai tidak ada waktu meratapi nilai buruk, jadi lebih sibuk revisi, meskipun hasilnya kadang lebih buruk lagi WKWKWKWKW (((ya nasib)))
"Kenapa ya dulu pilih ini, tapi jurusan lainpun ku tak mampu" tepat saat masuk semester akhir yang offside.
Sempat ingin menyerah ya pasti ada, namanya juga mahasiswa, saat merasa kesulitan sungguhlah merasa semua kesusahan di dunia sedang bertumpu padanya. Padahal tidak tahu saja, kehidupan setelah kuliah hm jauh lebih bikin ngelus dada.
Beruntungnya selama kuliah dikelilingi teman angkatan yang suportif dan ambisius pada levelnya masing-masing haha. Saling membantu satu sama lain sampai saling menertawakan nilai masing-masing yang sama-sama buruknya.
Persaingan dalam angkatan mungkin berbeda dengan jurusan lain, sebab meski tugasnya sama, setiap luaran tugas kami akan selalu berbeda satu sama lain. Jadi persaingan itu tidak terasa (atau mungkin saya memang tidak fokus jadi kompetitif, lebih fokus revisi lagi revisi lagi)
Tugas-tugas kuliah di jurusan ini sungguh tidak umum untuk ukuran anak kuliahan, karena memang bukan jurusan populer juga
Saat saya kuliah banyak tugas-tugas yang jika harus dijelaskan pada orang tua, mungkin akan membuat mereka berpikir ulang tentang masa depan anaknya. Diantara lain, membuat kaki meja, menyusun struktur jembatan dengan sedotan L, membuat desain perahu kano, sampai jadi bentuk fisiknya dan dites di danau samping gedung kampus, membuat buku diary visual yang menceritakan apapun yang dialami dalam satu semester, sampai pertunjukan masquerade.
Untungnya anak kosan, orang tua di rumah tidak tahu tugas anaknya hehe tapi pemilik kos sedikit mengernyitkan alis sih melihat ada ulah apalagi si anak kuliah satu ini.
Baju penuh debu amplasan, rok kena resin, jari ketusuk serat fiber, mampir ke perpustakaan bawa gergaji sepertinya adalah template hidup sehari-hari.
Saya salut pada teman-teman saya yang tetap stay cool and fresh sepanjang hari. Saya hanya bisa membatin dan bertanya "kok bisa" dalam hati.
Sidang TA-nya juga tidak hanya 2x seperti selayaknya kuliah sarjana yang lain. Di jurusan ini sidang menuju lulus sarjana ada 4x. Sidang K1 untuk menguji kelayakan hasil kuliah desain konseptual, sidang K2 untuk memaparkan progres riset dan pembuatan model awal. Sidang K3 untuk pameran hasil TA dan penilaian awal. Sidang K4 sebagai sidang akhir dan penentuan kelulusan.
Setelah sidang K4, biasanya ada waktu revisi sebelum nilai akhir keluar. Setelahnya tinggal memenuhi dokumen yudisium sambil menunggu waktu wisuda.

        c. Setelah Lulus
Ternyata bisa lulus juga. Dah gitu aja hehehe bercanda.
Saya belakangan baru sadar, kenapa hanya sedikit lulusan desain produk industri yang benar-benar bergelut di bidang industri menjadi desainer produk. Ya, sederhana saja. Karena negara kita bukan negara produsen, kita negara konsumen, barang-barang yang dipakai sehari-hari sebagian besar masih produk luar negeri. Produsen dalam negeri pun tidak seluruhnya aware dengan profesi desainer produk. Maka dari itu serapan lulusan despro tidak sebanyak jurusan lain. Kadang pikiran pede saya berpikir bahwa jurusan ini terlalu visioner untuk keadaan negara saat ini. Tapi di sisi lain, jurusan ini juga menawarkan range yang cukup luas untuk memilih jenis pekerjaan setelah lulus. Sebab pembelajarannya multidisiplin.
Jadi tips untuk calon mahasiswa desain produk industri, ketika kuliah maksimalkan untuk eksplor berbagai konsentrasi desain dan mulai tentukan akan fokus kemana, hingga nantinya saat lulus sudah tahu mau jadi apa dan kemana. Tenang, ada 8 semester untuk eksplor, tidak perlu merasa harus tahu end-goalnya sejak maba (meskipun jika sudah jelas sejak awal akan lebih membantu).


Jadi, #BagaimanaRasanya menjadi mahasiswa desain produk? Rasanya senang bisa melalui fase itu, cukup menyediakan banyak cerita yang tak habis dikenang, unik dan yang paling penting dadah dadah matfiskim hehehe ketemu dikit sih yang penting ga ketemu akar dan turunan.

Salam,
A.

October 08, 2021

Jalan Terus, Ya!

