November 24, 2025

Batas

Beberapa waktu ini saya banyak berpikir tentang batas. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga biasa saja, saya cukup kenyang dengan kondisi yang tidak ideal. Bukan berarti senang hati menerimanya kembali. Namun, di saat hidup sudah berangsur lebih baik, saya jadi punya pertanyaan. Semacam check and balance, sampai dimanakah kita merasa cukup, dan berapa nominal yang wajar untuk dimiliki.

Di usia ini, angka yang dulu sulit ditembus mata kini jadi amat gamblang. Bahkan tertera di baliho-baliho sepanjang jalan. Ya, waktu saya masih kecil sempat penasaran, harga rumah dan mobil itu berapa. Hari ini, semua bisa dicari dengan modal internet, tanpa harus bertanya langsung dan menjawab pertanyaan "mengapa bertanya demikian?".

Di sisi yang lain, saya selalu terkesima melihat rumah-rumah megah dan deretan mobil berbagai merek di halamannya. Jangankan untuk menjumlahkan harganya, membayangkan harga satu unitnya saja sudah terasa jauh dari jangkauan.

Diantara itulah saya berpikir, bagaimana seorang manusia bisa memiliki sumber daya begitu besarnya. Sedangkan ribuan orang lainnya menggabungkan gaji bulanannya dan tetap tak mencapai setengah total kekayaan si fulan.

Saya juga telah melihat tak hanya satu atau dua, orang yang nyaman berjalan dalam batas kewajaran. Walau dengan kemampuan dan posisinya sangat bisa menapaki hidup yang lebih lagi. Jumlahnya tak banyak, tapi dari merekalah percakapan yang renyah dan ramah berasal.

Sewajarnya manusia, banyak hal yang kita inginkan dalam hidup dan diantaranya bersifat kebendaan, lekat dengan dunia. 

Hingga saya sampai pada satu kesimpulan yang personal. Rasa cukup itu sepertinya sangat bisa dibatasi, pun ditarik sampai lebar sekali cakupannya. Tinggal, mau yang mana. Semoga senantiasa diberi kemampuan untuk memilih pilihan-pilihan yang berkah, baik dan wajar.

"Bila orang tak bisa membatasi keinginan sebatas kebutuhan, apalagi selalu mengembangkan keinginan menjadi kebutuhan, orang itu tak bisa senang. Hidupnya akan selalu dikejar-kejar oleh keinginan itu sendiri yang terus meningkat tanpa tutugan, tanpa batas." (halaman 237, Bekisar Merah karya Ahmad Tohari)

October 29, 2025

Bagaimana Rasanya Menonton Arsenal Live Pertama Kali?

    Walaupun ada dalam seri #BagaimanaRasanya tapi dalam post kali ini, sepertinya ulasan soal liburan ke Singapura lebih mendominasi. Hahahaha, karena rasanya terlalu boros (alias malas) kalau harus dipisah jadi dua tulisan. Jadi yaaaah langsung saja ke ceritanya.

25 April 2025
    Saya beli tiket lewat platform ticketek. Saat menunggu loket online dibuka, saya menyiapkan tiga gawai karena saya pikir ticket war-nya akan segila konser Blackpink atau pertunjukan standup Raditya Dika. Ternyata tidak HAHAHA. Proses pembayarannya cukup seamless dengan rekening jenius. Setelah memilih jadwal pertandingan dan kategori tiket, akan diberikan pilihan section/row. Setelah itu diberikan nomor kursi sesuai section yang dipilih. Berhasil mengamankan tiket nonton + hotel, sebelum punya tiket pesawat (riil cegil)

23 Juli 2025
    Jadwal terbang kami ke Singapore 09:35-12:15 dan gate stadion akan dibuka pada jam 17:00. Untuk penonton luar negeri first-timer (Walaupun secara jarak Indo-SG juga tidak sejauh itu) ini sungguh rencana perjalanan yang tidak direkomendasikan ya! Bayangkan jika harus ada delay atau kemungkinan paling buruknya bahkan penerbangan dibatalkan. WAH kacau.
    Alhamdulillah, Allah Maha Mengetahui... kami yang modal nekat dan dengan sangu pas-pasan ini tidak menemui kendala terkait jadwal penerbangan. Take off dan landing tepat waktu. Sampai di Changi, immigration clearing kemudian langsung menuju counter penjualan SG tourist pass. Setelah kartu di tangan, kami naik MRT menuju hotel. 
  Di hari pertama, kami menginap di hotel dekat stadion. Kawasan Geylang, yang tidak direkomendasikan untuk pelancong keluarga, katanya red-light district. Tapi, dengan pertimbangan jarak yang sangat dekat dengan stadion (upaya memangkas ongkos transport) kami tetap memilih menginap disana. Di hotel, kami bebersih dan mengisi daya gawai. Sekira pukul setengah empat sore, kami keluar hotel dengan pakaian tradisional supporter alias jersey masing-masing klub. Saya dengan jersey arsenal dan suami memakai jersey AC Milan. Ya! ini adalah pertandingan Arsenal vs AC Milan, match made in heaven if I might say. Klub favorit kami masing-masing sejak remaja, all the way from another continent bertanding di satu lapangan, dan bisa dijangkau dari Jakarta.
   Sore itu, kami berjalan sembari melihat kegiatan warga. Para pekerja helm kuning di proyek perbaikan/galian jalan. Kuli yang sedang mengecat bangunan restoran. Anak-anak berlatih sepak bola di lapangan. Bapak-bapak duduk merokok di belakang rumah. Ternyata masih ada rumah tapak di kawasan Geylang, bagian belakang rumahnya masih terasa mirip dengan rumah-rumah di kampung. Dinding berlumut, mesin cuci yang terlihat dimakan usia, tali jemuran dan kandang ayam. Potret langka untuk negara semakmur Singapura.
    Makan siang (yang sudah sore) pertama kami di Singapura adalah di resto muslim nasi kandar. Saya pesan nasi goreng ikan bilis, dan thai tea. Porsinya cukup besar dengan harga yang terjangkau. Ketika saya tulis porsinya cukup besar artinya saya butuh waktu cukup lama untuk sekadar makan setengahnya. Porsinya benar-benar BESAR.
    Selesai makan, kami lanjut jalan ke National Stadium. Di jalan, kami banyak bertemu sesama penonton juga. Sangat mudah dikenali karena semua mengenakan jersey favoritnya masing-masing. Sampai di area stadion, kami berkeliling mengambil foto dan video. Lalu mampir ke merchandise booth, sayangnya booth Arsenal antrinya seperti keramaian PopMart saat grand opening. Jadi saya tidak membeli apapun walau sebenarnya ingin. Ya, keinginan saya tidak lebih besar dari kesediaan mengantri segitu panjangnya. Saya sempat mengambil video Gunnersaurus dan melihatnya dari dekat. Maskot gemas yang biasanya saya lihat di layar kaca, lalu jadi stiker dan meme itu ternyata beneran ada. Sangat lucu dan ijo (OH what a description!)
    Saat waktu open gate hampir dimulai, kami dipersilakan untuk mengantre security check. Prosesnya juga cukup cepat dan tidak ada kendala berarti. Uncle dan Auntie-nya cukup friendly dan informatif. Kami menuju gate yang tertera di tiket. Saat itu kami ingin mengisi botol air karena sudah cukup haus, saat bertanya letak kran air minum, Uncle panitianya sempat nyeletuk "Eh you two couple, support different teams ah? Hahaha". NGL, ada rasa was-was ketika interaksi setelah pengalaman bekerja dengan Singaporean yang cukup kental dengan kiasu culture. Jadi waktu ketemu locals yang mau basa-basi guyon tuh cukup heartwarming.
   Akhirnya duduk di stadion! (Bahkan di Indonesia saja. saya belum pernah duduk di kursi dalam SUGBK). Akhirnya juga menyaksikan Mikel Arteta dan Arsenal Squad di lapangan. Wah rasanya surreal sekali. Orang-orang yang bertahun-tahun biasa saya lihat lewat layar hp, laptop dan TV itu ada di depan mata saya. Ternyata mereka nyata. Saya sedang menghirup udara yang sama dan berada satu stadion dengan mereka.
    Melihat Ben White menganggu konsentrasi lawan saat tendangan sudut, melihat Odegaard dan Saka bergantian mengambil giliran sepak pojok, melihat Kai Havertz yang setinggi gapura kabupaten, melihat Declan Rice yang sibuk menggendong satu tim di babak pertama, melihat Martin Zubimendi tidak hanya di postingan instagram. Lalu utamanya, melihat Arteta sibuk di pinggir lapangan. Bersorak, melambaikan tangan, dan berteriak. Teriakan yang hari ini saya dengar langsung, tidak melalui sound gadget manapun. Semuanya nyata ya... Alhamdulillaaah!
    Pertandingan hari itu berbuah satu gol Bukayo Saka di babak kedua menit 52. Lega rasanya bisa melihat dan merayakan gol Saka secara langsung. Ikut menyanyi North London Forever dan bersorak-sorai dengan bebas. Setelah pertandingan selesai. kami keluar stadion dan berjalan kembali menuju hotel. Pertama kali jalan kaki tengah malam di Singapura, suasananya sepi tapi masih ada orang-orang yang pulang selesai olahraga. Jembatan penyeberangannya bersih dan tidak bau pesing. Liftnya juga masih beroperasi ketika kami pulang malam itu. Di area geylang, malam justru lebih hidup sepertinya. Namun, seingat saya jalan yang kami lewati tetap tidak seramai yang kami pikirkan. Lampu warna-warni menyala terang, sementara jalanan cukup lengang.


24 Juli 2025
    Kami pergi cukup pagi (untuk ukuran orang kurang tidur) dengan bus menuju area Fort Canning Park. Disana kami mengantre satu jam untuk foto di area tree tunnel. Spot foto itu sebenarnya sudah lama terkenal, namun baru-baru ini viral di medsos China, jadi banyak turis asal negara ybs yang menjadikan FCP tree tunnel jadi destinasi wajibnya. Tak heran ketika sampai disana, banyak sekali turis China. 


