Hari ini ingin kutulis surat cinta untuk diriku sendiri.
Telah ratusan kata kurangkai, namun tak satupun sampai.
Kepadaku.
Saat tiba masanya, sungguh sulit kalimat tercipta.
Tiba-tiba menjadi pelit bicara. Irit berkata.
Padahal seperti ada rindu yang sesak mengisi penuh kepala.
Hari ini ingin kupeluk aku yang sejak kemarin sibuk menangisi lalu.
Tak cukup sekotak tisu, menangisi lalu butuh hari-hari yang panjang, untuk sekedar memandang lekat-lekat sebingkai penyesalan.
Aku telah mengirim surat,
Berisi kalimat manis yang kupilih berjam-jam didepan layar.
Tak lupa kusisipkan harapan, barangkali yang dituju berkenan menjawab.
Aku telah mengirim surat,
Bukan untukku,
Tapi untuk menangisi lalu, lagi.
Telah ratusan kata kurangkai, namun tak satupun sampai.
Kepadaku.
Saat tiba masanya, sungguh sulit kalimat tercipta.
Tiba-tiba menjadi pelit bicara. Irit berkata.
Padahal seperti ada rindu yang sesak mengisi penuh kepala.
Hari ini ingin kupeluk aku yang sejak kemarin sibuk menangisi lalu.
Tak cukup sekotak tisu, menangisi lalu butuh hari-hari yang panjang, untuk sekedar memandang lekat-lekat sebingkai penyesalan.
Aku telah mengirim surat,
Berisi kalimat manis yang kupilih berjam-jam didepan layar.
Tak lupa kusisipkan harapan, barangkali yang dituju berkenan menjawab.
Aku telah mengirim surat,
Bukan untukku,
Tapi untuk menangisi lalu, lagi.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.