Lalu di suratmu tempo hari itu, siapa?
Siapa yang kau sebut lalu?
Mengapa harus menangisi lalu?
Lalu sejak kapan berlalu?
Apakah kau melalui masa sulit dengan lalu?
Atau kau selalu...
Kurasa cukup pertanyaanku yang bertubi-tubi ini, kau tak terlihat ingin menjawab.
"Harusnya kau lekas pergi, mendekap erat dirimu sendiri.
Tak usah kau sempatkan waktu membingkai sesalmu serapih itu.
Lalu, kau pikir peduli?"
Aku belum menulis surat kepada diriku sendiri.
Belum akan dan belum ingin.
Rasanya lebih nikmat menyaksikan aku menangisi lalu, menulis.
Aku ingin lekas menangis, lalu tersenyum.
Aku ingin menjadi asing bagi diriku.
Agar ketika suratku sampai,
Aku merasakan hangat yang sama.
Aku tersenyum, lalu menangis.
Pada kalimat terakhir tadi aku harus meletakkan koma atau dan, ya?
Siapa yang kau sebut lalu?
Mengapa harus menangisi lalu?
Lalu sejak kapan berlalu?
Apakah kau melalui masa sulit dengan lalu?
Atau kau selalu...
Kurasa cukup pertanyaanku yang bertubi-tubi ini, kau tak terlihat ingin menjawab.
"Harusnya kau lekas pergi, mendekap erat dirimu sendiri.
Tak usah kau sempatkan waktu membingkai sesalmu serapih itu.
Lalu, kau pikir peduli?"
Aku belum menulis surat kepada diriku sendiri.
Belum akan dan belum ingin.
Rasanya lebih nikmat menyaksikan aku menangisi lalu, menulis.
Aku ingin lekas menangis, lalu tersenyum.
Aku ingin menjadi asing bagi diriku.
Agar ketika suratku sampai,
Aku merasakan hangat yang sama.
Aku tersenyum, lalu menangis.
Pada kalimat terakhir tadi aku harus meletakkan koma atau dan, ya?
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.