    Hari ini jadwal kami pindah hotel, dari hotel satu (dengan pertimbangan dekat National Stadium) ke hotel dua (yang dekat ke area pusat jajanan). Sebelum pindah hotel di tengah siang bolong, setelah pulang dari FCP kami sempat ke Kinokuniya, walau buku yang dicari tidak ada disana huft.
Saya (lagi dan lagi) mampir ke 7-eleven, membeli blindbox Miffy. Sampai di hotel, saya unboxing dan yaps isinya IJO LAGI. Hahaha, teman twitter saya mungkin sudah paham, saya berkali-kali dapat benda hijau di macam-macam blindbox. Sampai pada titik, okay hijau menambah koleksi luv!
   Kami ke Marina Barrage pukul setengah lima sore, sampai sana ternyata panasnya masih cukup menyengat. Sempat kembali ke dalam stasiun MRT untuk ke toilet. Sampai akhirnya kami memutuskan jalan naik ke lapangan atas. Sampai di lapangan atas, kami melihat-lihat laut dan landscape Singapura yang megah itu. Lalu kami menggelar tikar di area yang strategis untuk menunggu matahari terbenam. 
"Always balance something expensive with something cheap" They said hahaha. So, here we are piknik gratis, jajan snack murah konbini dan minum air gratis, tapi di Singapura.


25 Juli 2025
    Kegiatan pagi ini adalah menuntaskan agenda kopi pagi suami. Kami menuju Nylon Coffee dengan MRT. Kedai kopi ini terletak di kawasan apartemen. Ukurannya tidak terlalu luas, saat kami datang suasananya cukup ramai. Menurut saya yang bukan penikmat kopi, rasa kopi susunya cukup bisa saya terima (entah memang benar enak, atau sugesti produk negara maju LOL). Ketika pengunjung kedai mulai lengang, pemiliknya menyapa kami. Another obrolan hangat yang tidak disangka bisa ditemukan juga disini hehe.
Selesai dengan urusan kopi, kami yang berniat naik bus menuju area Takashimaya mengalami kejadian umume turis. Salah naik bus. Alih-alih menuju tempatnya, kami malah bergerak menjauhinya. Yah, namanya juga orang asing. Setelah sampai di Takashimaya, tujuan saya adalah Kinokuniya dan BTV.
Sore nanti setelah jam pulang kerja, kami punya janji bertemu teman se(mantan)kantor saya, Hamizah dan Syafa. Sekaligus akan jadi kopi darat pertama, karena selama kerja remote yang sak nyuk itu saya tidak pernah bertemu mereka secara langsung.
    Karena datang lebih dulu, saya mampir ke Fluff Bakery di dekat resto tujuan. Ngadem makan gelato sambil menunggu suami yang mencari toilet terdekat. Kami juga sempat membungkus cheesecake dan almond brioche-nya. Cheesecakenya lembut dan lumer di mulut, almond briochenya juga nikmat sekali walau tidak dimakan langsung di tempat. Hamizah membantu kami reservasi untuk makan malam di The Dim Sum Place. Disana, saya pesan mie bebek dan yah rasanya enak sebagaimana bayangan saya hahaha. Setelah makan kami ke arab street dan foto-foto di photobooth tematik sebelum pulang.
    Salah satu pengalaman menarik di SG adalah beli sari buah dari vending machine. Yang pertama adalah ijooz, vending machine yang menjual sari buah jeruk. Lalu ada iboozee, yang menyajikan sari buah apel, dari empat buah apel sampai ke segelas minuman segar di tangan. Selama di Singapura kami beli ijooz tiga kali dan iboozee satu kali, sebenarnya dari sisi rasa kami lebih suka iboozee apel. Namun, unit vending machine ijooz jeruk sepertinya lebih banyak dan mudah ditemui.
    Hal lain yang membuat kami cukup terkesima juga, melihat lansia di Singapura yang tetap produktif. Di ruang publik, mereka mengakses transportasi umum dengan mandiri. Mereka juga aktif bekerja, sebagai security di stasiun, pekerja event, penjaga toko/konbini, sopir dsb. Hal ini menunjukkan betapa pemerintahnya memperhatikan sarana dan prasarana negaranya untuk mengakomodir rakyat dari segala lapisan. Juga aturan soal pekerjaan yang lebih manusiawi terkait batas usia dan kapabilitas. Kami juga sempat ternganga, melihat poster lowongan pekerjaan di salah satu restoran yang mencantumkan besaran gaji. Sesuatu yang harusnya wajar, namun jarang ditemui di negara sendiri (oits negara mana tuh?!).



26 Juli 2025
     Pagi hari terakhir di SG, kami telah bersiap dengan koper yang telah dikemas rapi. Sore nanti kami akan kembali ke Jakarta. Hamizah menjemput kami di hotel, lalu menemani kami berjalan-jalan keliling di area Arab street. Kami makan di All Things Delicious. Saya makan shaksouka. Tempatnya cukup ramai dan menurut teman saya memang sedang banyak diminati. Harga menu di tempat ini tergolong cukup tinggi, dan memang tampilan makanan saat sampai ke meja sungguh fancy. Sesuai dengan foto menunya, hahaha. "Please don't worry about the price, it's all on me." Ucap teman saya, ketika melihat kami kebingungan memilih menu. Sebenarnya selain soal harga, kami juga tidak familiar dengan menu-menunya yang terlampau western HUAHAHAHA. Jadi kami ikuti rekomendasinya saja, pagi itu 100% mempercayakan menu pilihan kami pada ulasan warlok. Menurutnya, banyak tenant ruko di kawasan Arab street yang come and go karena harga sewa yang semakin mahal. Ah ternyata permasalahan global (seketika ingat soal harga sewa toko-toko blok M)

    Tiga hari dua malam di Singapura kali ini sungguh menyenangkan. Dari segi kerapian dan keteraturan, berwisata di negara ini terasa nyaman. Tapi lagi-lagi we lost in translation currency, membuat kami tidak bisa berlama-lama liburan disana hahaha. Seminggu di Bangkok masih bisa hahahihi, tapi tiga hari di Singapura lumayan meringis kecil. Namun, pengalaman yang kami dapat saat itu jauh-jauuuuuh lebih bernilai. Alhamdulillah dengan kemurahan Allah, keinginan masa remaja untuk lihat tim sepakbola kesayangan bertanding secara langsung telah ditunaikan. Mungkin saya sudah tidak lagi berambisi kuliah di Inggris biar bisa nonton Arsenal di Emirates Stadium menggebu-gebu dengan mimpi saya soal bola. Mimpi memang gratis, berharap memang boleh sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, kan backing-an e Gusti Allah. Namun, soal yang satu itu biarlah hanyut ditelan waktu. Hari ini, semoga hidup dengan selalu bersyukur. May you always remember that finding your goals and dreams again is a lifelong process.
    Alhamdulillaaah... sudah bisa nonton Arsenal langsung. Semoga segera diberi kesempatan untuk merayakan Arsenal juara liga, ya. Aamiin. Kebetulan saat selesai nulis ini, Gajahnya lagi diatas pohon.

Salam,
A.

September 06, 2025

sebenarnya ingin apa?

ternyata hingga kini saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang saya inginkan. selama kuliah dan bekerja, tujuannya hanya supaya berpenghasilan untuk melanjutkan hidup melalui sesuatu yang mampu saya kerjakan (menggambar dan membuat desain). saya pernah memelihara cita-cita sejak sarjana untuk melanjutkan kuliah sampai magister bahkan doktor, tapi hanya karena bayangannya bisa kuliah di luar negeri dan dekat dengan stadion-stadion liga inggris. supaya bisa nonton arsenal langsung. sebatas karena saya tidak punya pikiran lain bagaimana caranya tinggal di luar negeri dan nonton arsenal selain lewat jalur sekolah. shallow.

selepas sma dan benar-benar sendirian menentukan jurusan kuliah adalah pengalaman hidup paling liar bagi saya. jurusan kuliah adalah starting line bagi jalan karir ke depan. oh betul memang, kita selalu bisa memilih untuk switching career di tengah jalan, tapi lagi-lagi akan ada harga yang dibayar untuk itu. on my silent days, i wish i had someone to guide me choosing the prospective major and told me all the plus minus that time. saya tidak tahu kuliah desain itu mahal, tugas-tugasnya butuh biaya besar supaya kualitasnya baik dan tentunya menunjang fungsi + estetika, dua poin penting penilaian. saya tidak tahu bahwa industri di indonesia belum cukup mendukung kemapanan karir desainer produk. hingga lulusannya sangat agile bekerja di bidang-bidang lain mulai dalam lingkup desain hingga diluar desain. terbaca keren, namun tidak direkomendasikan untuk mahasiswa ekonomi kelas bawah yang ingin lekas bekerja mapan dan meningkatkan taraf hidup. sebab diakui atau tidak, jalan karirnya jelas tidak semulus jurusan-jurusan andalan well-established industry; teknik mesin, teknik informatika, kedokteran dsb.

saya jadi ingat perbincangan dengan salah seorang teman baik saya. kurang lebih seperti ini:

dengan semua pencapaian itu, kenapa kamu nggak lanjut bekerja jadi penulis saja?

