Teruntuk bapak yang hanya pulang,
Bapak yang tidak pernah pergi.
Beberapa hari ini kamarku berantakan
dan flu menyerangku.
Aku jadi semakin banyak menghabiskan waktu dikamar, setelah
mencoba jadi sibuk berkutat dengan segala kegiatan sampai kehujanan karena lupa
bawa jas hujan.
Aku melakukan beberapa hal dengan terburu-buru dan dengan
konsentrasi yang hanya separuh.
Merepotkan beberapa atau banyak orang dengan
ketidak-teliti-an ku.
Juga menumbuh-subur-kan kesal dihati mereka yang kesulitan
menghubungiku karena telepon selulerku yang sedang berada pada titik kritis.
Dan entahlah. Memandangi foto bapak sebentar saja sudah mampu
membuat mataku menjadi anak sungai. Semua ingatan tentang mimpi besar yang
selalu kubanggakan didepanmu dan
kubilang akan kuraih itu berputar-putar disekelilingku.
Setelahnya, aku berpikir terlalu dini untuk merasa lelah. Sebab
ku tahu engkau jauh berkali lipat lebih lelah menahan pahit-manisnya kenyataan
demi menjadikan aku hingga ada di posisi ini.
Setelahnya, aku berpikir terlalu dini untuk memutuskan
berhenti berjuang. Karena masih ada dua sosok dibelakangku yang juga begitu
hancur hatinya sepeninggalmu, mereka yang takkan kubiarkan kecewa hanya karena
aku terlalu malas untuk sekedar berjalan lebih jauh, berdoa lebih sering, berjuang
lebih keras dan hidup lebih sederhana dibandingkan yang lainnya.
Bapak, aku benar-benar yakin engkau tak pernah pergi.
Sebab, ragamu memang tak disini tapi siapa yang ada disebalik
semangatku selama ini jika bukan engkau salah satunya? Atau bahkan engkau adalah
sosok utamanya.
Aku mencukupkan segala tanya dan protesku selama
ini, karena ditahun keempat setelah kepulanganmu aku terus saja tak sanggup
menyembunyikan tanya , kenapa harus secepat itu dan kenapa harus aku.
Ternyata, Allah memilih aku untuk mengecap pahitnya ketiadaan ragamu
disampingku karena aku mampu.
Dan dalam enambelas tahunku bersamamu lalu
kemudian dihentikan tiba-tiba itu, tidak lain karena akan ada waktu lain dimasa
datang yang lebih lama lagi untukku kembali bertemu engkau. Janji itu nyata
tapi hanya setelah aku melewati segala ujian dengan sempurna.
Bapak, aku tidak sepenuhnya yakin mampu melewati setiap ujian
dengan sempurna, namun apa salahnya berharap, ya kan?
Mungkin saja Allah berkenan menyelipkan ridho-nya di saku
kecilku.
Allah memang benar-benar lebih tahu.
Dan aku hanya perlu jadi lebih sederhana, tak merumitkan
segala sesuatu karena sebenarnya aku tahu dan engkaupun tahu kemana tujuanku
setelah semuanya :))
dengan ekstra-super-mega cinta,
Anggi
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.