ternyata hingga kini saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang saya inginkan. selama kuliah dan bekerja, tujuannya hanya supaya berpenghasilan untuk melanjutkan hidup melalui sesuatu yang mampu saya kerjakan (menggambar dan membuat desain). saya pernah memelihara cita-cita sejak sarjana untuk melanjutkan kuliah sampai magister bahkan doktor, tapi hanya karena bayangannya bisa kuliah di luar negeri dan dekat dengan stadion-stadion liga inggris. supaya bisa nonton arsenal langsung. sebatas karena saya tidak punya pikiran lain bagaimana caranya tinggal di luar negeri dan nonton arsenal selain lewat jalur sekolah. shallow.
selepas sma dan benar-benar sendirian menentukan jurusan kuliah adalah pengalaman hidup paling liar bagi saya. jurusan kuliah adalah starting line bagi jalan karir ke depan. oh betul memang, kita selalu bisa memilih untuk switching career di tengah jalan, tapi lagi-lagi akan ada harga yang dibayar untuk itu. on my silent days, i wish i had someone to guide me choosing the prospective major and told me all the plus minus that time. saya tidak tahu kuliah desain itu mahal, tugas-tugasnya butuh biaya besar supaya kualitasnya baik dan tentunya menunjang fungsi + estetika, dua poin penting penilaian. saya tidak tahu bahwa industri di indonesia belum cukup mendukung kemapanan karir desainer produk. hingga lulusannya sangat agile bekerja di bidang-bidang lain mulai dalam lingkup desain hingga diluar desain. terbaca keren, namun tidak direkomendasikan untuk mahasiswa ekonomi kelas bawah yang ingin lekas bekerja mapan dan meningkatkan taraf hidup. sebab diakui atau tidak, jalan karirnya jelas tidak semulus jurusan-jurusan andalan well-established industry; teknik mesin, teknik informatika, kedokteran dsb.
saya jadi ingat perbincangan dengan salah seorang teman baik saya. kurang lebih seperti ini:
dengan semua pencapaian itu, kenapa kamu nggak lanjut bekerja jadi penulis saja?
"aku suka sekali menulis, itu hobi yang nyaman sekali buatku. aku tidak mau "pekerjaan" menjadikannya tidak nyaman lagi. menulis sebagai hobi dan pekerjaan itu pasti berbeda, akan ada tuntutan profesional yang mungkin membatasiku."
oh begitu ya...
bertahun kemudian saya baru bisa merenungkannya kembali. hobi adalah hal menyenangkan sebagai tempat kita lari dari kepenatan rutinitas, lepas dari hal-hal yang wajib, yang besar tanggung jawabnya. patah hati sekali rasanya ketika punya hobi dan bisa melakukannya dengan sangat baik, namun di perjalanannya lalu kita kehilangan antusiasme. meminjam kata marie kondo "it doesn't sparks joy anymore". sepertinya itu yang terjadi kini, ketika saya memilih bekerja sesuai passion. saya suka menggambar, bermain dengan warna, tata letak dan banyak model huruf. kesukaan saya membuat pekerjaan sebagai desainer grafis bearable di tengah tenggat waktu yang berkejaran.
tapi saat saya dihadapkan pada kertas kosong di waktu luang, pikiran saya tak sebebas dulu. aktivitas menggambar dan bermain warna tidak lagi senikmat dulu.
kalau saya mempertahankan hobi ini tetap sebagai hobi saja, kira-kira pekerjaan lain apa ya yang bisa saya kerjakan? duh, mana hobi ini telanjur membuahkan gelar akademik pula! apa iya mulai dari nol lagi ya, kak? hanya semata untuk melindungi hobi supaya tetap memancarkan sukacita?
wah tugas mengurai isi kepalanya jadi lebih panjang lagi, yaaa semangat deh! mungkin inilah saatnya mempelajari ikigai secara intensif, sepertinya cocok dengan keresahan saat ini. (wah sadar sendiri)
terasa sangat ganjil bahwa saya baru mempertanyakan ini semua di akhir 20an. seolah selama ini saya hidup autopilot. pertanyaan "kamu sebenarnya ingin apa?" bagi saya sejak dulu tak pernah sederhana. sering terlintas di kepala namun hanya untuk mengurainya saja, saya tak bernyali. karena semua yang diinginkan manusia selalu ada harganya.
harga.
inilah salah satu ketakutan besar dalam diri saya. lahir dan tumbuh besar dalam kondisi tidak ideal membuat saya sadar bahwa harga sebuah mimpi itu besar sekali. materiil dan immateril. lalu ketika saya sudah dewasa dan bisa menentukan kemana larinya uang dalam genggaman, selalu ada perhitungan-perhitungan, ketakutan, dan insting bertahan.
kalau diulas balik perjalanan kecil 2019-2023 kemarin sungguh sangat nekad. betapa saya dengan berani menempuh "perjalanan mahal" dengan hasil yang belum tentu setia dengan usaha hahaha.
tiba-tiba masa muda habis karena sibuk mempertahankan pekerjaan sambil mengejar mimpi. wah, pada satu titik saya benar-benar harus memilih mana yang harus dilepas sementara. tapi hidup terkadang terlalu tega untuk mimpi-mimpi kita. realitas membuat kita harus mengerti, kapan mimpi lama harus dihentikan karena nasib memaksa untuk berjalan ke arah yang lain. (timun jelita, raditya dika)
sekarang saya punya sedikit keleluasaan untuk menepi, memetakan isi kepala dan banyak-banyak refleksi diri (shout out to my husbando!). saya jadi punya pilihan lebih banyak. ya, dulu pilihan saya hanya bekerja atau bekerja lagi setelah bekerja, lol. saya sulit punya pause time untuk berpikir dan banyak menulis (sebagai sarana memetakan isi kepala).
ternyata rerouting dan menata kembali visi ke depan ini adalah aktivitas seumur hidup, ya!
dulu saat remaja, saya bertanya-tanya, kalau nanti dewasa dan cita-citanya sudah tercapai, lalu apa?happy ending itu hanya closure untuk sepenggal kisah hidup manusia. sementara itu, ternyata kita punya banyak sekali kisah dalam satu perjalanan panjang ini.
tidak apa-apa jika dalam perjalanannya, mimpi kita berubah, bertambah, berganti warna atau bahkan ditinggalkan. semoga selalu tersisa nyali untuk mempertanyakan "sebenarnya ingin apa?" lalu mengurainya dengan baik.
namun, privilese ini juga meninggalkan satu pertanyaan besar di kepala, kira-kira suami saya punya berapa banyak mimpi ya, yang sebenarnya Ia inginkan, yang juga belum pernah diurai sempurna. lalu akhirnya ditinggalkan dan menjalani hidup sebagaimana lelaki pada umumnya. sampai akhirnya bisa memberikan kesempatan seistimewa ini pada saya.
i hope he finds his peace, as the abundance peace he gave me. i hope we find the peace together. one by one, step by step, pixel by pixel. insyaAllah. selamat satu tahun pernikahan.
selamat berjalan dan terus menguraikan isi kepala. semoga tumbuh dilingkupi cinta dan rasa syukur.
salam,
a
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.