"aku suka sekali menulis, itu hobi yang nyaman sekali buatku. aku tidak mau "pekerjaan" menjadikannya tidak nyaman lagi. menulis sebagai hobi dan pekerjaan itu pasti berbeda, akan ada tuntutan profesional yang mungkin membatasiku."

oh begitu ya...

bertahun kemudian saya baru bisa merenungkannya kembali. hobi adalah hal menyenangkan sebagai tempat kita lari dari kepenatan rutinitas, lepas dari hal-hal yang wajib, yang besar tanggung jawabnya. patah hati sekali rasanya ketika punya hobi dan bisa melakukannya dengan sangat baik, namun di perjalanannya lalu kita kehilangan antusiasme. meminjam kata marie kondo "it doesn't sparks joy anymore". sepertinya itu yang terjadi kini, ketika saya memilih bekerja sesuai passion. saya suka menggambar, bermain dengan warna, tata letak dan banyak model huruf. kesukaan saya membuat pekerjaan sebagai desainer grafis bearable di tengah tenggat waktu yang berkejaran.
tapi saat saya dihadapkan pada kertas kosong di waktu luang, pikiran saya tak sebebas dulu. aktivitas menggambar dan bermain warna tidak lagi senikmat dulu.
kalau saya mempertahankan hobi ini tetap sebagai hobi saja, kira-kira pekerjaan lain apa ya yang bisa saya kerjakan? duh, mana hobi ini telanjur membuahkan gelar akademik pula! apa iya mulai dari nol lagi ya, kak? hanya semata untuk melindungi hobi supaya tetap memancarkan sukacita?
wah tugas mengurai isi kepalanya jadi lebih panjang lagi, yaaa semangat deh! mungkin inilah saatnya mempelajari ikigai secara intensif, sepertinya cocok dengan keresahan saat ini. (wah sadar sendiri)

terasa sangat ganjil bahwa saya baru mempertanyakan ini semua di akhir 20an. seolah selama ini saya hidup autopilot. pertanyaan "kamu sebenarnya ingin apa?" bagi saya sejak dulu tak pernah sederhana. sering terlintas di kepala namun hanya untuk mengurainya saja, saya tak bernyali. karena semua yang diinginkan manusia selalu ada harganya.

harga.

inilah salah satu ketakutan besar dalam diri saya. lahir dan tumbuh besar dalam kondisi tidak ideal membuat saya sadar bahwa harga sebuah mimpi itu besar sekali. materiil dan immateril. lalu ketika saya sudah dewasa dan bisa menentukan kemana larinya uang dalam genggaman, selalu ada perhitungan-perhitungan, ketakutan, dan insting bertahan.
kalau diulas balik perjalanan kecil 2019-2023 kemarin sungguh sangat nekad. betapa saya dengan berani menempuh "perjalanan mahal" dengan hasil yang belum tentu setia dengan usaha hahaha. 
tiba-tiba masa muda habis karena sibuk mempertahankan pekerjaan sambil mengejar mimpi. wah, pada satu titik saya benar-benar harus memilih mana yang harus dilepas sementara. tapi hidup terkadang terlalu tega untuk mimpi-mimpi kita. realitas membuat kita harus mengerti, kapan mimpi lama harus dihentikan karena nasib memaksa untuk berjalan ke arah yang lain. (timun jelita, raditya dika)

sekarang saya punya sedikit keleluasaan untuk menepi, memetakan isi kepala dan banyak-banyak refleksi diri (shout out to my husbando!). saya jadi punya pilihan lebih banyak. ya, dulu pilihan saya hanya bekerja atau bekerja lagi setelah bekerja, lol. saya sulit punya pause time untuk berpikir dan banyak menulis (sebagai sarana memetakan isi kepala).
ternyata rerouting dan menata kembali visi ke depan ini adalah aktivitas seumur hidup, ya! 
dulu saat remaja, saya bertanya-tanya, kalau nanti dewasa dan cita-citanya sudah tercapai, lalu apa?happy ending itu hanya closure untuk sepenggal kisah hidup manusia. sementara itu, ternyata kita punya banyak sekali kisah dalam satu perjalanan panjang ini.
tidak apa-apa jika dalam perjalanannya, mimpi kita berubah, bertambah, berganti warna atau bahkan ditinggalkan. semoga selalu tersisa nyali untuk mempertanyakan "sebenarnya ingin apa?" lalu mengurainya dengan baik. 

namun, privilese ini juga meninggalkan satu pertanyaan besar di kepala, kira-kira suami saya punya berapa banyak mimpi ya, yang sebenarnya Ia inginkan, yang juga belum pernah diurai sempurna. lalu akhirnya ditinggalkan dan menjalani hidup sebagaimana lelaki pada umumnya. sampai akhirnya bisa memberikan kesempatan seistimewa ini pada saya.
i hope he finds his peace, as the abundance peace he gave me. i hope we find the peace together. one by one, step by step, pixel by pixel. insyaAllah. selamat satu tahun pernikahan.

selamat berjalan dan terus menguraikan isi kepala. semoga tumbuh dilingkupi cinta dan rasa syukur.

salam,
a

Bangkok Days

    Menyambung tulisan sebelumnya soal rangkaian liburan ke Thailand (setahun lalu) yang transit di Singapore itu. Akhirnya kami mulai menyadari ini adalah liburan berdua pertama kali, dan ke luar negeri. Yah, dengan persiapan liburan yang singkat dan setelah serangkaian acara yang padat itu, mengembalikan konsentrasi dan kesadaran nampak jadi pekerjaan rumah kami berdua. Jika ulasan orang tentang Bangkok adalah mirip Jakarta, mungkin saya bisa setuju ketika pertama kali mendarat di Suvarnabhumi. Segala hal selain bahasa masih terasa familiar, yaiyalah masih Asia ini. Deeeuuh~ 

Hari Pertama (17 Agustus 2024)
    Kami sampai pukul 20.40 di Bangkok. Dari Suvarnabhumi ke airbnb yang direncanakan pakai SRT & BTS mendadak batal karena kami berdua sudah lelah. Akhirnya menuju airbnb dengan grabcar. Tarif grabcar di Bangkok bisa kami bilang masih terjangkau, karena jika tidak pastinya kami akan memilih tetap naik transum walau sudah lelah HAHAHA
    Di jalan kami bertanya dan meminta tolong pada sopir untuk berhenti di 7-eleven. Alhamdulillah sopir paham dan berbaik hati menunggu kami belanja air dan makanan sebentar. Kami takjub menemui air mineral berukuran 6 liter, yang rasanya cukup praktis dibeli turis PaHe seperti kami. 
    Sampai di area apartemen sekira hampir tengah malam. Kami mengikuti step-by-step yang telah diuraikan pemilik airbnb. Mengingat penyewaan airbnb untuk jangka pendek sebenarnya banyak menjadi persoalan di berbagai negara, kami harus bersikap ekstra hati-hati dan sebisa mungkin berperilaku tidak seperti pendatang. Setelah mengambil kunci di loker, masuk pintu otomatis menuju lift, akhirnya kami sampai di unit yang telah kami sewa untuk beberapa hari ke depan. Kami membongkar koper, bebersih diri lalu makan dan minum secukupnya. Perjalanan panjang hari itu diakhiri dengan tidur nyaman di kasur dan suhu AC yang sesuai preferensi.

Hari Kedua (18 Agustus 2024)
    Kami memulai hari vakansi efektif cukup siang, sekira pukul delapan lebih baru keluar apartemen. Kami naik grabcar ke NANA Coffee Roastery. Perhentian pertama ini adalah agenda perkopian suami, salah satu rekomendasi dari temannya. Suasana tempat kopi ini lumayan fancy, sejak awal kami tiba, di pelataran telah terparkir deretan mobil-mobil mewah. Sampai di dalam juga kursinya cukup padat, bertemu beberapa turis asal Indonesia juga. Baik interior maupun eksteriornya instagrammable di segala sisi. Harga kopi dan kudapannya juga cukup mahal, nampaknya sesuai dengan target marketnya (berdasar mobil-mobil di parkiran tadi).
    Setelah usai mengganjal perut di tempat kopi (lumayan) mewah, kami berjalan menuju jalan utama dan naik BTS ke Chatuchak. Yah, walau bukan yang pertama dituju namun, tujuan utama kami hari ini adalah ke Pasar Chatuchak yang tersohor itu. Sampai di stasiun Mo Chit, kami berjalan menuju pasar yang keramaiannya sudah terasa dari jauh. Suasananya mengingatkan pada pasar wisata yang ada di area candi-candi di Indonesia. Banyak sekali stall dengan beragam barang ataupun makanan. Kami beli beberapa figur keramik gajah, manisan dan sedikit oleh-oleh. Ketika waktu dhuhur tiba kami menuju mushola yang ada di dalam pasar. Tempatnya bersih dan adem. Bertemu locals yang ramah di dalam mushola (sepertinya adalah pedangan di pasar), saling menyapa dengan mengucap salam dan ditanya asal mana. Usai sholat kami makan siang di stall halal, kami pesan makan thai chicken basil rice, mango sticky rice, crab fried rice dan minum es thai tea (minum thai tea di Thailand #moment).
    Setelah puas (capek) mengelilingi setiap sudut chatuchak, kami kembali naik BTS untuk menuju ke Beaker and Bitter (agenda perkopian suami). Tempatnya cukup masuk ke dalam area pemukiman, dari stasiun BTS terdekat menuju lokasi harus jalan cukup jauh. Sempat melewati kantor National Broadcasting and Telecommunications Commission yang tampak megah. Salah satu gegar budaya saat sampai Bangkok adalah betapa banyaknya foto-foto Raja yang dipajang di kantor-kantor pemerintahan. Tidak hanya di dinding dalam ruangan, tapi seukuran banner beeeeeesaaaaarrrr di gedung tinggi. Lalu kembali ke Beaker and Bitter lagi, konsepnya one of a kind sih! Alih-alih kedai kopi industrial atau japandi concept pada umumnya, masuk kesana rasanya seperti masuk ke dalam laboraturium. Seperti jadi objek penelitian dan berada di tempat super higienis. Warna putih dan metalik silver mendominasi. Seperti namanya, banyak beaker glass yang jadi dekorasi. Daaaan yap! setelah googling barusan, konon memang dulu tempat ini adalah pabrik obat New York Chemical di 1967 yang kini disulap menjadi kedai kopi. Suasananya nyaman untuk belajar atau kerja. Ada ruangan yang bisa disewa para digital nomads untuk meeting atau simply kerja bareng. Oh ya! Cheesecakenya mantap.
    Sore jelang malam, kami ke Jodd fair, tempatnya seperti pasar malam, hanya saja isinya penuh kedai makanan tanpa ada wahana permainan. Kami makan olahan laut, judul menunya seafood bloom. Suasananya tak jauh berbeda dengan makan olahan laut di Jakarta, namun rasa bumbunya cukup berbeda. Ada rasa khas yang hanya saya temui di masakan-masakan Thailand. Sayangnya, sebagai penyantap hidangan biasa saja (bukan foodvlogger) saya belum bisa memastikan itu rasa dari rempah/bahan apa. Mungkin basil, mungkin kecap ikannya. Entah. Kami juga jajan crispy squid yang seukuran dua kali telapak tangan saya. Pulangnya kami beli durian dan ketika sampai airbnb, itu adalah durian paling enak yang pernah kami makan. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi durian Thailand memang next level rasanya. Pernah makan durian Thailand beku yang dijual di food hall, tapi tentu saja yang segar non frozen rasanya lebih nikmat dan legit!