Hari-hari ini kita semakin dekat dengan "halaman" kehidupan orang lain. Setiap detail kegiatan dan pencapaian bisa dilihat, bahkan saat tidak berusaha mencari tahu. Disadari atau tidak, ini bisa jadi bahan bakar yang menghanguskan kepercayaan diri sendiri. Dalam skala yang lebih besar, bisa membuat kita membandingkan diri sendiri dan orang lain, lalu lupa mensyukuri yang telah dicapai atau dimiliki.

Dalam usia berapapun ternyata memiliki tujuan yang ingin dicapai tetaplah penting. Di usia 25 tahun ini saya baru sadar akan hal itu. Dulu saya sempat berpikir, nantinya setelah cita-cita dan keinginan masa kecil sudah tercapai, lalu mau apalagi? Seiring bertambahnya usia, seringkali menginginkan sesuatu yang berbeda. Ada beberapa hal yang tetap dalam daftar keinginan, sedang yang lain telah digantikan oleh target baru. Memelihara tujuan yang perlu dicapai dengan usaha yang berkelanjutan dan dalam waktu yang cukup lama adalah salah satu tantangan terbesar. Ternyata kenyataan di usia dewasa kadang memaksa kita (atau paling tidak, saya) untuk mengubah rute, atau bahkan benar-benar merelakan sesuatu untuk hanya jadi angan selewat saja.

Hidup yang merupakan percobaan pertama bagi setiap yang menjalaninya ini, memang akan penuh ketidaksempurnaan pada perjalanannya, dan itu wajar. Menikmati perjalanan dan tetap fokus pada tujuan semakin sulit ya, akhir-akhir ini? Sepertinya dunia berputar semakin cepat, seakan berada di lomba lari setiap hari. Padahal tujuan akhirnya berbeda, bekalnya juga tidak sama, jalannya pun akan beragam rupa. Kalau sadar akan hal itu, nampaknya isi kepala yang sudah terbalut FOMO akan kembali pada titik tumpu, menyeimbangkan semangat yang hampir tumbang. Membatasi pengetahuan kita terhadap apa yang terjadi pada hidup orang lain lebih baik daripada terus membiarkan kita menumbuhkan asumsi yang tak perlu. Jika ingin tahu kabarnya, cari saja saat butuh. Bagi orang yang mudah memikirkan sesuatu dengan dalam dan detail (pada konteks yang tak selalu penting) seperti saya, ini adalah cara paling mudah mengendalikannya. 

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perjalanan memelihara tujuan dengan usaha yang berkelanjutan dan dalam waktu yang cukup lama butuh energi ekstra. Kelapangan hati dan keluwesan untuk senantiasa terbuka pada perbaikan juga jadi poin penting. Sebab, dunia tidak menawarkan keberhasilan setiap waktu kepada kita. Tidak semua usaha (yang kita pikir telah diusahakan sebaik mungkin) akan disambut hasil baik selaras dengan harapan. Kenyataan pahit, tapi itu adalah kemungkinan paling nyata yang harus diterima dan diakui adanya. Paling tidak dengan mengakui hal itu, ketika ada hasil yang tak sesuai harapan (alias gagal hehehe) kita tidak lantas tenggelam pada victim mentality. Pemikiran yang menganggap bahwa hidup ini melawan kita, menjadikan kita korban yang paling menderita. Kadang kita sudah berusaha semaksimal mungkin, bertemu kesempatan baik, namun hasilnya tetap tidak sesuai dengan harapan. Dengan menyadari bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai kehendak kita, kita bisa memulai kembali dengan membawa poin-poin perbaikan dari kegagalan sebelumnya. Sembari tetap menyiapkan hati yang lapang bila ternyata masih disambut kegagalan berikutnya. Ingat, gagal yang berkali-kali itu, bukan garansi untuk takkan pernah bertemu gagal lagi. Try again, at least when you fail, you fail better.

Apa yang kita inginkan di masa mendatang mungkin masih terlihat jauh dan sulit dicapai. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin. Sempatkan melihat diri kita di masa kini dan masa lalu, betapa banyak progres yang telah terjadi. Setidaknya, ternyata ada baiknya dulu tidak menyerah dan berhenti, ya kan? Jadi, apa ada alasan untuk menyerah dan berhenti sekarang? Tujuannya jelas, cara menuju kesana juga telah diperhitungkan, tinggal menjalaninya dengan hati yang lapang dan penuh syukur. Dunia memang tak selalu menghadiahkan kemenangan, tapi Tuhan selalu menyediakan imbalan yang pantas bagi tiap-tiap hati yang terus berjalan di jalan kebaikan. 

