Selamat memasuki dekade baru!
Semoga bisa (minimal) membaca satu buku setiap bulan.
Semoga semangat menabung.
Semoga selalu rajin belajar.
Terima kasih sudah mau berdiskusi dengan diri sendiri.
Terima kasih sudah berani berjalan sendiri.
Terima kasih sudah berusaha membuat orang lain tersenyum.
Maaf belum mencapai target tahun lalu.
Maaf masih sering menunda mencuci baju dan sarapan pagi.
Maaf untuk pernah merasa tak pantas untuk menerima masa depan yang baik.
Selamat terus berkembang, Anggi!
Semoga terus dikelilingi hal-hal baik,
dan menjadi hal baik bagi orang-orang disekeliling.
Untuk Anggi,
Rumah, Teman dan Harapan.
Rumah tidak hanya ruang bersekat-sekat,
Rumah bisa jadi dua mata yang saling memandang lekat-lekat.
Teman tidak hanya obrolan dua arah,
Teman bisa jadi aku dan aku yang saling menguatkan untuk tak menyerah.
Harapan selalu lebih dulu berjalan di depan,
Harapan yang kutempel di dinding,
Harapan yang diterbangkan ke langit menuju Tuhan,
Harapan yang disimpan sendiri.
Kemarin aku bercermin,
Memandangi rumahku,
Berterima kasih pada temanku,
Lalu menulis harapan-harapan baru,
Rumah,
Teman,
dan Harapan,
Mari terus berjalan, saling menemukan.
Agar tak perlu mencari-cari alasan;
Bahwa dirimu perlu diselamatkan.
Kembalilah percaya,
Kamu telah cukup untuk dirimu,
sebelum,
sesudah,
dengan,
atau tanpa kedatangannya.
nya yang entah apa atau siapa.
Salam,
Anggi
Semoga bisa (minimal) membaca satu buku setiap bulan.
Semoga semangat menabung.
Semoga selalu rajin belajar.
Terima kasih sudah mau berdiskusi dengan diri sendiri.
Terima kasih sudah berani berjalan sendiri.
Terima kasih sudah berusaha membuat orang lain tersenyum.
Maaf belum mencapai target tahun lalu.
Maaf masih sering menunda mencuci baju dan sarapan pagi.
Maaf untuk pernah merasa tak pantas untuk menerima masa depan yang baik.
Selamat terus berkembang, Anggi!
Semoga terus dikelilingi hal-hal baik,
dan menjadi hal baik bagi orang-orang disekeliling.
Untuk Anggi,
Rumah, Teman dan Harapan.
Rumah tidak hanya ruang bersekat-sekat,
Rumah bisa jadi dua mata yang saling memandang lekat-lekat.
Teman tidak hanya obrolan dua arah,
Teman bisa jadi aku dan aku yang saling menguatkan untuk tak menyerah.
Harapan selalu lebih dulu berjalan di depan,
Harapan yang kutempel di dinding,
Harapan yang diterbangkan ke langit menuju Tuhan,
Harapan yang disimpan sendiri.
Kemarin aku bercermin,
Memandangi rumahku,
Berterima kasih pada temanku,
Lalu menulis harapan-harapan baru,
Rumah,
Teman,
dan Harapan,
Mari terus berjalan, saling menemukan.
Agar tak perlu mencari-cari alasan;
Bahwa dirimu perlu diselamatkan.
Kembalilah percaya,
Kamu telah cukup untuk dirimu,
sebelum,
sesudah,
dengan,
atau tanpa kedatangannya.
nya yang entah apa atau siapa.
Salam,
Anggi
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.