"...Ceritakan padaku bagaimana tempat tinggalmu yang baru. Adakah sungai-sungai itu benar-benar dilintasi dengan air susu? Juga badanmu tak sakit-sakit lagi. Kau dan orang-orang disana muda lagi..." (Gala bunga matahari - Sal Priadi)
Mencatat hal-hal yang disyukuri setiap hari dalam gratitude journal sering jadi momen emosional. Sebab rasa syukur hampir selalu mengantar saya mengingat kejadian lalu sebagai pembanding. Betapa rahman dan rahim-Nya begitu besar. Bagi saya mencatat adalah salah satu cara menyokong banyaknya ambisi dalam kepala, yang tak jarang menerbangkan saya ke banyak kekhawatiran tidak berdasar. Maka bersyukur adalah sarana reality check-nya. Mencatat hal yang disyukuri adalah salah satu keputusan terbaik tahun 2020. Semoga terus jadi kebiasaan baik yang terpelihara.
High-achiever era saya hanya sebatas di sekolah dasar, namun itu cukup membekas. Dengan dukungan penuh Bapak dan Ibu, apapun keperluan sekolah saya pasti dipenuhi. Saya dibebaskan dari segala pekerjaan membantu orang tua di rumah. Bahkan di momen-momen berikutnya ketika saya tidak lagi mencapai banyak hal terbaik. Bapak dan Ibu tetap memperlakukan saya layaknya juara. Gagal daftar SMP favorit kabupaten sebelah karena berkasnya ditinggal, sebab nilai ujian saya sedikit lebih tinggi dibanding nilai anak koordinator pendaftaran kolektif. Bapak disana, menyaksikan semua. Saya melihat ekspresi kesal dan sesalnya, tapi perlakuannya tetap lemah lembut kepada saya. Gagal masuk SMA favorit di kabupaten sendiri karena nilai tesnya rendah. Bapak juga disana, menemani saya yang menangis dan terus meyakinkan bahwa sekolah dimana saja itu baik, tergantung daya juangnya. Betul, walau jadi lulusan sekolah biasa saja sama dengan butuh usaha berkali lipat untuk jadi setara kualitas lulusan sekolah favorit. Hehehe~
Kali pertama saya berhasil masuk sekolah pilihan pertama, lewat tes tulis yang biaya daftarnya diusahakan setengah mati oleh kakak. Bapak tidak lagi disana, tidak mendengar kabar bahagia secara langsung. Bapak sudah pulang. Saya tidak sempat menunjukkan jas almamater dan menceritakan bagaimana hidup sebagai anak kuliahan. Pengalaman yang tak pernah Ia lalui.
Adult money pertama yang saya peroleh waktu kuliah semester akhir tidak mampu membeli waktu. Bapak sudah pulang. Keinginan saya membelikan sepasang sandal untuknya tidak pernah terwujud. Saya menyesal waktu SD membongkar tabungan untuk jajan sendiri. Padahal tujuan awalnya, itu adalah tabungan beli sandal untuk ulang tahun Bapak.
"...Kangennya masih ada di setiap waktu. Kadang aku menangis bila aku perlu. Tapi aku sekarang sudah lebih lucu. Jadilah menyenangkan seperti katamu. Jalani hidup dengan penuh sukacita. Dan percaya kau ada di hatiku, selamanya..." (Gala bunga matahari - Sal Priadi)
Kali pertama saya bekerja dan tinggal di Jakarta, ibukota yang masyhur itu. Bapak tidak lagi disana, tidak mengantar saya berangkat naik bus dan menenteng tas jinjing. Tidak saya cium tangannya dan tidak ada kalimat "ati-ati neng ndalan, sing sregep yo" lagi. Padahal ini mungkin adalah saat terbaik untuk mengajak Bapak ke Jakarta dengan gembira. Sebab terakhir kali Bapak ke Jakarta tahun 2007, Ia berharap bisa membawa pulang hadiah dari kupon yang ditemukannya di dalam bungkus deterjen. Kupon yang ketika saya dewasa baru saya tahu adalah modus penipuan. Oh, entah apa yang terjadi selama perjalanan dan bagaimana perasaannya saat itu. Kini Bapak sudah pulang. Tak ada lagi kesempatan mengenalkannya pada MRT dan tap cardnya yang mutakhir ini. Hilang sudah peluang untuk mengajaknya mencoba berbagai olahan daging sapi yang lembut dan meleleh di mulut. Makanan favorit yang selalu membuat mata Bapak berbinar-binar, apapun yang diolah dari daging sapi.
Bapak, maaf untuk banyak hal yang tidak terwujud sampai hari terakhirmu disini. Maaf untuk hari-hari yang terlewatkan sebab saya terlalu abai, tidak sadar bahwa kehilangan itu bisa kapan saja. Tidak paham bahwa kematian pasti datang dan sangat dekat. Maaf untuk momen-momen bahagia yang baru saya usahakan dan bisa saya dapatkan justru ketika Bapak sudah pulang. Terima kasih untuk semua hal baik yang menjadi kenangan berharga. Ingatan yang saya tumpahkan dalam tulisan semata agar umurnya lebih lama. Karena saya takut sekali lupa.
Saya bersyukur punya orang tua sebagai pendukung paling militan bagi kebaikan hidup anaknya. Untuk begitu banyak kesempatan yang mereka lewatkan demi kami. Untuk berbagai mimpi yang mereka korbankan demi kami. Ya Allah yang Maha Baik, mohon ampun atas segala dosa kami, anugerahkanlah kehidupan yang menenangkan bagi orang tua kami, mampukan kami jadi amal yang tak terputus bagi orang tua kami. Selalu.
Perjalanan melewati duka ini rumit sekali ya. Saat menangisi kehilangan besar 2012 di tahun 2025, saya merasa melangkah sangat lambat. Ketika orang lain sudah move forward. Padahal ini cuma hidup di dunia bukan arena lomba lari. Satu hari dilalui dengan penuh rasa tenang dan diwarnai gelak tawa. Hari lain dihabiskan dalam durasi tidur berlebihan. Dalam tangisan. Dalam kepala yang kewalahan menampung ingatan-ingatan masa lalu yang muncul bergantian. Semoga dikuatkan. Kuat, kuat, kuat.
Salam,
A.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.