Ada satu kutipan dari Robert T. Kiyosaki yang cukup realistis serta bisa jadi penutup yang baik dari tulisan yang kurang runtut ini: "the size of your success is measured by: the strength of your desire, the size of your dream and how you handle dissapointment along the way"


Salam,

A.

August 21, 2021

Sembilan Tahun

21-08-2021


Angka 12 di 2012 telah berganti posisi menjadi 2021. Hari ini genap sembilan tahun Bapak pulang kembali pada Tuhan. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka bahkan menghapus duka. Tapi sayangnya, tidak semua yang orang bilang itu benar. Sampai hari ini saya masih berharap sedang dalam mimpi, namun sembilan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah bunga tidur. Ini tentu bukan mimpi ketika saya bangun setiap hari menghadapi kenyataan yang sama. Sembilan tahun dan saya masih dalam proses menerima. Mungkin ini akan jadi perjalanan pertama saya yang garis finalnya bukan di dunia.

Bapak, apa kabar?

Saya baik-baik saja. Tidak selalu, tapi hari ini kebetulan sedang baik-baik saja. Tentu saja jika ada kesempatan untuk berbagi cerita secara langsung, saya takkan membagi cerita saat sedang tidak baik-baik saja.

Hati bapak yang lembut itu, bagaimana kabarnya?

Hati saya sedikit tenang akhir-akhir ini. Saya tidak banyak membaca informasi yang tak dibutuhkan, sama seperti Bapak yang memilih tetap tidak mengenal ponsel sampai hari terakhir Bapak disini.

Bapak, apakah disana menyenangkan?

Saya harap jawabannya adalah iya dengan anggukan kepala dan senyum yang lega. Saya tidak bisa membayangkan Bapak sendirian dan ketakutan, saya harap pelukan kasih dan ampunan Tuhan menyelimuti Bapak. Jarak ini tidak jauh, pak. Tidak, karena saat ini saya bisa merasakan kebaikan Bapak ada dimana-mana. Bapak ada di tiap senyum ramah yang menyapa saya di kota yang asing. Bapak ada di semangat yang tiba-tiba muncul ketika saya jatuh sendirian. Bapak ada dalam setiap rasa syukur dan perasaan cukup di tengah dunia yang menuntut lebih. Semoga disana menyenangkan ya pak, sebagaimana Bapak berusaha mendahulukan bahagianya orang lain sebelum diri sendiri.

Bapak, nanti saat kita bertemu dan berkumpul kembali, kita masih akan punya ingatan yang sama, kan?

Saya harap Tuhan memberi kesempatan itu untuk keluarga kita. Sampai hari ini saya berusaha terus menjaga ingatan baik tentang Bapak. Sebenarnya saya begitu takut ingatan itu terkikis lalu hilang tanpa bisa saya temukan lagi. Ketika Bapak tidak disini, ingatan itu satu-satunya yang tersisa untuk dipeluk kuat-kuat supaya tetap merasa dekat. Kami tidak pernah meninggalkan Bapak di masa lalu, Bapak akan selalu hidup di hati kami.

Bapak, semoga saya bisa jadi salah satu dari tiga perkara amalan yang tak terputus untukmu. Sampai bertemu lagi, dalam waktu yang lebih lama, di keadaan yang jauh lebih membahagiakan. Di garis final itu, kita akan kembali berkumpul dan merayakan pertemuan. Semoga.


Dengan cinta,

A.

August 14, 2021

Perpanjangan SIM Online

         Alhamdulillah, achievement unlocked tahun 2021 mengurus dokumen ala orang dewasa dengan mandiri ((claps)) eh tapi pakenya BNI sih, bukan Mandiri abis gapunya (ye garing). Jadi Agustus masa berlaku SIM C saya akan habis, sejak bulan kemarin sudah mulai panik dalam hati. Sudah berencana googling cara behave di kantor publik (lol), sudah baca cara perpanjang SIM di layanan mobil SIM keliling, eh lalu PPKM pula~~~ semakin panik. Untungnya berita soal perpanjang SIM online ini sampai juga kepada saya yang ansos. Ah intronya kepanjangan, udah deh yuk.

[PERSIAPAN]


Pertama-tama unduh dan install  3 aplikasi ini:

  1. Digital Korlantas: bisa diunduh di playstore 
  2. e-Rikkes: diunduh melalui web erikkes[dot]id
  3. ePPsi: diunduh dengan akses web eppsi[dot]id

Juga sediakan kelengkapan berikut:

  • foto formal background biru sesuai instruksi syarat perpanjangan SIM
  • scan tanda tangan diatas kertas putih
  • scan KTP dan SIM lama

[PROSES]

Masuk aplikasi pertama, verifikasi data sesuai KTP, ambil swafoto. Soal swafoto ini lumayan bikin kesel karena kameranya tidak mirror kayak kamera depan hp pada umumnya. Ikutin sesuai instruksi saja, sudah lengkap dan jelas. Pilihan satpas penerbit SIM: Dirlantas Daan Mogot, Polres Depok Margonda, Polres Jombang dan Polres Denpasar. Pilih sesuai yang terdekat dari tempat tinggal supaya ongkir lebih murah.

