Imam al-Ghazali ; "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Urusan rezeki terutama tentang
cara memperolehnya memang dipengaruhi usaha kita, dan jika orang lain berjalan
di titian yang sama kemudian ia memperoleh hasil lebih baik, apakah pantas jika
kita berbuat aniaya karenanya?
Ketika usaha
telah dilakukan dengan maksimal ,sebaik yang kita mampu ,tawakkal ialah
penyempurnanya.
Dengan
berserah diri maka ikhlas pasti akan turut serta dibelakangnya.
Lalu kenapa
harus merasa tersaingi? Bukankah Allah takkan salah membagi rezeki? Jangan
khawatir. Sebab urusan rezeki sudah dijamin pasti oleh Allah.
Yang lebih
patut kita khawatirkan adalah kemana tempat berlabuh setelah kematian?
Kita bukan
rasul yang dijamin surga. Kita hanya hamba yang sering lupa bagaimana menjadi
hamba. Melupakan tawakkal setelah usaha, lalu terjerumus perbuatan aniaya, dari
sisi mana Allah akan cinta? Bukankah mengkhawatirkan sesuatu yang telah dijamin juga berarti meragukan keMahaKuasaan-Nya? Apakah dengan rezeki orang
lain yang dilebihkan atas kita lantas kita sangsi akan sifat Rahman dan
Rahim-Nya?
Kita ini, apakah diam-diam sedang diserang penyakit hati?
//tulisan
ini dibuat ketika hampir semua media informasi membahas tentang pelaku usaha
moda transportasi konvensional yang harus berdampingan dengan teknologi, juga
saat telepon seluler saya jadi semakin “lucu” serta salah satu upaya memulihkan semangat setelah huruf itu tertera di artpaper 150gr minggu lalu//
xoxo,
anggi
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.