July 03, 2021

Ketika Dewasa

    Dulu saat masih jadi anak kecil, saya tidak tahu kenapa orang-orang dewasa marah kepada pembuat kebijakan. Saya hanya melihat orang dewasa berteriak, protes dan murka pada tiap keputusan. Selalu membuat saya bertanya-tanya apa salahnya sebuah peraturan, mengapa mereka marah? Bahkan menurut saya saat itu, memang semua orang dewasa akan menjadikan marah sebagai hobi. Setiap hal kecil seakan layak untuk mereka kritisi. Saya tidak mengerti kenapa. Anak kecil tidak merasakan langsung efek setiap peraturan dan keputusan di sekeliling orang dewasa. Ketika dewasa, saya baru tahu. Tak semua efek peraturan dan keputusan itu manis, itu sebabnya mereka marah. Ketidaktegasan disana sini, konsistensi tak sejalan pemenuhan visi, semuanya menambah berat beban pikiran orang dewasa yang mulanya memang sudah tak mudah.

    Dulu saya tak pernah menyangka bahwa orang dewasa bahkan bisa marah kepada dirinya sendiri. Anak kecil tidak pernah marah kepada dirinya sendiri, setidaknya itu yang saya alami. Sejelek apapun karya yang saya buat semasa kecil, saya tidak pernah menyalahkan diri sendiri. Tumbuh dewasa dengan banyak mendengarkan suara-suara dari sekitar, jiwa anak kecil ini perlahan pudar. Kalimat dari orang lain bisa dengan mudah menyudutkan dan kita benar-benar membawanya menjadi topik utama di dalam kepala, berhari-hari, berlarut-larut. Akibatnya banyak, salah satunya adalah marah pada diri sendiri. Orang dewasa yang seperti saya harusnya tak terjebak pakem orang lain, orang dewasa mestinya mampu memisahkan mana kalimat konstruktif dan destruktif. Orang dewasa tak perlu marah kepada dirinya sendiri, dunia telah menawarkan berbagai masalah yang cukup untuk kita merasa marah. Tak perlulah menambah beban di pundak.

    Ketika dewasa, kita perlu mendefinisikan marah-marah supaya punya arah, tak sekedar keluar sebagai obrolan sampah. Marah yang baik hanya jika menyokong langkah mendekati perubahan. Marah yang baik hanya jika tak menimbulkan luka pada manusia lain. Lalu ketika semua marahnya orang dewasa seperti saya tak secuilpun merepresentasikan hal diatas, mengapa dibiarkan tumpah? Padahal selayaknya, orang dewasa bisa memilah lebih baik dari anak kecil. Orang dewasa 0 – anak kecil 1. Mari menyiapkan filter berlapis-lapis agar tak termasuk golongan orang dewasa yang pemarah.
   
    Dulu saat masih jadi anak kecil saya tidak mengerti mengapa ada urusan yang harus diprioritaskan diantara sekian banyak daftar. Ketika dewasa, saya baru tahu bahwa tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan sekaligus, tak semua kemauan bisa dijalankan bersamaan, tak setiap keinginan bisa dituntaskan seluruhnya. Orang dewasa mungkin terlihat bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tapi sebagai mantan anak kecil tentu pengalaman bertanggung jawab atas diri sendiri ini tetaplah bukan hal mudah. Makanan sehari-hari yang terasa gratis saat jadi anak-anak, kini menjadi perhitungan setiap awal bulan. Anak kecil merasa bebas dan bahagia karena tak terikat tanggung jawab bahkan atas dirinya sendiri, jadi apakah kita harus melepas tanggung jawab supaya bisa bahagia? Tentu saja tidak. Ketika kita lihat lebih dekat, atau dengan mengingat sedikit saja tentang pengalaman sebagai anak kecil. Mereka merasa bebas dan bahagia bukan karena tidak memiliki tanggung jawab, tapi lebih karena mereka tidak membawa kalimat-kalimat negatif dan standar manusia lain ke dalam dirinya. Anak kecil memeluk erat mimpi dan kesenangannya. Mereka menangis sesekali supaya merasa lega, anak kecil tidak menutupi emosi negatif hanya supaya terlihat kuat. Anak kecil jujur terhadap apa yang sedang dirasakan. Mungkin ketika dewasa, kita perlu tetap memeluk erat mimpi dan seluruh hal yang membahagiakan. Sesulit apapun mimpi itu, sejauh apapun jarak antara cita-cita dan perwujudannya. Harapan baik menjaga langkah kita tetap di jalur yang seharusnya. Dan menangis sesekali bukan aib orang dewasa, toh manusia punya kelenjar air mata memang ada fungsinya. Kurang elok menolak kenyataan bahwa kita seringkali merasa tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa mengatasinya jika kita memalingkan muka terhadap penyebabnya?

    Sebelum jauh mencari inspirasi dari luar diri, ada baiknya menengok pengalaman sendiri sebagai anak kecil. Anak kecil yang berani mencoba hal baru, tidak takut salah, dan melihat seisi dunia dengan kacamata kebaikan, kira-kira jejaknya ada dimana ya? Kita berjalan di sepatu anak kecil itu, mungkin kita bukan harus menjadi, hanya perlu kembali.
    
    Ketika dewasa, kita perlu kembali mengenali diri sendiri. Mencari sesuatu yang pernah jadi kebiasaan supaya kembali tergenggam tangan. Kita perlu kembali memeluk mimpi, berkali-kali.

Salam.
a.
 
 

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.