Lalu masuk ke aplikasi kedua untuk mengurus surat kesehatan, instruksinya jelas dan lengkap juga, pilih satpas penerbit sim nanti akan keluar tempat tes kesehatan yang harus dituju. Nah, disini adalah salah satu “loh” momen, katanya online kok tetap harus keluar rumah? ☹ Tapi ketika coba pindah satpas metro jaya, ini (mungkin) satu-satunya satpas yang bisa tes kesehatan online, karena alamat dokter yg ditunjuk tidak muncul. Lanjut, saya mengisi kuesioner kesehatan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, ada surat kesehatan dalam bentuk pdf, unduh dulu.

Lanjut ke aplikasi ketiga, sebelum tes psikologi, harus bayar voucher/tiket untuk bisa mengakses soal. Bayarnya via virtual account BNI. Soalnya cukup banyak, pastikan menyediakan waktu yang cukup, situasi kondusif dan jaringan internet yang baik. Tes psikologi terdiri dari 100 soal tes kepribadian dan 10 soal tes kecermatan. Dari tes psikologi, soal kecermatan adalah yang paling menantang buat saya karena angkanya banyak sekali. Karena hanya 10 soal, tapi tiap soal ada 45 kolom😊 Cukup kaget awalnya, saya pikir soal hitungan, ternyata mencocokkan pasangan angka dan huruf. Sama seperti aplikasi sebelumnya setelah dinyatakan memenuhi syarat, ada hasil tes dalam bentuk pdf untuk diunduh.

Setelah dokumen lengkap, kembali ke aplikasi digital korlantas untuk mengisi form perpanjangan SIM. Harus menyiapkan nomor rekening juga untuk menerima pengembalian dana apabila SIM tidak disetujui untuk diproses lebih lanjut. Ada pilihan untuk mengambil sendiri SIM di satpas penerbit atau dikirim melalui Pos.

[BIAYA]

    Total transaksi saya sebesar Rp. 145.900, dengan rincian Rp. 118.400 untuk biaya perpanjangan, pengemasan dan pengiriman dengan pos express dari Jakarta Barat ke Jakarta Selatan, dan Rp. 27.500 untuk biaya tes psikologi.

[TIMELINE]

    Proses perpanjangan SIM saya dengan pilihan satpas Metro Jaya, dirlantas daan mogot (durasi dari status registrasi/dibayar berubah ke diproses berbeda-beda tergantung antrean dan pilihan satpas):


23 Juli: Registrasi (meliputi pemenuhan dokumen kesehatan+psikologi dan pembayaran)

9 Agustus: SIM diproses

13 Agustus: SIM selesai diproses dan dikirim

14 Agustus: SIM saya terima.

    Kesannya sangat menyenangkan, karena betul-betul tidak perlu keluar rumah. Hanya perlu sekali buka pintu, untuk ambil paket saja 😊 Juga bisa punya dokumen resmi dengan pas foto yang sesuai kehendak hati karena fotonya disiapkan sendiri. Sebagai pengalaman pertama mengurus perpanjangan sim dari saya yang ansos ini bintang 4,5. Bisa jadi 5 kalau kamera swafotonya mirror dan aplikasinya bisa diringkas jadi 3-in-1. Tapi pengembangan ini sudah suatu langkah yang keren. Karena yang online-online di level dokumen resmi ini biasanya sedikit hehegitudehhehe tapi kali ini bisa dapat jempol.

Bismillah… pengin apa jadi apa ya… hmmm. HAHAHAHAHA.

    Dalam aplikasi digital korlantas, menu yang bisa diakses masih terbatas di perpanjangan SIM saja, masih banyak yang harus diperbaiki. Salah satu yang paling terlihat adalah notifikasi progres perpanjangan SIM. Waktu yang ada di notifikasi adalah waktu terkini saat kita membuka tab notif, bukan kapan progres tersebut terjadi :”) Oh ya ada fitur digitalisasi SIM juga, dimana kameranya akan mendeteksi nomor SIM ketika kita arahkan ke kartu fisik. Lalu kita melengkapi data sesuai yang tertera di SIM. hehe digitalisasi tapi manual :") setelah selesai maka, kartu SIM dalam bentuk image akan muncul di aplikasi digital korlantas. Sempat excited saya pikir ketika sudah muncul kartu di aplikasi, maka tidak perlu bawa/menunjukkan kartu fisik. hehe ternyata tidak hehe hanya sebagai pelengkap saja. Saya belum tau pelengkap maksudnya apa.


