November 29, 2024

Punya Pilihan dan Mampu Memilih

    Gempita pilpres telah usai, presiden dan wapres terpilih juga telah dilantik. Kini saatnya perhatian publik tertuju pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Digelar pada Rabu, 27 November 2024, agenda ini sekaligus menjadi hari libur nasional. Tak hanya gembira karena ada libur tambahan, warga pun antusias saling membagikan poster-poster promosi dan diskon khusus kelingking (atau bila tidak, jari jemari manapun) ungu. Momen ini sontak jadi ajang quality time bagi keluarga-keluarga di kota besar*. Buktinya dapat dilihat dari ramainya jalan dan pusat perbelanjaan. Well, that's might be fun FUN, but there's always another side of the story.

    Sejak pilpres 14 Februari lalu, obrolan-obrolan seputar politik sudah bukan barang baru lagi. Terlebih dengan demo menolak revisi UU pilkada pada 22 Agustus yang jadi simbol perlawanan rakyat. Tahun 2024 ini sungguh melelahkan sejak awal. Betapa tidak? Pemilihan umum di Indonesia yang digadang-gadang sebagai pemilu terbesar di dunia ini berjalan diiringi sejumlah kontroversi. Seperti laporan kecurangan, penurunan keterwakilan perempuan, keberpihakan presiden, politik dinasti dan utamanya tentu saja terkait putusan MK soal batas usia capres-cawapres. Itu dari sisi sistem dan aktor-aktor politik. Dari sisi masyarakat, masalahnya tak kalah pelik. Terlihat nyata ketimpangan suara di daerah dan kawasan perkotaan. Bedanya tingkat literasi masyarakat berimbas pada pengambilan keputusan. 

    Dalam media sosial X, utas-utas berisi informasi tentang latar belakang capres-cawapres ramai diminati, disusul dengan penjabaran visi-misi. Warganet juga menyertakan rekam jejak baik ucapan, maupun tindakan yang tak jarang memicu tawa hingga amarah. Yaaa... setiap manusia punya salah dan kadang kurang mindful, mungkin belum terpikir bila di masa depan nanti satu cuitan akan dikupas tuntas sampai ke akarnya. Sementara itu di sisi lain, pendengung-pendengung bayaran dikerahkan untuk memengaruhi keputusan politik. TikTok, merupakan senjata baru bagi kontestan pemilu tahun ini. Dilansir dari Wired, penonton TikTok secara signifikan memperhatikan video berdurasi 21-34 detik. Tak heran jika penggunanya berlomba memasang backsound terkini, dengan caption pendek yang mengena demi meraup perhatian pemirsa. Caption pendek yang tak jarang disisipi berita bohong.

    Indonesia masih berada di jalan panjang dalam misinya mencerdaskan bangsa. Memilih informasi, membaca data dan membedakan fakta dengan berita bohong bukan pekerjaan mudah bagi sebagian besar orang di republik ini. Ketidakpahaman yang menuntun mereka pada pilihan tidak ideal tak semerta-merta berhenti hanya dengan menyalahkannya di media sosial. Dimulai dari diri sendiri, lalu orang-orang terdekat. Kita selalu bisa learn and unlearn something. Mendampingi orang tua dengan gawai itu jadi lebih sukar saat ini. Ketika sumber informasi tidak hanya lewat koran dan TV, seringkali para orang tua menganggap apa yang lewat di FYP adalah berita pasti. Mengamati linimasa akhir-akhir ini nampak muram, kondisi kedepan seolah akan memasuki musim dingin panjang. Sulit dan kacau, tapi jangan berputus asa dari rahmat Allah. Kenali kapasitas diri dalam memproses informasi dan kendalikan reaksi. Banyak membaca dan simak fakta dari ahlinya. Hindari bertengkar dengan teman dan saudara hanya karena politisi, mereka bahkan tidak peduli keberadaan kita barang seujung kuku. 

    Dengan timpangnya pengetahuan umum tentang bagaimana cara memproses informasi, tidak heran jika guyuran bansos dan serangan fajar* masih jadi salah satu cara efektif mendulang suara dalam pemilihan umum. Di media sosial kita bisa dengan mudah mempertanyakan kenapa banyak orang menggadai integritas dan suaranya. Menukarnya dengan rupiah yang tak seberapa. Jangankan bicara integritas, napas dan hidup mereka saja seolah diisi ulang hari demi hari. Jadi, bagi kaum yang rentan memang uang dan barang yang ditawarkan itu berguna bagi kelangsungan hidupnya (walau tak dalam jangka waktu lama, setidaknya di hari itu saja). Namun demikian, logistik yang dikucurkan bisa jadi alat untuk menarik balas budi. Dengan fakta ini, mereka tak hanya rentan namun juga dilemahkan oleh sistem. Bagi yang memilih untuk merdeka dalam pilihannya, mudah saja menghindari politik uang. Tak berpengaruh signifikan dalam hidupnya. Memiliki kemampuan dan sumber daya yang cukup hingga sampai pada titik dapat memilih sesuatu yang ideal adalah privileseBitter truth. Nyatanya, tidak semua warga punya privilese ini (that's why it's called privilege anyway LOL).

