May 09, 2025

Tampil Baik ≠ Menutupi Kenyataan

Kemarin siang, saya membaca berita kunjungan founder Microsoft ke sekolah dasar negeri untuk meninjau program makan bergizi gratis. Sebagaimana budaya Indonesia yang amat memuliakan tamu, sekolah yang dikunjungi terlihat sangat bersih dan rapi. Anak-anak terlihat antusias. Tumpukan kotak makan siang sudah siap didistribusikan, hingga ada satu kelas yang dijadikan tempat pemeriksaan kesehatan gratis. Ah! sungguh sangat tepat waktu ya pemeriksaan kesehatan itu. Sesuai dengan jadwal kedatangan tamu penting negara. Oh, atau memang program itu selalu ada setiap hari, who knows! ;)

Berita itu mengingatkan saya pada masa sekolah dulu. Saya heran mengapa saat ada kunjungan orang-orang penting ke sekolah, kami harus bersiap dengan sedikit berlebihan. Membersihkan seisi sekolah, mengganti furnitur atau alat peraga yang kurang layak, bawa pot lengkap dengan bunganya untuk menambah tanaman di halaman sekolah. Bahkan sampai melakukan hal-hal yang sangat staged, seperti menata meja dan kursi untuk duduk melingkar dan berdiskusi. Secara kenyataan sehari-hari, belajar dengan pola FGD di era KTSP jarang sekali terjadi. Jika kunjungan itu untuk melihat bagaimana kami belajar dan berkegiatan di sekolah, bukankah sia-sia jika yang terlihat kepalsuan semata?

Sebagai anak kecil yang merasa kerepotan dengan kunjungan orang-orang penting yang tidak dikenalnya secara langsung, saya hanya berpikir:
"Jika tujuan kunjungan untuk memeriksa, kenapa tidak ditampilkan apa adanya seperti hari-hari biasa. Seperti, jika kita bohong pada dokter maka akan mengganggu proses diagnosis kan?" atau "Kenapa tidak setiap hari saja kondisi sekolah seideal ini? Sewaktu-waktu ada kunjungan atau pemeriksaan, tidak ada yang perlu ditutupi."

Orang-orang dewasa mungkin sering lupa bahwa anak kecil adalah peniru ulung. Kami mengamati, mencari tahu dan bisa jadi menerapkan hasil observasi perilaku itu di masa depan. Anak-anak melihat orang dewasa di sekitarnya terus menerus berusaha tampil baik hanya semata demi penerimaan. Sangat mungkin, Ia tumbuh dengan pemikiran bahwa menampilkan hal yang baik itu sama dengan menutupi kenyataan. Ketidakmampuan seseorang melihat dan menerima kekurangan bisa jadi hasil dari lingkungan yang terbiasa menyajikan rainbows and butterflies. Sedangkan dunia yang tidak ideal ini, cepat atau lambat akan menyajikan segala kebenaran bahkan melalui cara paling mengejutkan. Di sisi lain, mampu melihat dan menerima kekurangan itu adalah jalan awal perbaikan.

Sedikit out of topic, namun saya baru saja menonton film lawas fenomenal The Truman Show. Satu dari sekian banyak yang bisa dipetik dari kehidupan truman adalah pilihannya. Pada akhirnya, Ia memilih hidup di dunia nyata dengan segala kemungkinan buruknya daripada hidup penuh kenyamanan dalam kepalsuan studio.

Hari-hari ini dengan media sosial, upaya menampilkan sesuatu secara berlebihan hingga berbeda dengan kenyataan jadi lebih mudah dijangkau semua orang. Celakanya apabila hal ini dijadikan alat untuk memengaruhi massa dalam menentukan keputusan rasional. Salah satunya ya redacted.

Semoga kita selalu diberkahi pikiran yang jernih supaya senantiasa mengambil pilihan yang baik dan benar. Semoga kita diberi kemampuan untuk selalu jujur dan menyampaikan kenyataan dengan patut, entah itu pada diri sendiri maupun orang lain.

Salam,
A.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.