    Untuk yang berniat mengurus perpanjangan SIM online kuncinya: cermat dan sabar. Baca instruksi dengan lengkap dan sabar dengan prosesnya. Perpanjangan SIM bisa diurus H-90 sebelum tanggal kadaluarsa. Luangkan waktu setidaknya sebulan sebelumnya, supaya jika antrean panjang dan proses cukup lama tidak perlu panik dalam hati. ((sfx s*sca k*hl)) Aku suka sekaliiii, Mari kita cobaaaaaaaa!!


Salam,

A.

August 10, 2021

Seminggu Tanpa Twitter

    Seminggu bukan waktu yang lama untuk menunggu lagu atau siniar baru rilis. Seminggu juga bukan waktu yang lama untuk beraktivitas di kamar saja karena WFH. Tapi jangankan seminggu, buat saya dua jam sangat berat tanpa scrolling down linimasa twitter. Saya sangat vokal di twitter, mulai dari mengeluhkan pekerjaan sehari-hari, jadi bucin Arsenal dan BTS hingga mengomentari shitpost maupun berita faktual yang mirip shitpost. Seolah kalimat "tiada kesan tanpa kehadiranmu" di undangan ultah anak-anak itu cocok jadi motto hubungan saya dan twitter. Selama ini saya bahkan perlu bantuan timer untuk mengakomodir kebutuhan memenuhi target pekerjaan dengan tetap aktif bermain twitter. Saya merasa baik-baik saja ketika bisa menyelesaikan pekerjaan tapi tetap bermain media sosial. Sampai rasanya ingin cepat-cepat beres dan punya waktu luang untuk sekedar scrolling linimasa. Merasa bisa menyeimbangkan waktu produktif dan bermain-main tanpa sadar ternyata sudah kecanduan. Kecanduan sampai setiap buka ponsel,yang dituju pertama adalah aplikasi media sosial. Pikiran terasa penuh karena menyerap informasi yang terlalu banyak. Perhatian terbagi-bagi pada persoalan yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan diri sendiri.

    Tepat hari terakhir bulan Juli, saya menonton video yang menjelaskan tentang digital minimalism. Judul buku yang ditulis oleh Cal Newport tersebut menjelaskan tentang filosofi penggunaan teknologi ketika penggunanya dengan cermat memusatkan waktu onlinenya hanya pada hal-hal yang jelas manfaatnya. Hal ini terjadi saat seorang digital minimalist berusaha mengembalikan konsentrasi dan perhatian pada hal-hal penting di dunia nyata, tidak mudah terdistraksi dengan aplikasi di ponsel. Seorang digital minimalist akan senantiasa bertanya pada dirinya apakah aplikasi di ponselnya memberi manfaat atau tidak, jika tidak maka lebih baik diuninstall. Setelah menonton video itu saya mencoba dengan langkah kecil, mencoba sign out dari dua aplikasi sumber terbesar distraksi saya; twitter dan instagram. Karena memang hanya twitter dan ig media sosial yang ada di ponsel saya. Ya, bahkan sign out saja adalah hal yang hampir jarang saya lakukan saking kecanduannya main dua aplikasi ini. Tapi buat saya, instagram-free jauh berkali lipat lebih gampang daripada twitter-free. Karena saya buka ig tidak lebih sering daripada twitter. Hari pertama, sungguh berat rasanya. Tangan saya seperti sudah otomatis membuka aplikasi tersebut setiap saat ada waktu luang, namun karena harus sign in dan teringat sedang dalam misi menantang diri sendiri akhirnya saya batalkan niat itu. Hari ketiga akhirnya saya uninstall ig dan twitter dari ponsel saya, berikut dengan beberapa aplikasi marketplace dan berbagai aplikasi yang sudah tidak pernah saya buka dalam kurun waktu sebulan terakhir. Boom! sebanyak itu ya, sampah aplikasi yang tersimpan, hehehehe.

    Awalnya rasa ketakutan ketinggalan informasi itu sangat lekat membayangi pikiran saya. Banyak "bagaimana" yang berputar-putar di kepala. Saya takut pesan-pesan di dm tak terbalas, lalu saya pikir jika sangat penting toh seseorang bisa menghubungi saya langsung via whatsapp. Saya takut ketinggalan info Arsenal terkini, ah ternyata selalu ada google yang bisa saya jadikan tempat bertanya saat butuh. Websitenya juga selalu bisa dibuka kapan saja. Saya takut tidak tahu berita terbaru, yah mungkin ini adalah cara baru untuk baca berita langsung dari sumbernya, buka portal berita dan cari topik apa yang ingin dibaca hari itu. Cukup. Bagaimana dengan ulasan buku yang saya baca dan saya arsipkan di sorotan ig? Oh kan tetap bisa buka ig ketika perlu mengunggah saja. Kata kuncinya bukan tidak boleh, tapi dengan maksud dan keperluan apa kamu masuk kembali, hehehe.