    Salut untuk para warga yang berada dalam kondisi rentan namun dengan berani tetap mempertahankan integritasnya. Prinsip yang diperoleh dari usaha belajar dan mendengar bertahun-tahun. Tak mesti dari jalur pendidikan formal. Banyak pepatah kuno yang turun menurun diajarkan sebagai pondasi akhlak baik; ojo keminter mundak keblinger, ojo cidra mundak cilaka.
Dari beberapa fakta diatas ternyata kita belum sepenuhnya merdeka. Untuk apa melahap semua ilmu pengetahuan di dunia bila sekadar jadi senjata memperalat saudara sebangsa. Semoga senantiasa jadi pengingat, semoga diberkahi badan dan jiwa yang sehat. Seperti filosofi jawa yang lekat dengan altruisme, Urip iku Urup; semoga hidup kita senantiasa memberi manfaat bagi orang lain.


Salam,
A.


catatan tambahan:
*Momen ini sontak jadi ajang quality time bagi keluarga-keluarga di kota besar; kenapa hanya kota besar? Karena sepengalaman saya, keluarga di pedesaan tidak menganggap libur sehari sebagai momen ideal untuk dirayakan, perlu momen lain yang lebih penting.
*Serangan fajar: Uang, sembako, rokok atau barang apapun yang bisa ditukar dengan komitmen untuk memilih/memenangkan/turut mengkampanyekan satu paslon tertentu.

November 18, 2024

Mengilhami yang Sekadar Lewat di FYP

    Hai, apa kabar? Semoga kebaikan dan perlindungan Tuhan selalu menyertai kita semua.
Sudah tiga bulan sejak tulisan terakhir disini, berarti tiga bulan juga telah berlalu satu waktu yang sibuk dan penuh grabak-grubuk itu. Life's been good so far. MasyaAllah.
    Prior to marriage I tried hard not to stress over the idea of being a wife or the changes that come with it. Sebab, saya paham betul perubahan dan masa-masa adaptasi akan jadi waktu yang sulit. Seperti fase yang telah dilalui sebelumnya, perubahan rutinitas bagi saya yang begitu mencintai stabilitas dan segala hal yang tertata adalah ujian. Segala penyesuaian dan pembentukan kebiasaan baru adalah trigger stres paling mujarab hehehe.
    Selama masa orientasi saya merasa kami bisa bekerjasama cukup baik. Setiap masalah atau persoalan adalah quest yang harus diselesaikan berdua. Kekocakan sehari-hari hingga sesi tangis-tangisan refleksi diri ternyata tetap nyaman dilalui asal ada partnernya (yang setara!).
Masa orientasi yang entah sampai kapan inikarena penyesuaian dan toleransi dalam rumah tangga sepertinya butuh kontinuitas hahaha. Semoga terhindar dari party pooper yang melempar celetukan tidak perlu seperti "yah orang baru tiga bulan, belum juga setahun, tiga tahun, lima tahun bzbzbz...". Aamiin.
    Memasuki fase baru selalu jadi pemantik terbaik untuk meninjau ulang pengalaman beberapa tahun ke belakang. Mengingat kembali betapa perjalanan itu adalah ujian sekaligus bingkisan terbaik dari Sang Pemilik Waktu. Suatu topik yang sungguh resonate dalam beberapa trend TikTok yang sering lewat FYP saya. Abaikan sejenak stigma aplikasi kandang monyet, setiap aplikasi tergantung penggunanya. Walau memang berselancar di TikTok butuh kecermatan ekstra to take literally everything with grain of salt HAHAHA.

#1
Marriage is scary, what if yadda yadda yadda
mine would be: "marriage is scary, what if my future husband isn't as considerate as my dad"
Naksir, kesengsem, atau jatuh hati adalah satu hal, tapi yakin bahwa kita rela dan siap menikah dengan seseorang adalah hal yang lain lagi. Tidak, tidak, ketakutan menikah dan bimbang banyak pertimbangan itu bukan semata milik laki-laki saja. Perempuan pun sangat bisa dan wajar punya concern yang sama. Selain itu, saya juga setuju dengan pendapat yang bilang semakin matang usianya, akan semakin banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan hidup yang besar seperti menikah. Terasa sekali bedanya, pandangan soal pernikahan dalam diri saya di usia awal 20-an dengan yang di umur nyaris 28 tahun kemarin. Setelah dijalani, sejauh iniyang belum jauh-jauh banget juga, menikah tidak semenakutkan pikiran-pikiran burukku. Punya sosok yang setting the high bar seperti bapak adalah rahmat, tapi menyadari bahwa pasangan kita adalah manusia yang kita pilih untuk hidup dan tumbuh bersama, semoga jadi pengingat untuk tidak melulu membandingkan. Sebab ia tentu punya karakter dan pengetahuan yang berbeda, semoga kami tumbuh saling menguatkan dan menenteramkan satu sama lain. Aamin. Alhamdulillah ala kulli hal.

