September 06, 2025

Rekreasi Singkat Berkedok Transit

    Ditengah sesi membaca yang sering kedistrek banyak hal itu, saya terpikir lho kenapa sampai sekarang belum menulis pengalaman pertama yang paling diinginkan sejak lama ini. Pergi ke luar negeri. Ya, beberapa tahun lalu saya bahkan giat mencari sekolah dan beasiswa supaya bisa merasakan tinggal di yurop LOL. Jadi hari ini, berbekal itinerary, foto dan catatan jurnal saya berusaha kembali merekam perjalanan pertama ke luar negeri setahun lalu itu dalam tulisan. (walau bukan untuk sekolah, walau bukan yurop)

    Seminggu setelah acara pernikahan, kami langsung tancap gas preian karena GOSH! menyiapkan acara itu lumayan bikin pening ya walau sudah terlatih jadi panitia waktu kuliah LOL. Rencana liburan kami dirancang dengan cepat dan tentu tidak 100% mindful hahaha. Sebenarnya kami berdua tidak punya ide liburan setelah menikah. Jangankan ke luar negeri, melihat setiap invoice vendor nikah saja sudah bikin lemas. Namun akhirnya terciptalah itinerary itu. Nekat, supaya pernah dan mumpung ada nyali serta ongkosnya. Jadi tujuan liburannya 8 hari 7 malam menuju Thailand, sudah termasuk perjalanan PP dan transit 18 jam di Singapura pada hari pertama.
Kenapa Thailand? karena dari segi harga hotel, makanan dan transportasi, Bangkok tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Begitu ulasan yang saya baca dan tonton dari banyak blog dan vlog pelancong.

    Jakarta ke Singapura kami naik Jetstar, low-cost airline andalan warga biasa. Pertama kali mendarat di Singapura saya belum merasa asing, sebab suasana bandara Changi yang tersohor itu sudah acapkali saya lihat dalam unggahan foto teman-teman. Bersih dan rapi adalah kesan pertama yang saya rasakan saat melihatnya sendiri. Bukan tujuan utama perjalanan kali itu memang, namun waktu 18 jam transit memang sengaja kami ambil sebagai win-win solution. Satu, bisa tidur di bandara dengan tenang karena berstatus penumpang transit. Harga hotel di Singapura begitu mengancam bagi warga biasa dari negara ketiga seperti kami. Dua, tetap bisa keluar bandara menghabiskan pagi-siang di kota. Bagi kami yang pertama kali ke luar negeri, momen transit di Singapura ini tetap terasa seperti bagian dari liburan.

    Mendarat lewat tengah malam di Changi, kami mengisi botol dengan tap water dan tidur ngemper menunggu pagi. AC Changi saat malam dingin sekali, memakai jaket dan kaus kaki sangat membantu menghangatkan tubuh. Ketika pagi tiba, kami bersiap keluar bandara dengan kereta. Sebelum lanjut naik kereta kami menitipkan koper di Smarte Carte. Berbekal kartu Singapore Tourist Pass seharga 17 SGD untuk 1 hari penuh kami bisa naik bus, MRT dan LRT. Tujuan pertama kami pagi itu adalah Jewel Changi untuk melihat air terjun indoor. Suasana masih cukup lengang dan memungkinkan untuk punya foto bagus. Kalau hasilnya kurang ya memang itu faktor kamera dan kemampuan kami saja.

    Lanjut naik kereta menuju kota, kami turun di stasiun MRT raffles place. Lalu jalan di sekitar Boat Quay, duduk-duduk di pinggir kali Singapura sambil makan buah potong dan lihat burung-burung. Hari itu tidak terlalu panas karena banyak awan menyelimuti. Jadi nyaman sih karena katanya panas Singapura lumayan menyengat, tapi juga sedikit cemas kalau hujan tiba-tiba karena payungnya ada di dalam koper yang ditinggal di penitipan barang itu. Lanjut ke tujuan berikutnya yang turis banget, area patung Merlion. Cukup ramai walau masih pagi. Sejauh mata memandang banyak sekali gedung megah.  Tak seperti lirik lagu Ekspektasi yang "foto postingannya dengan yang aslinya berbeda", Singapura ini tepat seperti apa yang dipotret media. Megah dan tertata rapi.

    Setelah jalan dan foto-foto sebagaimana turis pada umumnya, lanjut ke halte nunggu bus menuju Selegie Rd. Tujuan kami kesini adalah mengunjungi Apartment Coffee, sebuah kedai kopi yang masuk world's best coffee shop. Sebagai istri dari penggemar kopi ya ikut saja~ Kami bahkan sampai sebelum gantungan sign "CLOSE" dibalik jadi "OPEN" alias sek tutup. Menunggu tak terlalu lama, kami disambut dengan hangat oleh barista, dijelaskan singkat soal biji kopi dan penyajiannya. Tempatnya nyaman, minimalis ala japandi style. Tidak seperti kedai kopi Indonesia yang menyediakan WiFi dan colokan for free, disini hanya dapat apa yang dibeli hehe mungkin budaya yang berbeda atau memang itulah wajarnya hidup di negara yang living costnya setinggi langit.

    Setelah selesai dengan agenda (sebenarnya utama) perkopian suami. Kami lanjut naik bus menuju Bugis Street untuk bertemu teman. Sampai di Bugis+ kami langsung menuju toilet. Oh ya! Omong-omong soal toilet, ternyata tidak semua toilet di Singapura lengkap dengan jet shower ya hahaha huft. Lalu dengan PD kami masuk ke CoCo Ichibanya yang di Indonesia sudah pernah kami cicipi menunya. Ups, tapi ternyata chain di Singapura ini non-halal. Baiknya, uncle waiter memberi info dengan sopan pada kami. Jadi siang itu akhirnya kami makan onigiri 7-eleven saja hahaha. Lalu ditemani Blessy, teman kerja saya dari India, kami menyusuri area Bugis Street untuk membeli oleh-oleh dan tidak lupa foto-foto (jangan lupakan jati diri sebagai turis!!!)
Cukup lama kami menghabiskan waktu di Bugis sampai sore dan gerimis mulai turun, kami berpamitan dengan Blessy dan kembali ke bandara.

    Pesawat menuju Bangkok boarding jam 18:35, kami naik Jetstar part 2. Bangkok days akan ada di tulisan selanjutnya (jyakh).



Salam,
A.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.