Hari Ketiga (19 Agustus 2024)
    Hari ini kami pasang mode full turis, tujuan pertama adalah Wat Arun. Kami menuju kesana dengan BTS dan grabcar. Suasana yang panas sekali membuat kami membeli payung di 7-eleven terdekat. Payung yang akhirnya bahkan tak sempat digunakan, karena kelalaian saya meninggalkannya di dalam taksi. HAAAAAAH.
    Sampai di area Wat Arun yang cantik dan megah itu sekira pukul 11 siang. Masuk ke dalam hanya bisa membayar tiket dengan uang cash, kami diberi karcis dan air minum berlogo Wat Arun.
Suasananya sudah ramai saat kami tiba, hal ini membuat kami susah dapat spot foto menarik. Selain itu, memang banyak jasa foto yang "menguasai" area-area tertentu. Jadi kalau mau (banget) dapat foto instagrammable di Wat Arun, sepertinya opsi terbaik adalah menggunakan jasa foto. Hal lain yang bisa dijadikan hikmah dari perjalanan kami adalah sampai ke tempat wisata di tengah hari tidak direkomendasikan. Panasnya luar biasa dan cahaya foto jadi kurang bagus. 
    Setelah dirasa cukup mengelilingi area Wat Arun, kami antri naik perahu dan menyeberang ke area Wat Phra. Tapi kami tidak masuk ke dalam Wat Phra, hanya berjalan di sekeliling luar pagarnya. Sebab agenda kami selanjutnya adalah makan es krim nattaporhn di kawasan old town. Kami pesan es krim rasa mangga dan thai tea. Rasanya enak, sungguh menjadi pendingin di tengah panasnya Bangkok hari itu. Bukan hari terbaik kami karena (sedikit) sama-sama emosi di jalan. Pelajarannya adalah OH ternyata berjalan di bawah terik matahari (di tempat asing) bukan liburan ideal bagi mental kami berdua HAHAHAH.


Hari Keempat (20 Agustus 2024)
    Hari ini diawali dengan agenda perkopian suami (lagi). Pagi-pagi kami menuju Factory Coffee yang letaknya di dekat stasiun BTS Phaya Thai. Wah nampaknya ini toko kopi viral ya, saat kami datang antrean dine-in sudah cukup panjang (tapi masih oke, untuk pemalas seperti saya). Saya pesan es coklat dan kue. Beli stiker lucu juga untuk dibawa pulang (yay, luvvv stikerrr)
    Setelah itu lanjut ke mall Siam Paragon dengan tujuan Kinokuniya! Senang sekali akhirnya mencium wangi halaman buku lagi hahaha, saya beli tiga buku. Dua buku soal bunga dan satu fiksi karya penulis lokal. Keinginan saya adalah beli buku fiksi karya penulis lokal setiap pergi ke suatu negara. (yaAllah padahal baru juga pergi ke SATU negara lain) (namanya juga mimpi)
    Mall Siam Paragon bagus dan mewah sekali, lantainya licin sebagaimana umumnya mall "luxury" hahahah. Hari itu tidak banyak pergi ke tempat wisata, hanya berjalan-jalan di area mall satu ke mall lain (anjay mall hopping). Makan pun juga di food court mall. Pulang pergi naik BTS seperti biasa, di jalan pulang juga sempat makan tanghulu stroberi yang di beli di stasiun BTS.


Hari Kelima (21 Agustus 2024)
    Pagi itu kami memulai hari dengan naik grab ke Buriram United shop yang jaraknya sekitar 20-an kilometer dari airbnb kami. Demi merchandise klub sepakbola lokal. Setelahnya kami sempat pulang dulu dan bersantai sejenak. Selain agenda belanja merch bola, tujuan kami hari ini juga hanya berkisar soal jalan di mall dan lihat-lihat (atau belanja kalau ada yang oke)
    Kami makan padthai enak di Tummour. Harganya cukup pricey namun setara dengan porsi yang segunung-kidul itu. Rasanya juga tidak mengecewakan. Cukup untuk bahan bakar mlaku sedino.
Selain makan besar kami juga mencicipi rasanya ngafe After You di Platinum mall. Ya, After You yang milkbunnya sempat viral dijastipin itu. Oh ya memang rasanya enak. Kue-kuenya lembut, manisnya tidak terasa lebay dan sakit di gigi-tenggorokan. Kami beli strawberry and cream croffle, kopi, milkbun dan kukis. Di mall, saya juga masuk ke moshimoshi (konsepnya semacam miniso, banyak barang dengan tema-tema seasonal). Harganya juga cukup terjangkau, lumayan alternatif oleh-oleh stationeries dan barang lucu. Seperti hari-hari lainnya di Bangkok, entah itu mengawali atau mengakhiri hari, kami selalu pergi ke 7-eleven. Hari itu saya makan tao kae noi rasa tomat, enak sekali!!!


Hari Keenam (22 Agustus 2024)
    Tujuan kami di hari efektif terakhir dalam liburan ini adalah untuk makan all you can eat di sunset cruise sungai Chao Praya. Jadwalnya sore hari yah obviously namanya juga SUNSET cruise ya pemirsa. Jadi kami masih punya seharian untuk jalan-jalan sambil tunggu waktu.
    Pagi kami mulai dengan pergi ke agenda perkopian satu: Pobnar Specialty Coffee and Roastery. Tempatnya ada di dalam gang kecil. Kami sempat salah masuk gang dan berujung sampai di pintu dapur kedainya haha. Di dalam kedai kopi terasa homey, ukurannya relatif kecil namun cukup penuh pengunjung. Dari pakaiannya mayoritas sepertinya pekerja kantor, karena lokasinya juga berada di sekitar area perkantoran. 
    Selanjutnya kami lanjut ke agenda perkopian dua: Mother Roaster Talad Noi. Ini salah satu kedai kopi paling nyentrik sih dari segi tempat. Jadi, kedainya ada di lantai dua, lantai satunya (terlihat) seperti area pengepul barang bekas. Walau telah ditata cukup rapi, barang-barang bekas di lantai satu ini bau apek debu dan aroma khas besi berkaratnya masih cukup kuat. Jujur saya tidak nyaman, untungnya lantai satu itu hanya sebagai tempat lewat saja. Suasana dalam kedai di lantai dua seperti toko kopi pada umumnya, lumayan dingin, didominasi aroma biji kopi walau saya akhirnya tetap pesan dan minum matcha latte. Cukup banyak sudut dan benda yang instagrammable pada dua kedai kopi diatas.
    Selanjutnya kami langsung menuju Asiatique the Riverfront untuk jalan-jalan sambil menunggu jadwal naik sunset cruise. Karena masih siang dan kami belum makan besar, sedangkan makan ayce masih nanti sore, maka kami maksi di area food court. Pilihan makanan halalnya banyak, tapi cukup panas karena tempat ini adalah open-air mall (Pasar but make it fancy, lol). Makanannya enak dengan porsi yang cukup. Letak mushola mudah dijangkau dan tempatnya juga bersih.
    Tibalah waktu yang ditunggu, untuk masuk ke dalam kapal, karcis kami sudah ditentukan lantai dan tempat duduknya. Di kapal yang saya tumpangi, ada dua lantai, lantai bawah indoor dan lantai atas outdoor. Kami dapat di lantai bawah indoor. Makanan mulai bisa dinikmati setelah semua penumpang duduk dan pramugari/a menjelaskan SOP. Makanannya beragam, bintang utamanya sih seafoodnya ya. Beda juga rasanya naik kapal bagus sambil makan cantik dengan naik perahu kayu waktu nyebrang dari Wat Arun ke Wat Phra itu hahaha. 
    Sampai di unit airbnb kami membereskan koper, dapur dan kamar. Juga memastikan kulkas dalam kondisi kosong sebelum ditinggal pulang besok. Packing pulang tidak makan waktu cukup lama, semua bawaan bisa masuk koper karena sudah beli satu koper baru LOL.


Hari Ketujuh (23 Agustus 2024)
    Karena ini adalah hari terakhir dari rangkaian liburan pertama kami, jadi tentu tidak ada jadwal selain memastikan semua barang bawaan disusun dengan rapi dan siap caw.
Sebelum pulang kami tidak lupa mampir 7-eleven lagi. Beli ciki yang rasa-rasanya tidak ada di Indonesia hahaha. Kami menuju bandara dengan grab. Sampai di Bandara beli Chatramue (yang sekarang buka gerai Indonesia, tapi di Surabaya HAHAHA). 
    Kami pulang dengan pesawat direct. Keputusan yang bagus karena tidak terbayang capeknya kalau harus transit lagi dengan bawaan segambreng. Pertama kali naik Thai Airways yang terkenal cukup baik pelayanannya, dan terbukti. Makanan di pesawat enak, pilihan entertainment di layar kursinya juga cukup update (saya nonton film the pope's exorcist deh kalau tidak salah ingat, yang jelas film horor barat). Menurut suami saya yang pengalaman naik pesawatnya jauh lebih banyak, take-off dan landing-nya Thai Airways ini salah satu yang paling mulus.