    Ternyata seminggu tanpa twitter, tak apa.

    Saya hari ini tentu jauh dari seorang digital minimalist. Tapi langkah awal seminggu tanpa twitter ini saya rasakan betul bedanya. Saya masih akan terus melanjutkannya, karena kemarin secara tak sengaja membuka tautan artikel yang menuju ke twitter dan rasa kepo scroll-scroll itu sudah tak lagi ada. Nafsu scrolling down twitter saya sudah sangat berkurang. Sesuatu yang tidak saya sangka akan saya alami. Saya seolah kembali ke masa-masa awal kuliah sebelum punya ponsel pintar, saya sangat bisa dan biasa saja pergi keluar tanpa sibuk cek media sosial. Saya bisa memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan aktifitas non-digital seperti melukis, membaca buku, menulis jurnal, bahkan bersih-bersih kamar lebih sering dari biasanya. Jadi tidak sabar menyelesaikan daftar bacaan yg tersedia sebelum mulai membaca buku digital minimalism-nya Cal Newport, yang sudah masuk wishlist. Hal lain yang sangat terasa yaitu mulai kembalinya konsentrasi. Saya bisa memusatkan pikiran lebih lama terhadap suatu pekerjaan atau topik bahasan. Perhatian dan konsentrasi sangat penting, pastikan betul-betul dicurahkan pada kegiatan yang membawa manfaat.

"Simply put, humans aren't wired to be constantly wired." - Cal Newport

July 20, 2021

Trauma

I have experienced something bad a lot before, it’s not new stuff to me. However, this kind of trauma has knocked me down. I might deny all the effects by saying “Nah bish, it’s just me being a sensitive cry baby”. The word trauma itself was a very sensitive topic for me. I didn’t think I have experienced something that bad to be called trauma. It turns out that trauma effects are very different from one person to another. The triggers are also very diverse, even the slightest change of voice or any kind of smell that came from nowhere could trigger your trauma. You’ll suddenly face something terrible that you may consider as a case-closed. Last year was one of the hardest times that ever happened to me. I cried out almost every day during lunchtime. In my room, whenever I remember those days, I’m trembling and feeling an unfamiliar sore in my chest yet I’m still thinking that was an exaggerated response. I used to hate myself for staying too long on victim mentality. I’m trying my best to exercise, read a book, and looking for anything good as my distraction. 

Finally, I acknowledged something after being denial and thinking that I'm okay, I'm doing great. The fact is NO, I'm not okay at all. I cried myself to sleep, I haven't told anyone. Indeed, I have not suffered any losses, my whole body functions normally, but I do lose my trust. Infidelity betrayed me so bad even though it didn't even threaten my safety at all.

Somebody might say it's just a matter of altered feelings and blurry closure. Somebody might tell me to keep calm and let the time heals everything. On the contrary, they keep bringing all my past stories as a joke, albeit I kneeled and asked them to stop. One thing they don’t even know is I’ve tried so hard to cope with this shit. I have had enough.

If you’re sane enough and ever heard about empathy, at least be mindful of every joke you picked out. Don’t you dare mocking anyone’s battlefield you know nothing about, especially the one they've told you not to. Be wise, you little prick! Hope you'll never walk the path as painful as mine.

July 03, 2021

Ketika Dewasa

    Dulu saat masih jadi anak kecil, saya tidak tahu kenapa orang-orang dewasa marah kepada pembuat kebijakan. Saya hanya melihat orang dewasa berteriak, protes dan murka pada tiap keputusan. Selalu membuat saya bertanya-tanya apa salahnya sebuah peraturan, mengapa mereka marah? Bahkan menurut saya saat itu, memang semua orang dewasa akan menjadikan marah sebagai hobi. Setiap hal kecil seakan layak untuk mereka kritisi. Saya tidak mengerti kenapa. Anak kecil tidak merasakan langsung efek setiap peraturan dan keputusan di sekeliling orang dewasa. Ketika dewasa, saya baru tahu. Tak semua efek peraturan dan keputusan itu manis, itu sebabnya mereka marah. Ketidaktegasan disana sini, konsistensi tak sejalan pemenuhan visi, semuanya menambah berat beban pikiran orang dewasa yang mulanya memang sudah tak mudah.