#2
Maaf ya kita belum bla bla bla, tapi kita bisa bla bla bla
kalau saya kurang lebih: "maaf ya kita belum bisa lulus cumlaude, tapi kita bisa makan sate tanpa nasi kan? BISA! 20 tusuk tanpa nasi dimakan sendiri, lossss!"
Lulus tepat waktu dengan IPK gemilang adalah satu dari sekian banyak hal ambi yang selalu sentimental bagi saya. Saya tumbuh dengan banyak mimpi, walau gagalnya tidak kalah banyak juga. Lalu, gagal lulus tepat waktu karena sistem kurikulum yang hzzzmbohwes itu sungguh menyebalkan. Apalagi sekarang melihat kabar jurusan dengan mahasiswanya sudah tidak lagi mustahil punya IPK sempurna. Bahkan bisa punya harapan lulus tepat waktu dengan persentase lebih besar dari tahun 2018/2019. Wah rasanya kuliah kemarin seperti main rigged game. Tapi yaaah life goes on, we should keep moving forward.
Terpaku pada satu kemalangan tidak mengubah apapun selain memperkeruh isi kepala, toh ternyata lebih banyak hal yang bisa disyukuri. Salah satunya ya itu; bisa makan sate tanpa nasi, kapan saja. Seperti janji Allah yang mengangkat derajat orang beriman dan orang yang berilmu. Untuk iman saya yang naik turun layaknya roller coaster, sepertinya perubahan kondisi ekonomi ini lebih karena imbas jadi orang berilmumenurut kacamata saya. Hal lain yang saya yakini Allah sudah menyiapkan sebaik-baiknya skenario dalam apapun kondisi kita.
Masa-masa kelaparan di asrama, waktu SD makan sate harus pake nasi, lalu beli nugget menunggu momen selebrasi. Semua telah berlalu, semua telah dilalui dengan baik dan penuh hikmah. Semoga setiap hari mampu lebih banyak mensyukuri nikmat dan jadi manfaat bagi manusia lain.

#3
Laki-laki tidak bercerita, tapi main game.
Hahaha dengan budaya Indonesia yang kurang memberi ruang bagi laki-laki bercerita, mengeluh, mencurahkan isi hati selepas perempuan, kalimat diatas nampaknya sangat relatable. Masih banyak anggapan bahwa lelaki dilarang menangis, jadi bercerita dan mencurahkan isi hati dengan gamblang juga tentu jadi tabu. Sementara itu, bagi perempuan awal dari sesi tangis-tangisan di tongkrongan itu ya dari curhat. Ada perasaan berat sekali di hati saya jika melihat lelaki mengabaikan perasaan sedih dan lelahnya. Tidak menangis itu berat sebab menangis itu melegakan. Sejak kecil banyak kalimat orang tua "jangan menangis, kayak anak perempuan", "jangan menangis, cemen!" pada anak lelakinya. Akibatnya, banyak laki-laki tidak sempurna kemampuan regulasi emosinya. Emosi negatif dan ekspresinya dianggap sebagai aib yang haram ditunjukkan. Padahal, sebagai manusia wajar saja punya dan merasakan emosi negatif. Tinggal bagaimana belajar mengungkapkan dan mengendalikannya dengan tepat. Kegagapan lelaki dalam meregulasi emosi ini kemudian ditumpahkan dalam kegiatan lain, seperti main game, tidur, dsb. Contoh kegiatan barusan mungkin tidak mengganggu hubungan, namun dalam frekuensi yang berlebihan tentu akan berbeda.
Jadi, langkah sederhana untuk menghilangkan ketimpangan ini bisa dimulai dengan tidak menginvalidasi perasaan laki-laki yang membagikan sisi vulnerabilitynya. Semoga kita diberkahi waktu dan ilmu untuk terus belajar. 

Kalau kata Bernadya, untungnya, hidup terus berjalan, untungnya, ku bisa rasa hal-hal baik yang datangnya belakangan. 
Kita beruntung, sebab dianugerahi waktu dan kesadaran untuk refleksi diri. Kita beruntung, sebab hal-hal baik selalu mengikuti walau sesulit apapun jalannya. Semoga selalu ada hikmah yang bisa dipelajari, seremeh dari yang sekadar lewat di FYP.


Salam,
Anggi

August 22, 2024

Whispers to Forever: A Bride's Diary

03/08

My mind is full; this new journey is still confusing.
Making that first decision was both so easy and unsettling.
I often find myself worrying about many things in life, but with him, I know my worries won’t spiral out of control.
I’ve always struggled with self-acceptance, so it’s surprising to see how someone else accepted me so completely. Thank you for that, honey!
Despite facing all my ambitions, emotions, and flaws, he never stopped walking by my side.

06/08
Perhaps everything would be easier if you were still here.
Perhaps your presence would quiet the chaos in my mind.
Perhaps I just can’t navigate life the way you did.
I miss you deeply, Bapak.
We could sit in silence together, and your presence was always my comfort.

11/08
I’ve found someone, Bapak.
My ray of sunshine.
I can assure you; he won’t bring me tears of sorrow, only tears of joy.
I married him.
He’s articulate, often saying what I struggle to express.
Yet, he understands my quiet moments, giving me the peace I need to rest my mind.
He’s like a treat that no child could ever turn down—a sweet cupcake crowned with dazzling buttercream.