    Merangkum tujuh hari dalam satu tulisan blog butuh usaha luar biasa ya, terlebih ini sudah berlalu. Seharusnya ditulis langsung setelah selesai liburan, yah apa daya manusia yang lemah (malas) ini. Sekian, semoga ada hal baik yang bisa diambil jika anda tidak sengaja membaca tulisan ini sampai habis. Terima kasih!

Salam,
A.

Rekreasi Singkat Berkedok Transit

    Ditengah sesi membaca yang sering kedistrek banyak hal itu, saya terpikir lho kenapa sampai sekarang belum menulis pengalaman pertama yang paling diinginkan sejak lama ini. Pergi ke luar negeri. Ya, beberapa tahun lalu saya bahkan giat mencari sekolah dan beasiswa supaya bisa merasakan tinggal di yurop LOL. Jadi hari ini, berbekal itinerary, foto dan catatan jurnal saya berusaha kembali merekam perjalanan pertama ke luar negeri setahun lalu itu dalam tulisan. (walau bukan untuk sekolah, walau bukan yurop)

    Seminggu setelah acara pernikahan, kami langsung tancap gas preian karena GOSH! menyiapkan acara itu lumayan bikin pening ya walau sudah terlatih jadi panitia waktu kuliah LOL. Rencana liburan kami dirancang dengan cepat dan tentu tidak 100% mindful hahaha. Sebenarnya kami berdua tidak punya ide liburan setelah menikah. Jangankan ke luar negeri, melihat setiap invoice vendor nikah saja sudah bikin lemas. Namun akhirnya terciptalah itinerary itu. Nekat, supaya pernah dan mumpung ada nyali serta ongkosnya. Jadi tujuan liburannya 8 hari 7 malam menuju Thailand, sudah termasuk perjalanan PP dan transit 18 jam di Singapura pada hari pertama.
Kenapa Thailand? karena dari segi harga hotel, makanan dan transportasi, Bangkok tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Begitu ulasan yang saya baca dan tonton dari banyak blog dan vlog pelancong.

    Jakarta ke Singapura kami naik Jetstar, low-cost airline andalan warga biasa. Pertama kali mendarat di Singapura saya belum merasa asing, sebab suasana bandara Changi yang tersohor itu sudah acapkali saya lihat dalam unggahan foto teman-teman. Bersih dan rapi adalah kesan pertama yang saya rasakan saat melihatnya sendiri. Bukan tujuan utama perjalanan kali itu memang, namun waktu 18 jam transit memang sengaja kami ambil sebagai win-win solution. Satu, bisa tidur di bandara dengan tenang karena berstatus penumpang transit. Harga hotel di Singapura begitu mengancam bagi warga biasa dari negara ketiga seperti kami. Dua, tetap bisa keluar bandara menghabiskan pagi-siang di kota. Bagi kami yang pertama kali ke luar negeri, momen transit di Singapura ini tetap terasa seperti bagian dari liburan.

    Mendarat lewat tengah malam di Changi, kami mengisi botol dengan tap water dan tidur ngemper menunggu pagi. AC Changi saat malam dingin sekali, memakai jaket dan kaus kaki sangat membantu menghangatkan tubuh. Ketika pagi tiba, kami bersiap keluar bandara dengan kereta. Sebelum lanjut naik kereta kami menitipkan koper di Smarte Carte. Berbekal kartu Singapore Tourist Pass seharga 17 SGD untuk 1 hari penuh kami bisa naik bus, MRT dan LRT. Tujuan pertama kami pagi itu adalah Jewel Changi untuk melihat air terjun indoor. Suasana masih cukup lengang dan memungkinkan untuk punya foto bagus. Kalau hasilnya kurang ya memang itu faktor kamera dan kemampuan kami saja.

    Lanjut naik kereta menuju kota, kami turun di stasiun MRT raffles place. Lalu jalan di sekitar Boat Quay, duduk-duduk di pinggir kali Singapura sambil makan buah potong dan lihat burung-burung. Hari itu tidak terlalu panas karena banyak awan menyelimuti. Jadi nyaman sih karena katanya panas Singapura lumayan menyengat, tapi juga sedikit cemas kalau hujan tiba-tiba karena payungnya ada di dalam koper yang ditinggal di penitipan barang itu. Lanjut ke tujuan berikutnya yang turis banget, area patung Merlion. Cukup ramai walau masih pagi. Sejauh mata memandang banyak sekali gedung megah.  Tak seperti lirik lagu Ekspektasi yang "foto postingannya dengan yang aslinya berbeda", Singapura ini tepat seperti apa yang dipotret media. Megah dan tertata rapi.

    Setelah jalan dan foto-foto sebagaimana turis pada umumnya, lanjut ke halte nunggu bus menuju Selegie Rd. Tujuan kami kesini adalah mengunjungi Apartment Coffee, sebuah kedai kopi yang masuk world's best coffee shop. Sebagai istri dari penggemar kopi ya ikut saja~ Kami bahkan sampai sebelum gantungan sign "CLOSE" dibalik jadi "OPEN" alias sek tutup. Menunggu tak terlalu lama, kami disambut dengan hangat oleh barista, dijelaskan singkat soal biji kopi dan penyajiannya. Tempatnya nyaman, minimalis ala japandi style. Tidak seperti kedai kopi Indonesia yang menyediakan WiFi dan colokan for free, disini hanya dapat apa yang dibeli hehe mungkin budaya yang berbeda atau memang itulah wajarnya hidup di negara yang living costnya setinggi langit.

    Setelah selesai dengan agenda (sebenarnya utama) perkopian suami. Kami lanjut naik bus menuju Bugis Street untuk bertemu teman. Sampai di Bugis+ kami langsung menuju toilet. Oh ya! Omong-omong soal toilet, ternyata tidak semua toilet di Singapura lengkap dengan jet shower ya hahaha huft. Lalu dengan PD kami masuk ke CoCo Ichibanya yang di Indonesia sudah pernah kami cicipi menunya. Ups, tapi ternyata chain di Singapura ini non-halal. Baiknya, uncle waiter memberi info dengan sopan pada kami. Jadi siang itu akhirnya kami makan onigiri 7-eleven saja hahaha. Lalu ditemani Blessy, teman kerja saya dari India, kami menyusuri area Bugis Street untuk membeli oleh-oleh dan tidak lupa foto-foto (jangan lupakan jati diri sebagai turis!!!)
Cukup lama kami menghabiskan waktu di Bugis sampai sore dan gerimis mulai turun, kami berpamitan dengan Blessy dan kembali ke bandara.

    Pesawat menuju Bangkok boarding jam 18:35, kami naik Jetstar part 2. Bangkok days akan ada di tulisan selanjutnya (jyakh).



Salam,
A.

July 04, 2025

Kopi

    Hari-hari ini cukup umum rasanya menjadikan kopi sebagai konsumsi harian. Entah itu dalam bentuk americano atau latte (yah atau banyak lainnya, tapi dua itulah top of mind saya pun10). Asupan kafein itu diharapkan jadi pendongkrak semangat untuk beraktivitas. Saya mulai mengamati hubungan orang-orang dan kopi ini sejak kuliah. Ajakan "Ngopi sek" jadi semacam ice breaking saat nugas terasa nyandhet. Ketika bekerja, kebiasaan orang sekitar minum kopi jauh lebih intens lagi. Faktor ekonomi mungkin, jelas beda dong kantong pekerja dan mahasiswa rantau hahaha. Namun, sebagai orang ketiga dalam cerita (lol) saya bukan termasuk golongan yang ngopi. Ketika teman-teman seruangan bulk order dari satu toko kopi andalan, saya hampir selalu pesan matcha (iya, abu kremasi shrek rasa rumput yang lagi hits sekarang itu) atau es coklat.

    Ketika menikah dan pasangan saya suka kopi, tentu kedekatan saya dan kopi jadi lebih akrab lagi. Tidak hanya suka minum kopi, Ia antusias mempelajarinya. Ikut kelas kopi, datang ke pameran-pameran kopi dan bergabung di grup pecinta kopi. Belum sampai pasang bio "a coffee enthusiast" juga sih (kalo bisa jangan deh HEHE). Saya dukung hobi baiknya soal kopi ini, asal tidak merokok dan Manchester United. Ia minum kopi hampir setiap hari. Dari yang diseduh sendiri (rispek barista) atau dibeli dari toko kopi favoritnya. Alhamdulillah, tidak ada tekanan untuk menjadi istri yang bisa bikin kopi enak. Alat kopi satu persatu mengisi ruang di rumah kami. Jalan-jalan ke luar kota tak pernah luput dari agenda mampir kedai kopi lokalnya. Mulai dari coffeeshop viral yang melihat antriannya saja sudah bikin saya lelah, sampai slow bar yang mengharuskan kami berbincang langsung dengan baristanya. Agenda yang tentu amat memperlihatkan betapa Ia adalah ekstrovert nyel. "Disana gak terlalu rame kok, kamu pasti suka." adalah kalimat paling sering diucapkannya untuk mengajak saya yang kurang eksplor ini. "Ada buku-buku juga, tempatnya bagus buat foto-foto." merupakan kuncian yang dia paham akan sulit saya tolak.

    Walau saya bukan anak kopi, saya suka meletakkan segelas biji kopi di kulkas. Sebagai penetralisir bau. Aroma biji kopi, sampai seduhannya itu sangat bermacam-macam ternyata. Dulu waktu kecil, referensi saya soal kopi hanya sebatas kopi tubruk yang dibuat Bapak. Kopi bubuk, gula, dan air panas di dalam gelas. Kopi panas yang dituang sedikit demi sedikit ke lepek lalu disesap perlahan. Kegiatan ngopag alias ngopi pagi Bapak itu sepertinya salah satu cara mindful memulai hari. Sekarang setiap suami saya selesai meroasting biji kopi atau menyeduh segelas dua gelas, saya ikut menghirup aromanya. Awalnya deskripsi saya hanya sebatas bau gosong kopi (sopannya kau punya mulut). Tapi kini, saya mulai tercerahkan dengan kemampuan deskriptif yang lebih baik. Ada aroma manis seperti madu, wangi seperti bunga, dan segar seperti buah (maaf ya, kalo "baik"nya masih segini HAHA)

    Layaknya banyak jenis sajian lain di meja makan, secangkir kopi juga melalui proses yang panjang untuk sampai di hadapan kami. Proses yang dilalui memengaruhi bagaimana rasa dan aromanya. Oleh siapa biji kopi itu diproses pun bisa jadi meningkatkan valuenya berkali lipat. Kolaborasi dari banyak tangan itu mestinya (well, since I'm not drinking it myself) membentuk rasa kopi yang beragam. Jadi saya sedikit mulai paham, kenapa dia tidak bosan ya minum kopi lagi dan lagi? Mungkin karena rasanya tidak pernah 100% sama di setiap seduhan.

