Aku belum merasa mandiri.
Meskipun nyatanya ratusan kilometer dari rumah kutempuh sendiri.
Memasuki tiap pintu baru juga ditemani bayangan diri sendiri.
Aku terus merasa sebagai anak yang belum memegang tanggung jawab penuh.
Padahal kini aku membiayai hidup sendiri seperti orang dewasa lainnya.
Aku kadang hilang ditelan pemikiranku sendiri.
Aku siapa dan telah berubah seperti apa, pun selalu menjadi pertanyaan rutin.
Aku ingin jadi manusia mandiri seperti pesan bapak.
Tidak sering menangis, banyak tersenyum, dan berani menatap mata orang lain.
Aku juga ingin selalu memeluk diriku yang hampir hilang dihantam ngilu.
Aku masih sedih, bapak.
Aku sepertinya belum sembuh.
Aku terus menulis dan menangis,
Berusaha melepas lilitan waktu yang terus mengaburkan memori tentangmu.
Semoga kali ini aku menang.
Meskipun nyatanya ratusan kilometer dari rumah kutempuh sendiri.
Memasuki tiap pintu baru juga ditemani bayangan diri sendiri.
Aku terus merasa sebagai anak yang belum memegang tanggung jawab penuh.
Padahal kini aku membiayai hidup sendiri seperti orang dewasa lainnya.
Aku kadang hilang ditelan pemikiranku sendiri.
Aku siapa dan telah berubah seperti apa, pun selalu menjadi pertanyaan rutin.
Aku ingin jadi manusia mandiri seperti pesan bapak.
Tidak sering menangis, banyak tersenyum, dan berani menatap mata orang lain.
Aku juga ingin selalu memeluk diriku yang hampir hilang dihantam ngilu.
Aku masih sedih, bapak.
Aku sepertinya belum sembuh.
Aku terus menulis dan menangis,
Berusaha melepas lilitan waktu yang terus mengaburkan memori tentangmu.
Semoga kali ini aku menang.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.