"he gendut"
"yaampun mbak lenganmu...."
"rai kok pipi kabeh" (re: semuka kok pipi semua)
"diet ta"
"mangaaaaan terus, gendut gendut"
Lalu setiap kali mendengar salah satu kalimat itu, sampai di rumah ia akan menghitung body mass index-nya sendiri.
Menemukan hasilnya masih baik-baik saja, berada di kolom warna hijau bertuliskan normal bmi.
Tak puas dengan hitung-menghitung, ia lalu berdiri di depan cermin.
Melihat wajahnya, lengannya lalu perut dan kakinya, ia masih merasa semua baik-baik saja.
Ia duduk di atas kasur, bersandar ke dinding, memandang lekat-lekat langit-langit kamarnya.
"Apa mereka berpikir sebelum mengucapkan kalimat itu padaku, ya?" ia menggumam menahan kesal.
Setiap hari setelah mandi, ia selalu berdiri lama di depan cermin, berusaha meyakinkan dirinya baik-baik saja, dan akan tetap baik-baik saja.
Setiap hari di depan cermin, ia berkata pada dirinya, bahwa telah cukup apa yang ada padanya, keadaan tubuh dan penampilannya.
Tapi hari itu, dan beberapa hari lain yang datang seperti reka ulang, meluruhkan percaya diri yang ia bangun pelan-pelan setiap hari.
"Apa aku belum cukup menerima keadaanku sendiri? Atau ternyata aku hanya pura-pura menyayangi diri sendiri? Kenapa aku merasa marah ketika mereka datang dengan kalimat itu?" kali ini, ia membiarkan sakit di telinga yang ia tahan sejak tadi berubah menjadi anak sungai di pipi.
"Boleh tidak ya aku merasa marah? Atau aku kurang berpikiran terbuka untuk sekedar menerima candaan?" sembari tangan kanannya mengusap air mata.
Ia sudah berkali-kali mengatakan pada siapapun yang datang dengan kalimat itu, bahwa sejujurnya ia tak nyaman.
Ia berusaha sangat keras, menerima tubuhnya, menerima kenyataan bahwa genetik keluarganya membuat ia tak mudah menurunkan berat badan dan tulang pipinya membuat wajahnya selalu terlihat mengembang.
Ia berdamai dengan dirinya untuk makan kapan saja merasa lapar karena sudah puluhan kali ia menahan lapar sia-sia, sadar bahwa asam lambungnya harus lebih diperhatikan dibanding usulan diet yang kerap didengar sebagai pembuka percakapan.
Ia merasa marah ketika dengan mudah orang-orang yang mengaku teman malah meruntuhkan percaya diri yang berusaha ia tumbuhkan setiap hari.
Ia merasa marah ketika teman berlindung dalam pertemanan untuk mengungkapkan candaan yang menyakiti.
Ia merasa marah lalu memilih pulang, menangis dan menulis.
Ia merasa marah sebab belum mampu menutup telinga dan tetap percaya diri.
Surat untuk ia,
Selamat kembali menulis dengan emosional.
Kamu boleh merasa marah lalu meluapkannya dengan cara-cara baik yang tak menyakiti.
Semoga kamu tak melakukan hal yang sama,
Oh!
Atau jika semua kalimat itu adalah balasan atas perkataanmu yang mungkin pernah keluar tanpa berpikir, semoga jatah balasan buruknya segera habis, ya!
Kamu baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja.
Tidak semua orang berpikir sebelum berbicara, memang.
Terima kasih,
Ayo terus bekerja sama, mencintai apa yang kamu lihat di cermin.
Makan dengan baik dan bergerak bebas, memakai baju apapun tanpa dibayang-bayangi kalimat yang itu-itu lagi.
Mari menangis, lalu menertawakan meme paling baru yang kamu temukan.
Biar kuulangi,
Kamu baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja.
xx,
Aku adalah ia
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.