    "Ada kenikmatan hidup yang tereduksi jika tidak minum kopi, mbak", ucap seorang barista sebuah slow bar di Bandung. Wow, syok kecil mendengarnya. Tapi saya tidak tersinggung, sebab nyatanya saya menemukan kenikmatan lain dalam hidup dan masih baik-baik saja walau tidak minum kopi (lho kok defensif).

    Saya jarang minum kopi lagi sejak maba. Saya bahkan lupa kenapa bisa menelan rasanya yang kini baru saya sadari tidak jadi preferensi lagi. Tujuan saya minum kopi semasa maba memang hanya supaya lebih giat mengerjakan tugas dan menepis kepeloran* yang mendarah daging. Momen jadi mahasiswa baru itu memang cukup sulit bagi saya. Beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, jauh dari rumah, dan banyak tugas yang harus diselesaikan. Sepertinya minum kopi bagi saya akan mengingatkan hal-hal itu, sebab saya minum kopi sebagai coping mechanism bukan recreation. Yah, saya harusnya bisa "memperbarui" mindset tentang minum kopi ini, hanya saja rasanya terlalu pekat di kepala. Sama seperti perjalanan panjang penyajian kopi, saya juga butuh waktu lama untuk bisa menikmatinya lagi.

    Tulisan ini untuk suami saya yang beberapa waktu lalu merayakan hari lahirnya. Saya berusaha mengenal kesukaannya lebih dekat dan menuliskannya disini. Selamat ulang tahun, cintaku. Sehat, tenang dan bahagialah selalu. Semoga rutinitas minum kopimu senantiasa mengiringi sesi ku membaca buku.

Salam,
A.

*pelor: nempel molor (ungkapan untuk orang yang mudah tidur kapan dan dimana saja)

May 09, 2025

Tampil Baik ≠ Menutupi Kenyataan

Kemarin siang, saya membaca berita kunjungan founder Microsoft ke sekolah dasar negeri untuk meninjau program makan bergizi gratis. Sebagaimana budaya Indonesia yang amat memuliakan tamu, sekolah yang dikunjungi terlihat sangat bersih dan rapi. Anak-anak terlihat antusias. Tumpukan kotak makan siang sudah siap didistribusikan, hingga ada satu kelas yang dijadikan tempat pemeriksaan kesehatan gratis. Ah! sungguh sangat tepat waktu ya pemeriksaan kesehatan itu. Sesuai dengan jadwal kedatangan tamu penting negara. Oh, atau memang program itu selalu ada setiap hari, who knows! ;)

Berita itu mengingatkan saya pada masa sekolah dulu. Saya heran mengapa saat ada kunjungan orang-orang penting ke sekolah, kami harus bersiap dengan sedikit berlebihan. Membersihkan seisi sekolah, mengganti furnitur atau alat peraga yang kurang layak, bawa pot lengkap dengan bunganya untuk menambah tanaman di halaman sekolah. Bahkan sampai melakukan hal-hal yang sangat staged, seperti menata meja dan kursi untuk duduk melingkar dan berdiskusi. Secara kenyataan sehari-hari, belajar dengan pola FGD di era KTSP jarang sekali terjadi. Jika kunjungan itu untuk melihat bagaimana kami belajar dan berkegiatan di sekolah, bukankah sia-sia jika yang terlihat kepalsuan semata?

Sebagai anak kecil yang merasa kerepotan dengan kunjungan orang-orang penting yang tidak dikenalnya secara langsung, saya hanya berpikir:
"Jika tujuan kunjungan untuk memeriksa, kenapa tidak ditampilkan apa adanya seperti hari-hari biasa. Seperti, jika kita bohong pada dokter maka akan mengganggu proses diagnosis kan?" atau "Kenapa tidak setiap hari saja kondisi sekolah seideal ini? Sewaktu-waktu ada kunjungan atau pemeriksaan, tidak ada yang perlu ditutupi."

Orang-orang dewasa mungkin sering lupa bahwa anak kecil adalah peniru ulung. Kami mengamati, mencari tahu dan bisa jadi menerapkan hasil observasi perilaku itu di masa depan. Anak-anak melihat orang dewasa di sekitarnya terus menerus berusaha tampil baik hanya semata demi penerimaan. Sangat mungkin, Ia tumbuh dengan pemikiran bahwa menampilkan hal yang baik itu sama dengan menutupi kenyataan. Ketidakmampuan seseorang melihat dan menerima kekurangan bisa jadi hasil dari lingkungan yang terbiasa menyajikan rainbows and butterflies. Sedangkan dunia yang tidak ideal ini, cepat atau lambat akan menyajikan segala kebenaran bahkan melalui cara paling mengejutkan. Di sisi lain, mampu melihat dan menerima kekurangan itu adalah jalan awal perbaikan.

Sedikit out of topic, namun saya baru saja menonton film lawas fenomenal The Truman Show. Satu dari sekian banyak yang bisa dipetik dari kehidupan truman adalah pilihannya. Pada akhirnya, Ia memilih hidup di dunia nyata dengan segala kemungkinan buruknya daripada hidup penuh kenyamanan dalam kepalsuan studio.

Hari-hari ini dengan media sosial, upaya menampilkan sesuatu secara berlebihan hingga berbeda dengan kenyataan jadi lebih mudah dijangkau semua orang. Celakanya apabila hal ini dijadikan alat untuk memengaruhi massa dalam menentukan keputusan rasional. Salah satunya ya redacted.

Semoga kita selalu diberkahi pikiran yang jernih supaya senantiasa mengambil pilihan yang baik dan benar. Semoga kita diberi kemampuan untuk selalu jujur dan menyampaikan kenyataan dengan patut, entah itu pada diri sendiri maupun orang lain.

Salam,
A.

March 19, 2025

Capturing Memorabilia

"...Ceritakan padaku bagaimana tempat tinggalmu yang baru. Adakah sungai-sungai itu benar-benar dilintasi dengan air susu? Juga badanmu tak sakit-sakit lagi. Kau dan orang-orang disana muda lagi..." (Gala bunga matahari - Sal Priadi)   

    Mencatat hal-hal yang disyukuri setiap hari dalam gratitude journal sering jadi momen emosional. Sebab rasa syukur hampir selalu mengantar saya mengingat kejadian lalu sebagai pembanding. Betapa rahman dan rahim-Nya begitu besar. Bagi saya mencatat adalah salah satu cara menyokong banyaknya ambisi dalam kepala, yang tak jarang menerbangkan saya ke banyak kekhawatiran tidak berdasar. Maka bersyukur adalah sarana reality check-nya. Mencatat hal yang disyukuri adalah salah satu keputusan terbaik tahun 2020. Semoga terus jadi kebiasaan baik yang terpelihara.
   High-achiever era saya hanya sebatas di sekolah dasar, namun itu cukup membekas. Dengan dukungan penuh Bapak dan Ibu, apapun keperluan sekolah saya pasti dipenuhi. Saya dibebaskan dari segala pekerjaan membantu orang tua di rumah. Bahkan di momen-momen berikutnya ketika saya tidak lagi mencapai banyak hal terbaik. Bapak dan Ibu tetap memperlakukan saya layaknya juara. Gagal daftar SMP favorit kabupaten sebelah karena berkasnya ditinggal, sebab nilai ujian saya sedikit lebih tinggi dibanding nilai anak koordinator pendaftaran kolektif. Bapak disana, menyaksikan semua. Saya melihat ekspresi kesal dan sesalnya, tapi perlakuannya tetap lemah lembut kepada saya. Gagal masuk SMA favorit di kabupaten sendiri karena nilai tesnya rendah. Bapak juga disana, menemani saya yang menangis dan terus meyakinkan bahwa sekolah dimana saja itu baik, tergantung daya juangnya. Betul, walau jadi lulusan sekolah biasa saja sama dengan butuh usaha berkali lipat untuk jadi setara kualitas lulusan sekolah favorit. Hehehe~
    Kali pertama saya berhasil masuk sekolah pilihan pertama, lewat tes tulis yang biaya daftarnya diusahakan setengah mati oleh kakak. Bapak tidak lagi disana, tidak mendengar kabar bahagia secara langsung. Bapak sudah pulang. Saya tidak sempat menunjukkan jas almamater dan menceritakan bagaimana hidup sebagai anak kuliahan. Pengalaman yang tak pernah Ia lalui.
    Adult money pertama yang saya peroleh waktu kuliah semester akhir tidak mampu membeli waktu. Bapak sudah pulang. Keinginan saya membelikan sepasang sandal untuknya tidak pernah terwujud. Saya menyesal waktu SD membongkar tabungan untuk jajan sendiri. Padahal tujuan awalnya, itu adalah tabungan beli sandal untuk ulang tahun Bapak.