July 12, 2024

catatan keberhasilan*

*yang berhasil dipetik hanya hikmahnya saja, beasiswanya belum huehehehe

10/11/2022
satu hari sebelum pengumuman: hari ini lewat sebulan dari cuitan terakhir saya di twitter. saya bertekad untuk tidak banyak bicara dan membuang kalimat sia-sia di dunia maya. selain itu suasana hati saya juga tidak cukup gembira untuk punya energi lebih mengomentari segala hal. 
beberapa minggu terakhir ini saya sedang dalam proses seleksi beasiswa dalam negeri. awalnya, tujuan saya adalah mendaftar sekolah dan beasiswa luar negeri, seperti yang telah saya lakukan beberapa kali 3 tahun terakhir ini, dan gagal semua huehehehe. lalu akhirnya saya memutuskan mendaftar beasiswa dalam negeri karena, yah kan belum tentu lolos juga. jadi saya rasa, saya memang harus mencoba semua kesempatan. 
seperti apa rasanya? bingung, harus menulis apa, dan mengapa. sedih karena ternyata kenyataan mencari beasiswa tidak bisa bermodal nol rupiah di rekening. bahagia karena ternyata saya bisa, setidak-tidaknya lolos seleksi administratif. kemudian, saya harus (lagi-lagi) menghadapi tes yang ada matematikanya, hehe. berhasil mengerjakan latihan soal dengan benar saja sudah meluap-luap rasa senangnya, padahal terlalu banyak waktu yang dihabiskan di satu soal. saat menjalani tesnya, saya cukup beruntung untuk sekali lagi mendapat rejeki. 
melaju ke tahap terakhir dengan sangat cemas namun berusaha menyiapkan dengan baik. katanya, satu-satunya cara paling realistis mengurangi kecemasan adalah dengan paham betul yang akan dilalui. hanya saja, kan setiap orang pasti punya kali pertama ya, wkwkwkwkw. saya wawancara online pukul 8 pagi, di kamar kos, saat hari cuti bekerja, satu jam sesi wawancara berjalan lancar (dari sudut pandang saya) semua pewawancara ramah dan bertanya sesuai konteks (esai yang saya tulis). akhirnya, lepas satu ikatan yang membuat saya susah tidur tenang hahaha. 
hari ini, dua orang terdekat saya memberi semangat untuk apapun yang terjadi besok, saya jawab dengan hehahehe dan tetap -ngambang-. saya bisa simulasikan lemasnya badan saat menerima kabar tidak menyenangkan, seperti saat tidak lolos tes SMA favorit saya, tapi saya juga ingat rasa lapang, nyaman dan ringannya hati saat diterima masuk ITS delapan tahun silam. besok, entah rasa mana yang akan hinggap di tubuh saya. saya harap, saya dianugerahi hati yang cukup lapang untuk menerimanya.

11/11/2022
hari pengumuman: hari yang menegangkan, tidur jam tiga pagi ngapain banget. dah seharian terlewati btw wkwkwkkw pede banget lagi judulnya catatan keberhasilan, tapi gagal. yaaa namanya kemaren tu ~manifesting~. biasanya pengumuman tuh kalo ga jam delapan ya sembilan malam, eh tp pas iseng buka sms jam 6 sore taunya udah rilis sejak sejam sebelumnya tu. pas buka web, jedyaaaarrrr, los dooollllll, gagal kok terus. jadi ini gagal ke-empat dalam perjalanan perbeasiswaan ini. rasanya~ yooo lemes lurrrr remoook. 
langsung membagikan tangkapan layar lalu mengirimkannya ke circle terdekat dengan takarir: aku ga lolos wkwk. jya wkwkwk padahal huhuhu. tanggal kembar yang tadinya mau dipake beli jaket yang lama diidam-idamkan batal, dah gaada keinginan. isi keranjang shopee mendadak nol, bukan karena dicheck-out semua tapi karena dihapusin huahaha, meluapkan sedih dalam kegiatan bermanfaat. jyakh. nangis ga? kamwu nanyyyea? kamwu bertanyea-tanyeeea? ya jelas lah. kayak, kampring susahnya yalord mau sekolah kalo gaada duitnya. plus, langsung ada banget downnya, wkwk dagri aja ketolak, pantes yg tiga kemaren dilepeh. oh begitu syuliddd alias i feel like a complete failure. dah gitu aja. eh belum deng, smangat mencari nafkah, semoga tetap waras dan punya harapan. see you tomorrow, plis semoga diri ini masih ~exist~ (walau remok) dan bermanfaat. paragraf satu dan dua gaya bahasanya sudah berubah ya wao apakah penulis berkepribadian banda? neira kali banda. ya soalnya kalo lagi murung kudu pake bahasa baku tuh takut jadi anak senja :( jatohnya puitis gitu kan geli xixixi

btw kalo judulnya catatan keberhasilan padahal ogut gagal terus gimana ygy. susah banget lagi nyari hikmahnya gagal pas hari-H aowkaowkaowk, tidur dulu apa? masi ada satu slot lagi dibawah mungkin besok keliatan hikmahnya. baiklah besok disambung lagi, penulis mohon ijin undur diri ((menjadi undur-undur)) ((np: lorde - liability)) 

12/11/2022
satu hari setelah pengumuman: selamat hari ayah wkwkwk. pagi ini dimulai dengan ngajakin ponakan main ke tempat makan baru, makan enak, foto-foto, jajan. setelah itu kembali ke laptop, mencoba balas semua pesan penguatan teman-teman (thanks all, you know who you're). install ig bentar buat archiving momen main dan self-portrait senyum bahagia (yang jarang). lalu sibuk scroll2. perasaannya sudah sedikit membaik, terpantau menulis ini di pukul 23:52 dan masih belum menangis lagi. mulai kembali buka file-file lama dan riset uni+scholarship lagi. walau cuma dikerjain tipis-tipis. hari ini masih mau menjaga semangat sekolah tetap ada, tapi juga memberikan jarak antara harapan dan kesedihan huahahha.jadi hikmahnya apa? sepertinya sedikit paham apa yang harus diperbaiki dan bagaimana langkah selanjutnya. belajar ikhlas dan rela, all those what-ifs are useless, jadi relakan relakan relakan, yang sudah biar ditelan waktu. semangat mulai menata diri lagi, siapa tahu besok masih diberi kesempatan. jyakh. oke sekian~ tetap semangat, gapapa nangis dikit. 