    Dulu saya tak pernah menyangka bahwa orang dewasa bahkan bisa marah kepada dirinya sendiri. Anak kecil tidak pernah marah kepada dirinya sendiri, setidaknya itu yang saya alami. Sejelek apapun karya yang saya buat semasa kecil, saya tidak pernah menyalahkan diri sendiri. Tumbuh dewasa dengan banyak mendengarkan suara-suara dari sekitar, jiwa anak kecil ini perlahan pudar. Kalimat dari orang lain bisa dengan mudah menyudutkan dan kita benar-benar membawanya menjadi topik utama di dalam kepala, berhari-hari, berlarut-larut. Akibatnya banyak, salah satunya adalah marah pada diri sendiri. Orang dewasa yang seperti saya harusnya tak terjebak pakem orang lain, orang dewasa mestinya mampu memisahkan mana kalimat konstruktif dan destruktif. Orang dewasa tak perlu marah kepada dirinya sendiri, dunia telah menawarkan berbagai masalah yang cukup untuk kita merasa marah. Tak perlulah menambah beban di pundak.

    Ketika dewasa, kita perlu mendefinisikan marah-marah supaya punya arah, tak sekedar keluar sebagai obrolan sampah. Marah yang baik hanya jika menyokong langkah mendekati perubahan. Marah yang baik hanya jika tak menimbulkan luka pada manusia lain. Lalu ketika semua marahnya orang dewasa seperti saya tak secuilpun merepresentasikan hal diatas, mengapa dibiarkan tumpah? Padahal selayaknya, orang dewasa bisa memilah lebih baik dari anak kecil. Orang dewasa 0 – anak kecil 1. Mari menyiapkan filter berlapis-lapis agar tak termasuk golongan orang dewasa yang pemarah.
   
    Dulu saat masih jadi anak kecil saya tidak mengerti mengapa ada urusan yang harus diprioritaskan diantara sekian banyak daftar. Ketika dewasa, saya baru tahu bahwa tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan sekaligus, tak semua kemauan bisa dijalankan bersamaan, tak setiap keinginan bisa dituntaskan seluruhnya. Orang dewasa mungkin terlihat bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tapi sebagai mantan anak kecil tentu pengalaman bertanggung jawab atas diri sendiri ini tetaplah bukan hal mudah. Makanan sehari-hari yang terasa gratis saat jadi anak-anak, kini menjadi perhitungan setiap awal bulan. Anak kecil merasa bebas dan bahagia karena tak terikat tanggung jawab bahkan atas dirinya sendiri, jadi apakah kita harus melepas tanggung jawab supaya bisa bahagia? Tentu saja tidak. Ketika kita lihat lebih dekat, atau dengan mengingat sedikit saja tentang pengalaman sebagai anak kecil. Mereka merasa bebas dan bahagia bukan karena tidak memiliki tanggung jawab, tapi lebih karena mereka tidak membawa kalimat-kalimat negatif dan standar manusia lain ke dalam dirinya. Anak kecil memeluk erat mimpi dan kesenangannya. Mereka menangis sesekali supaya merasa lega, anak kecil tidak menutupi emosi negatif hanya supaya terlihat kuat. Anak kecil jujur terhadap apa yang sedang dirasakan. Mungkin ketika dewasa, kita perlu tetap memeluk erat mimpi dan seluruh hal yang membahagiakan. Sesulit apapun mimpi itu, sejauh apapun jarak antara cita-cita dan perwujudannya. Harapan baik menjaga langkah kita tetap di jalur yang seharusnya. Dan menangis sesekali bukan aib orang dewasa, toh manusia punya kelenjar air mata memang ada fungsinya. Kurang elok menolak kenyataan bahwa kita seringkali merasa tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa mengatasinya jika kita memalingkan muka terhadap penyebabnya?

    Sebelum jauh mencari inspirasi dari luar diri, ada baiknya menengok pengalaman sendiri sebagai anak kecil. Anak kecil yang berani mencoba hal baru, tidak takut salah, dan melihat seisi dunia dengan kacamata kebaikan, kira-kira jejaknya ada dimana ya? Kita berjalan di sepatu anak kecil itu, mungkin kita bukan harus menjadi, hanya perlu kembali.
    
    Ketika dewasa, kita perlu kembali mengenali diri sendiri. Mencari sesuatu yang pernah jadi kebiasaan supaya kembali tergenggam tangan. Kita perlu kembali memeluk mimpi, berkali-kali.

Salam.
a.
 
