March 10, 2016

Setelah Semuanya



Teruntuk bapak yang hanya pulang,
Bapak yang tidak pernah pergi.

Beberapa hari ini kamarku berantakan
dan flu menyerangku.
Aku jadi semakin banyak menghabiskan waktu dikamar, setelah mencoba jadi sibuk berkutat dengan segala kegiatan sampai kehujanan karena lupa bawa jas hujan.
Aku melakukan beberapa hal dengan terburu-buru dan dengan konsentrasi yang hanya separuh.
Merepotkan beberapa atau banyak orang dengan ketidak-teliti-an ku.
Juga menumbuh-subur-kan kesal dihati mereka yang kesulitan menghubungiku karena telepon selulerku yang sedang berada pada titik kritis.
Dan entahlah. Memandangi foto bapak sebentar saja sudah mampu membuat mataku menjadi anak sungai. Semua ingatan tentang mimpi besar yang selalu kubanggakan  didepanmu dan kubilang akan kuraih itu berputar-putar disekelilingku. 

Setelahnya, aku berpikir terlalu dini untuk merasa lelah. Sebab ku tahu engkau jauh berkali lipat lebih lelah menahan pahit-manisnya kenyataan demi menjadikan aku hingga ada di posisi ini.
Setelahnya, aku berpikir terlalu dini untuk memutuskan berhenti berjuang. Karena masih ada dua sosok dibelakangku yang juga begitu hancur hatinya sepeninggalmu, mereka yang takkan kubiarkan kecewa hanya karena aku terlalu malas untuk sekedar berjalan lebih jauh, berdoa lebih sering, berjuang lebih keras dan hidup lebih sederhana dibandingkan yang lainnya.
Bapak, aku benar-benar yakin engkau tak pernah pergi.
Sebab, ragamu memang tak disini tapi siapa yang ada disebalik semangatku selama ini jika bukan engkau salah satunya? Atau bahkan engkau adalah sosok utamanya.
Aku mencukupkan segala tanya dan protesku selama ini, karena ditahun keempat setelah kepulanganmu aku terus saja tak sanggup menyembunyikan tanya , kenapa harus secepat itu dan kenapa harus aku.
Ternyata, Allah memilih aku untuk mengecap pahitnya ketiadaan ragamu disampingku karena aku mampu. 
Dan dalam enambelas tahunku bersamamu lalu kemudian dihentikan tiba-tiba itu, tidak lain karena akan ada waktu lain dimasa datang yang lebih lama lagi untukku kembali bertemu engkau. Janji itu nyata tapi hanya setelah aku melewati segala ujian dengan sempurna.

Bapak, aku tidak sepenuhnya yakin mampu melewati setiap ujian dengan sempurna, namun apa salahnya berharap, ya kan?
Mungkin saja Allah berkenan menyelipkan ridho-nya di saku kecilku.
Allah memang benar-benar lebih tahu.
Dan aku hanya perlu jadi lebih sederhana, tak merumitkan segala sesuatu karena sebenarnya aku tahu dan engkaupun tahu kemana tujuanku setelah semuanya :))

dengan ekstra-super-mega cinta,
Anggi

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.