09/06/2023
hari ini saya bilang tidak lagi ingin lanjut sekolah, saya lelah. seluruh tabungan saya habis tak bersisa, saya gagal lagi. semalam saya menangis hingga sesak, hari ini pun begitu. saya pikir tahun ini adalah waktunya. kembali sekolah dan hidup di kota yang baru. ternyata belum atau mungkin ternyata tidak? Saya mulai berpikir untuk melepas keinginan sekolah lagi (padahal di awal paragraf ini kan sudah bilang, piyeee).
sepertinya tidak apa-apa tidak lanjut s2. sepertinya s2 memang tidak untuk semua orang. 
tidak semua hal harus terwujud, kan? 
tidak apa-apa kehilangan satu cita-cita dan menjalani hari-hari kosong dengan biasa saja.

Tangkapan layar kenang-kenangan bahwa saya pernah begitu tekun belajar dan mengejar:

Februari 2022

Juli 2022

Oktober 2022


November 2022 & Juni 2023

April 2023

Oktober 2023


12/07/2024
melihat isi draft blog yang hidup segan mati enggan ini, lalu menemukan satu draft yang amat sentimental. 
awalnya saya berniat menulis seluruh perjalanan lanjut sekolah dan mempublikasikannya tepat ketika tujuannya tercapai (supaya judul tulisan ini relevan). namun yah, things happen. shiz.
sudah kira-kira setahun saya "pensiun" dari kegiatan perburuan sekolah dan beasiswa. sampai ada di titik seluruh catatan les, esai dan serba-serbi penelitian saya kemas dalam amplop bubble wrap dan saya letakkan di dalam folder berkas di sudut meja. hahaha.
kata-kata terkait yang sering muncul di twitter masuk muted words, apalagi selalu ada rujakan seasonal tentang si beasiswa ini (iykyk)
dokumen digital tentang itu semua juga tidak lagi jadi folder teratas di laptop.
ibarat orang berjalan menuju satu titik, saya telah berlari menjauhi titik tersebut.
hari ini saya masih tidak berkeinginan menyentuhnya kembali.
setahun belakangan, beberapa orang secara sengaja atau tidak sengaja, tetap berbagi informasi beasiswa dan menyemangati. 
mungkin selanjutnya, saya cukup membagikan link tulisan ini saja, tanpa perlu berkali-kali menjelaskan mengapa berhenti.
benar, masih terlalu muda untuk putus asa. tapi berhenti bukan berarti putus asa, kan? walau mungkin selangkah mendekatinya aowkawoakwaowk. astagfirullah, istighfar.
yang jelas, saat ini saya lebih memilih lari sejauh-jauhnya.
sembunyi layaknya amplop yang telah melesak ke dalam folder di sudut meja belajar saya.
menelan gagal berkali-kali tidak memunculkan efek kebal atas rasa kecewa.
kali ini saya mencoba berdamai hidup dengan rencana-rencana jangka pendek, melewati hari demi hari dengan checklist sederhana. rerouting.
untuk sementara waktu, semoga tenang selalu memayungi setiap langkah menuju entah.

salam,
anggi.

May 30, 2024

Bunga Terwangi di Taman Hati Saya

Saya bersyukur bertemu kamu disaat yang (cukup) tepat, ketika saya berani bertanya tujuan akhirnya sejak awal. Saya pikir, "tidak" lebih baik daripada "lihat nanti" atau "jalani dulu". Sebab dua yang terakhir itu, umumnya adalah "tidak" yang tertunda.

Saya pernah terjebak dan mengiyakan "jalani dulu", hingga di tengah jalan, Ia melepas genggaman tangannya. Lalu saya hilang sendirian.

Kamu jauh dari sempurna, memangnya sejak kapan kita pernah mendekatinya? 
Sempurna adalah kata yang begitu agung, apalagi untuk seonggok manusia.
Tapi, setiap kata yang kamu ucapkan hampir selalu selaras dengan kenyataan. 
Tidak ada manis yang dibuat-buat, dan tidak ada pahit yang disembunyikan.
Semua gamblang disajikan di depan mata.

Saya tidak takut terlihat lemah, kamu pun tidak segan menguraikan resah.

Saya bersyukur kamu sampai di depan saya, bertahan dan mau berjalan berdampingan.

Bersama kamu, cinta rasanya ringan dan menyenangkan.
Bukannya kemudian semua masalah mendadak hilang, tapi setiap kesulitan jadi mungkin dilalui.

Terima kasih untuk rasa tenang yang sangat lapang.

Selamat menapaki usia baru,
Semoga kamu terus menjadi bunga terwangi di taman hati saya.

Wopyu!
A.

May 25, 2024

a long run.

almost twelve years after his death, i just realized that grief is indeed a long run. 
i thought i would recover. 
i thought i would be okay someday. 
the truth is: i'm okay some days, but on other days, it's miserablea total chaos.

today, someone asked me: "why is your father's name still here on paper?"
how is it supposed to be?
"we will process the deletion, the data needs to be renewed."
can we let him stay? at least on a paper...

the grief will always be a part of my life. it doesn't leave. it lives in me. 

i think it isn't fair,
but, is life ever fair?

bapak, i wish you a good afterlife.
in another life, there would be joy and eternity.
in another life, that disease wouldn't win.
in another life, you would live, not just survive.

i love youalways.
till we meet again, surrounded by laugh, happiness and tranquillity.