 

February 08, 2021

Selektif

    2021 sudah genap melewati seminggu pertama di bulan kedua. Januari saya lewatkan dengan banyak mencatat dan mengingat ulang apa saja yang belum sempat ditunaikan di tahun 2020. Tahun terberat setelah 2012. Jatuh bertubi-tubi dan berusaha mengangkat dagu sendiri, Juggling dua muka setiap hari; muka profesional saat dibawa ke tempat kerja dan muka manusia biasa penuh letupan emosi. Sebagai leo dengan gengsi teramat tinggi, tampil dengan kondisi psikis yang luluh lantak tentu bukan pilihan. Saya di 2020 mati-matian terlihat biasa saja di tempat kerja, padahal setiap jam makan siang, selalu menyempatkan diri tuk menangis sebentar di toilet. Mencoba berbagai usaha untuk mengalihkan perhatian supaya tidak terus fokus pada kepahitan, dengan olahraga, masak, membaca buku, jalan-jalan sendirian, pulang. Sampai pada titik dimana seluruh air mata tumpah selama beberapa hari setiap malam, waktu itu rasanya saya sudah bertekad bulat untuk rerouting; menulis ulang semua rencana, mewujudkannya sedikit demi sedikit dan fokus terhadap apa yang ada dalam kendali saya sendiri.

Februari: Selektif.

    Menurut KBBI selektif bermakna dengan melalui seleksi atau penyaringan; secara dipilih dan atau mempunyai daya pilih. Saya cukup rapi membingkai kenangan, membukukan ingatan, setiap hal secara rapi saya tumpahkan dalam tulisan, hingga di satu waktu ketika kenangan dan ingatan itu telah tidak relevan lagi, saya kewalahan mengelolanya. Saya menyobek banyak lembar buku catatan, melipatnya supaya tidak terbaca lagi, menertawakan catatan lama nan impulsif di blog ini. Saya hanya pandai mengabadikan kenangan tapi tidak cukup selektif dalam menakar mana yang akan berumur panjang dan mana yang kiranya akan berakhir di tempat sampah. Tapi kecerobohan saya itu tidak membuat saya menghapus tulisan yang sudah terbit, karena dari awal dibuat blog ini memang ditujukan sebagai media yang paling akurat mengarsipkan perjalanan dan perasaan saya. Saya melihat bagaimana saya berkembang menjadi pribadi baru yang berbeda dari beberapa tahun silam. Kelak saya akan banyak belajar dari saya yang sekarang.

    Perempuan dalam sepanjang hidupnya mungkin tak memilih sebebas dan sebanyak lelaki. Namun selama kesempatan itu ada, dan ketika mungkin dilakukan maka ada baiknya untuk memilih dengan selektif setiap yang menghampiri kita (konteks tulisan ini tidak sebatas tentang relasi perempuan & laki-laki). Setiap emosi yang disebabkan oleh kejadian diluar kendali kita pun harus secara selektif kita pilah, mana yang perlu diperhatikan dan dibreakdown sampai tuntas, mana yang hanya perlu sekedar diacknowledge kehadirannya untuk kemudian dilepaskan.

    Di 2020 saya yakin betul saya tidak pernah memilih untuk jadi satu-satunya yang ditinggalkan dan menangis sendirian. Tapi itu terjadi dan saya harus menghadapi serta menangani itu sendiri. Saya membereskan damage yang disebabkan orang lain, mungkin karena dulu saya tidak selektif terhadap siapa yang boleh masuk inner circle saya. Lesson learned: saya harus selektif untuk memercayai kepala-kepala baru yang nantinya akan saya temui.

    Di 2020 saya juga mengalami guncangan finansial luar biasa, saya membereskan semua carut-marut dompet saya sendiri, karena di awal tahun saya tidak selektif menimbang mana yang penting mendesak untuk dibeli dan mana yang tidak, akibatnya saya harus berada di kondisi sulit ketika pandemi dan penyesuaian kantor mulai dilakukan. Setelah semua kondisi berbalik normal, lesson learned: saya harus selektif pada pengeluaran dengan uang yang dihasilkan secara susah payah hahaha

    Hari ini sepulang kerja, hujan deras sekali memaksa saya pulang dengan kondisi kaki dan sepatu basah kuyup, beruntung pesanan ayam taliwang sudah menunggu di gerbang kosan. Rencananya setelah bebersih saya akan langsung rebahan dan bermalas-malasan scrolling for nothing, nyatanya hei! saya disini membuka laptop dan menulis di blog lagi, mencuci baju dan menyikat lantai kamar mandi, serta akan menyalin catatan di kantor tadi siang. Kadang upaya melawan kemalasan ini adalah momen kemenangan kecil yang patut dirayakan, sebab apa? tentu sebab ini adalah salah satu tanda kemajuan, karena Anggi hari ini sudah lebih selektif memilah kegiatan apa saja yang bermanfaat dilakukan di waktu luang. Karena waktu luang itu melenakan, membuat kita selalu merasa cukup dan menunda-nunda. Jadi hari ini one nil to myself ya!!! hehehe Anggi 1 - kemalasan 0 :P

Cheers to a better year ahead, hehe it may not be easy but keep doing whatever floats your boat :) kan tiap-tiap dari kita akan sampai pada tujuan selama kita terus berjalan pada jalanNya~ YEAYYYY

Salam,

A.