"...Kangennya masih ada di setiap waktu. Kadang aku menangis bila aku perlu. Tapi aku sekarang sudah lebih lucu. Jadilah menyenangkan seperti katamu. Jalani hidup dengan penuh sukacita. Dan percaya kau ada di hatiku, selamanya..." (Gala bunga matahari - Sal Priadi)   

    Kali pertama saya bekerja dan tinggal di Jakarta, ibukota yang masyhur itu. Bapak tidak lagi disana, tidak mengantar saya berangkat naik bus dan menenteng tas jinjing. Tidak saya cium tangannya dan tidak ada kalimat "ati-ati neng ndalan, sing sregep yo" lagi. Padahal ini mungkin adalah saat terbaik untuk mengajak Bapak ke Jakarta dengan gembira. Sebab terakhir kali Bapak ke Jakarta tahun 2007, Ia berharap bisa membawa pulang hadiah dari kupon yang ditemukannya di dalam bungkus deterjen. Kupon yang ketika saya dewasa baru saya tahu adalah modus penipuan. Oh, entah apa yang terjadi selama perjalanan dan bagaimana perasaannya saat itu. Kini Bapak sudah pulang. Tak ada lagi kesempatan mengenalkannya pada MRT dan tap cardnya yang mutakhir ini. Hilang sudah peluang untuk mengajaknya mencoba berbagai olahan daging sapi yang lembut dan meleleh di mulut. Makanan favorit yang selalu membuat mata Bapak berbinar-binar, apapun yang diolah dari daging sapi.
    Bapak, maaf untuk banyak hal yang tidak terwujud sampai hari terakhirmu disini. Maaf untuk hari-hari yang terlewatkan sebab saya terlalu abai, tidak sadar bahwa kehilangan itu bisa kapan saja. Tidak paham bahwa kematian pasti datang dan sangat dekat. Maaf untuk momen-momen bahagia yang baru saya usahakan dan bisa saya dapatkan justru ketika Bapak sudah pulang. Terima kasih untuk semua hal baik yang menjadi kenangan berharga. Ingatan yang saya tumpahkan dalam tulisan semata agar umurnya lebih lama. Karena saya takut sekali lupa.
    Saya bersyukur punya orang tua sebagai pendukung paling militan bagi kebaikan hidup anaknya. Untuk begitu banyak kesempatan yang mereka lewatkan demi kami. Untuk berbagai mimpi yang mereka korbankan demi kami. Ya Allah yang Maha Baik, mohon ampun atas segala dosa kami, anugerahkanlah kehidupan yang menenangkan bagi orang tua kami, mampukan kami jadi amal yang tak terputus bagi orang tua kami. Selalu.

Perjalanan melewati duka ini rumit sekali ya. Saat menangisi kehilangan besar 2012 di tahun 2025, saya merasa melangkah sangat lambat. Ketika orang lain sudah move forward. Padahal ini cuma hidup di dunia bukan arena lomba lari. Satu hari dilalui dengan penuh rasa tenang dan diwarnai gelak tawa. Hari lain dihabiskan dalam durasi tidur berlebihan. Dalam tangisan. Dalam kepala yang kewalahan menampung ingatan-ingatan masa lalu yang muncul bergantian. Semoga dikuatkan. Kuat, kuat, kuat.

Salam,
A.

February 09, 2025

Bagaimana Rasanya Naik Pesawat Pertama Kali?

    Halo! Kembali di serial #BagaimanaRasanya vol.8. Kali ini akan membahas tentang perjalanan naik pesawat (rispek traveler) Wah sungguh topik yang asing ya bagi blog dimana hampir mayoritas isinya adalah luapan perasaan dan jurnal melewati duka.
Naik pesawat adalah hal asing untuk saya, apalagi (most of the time) harus pergi sendirian. Di judul kali ini saya akan menceritakan pengalaman naik pesawat pertama kali dengan tujuan domestik di tahun 2019. Sebenarnya tulisan ini telah mengendap lama sekali di draft, sampai di tahun 2024 saya berhasil naik pesawat pertama kali dengan tujuan internasional. Lumayan, bisa jadi pengalaman sekaligus reminder kalau nanti ada kesempatan terbang lagi. Dengan catatan, seluruh perjalanan dengan pesawat kali ini adalah bebas visa. Jadi saya tidak bisa bahas soal itu karena belum ada pengalamannya hahaha.
    Ini adalah tulisan yang diniatkan untuk menjadi lembar pertanggungjawaban kepada dunia maya yang telah banyak membantu saya. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang mengandalkan google untuk membaca pengalaman orang lain sebelum melakukan sesuatu untuk pertama kalinya.

1. Beli tiket
    Jangan lupa untuk memperhatikan detail penerbangan; yang akan menunjukkan berapa lama penerbangan berlangsung, akan ada transit atau tidak, kapasitas kabin dan bagasi, fasilitas entertainment, makanan dll.
    Setelah memilih maskapai penerbangan dengan harga dan jam yg dikehendaki, lanjut mengisi identitas dan melakukan pembayaran. Tidak perlu tunggu waktu lama biasanya akan segera dapat email/sms/WA notifikasi status pembayaran. Jika status pembayaran telah dikonfirmasi berhasil, maka akan disusul terbitnya e-tiket.
    Saya membeli tiket lewat aplikasi tiket(dot)com. Di tab "pesawat" kemudian mengetik bandara keberangkatan, bandara tujuan, tanggal berangkat, kelas kabin, dan jumlah penumpang. Setelah pilihan maskapai di hari & rute yang dikehendaki muncul, tinggal dipilih jam dan harga yang sesuai dengan preferensi. Oh ya, jika memesan tiket pesawat tujuan LN, butuh nomor paspor yang masih berlaku. Jadi pastikan urusan paspor sudah beres sebelum sampai ke urusan tiket pesawat.

2. Menyiapkan dokumen dan bawaan
    Sebelumnya mari membahas tentang apa itu kabin dan bagasi, walau terdengar remeh namun dulu saya kebingungan membedakannya. Jadi kabin adalah bagian dalam pesawat, menyatu dengan bagian tempat duduk. Dapat kita lihat saat masuk ke dalam pesawat, umumnya berada diatas kepala saat kita duduk di kursi pesawat. Sedangkan bagasi adalah bagian khusus yang difungsikan untuk menyimpan barang bawaan penumpang, tidak bisa kita lihat saat sudah masuk kedalam pesawat. Maka, barang bawaan besar atau dengan berat melebihi kapasitas bawaan kabin harus dititipkan terlebih dahulu di counter check-in. 
    Cek ukuran koper, mana yang bisa dibawa masuk kedalam kabin pesawat atau harus berpisah sementara (masuk ke bagasi). Ukuran ini selain terkait dimensi koper, juga penting mengenai beratnya, cek maksimum berat bawaan untuk kabin dan bagasi. Biasanya sling bag, ransel dan koper ukuran kecil-medium bisa masuk kabin. Untuk koper ukuran medium-besar, kardus yg cukup besar dan berat akan masuk bagasi. Untuk bagasi ini akan dikenakan biaya tambahan jika melampaui maksimum yang tertera di detail penerbangan.
    Cek barang apa saja yang tidak perlu atau tidak bisa dibawa ke dalam pesawat. Mengutip dari travel.kompas.com benda-benda yang dilarang dibawa masuk ke kabin pesawat antara lain; benda tajam, senjata api, alat-alat untuk seni bela diri dan keamanan diri, peralatan olahraga, peralatan tukang, bahan peledak dan bahan cair mudah terbakar, lilin jenis gel, dan utamanya untuk penerbangan dengan durasi waktu lama aturan mengenai jumlah/kapasitas cairan yg dapat dibawa akan lebih detail lg.
    Selanjutnya untuk persiapan dokumen, seperti ketika naik kereta api, siapkan tiket dan kartu identitas yg dipakai membeli tiket. Siapkan paspor jika tujuan keberangkatan ke LN, juga cari tahu apakah perlu menginstal aplikasi tertentu atau mengisi data diri di web untuk melapor bahwa anda masuk ke negara tertentu. Misalnya, untuk masuk ke Singapura di tahun 2024, perlu install aplikasi myICA mobile dan mengisi SG Arrival Card maksimal 3 hari sebelum keberangkatan.

3. Menuju bandara 
    Siapkan waktu untuk datang ke bandara lebih awal, sebab kondisi jalan yang tidak terduga (di Indonesia) adalah sesuatu yang harus disiasati dengan cerdik HAHAHAHA. Cek ulang barang bawaan, pastikan tidak ada hal penting yang tertinggal. Juga, harap perhatikan terminal tujuan keberangkatan. Sebab jarak antar terminal di bandara besar kadang cukup jauh. Jika salah terminal, waktu tempuh sekaligus rasa paniknya bisa membuat persiapan kita lumayan terguncang.

4. Check in
    Biasanya sudah dibuka 2 jam sebelum keberangkatan, tunjukkan tiket, kartu identitas dan barang bawaan yang akan diletakkan di bagasi (jika ada). Lalu akan mendapat boarding pass untuk discan di gate keberangkatan. Untuk barang bawaan bagasi akan memperoleh baggage tag dan baggage receipt (untuk klaim barang jika ada kehilangan/kerusakan).

5. Menuju gate keberangkatan
    Gate keberangkatan bisa dilihat dalam boarding pass atau di meja check-in biasanya petugas menerangkan nomor gate keberangkatan, bisa juga langsung bertanya arahnya jika pertama kali mengunjungi bandara tsb. Bertanyalah dan para petugas akan membantu hehe. Ini salah satu alasan mengapa perlu meluangkan waktu cukup banyak sebelum jam boarding, karena bandara ini tempat henti dan berangkatnya pesawat. Tentu saja, luasnya berkali lipat terminal atau stasiun kereta api. Maka, jarak dari counter check-in ke gate butuh waktu tempuh yang lumayan dengan jalan kaki. Lebih baik tiba lebih awal daripada harus mendadak sprinter di bandara.

6. Menunggu keberangkatan
    Jika sudah berada di dekat gate keberangkatan perhatikan pengumuman dari speaker atau petugas terkait. Kadang gate keberangkatan pesawat bisa berubah karena alasan yang saya juga tidak tahu. So, stay mindful~ Jika waktu boarding tiba, biasanya petugas akan membagi barisan sesuai dengan row tempat duduk supaya lebih efisien. Boarding pass discan dan akan diarahkan masuk ke garbarata (lorong jembatan penghubung dari ruang tunggu ke pesawat) atau harus naik shuttle bus ke pesawat. Tergantung posisi pesawat sedang parkir dimana hahaha.