February 04, 2024

Melihat Zaman Berubah

     Melihat gambaran besar hanya bisa dilakukan dari jarak yang cukup jauh, katanya. Dulu waktu saya kecil saya pikir ya dunia akan begitu saja, tetap sama terus hingga nanti. Segala bentuk pemandangan sekitar dan teknologi akan tetap seperti yang saya tahu di masa itu. Ternyata ya tentu tidak~ perubahan yang bertahap dan secara terus menerus ini kadang tidak disadari. Kita bisa melihat perubahan itu saat punya jeda —untuk benar memperhatikan yang terjadi dan merefleksikan kembali dengan yang kita miliki hari ini. Dalam tulisan kali ini, saya mencoba melihat apa yang dulu pernah —ada, dan kini perlahan musnah. And, this is how the story goes...

    Di usia saya TK-SD, Bapak buka usaha wartel di rumah. Dua bilik berisi meja, kursi, telepon dan kipas angin kecil. Pada masa itu, telepon kabel masih dimiliki kalangan tertentu, era telepon genggam masih jadi barang mewah dan paling mutakhir.
Di daerah saya yang banyak anggota keluarganya bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri, tentu keberadaan wartel saat itu cukup jadi alternatif komunikasi yang efisien. Selain itu telepon ini juga aktif digunakan para pendengar radio lokal. Mereka biasanya menelepon untuk menyampaikan salam dan request lagu tertentu. OH THE OLD DAYSSSS LIKE THAT :")
Sebagai bocil saya tentu tak beda jauh dengan yang lain dari segi keusilannya, beberapa kali saya menguping pembicaraan konsumen HAHAHAHA berdosa sekali.
    Hari ini hampir semua orang, tua-muda, punya akses hanyak dengan sekali klik untuk terhubung kepada orang lain melalui telepon genggamnya. Wartel tentu tak lagi relevan, namun keterbatasan waktu dalam wartel itu yang membuat kita menghargai waktu komunikasinya. Sebab dalam keterbatasan waktu komunikasi itu kita cenderung lebih sadar (present) dengan apa yang kita bicarakan. Cukup jadi pengingat di masa yang serba cepat dan penuh distraksi, untuk tetap sadar dengan makna kini dan disini.

    Lanjut, waktu saya SD, ada tetangga baru di belakang rumah saya. Ternyata anak laki-laki keluarga tersebut berusia sebaya, kemudian bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. Beberapa kali kami berada dalam satu kelompok tugas. Saya selalu bersemangat mengerjakan tugas kelompok di rumah tetangga saya yang satu itu. Mengapa? Karena keluarganya punya rumah produksi kerupuk yang rasanya enak sekali. Selain itu Mamanya juga sangat royal akan sajian, lauk-pauk, buah, minuman dingin dan jajanan. Bagi anak kecil dari keluarga biasa saja, apalagi yang suka makan —hal itu tentu bikin semangat berapi-api.
Rasa kerupuk yang berbeda dan sulit saya temukan kembali. Sayangnya, sejak Ayahnya meninggal, keluarga teman saya itu kemudian pindah.
Saya tidak menyangka, mengecap rasa makanan tertentu bisa betul-betul bikin rindu. Sesederhana kerupuk yang tidak lagi diproduksi. 
    Soal makanan ini juga dulu begitu bermakna karena kita cenderung hanya makan makanan yang jangkauannya dekat, bisa kita beli di sekitar kita. Namun, kini dengan adanya e-commerce, kita bisa beli makanan dari manapun tanpa harus menunggu oleh-oleh dari kerabat yang pulang wisata. Di zaman ini, tak ada rindu yang bertahan cukup lama saat masih sama-sama di dunia LOL. Termasuk soal rindu makanan tertentu yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita.

    Kemudian saat masa SMP, saya berangkat sekolah naik sepeda bersama teman. Teman saya ini rumahnya lebih jauh dari sekolah, kira-kira 2x jarak rumah saya ke sekolah. Ia tentu harus bangun dan bersiap lebih pagi dari saya. Kami berangkat pagi-pagi untuk meminimalisir interaksi dengan teman atau kakak kelas lainnya. Bukan karena tidak ingin berteman, semata ingin menyimpan energi untuk enam jam pelajaran kedepan saja haha! Saat itu aktivitas sekolah adalah hal utama yang paling melelahkan. Beban satu-satunya remaja biasa seperti saya LOL.
Hari-hari ini anak sekolah naik sepeda masih banyak ditemui, namun yang pakai motor dan motor listrik juga lebih banyak lagi. Kendaraan berbahan bakar listrik adalah sesuatu yang jauh dari bayangan saya saat SMP. Yah~ saat jadi maba desain saja, kendaraan listrik masih terlihat asing dan terlalu futuristik bagi saya. Namun, hari ini sudah ada di sekitar kita. Time flies~

    Saat SMP itu juga awal perkenalan saya lebih akrab dengan internet. Sepulang sekolah mampir warnet untuk menyalin lirik lagu terbaru, hahaha ya~ I'm one of those kids yang punya buku lagu, walau suaranya sumbang~ Waktu itu masih pakai earphone untuk mendengarkan radio, musik di radio dipenuhi lagu-lagu pop melayu, ungu, radja, kangen band, repvblik dkk hahaha. Radio pocket mini adalah gadget terkini saya di masa itu, karena mp3 player masih lebih mahal.
    Sekarang, mendengarkan musik lebih mudah dengan adanya youtube dan platform streaming musik digital. Tidak perlu kita punya banyak lagu yang disimpan, sebab semua sudah tersedia secara online dan bisa kapan saja diputar. Liriknya juga tersedia berdampingan dalam aplikasinya. Ah, sungguh kenikmatan zaman yg mutakhir~

(sumber: alibaba)

