Dulu saat masih jadi
anak kecil, saya tidak tahu kenapa orang-orang dewasa marah kepada pembuat
kebijakan. Saya hanya melihat orang dewasa berteriak, protes dan murka pada
tiap keputusan. Selalu membuat saya bertanya-tanya apa salahnya sebuah peraturan,
mengapa mereka marah? Bahkan menurut saya saat itu, memang semua orang dewasa
akan menjadikan marah sebagai hobi. Setiap hal kecil seakan layak untuk mereka
kritisi. Saya tidak mengerti kenapa. Anak kecil tidak merasakan langsung efek
setiap peraturan dan keputusan di sekeliling orang dewasa. Ketika dewasa, saya
baru tahu. Tak semua efek peraturan dan keputusan itu manis, itu sebabnya
mereka marah. Ketidaktegasan disana sini, konsistensi tak sejalan pemenuhan
visi, semuanya menambah berat beban pikiran orang dewasa yang mulanya memang
sudah tak mudah.
Dulu saya
tak pernah menyangka bahwa orang dewasa bahkan bisa marah kepada dirinya
sendiri. Anak kecil tidak pernah marah kepada dirinya sendiri, setidaknya itu
yang saya alami. Sejelek apapun karya yang saya buat semasa kecil, saya tidak
pernah menyalahkan diri sendiri. Tumbuh dewasa dengan banyak mendengarkan suara-suara
dari sekitar, jiwa anak kecil ini perlahan pudar. Kalimat dari orang lain bisa
dengan mudah menyudutkan dan kita benar-benar membawanya menjadi topik utama di
dalam kepala, berhari-hari, berlarut-larut. Akibatnya banyak, salah satunya
adalah marah pada diri sendiri. Orang dewasa yang seperti saya harusnya tak
terjebak pakem orang lain, orang dewasa mestinya mampu memisahkan mana kalimat
konstruktif dan destruktif. Orang dewasa tak perlu marah kepada dirinya
sendiri, dunia telah menawarkan berbagai masalah yang cukup untuk kita merasa
marah. Tak perlulah menambah beban di pundak.
Ketika dewasa, kita perlu
mendefinisikan marah-marah supaya punya arah, tak sekedar keluar sebagai
obrolan sampah. Marah yang baik hanya jika menyokong langkah mendekati
perubahan. Marah yang baik hanya jika tak menimbulkan luka pada manusia lain. Lalu
ketika semua marahnya orang dewasa seperti saya tak secuilpun merepresentasikan
hal diatas, mengapa dibiarkan tumpah? Padahal selayaknya, orang dewasa bisa
memilah lebih baik dari anak kecil. Orang dewasa 0 – anak kecil 1. Mari menyiapkan
filter berlapis-lapis agar tak termasuk golongan orang dewasa yang pemarah.
Dulu saat
masih jadi anak kecil saya tidak mengerti mengapa ada urusan yang harus
diprioritaskan diantara sekian banyak daftar. Ketika dewasa, saya baru tahu
bahwa tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan sekaligus, tak semua kemauan bisa
dijalankan bersamaan, tak setiap keinginan bisa dituntaskan seluruhnya. Orang
dewasa mungkin terlihat bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tapi sebagai
mantan anak kecil tentu pengalaman bertanggung jawab atas diri sendiri ini
tetaplah bukan hal mudah. Makanan sehari-hari yang terasa gratis saat jadi
anak-anak, kini menjadi perhitungan setiap awal bulan. Anak kecil merasa bebas
dan bahagia karena tak terikat tanggung jawab bahkan atas dirinya sendiri, jadi
apakah kita harus melepas tanggung jawab supaya bisa bahagia? Tentu saja tidak.
Ketika kita lihat lebih dekat, atau dengan mengingat sedikit saja tentang
pengalaman sebagai anak kecil. Mereka merasa bebas dan bahagia bukan karena
tidak memiliki tanggung jawab, tapi lebih karena mereka tidak membawa
kalimat-kalimat negatif dan standar manusia lain ke dalam dirinya. Anak kecil
memeluk erat mimpi dan kesenangannya. Mereka menangis sesekali supaya merasa
lega, anak kecil tidak menutupi emosi negatif hanya supaya terlihat kuat. Anak kecil
jujur terhadap apa yang sedang dirasakan. Mungkin ketika dewasa, kita perlu
tetap memeluk erat mimpi dan seluruh hal yang membahagiakan. Sesulit apapun
mimpi itu, sejauh apapun jarak antara cita-cita dan perwujudannya. Harapan baik
menjaga langkah kita tetap di jalur yang seharusnya. Dan menangis sesekali
bukan aib orang dewasa, toh manusia punya kelenjar air mata memang ada
fungsinya. Kurang elok menolak kenyataan bahwa kita seringkali merasa tidak baik-baik
saja. Bagaimana bisa mengatasinya jika kita memalingkan muka terhadap
penyebabnya?
Sebelum jauh mencari inspirasi
dari luar diri, ada baiknya menengok pengalaman sendiri sebagai anak kecil. Anak
kecil yang berani mencoba hal baru, tidak takut salah, dan melihat seisi dunia
dengan kacamata kebaikan, kira-kira jejaknya ada dimana ya? Kita berjalan di
sepatu anak kecil itu, mungkin kita bukan harus menjadi, hanya perlu kembali.
Ketika dewasa, kita perlu kembali
mengenali diri sendiri. Mencari sesuatu yang pernah jadi kebiasaan supaya
kembali tergenggam tangan. Kita perlu kembali memeluk mimpi, berkali-kali.
Salam.
a.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.