7. Di dalam pesawat
    Saat masuk pesawat akan disambut pramugara atau pramugari yang bertugas. Letakkan barang bawaan di "lemari" atas kursi sesuai posisi anda, atau pramugari akan mengatur letaknya sesuai dengan ketersediaan tempat. Tidak perlu khawatir jika barang dipindahkan oleh pramugari, Insyaallah akan tetap aman. Juga, jangan lupa mematikan ponsel atau mengalihkannya pada mode pesawat ya!
Pastikan selalu mendengar dan mengikuti instruksi pramugari yang bertugas, dan sekali lagi bertanyalah jika tidak mengerti. We always have that first time for everything and It's okay to act like 5yo on it! Di dalam penerbangan dengan durasi waktu cukup lama biasanya konsumsi akan termasuk dalam fasilitas tiket penerbangan, ada menu yang bisa dipilih sesuai preferensi. Oh ya, jika kita duduk di dekat pintu darurat pesawat, pramugara/i akan mendatangi kita untuk menjelaskan prosedur khusus yang harus dilakukan sebagai penumpang terdekat dengan pintu darurat.
    
8. Tiba di bandara tujuan
    Sama seperti saat antre naik pesawat, ketika tiba di bandara tujuan dan akan keluar dari pesawat, pramugara/i akan memandu penumpang untuk jalan berurutan sesuai tempat duduk. Saat ini lah penumpang diperbolehkan kembali mengaktifkan telepon genggam.

    Saya rasa, itulah yang dapat saya bagikan terkait persiapan perjalanan dengan pesawat, khususnya bagi newbie. Lebih baik mencari tahu banyak hal, daripada panik di jalan.
Saya ingat ketika pertama kali naik pesawat, rasa berdebar sungguh kencang di dada. Hal paling menyebalkan lainnya adalah seketika ingatan akan berita-berita tidak menyenangkan tentang moda transportasi ini lalu muncul di kepala. Astaga! banyak-banyak istighfar dan berpikir positif. Alihkan perhatian pada hal-hal lain yang menarik karena baru pertama dialami. Contohnya membaca buletin dan buku petunjuk keselamatan di kantong kursi depan. Lakukan apapun selain berpikir buruk!
Naik pesawat menawarkan pengalaman yang amat berbeda, jika duduk dekat jendela bisa melihat awan lebih dekat dan kota dibawah jadi mengecil sampai hanya terlihat kerlip lampunya saja. Dengan pengetahuan yang terbatas ini, kadang terpikir oh betapa mutakhir kemajuan zaman hingga mampu membawa manusia terbang~
    Baiklah, terima kasih sudah membaca sampai disini. Semoga perjalanan anda dengan pesawat senantiasa aman dan menyenangkan! Sampai jumpa di #BagaimanaRasanya volume selanjutnya~


Salam,
A.

January 02, 2025

Kembali ke Jakarta

    Selamat tahun baru 2025! Sudah hari kedua di tahun 2025, Alhamdulillah konsentrasinya masih cukup baik terpantau dari menulis tahun di catatan dengan benar hahaha. Biasanya di awal-awal tahun baru dengan pikiran yang kesana-kemari, menulis tahun pun masih terbayang angka yang lalu.
    Januari ini saya insyaAllah akan genap lima bulan kembali ke Jakarta sejak pulang ke rumah di akhir 2022 yang lalu. Seperti Surabaya yang juga lama jadi tempat rantau, Jakarta pun selalu menyuguhkan kesan dalam dua sisi koin. Saya akan mulai dari hal-hal yang menyebalkan atau hmm... mungkin sedikit tidak nyaman. 
    Pertama, polusi dan langit biru. Hampir dua tahun kembali ke rumah membuat saya terbiasa menghirup udara segar pagi hari di desa. Langit yang hampir selalu biru, cerah tanpa polusi dan hujan yang menyisakan petrichor. Berada di rumah yang jauh dari hiruk pikuk kota, tidak ada tuntutan hidup dengan pace serba cepat ternyata sungguh nyaman.  Sejak full-time menjadi anak kos (2011-2022) saya rasanya kehilangan "sarang". Berpindah dari satu kamar ke kamar lain, membuat saya tidak pernah punya kamar sendiri yang bisa ditata sesuka hati. Sebab kamar-kamar kos itu hanya tempat tinggal sementara. Padahal sejak kecil saya paling suka menghabiskan waktu di kamar. Hingga saat pulang ke rumah, saya kembali "membangun sarang", beli pernak-pernik lucu, menggelar karpet yang senada dengan sprei, bahkan melukis dinding (akhirnya!)
    Lalu di 2024, saya harus kembali lagi ke Jakarta. Tak hanya meninggalkan kamar yang nyaman dan amat personal, namun juga mengucap bye-bye pada udara segar dan langit cerah setiap hari. Alhamdulillah, di tempat tinggal yang baru saya tetap bebas menata sesuka hati walau kamarnya tak lagi dihuni sendiri. Tapi soal bimbang antara polusi atau kabut pagi masih selalu jadi obrolan tak henti-henti. Debu yang masuk lumayan bikin kewalahan. Melihat langit cerah dan biru seperti momen langka karena tidak bisa dinikmati setiap hari. Yaaa... begitulah langit Jakarta, lebih sering disambangi polusi dan tentu saja susah diromantisasi.
    Kedua, ketimpangan yang terlihat nyata dan dimana-mana. Mengedarkan pandangan dengan penuh empati ke tiap sudut kota Jakarta, tak pernah gagal membuat pikiran penuh. Sedih, marah, dan kecewa adalah top #3 perasaan yang sering kali muncul. Orang-orang tidur beratap langit beralas spanduk partai. Anak usia sekolah berlalu lalang menjajakan tisu di lampu merah. Balita bermain di dekat rel kereta, pinggir jalan raya, tepi sungai kotor. Tempat-tempat yang tak seharusnya jadi "taman bermain" mereka. 
    Saya lahir dan besar di desa yang sebagian warganya hidup dengan cukup (bukan berkecukupan, hanya cukup. tidak berkelimpahan, tidak juga yang amat kekurangan). Disana, walau tak semua rumah berlantai keramik, namun setidaknya setiap keluarga punya tempat bernaung yang aman dari panas dan hujan. Anak-anak sekolah dan bermain, tumbuh dengan aktivitas sesuai usianya. Jadi, melihat realita kota besar seperti Jakarta tetap menguras emosi saya. 
    Dalam hati, saya sering berimajinasi punya resources yang melimpah untuk membuat hidup orang-orang terpinggirkan itu jadi lebih nyaman. Tapi saya juga berpikir, akankah mindset dan empati saya akan berubah ketika memiliki kemampuan untuk mewujudkan khayalan itu. Sebab, banyak saya dengar money doesn't change you, it reveals who you truly are. Hehe ngeri juga, takut ternyata karakter sebenarnya pure evil. Eh lha kok terdesak keadaan yang dari kecil garis hidupnya kebetulan susah, jadinya bisa melakukan hal-hal baik dan manusiawi. Naudzubillah, semoga tetap dijaga dalam kebaikan dan dijauhkan dari berbuat yang buruk ya (sekalipun mulai dari pikiran). Yaaa... jika belum bisa membuat impact yang bikin nyaman hidup banyak orang, setidaknya bertindaklah baik. Semoga kita bisa saling berwelas asih, mewujudkan hidup yang lebih ramah untuk mereka.
    Ketiga, waktu di Jakarta terasa selalu berjalan lebih cepat. Jalan yang padat adalah penyebab utama. Waktu orang-orang dihabiskan banyak sekali untuk menempuh jarak yang tak seberapa. Sebagai perbandingan, di Jakarta dari tempat tinggal saya ke GI butuh sekitar 25-30menit untuk menempuh jarak 8,8km, di kampung halaman saya, dengan waktu yang sama saya bisa sampai ke stasiun terdekat yang berjarak 20km dari rumah. Namun demikian, selalu ada sisi koin sebaliknya yang menarik. Transportasi umum di Jakarta tentu adalah yang paling mutakhir di Indonesia. Integrasinya cukup baik. Walau tetap saja berlomba dengan banyaknya pengguna, maka kenyamanan sudah tentu bukan prioritas utama.
    Selanjutnya, hal-hal menyenangkan dan hanya bisa saya rasakan ketika tinggal di Jakarta. Mungkin tak sebanyak dan sedetail hal menyebalkannya LOL tapi ya sudahlah, bukan lomba banyak-banyakan juga. Mal dan bioskop dekat, saya tak perlu menempuh satu jam perjalanan seperti di kampung hanya untuk nonton film. Pilihannya pun banyak sekali, mau mal yang banyak tenant atau yang cukup sepi asal ada jajan oke, bisaaaa. Lalu, di Jakarta juga bisa pakai fitur pengiriman instant untuk banyak official store di marketplace, karena yaaa...apa sih yang tidak ada di Jakarta? Kehadiran pemerintah. Hampir semua bisa kita dapatkan dengan mudah disini. Soal kemudahan transportasi umum yang dibahas diatas juga adalah hal menyenangkan berada di Jakarta. 
    Memang nyaman ya tinggal di pusat pemerintahan dan perekonomian, akses menuju (nyaris) apapun mudah dijangkau. Well, perasaan ini sekaligus memvalidasi fakta bahwa pembangunan belum merata. Sebab banyak kemudahan di Jakarta tidak saya alami di kampung halaman. 
    2025 ini semoga hidup ke depan dilimpahi berkah. Semoga nyaman yang ada di Jakarta perlahan menyebar sampai ke titik terluar Indonesia, semoga hal menyebalkan di Jakarta sedikit demi sedikit menemukan muara terbaiknya. Sungguh harapan yang terlalu tinggi ya untuk diwujudkan pemerintah. Gapapa, kita punya Allah. Hahaha!

Salam,
A.