    Di sekolah saya juga selalu setia menyimak cerita teman-teman K-POPers tentang SNSD, suju, shinee, f(x). Kenapa hanya menyimak? disini saya ungkapkan bahwa; menurut saya waktu itu sulit menghafal nama-nama idol korea. Akses menonton music videos dan drakor pada saat saya SMP juga masih "underground" alias memanfaatkan link streaming ilegal dan copyan antar flashdisk. Saya cukup malas dengan effort yang demikian hahaha.
Era SMP ini juga awal kemunculan BlackBerry sebelum iPhone menjadi ikon pergaulan tertinggi seperti sekarang. Tapi saya tidak ikut terjun into those trends karena punyanya Nokia WKWKWK.
    Dengan kenal internet otomatis saya akrab dengan Friendster dan Facebook.
Dulu trennya adalah nama akun facebook ada partnya karena dia punya friendlist sampe maksimal. Tanda keren pada saat itu adalah saat temannya sudah full empat ribu, seingat saya CMIIW.
Dulu dan kini sepertinya standar keren masih sedikit banyak sama ya, punya banyak pengikut atau crowds. Yah, untuk mereka yang memang tak masalah hidupnya jadi konsumsi banyak orang, mungkin punya pengikut banyak cukup menyenangkan dan jadi lahan rezeki. Tapi untuk saya yang cukup dengan hidup normal biasa saja, tentu punya pengikut besar di media sosial itu bukan tujuan. Secara, semua medsosnya juga selalu digembok selamanya LOL.
    Sekarang semua orang berpotensi jadi public figure, dengan satu dua video yang sesuai algoritma dan viral, bisa saja hidup seseorang berubah karenanya. Suatu hal yang luar biasa canggih sekaligus ngeri disaat bersamaan.

    Banyak yang berubah, segalanya terasa jadi lebih mudah. Tentu saja perubahan itu tidak datang dengan percuma, akan selalu ada harga yang dibayar untuk itu semua. Salah satunya attention span kita. Menurut artikel ini, rentang perhatian kita telah menurun drastis hanya dalam 15 tahun. Pada tahun 2000, itu adalah 12 detik. Sekarang, 15 tahun kemudian, waktu tersebut menyusut secara signifikan menjadi 8,25 detik, yang mana itu lebih pendek dari attention span goldfish di 9 detik :)
    Maka, kegiatan yang butuh memusatkan perhatian secara penuh baiknya selalu kita usahakan, dengan sholat (bagi yang muslim tentu saja), meditasi, olahraga, menggambar dan membaca buku (fisik —bagi saya masih yang terbaik untuk mencegah distraksi).
Semoga kita senantiasa dikaruniai pikiran yang jernih, ruang tenang, dan penglihatan yang jelas di tengah-tengah dunia yang riuh karena deru cepat melajunya zaman.

Salam,
A.

Rekomendasi K-Drama dari Penonton Biasa

 Hai, siapapun yang dengan ajaibnya sampai ke blog terasing ini. 


    Tulisan kali ini sesuai judulnya akan membahas mengenai Korean Drama alias drakor. Dari artikel online yang saya baca tren menonton drakor di Indonesia muncul sejak tahun 2000. Saat itu Indosiar adalah stasiun TV yang cukup sering menayangkan drakor. Salah tiganya yang saya ingat adalah Endless Love (Autumn in My Heart), Full House, dan Boys Before Flower. Ketiganya juga pernah saya tonton walau tidak full dari awal sampai tamat. Hanya nonton sepotong yang sedang tayang saja.
Sekarang dengan mudahnya akses platform streaming, menonton drakor tidak perlu tunggu tayang di TV. Tinggal cari judul drakor dan platform yang menyediakannya saja. Keunggulan lain menonton di platform streaming juga bisa mengatur laju durasi tontonan, tidak takut ketinggalan momen penting karena ada play, replay dan playback hahaha.

    Saya bukan orang yang paham betul dengan culture K-Wave/ Hallyu. Itu adalah sebutan untuk fenomena populernya unsur kebudayaan dan hiburan Korea di dunia Internasional (mencakup musik, serial TV, film, kuliner dsb)
Walau sejak SMP sampai kuliah hampir setiap teman dekat saya sangat into K-wave. Saya justru hanya menjadi pendengar cerita saja. Cukup tahu. Menurut saya waktu itu sulit menghafal nama-nama idol korea. Akses menonton drakor pada saat saya SMP juga masih "underground" alias memanfaatkan link streaming ilegal dan copyan antar flashdisk. Saya cukup malas dengan effort yang demikian hahaha.
    Sampailah pada saat pandemi mengubah cara hidup orang-orang di dunia dengan cukup mengejutkan. Dalam sepanjang 2020 yang hampir 90% saya habiskan di dalam kamar itulah saya mulai kehabisan bahan tontonan. Biasanya saya hanya mengandalkan YouTube dan konten yang disajikan disana. Saya tidak ingat drakor apa yang pertama saya tonton sejak pandemi, karena mencari tontonan yang tepat cukup sulit. Apalagi kalau bicara soal serial, yang butuh kesabaran mengikuti jalan cerita berepisode-episode lamanya. Bisa berhenti ditengah-tengah karena merasa jengah, bahkan skip dari awal karena merasa ceritanya akan template saja.
    Dari pengalaman yang tak cukup intens itu, inilah beberapa drakor rekomendasi dari saya. Umumnya bergenre romcom, karena saya suka nonton kisah cinta yang berhasil hahaha. Juga mementingkan aspek gergerger komedi lagi komedi terusss.

1. Because This Is My First Life
Episodes: 16
Genre: Romcom
Release Year: 2017
Main Cast:
Lee Min-ki as Nam Se-hee
Jung So-min as Yoon Ji-ho

(source: pinterest)

Ji-ho, seorang perempuan penulis naskah yang belum punya rumah sendiri. 
Se-hee, lelaki pekerja kantor IT yang hidupnya telah mapan secara finansial dan sedang dalam tahap mencicil apartemen pribadinya.
Mereka berdua dipertemukan oleh keresahan tentang memiliki tempat tinggal sendiri. Ji-ho perlu segera punya kosan dengan harga murah, dan Se-hee butuh passive income untuk lekas menutup cicilan rumahnya.
Se-hee merupakan pemilik rumah yang selektif, Ia berharap orang yang ngekos di rumahnya tidak hanya mampu membayar sewa tapi juga bertanggung jawab dan tidak menganggunya. Ji-ho dan Se-hee terkejut, ternyata selama beberapa hari ini mereka tinggal dengan lawan jenis di satu rumah yang sama. Lalu Se-hee berpikir bahwa hubungan mereka akan lebih efektif apabila menjadi suami-istri. Jadilah mereka berdua membuat kontrak pernikahan selama dua tahun.

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Walau premisnya cukup bertentangan dengan nilai moral (di Indonesia paling tidak), namun mereka realistis soal kehidupan pernikahan dan kepemilikan aset. Hahaha. Se-hee memaparkan bahwa menikah dan membiayai keluarga itu adalah hal yang butuh biaya besar. Ia juga sadar bahwa banyak biaya yang bisa dipangkas supaya lebih sesuai dengan realita dan kemampuan, salah satunya mengenai resepsi pernikahan. Awalnya mereka berdua setuju untuk tidak mengadakan pesta, namun orang tuanya tidak setuju. 
    Mereka mengambil komitmen menikah semata karena hubungan itu saling menguntungkan bagi satu sama lain walau tanpa perasaan cinta atau kasih sayang. Umumnya, pasangan yang menikah tentu berdasar perasaan, ketertarikan lalu menyesuaikan preferensi atau keuntungan satu sama lain. Walau nampaknya, saat bicara tentang cinta, jadi tabu rasanya jika dihitung untung rugi.
Padahal sangat manusiawi juga menikah karena punya pandangan bahwa hidup berdua dengannya akan lebih baik dibanding ketika sendiri. Hal barusan itu kan termasuk hitungan untung rugi.
Hubungan Se-hee dan Ji-ho jadi sangat dewasa karena kompromi mereka didasarkan pada data dan kebutuhan. Komunikasi antara pasangan ini pada awalnya terlampau dingin dan sangat profesional.
Berbeda dengan Won-seok dan Ho-rang, teman Ji-ho yang telah berpacaran tujuh tahun. Ho-rang masih terus berkomunikasi dengan kode-kode dan isyarat. Sedangkan Won-seok seperti lelaki pada umumnya yang kurang pandai membaca pesan "berlapis". Menyebabkan hubungan mereka diselingi pertengkaran-pertengkaran. Namun, Won-seok dan Ho-rang mampu terus menemukan jalan kembali satu sama lain.
    Itulah dinamika hubungan, dalam relasi romantis memang harus tetap seimbang antara komunikasi yang mengandalkan logika dan obrolan yang bersandar pada perasaan/kepekaan. Karena jika dalam relasi romantis terus-terusan pakai logika, yah apa bedanya dengan relasi profesional serupa kontrak kerja? Haha.
    Hal menarik selanjutnya adalah mereka gooners. Melihat aspek yang dekat dengan keseharian saya dalam drama tentu saja menarik. Ada scene saat mereka menonton pertandingan Arsenal di handphone maupun televisi. Di rak juga terdapat pajangan dan merch Arsenal.
    Aspek lain yang tak kalah menarik adalah soundtrack yang easy listening. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menambahkan soundtracks drama ini ke dalam playlist favorit saya.

2. Reply 1988
Episodes: 20 + Special
Genre: Family Drama, Comedy, Romance
Release Year: 2015
Main Cast:
Lee Hye-ri as Sung Deok-sun/ Sung Soo-yeon
Ryu Jun-yeol as Kim Jung-hwan/ Jung-pal
Park Bo-gum as Choi Taek
Go Kyung-pyo as Sung Sun-woo
Lee Dong-hwi as Ryu Dong-ryong

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Reply 1988 ini menyajikan suasana kehidupan bertetangga yang guyub. Anak-anak sebaya yang tinggal di satu lingkungan dengan latar belakang keluarga berbeda-beda lalu menjadi sahabat. Suasana neighborhood yang terasa dekat. Kebiasaan berbagi makanan, saling  membalas hantaran satu sama lain, copot alas kaki saat masuk rumah. Hal-hal yang mungkin sulit kita dapatkan saat melihat sinema yang berasal dari luar Asia.
    Hal lain yang menarik ya karena poin jalinan asmaranya (jyakh jalinaaaan). Melihat kisah cinta yang berhasil adalah salah satu poin pertimbangan ketika saya memilih tontonan. Walau yaaa sebenarnya tidak semuanya berakhir bahagia ya hahaha (@ Jung-pal).
However, kisah cinta masa remaja memang selalu gemas untuk ditonton!
    Drama ini juga realistis karena cerita pertetanggaannya ini yaa hampir dialami juga oleh rata-rata anak kabupaten seperti saya hehe. Konfliknya tidak terlalu membuat hati terasa berat dan tidak tega melanjutkan agenda nonton. Selalu jadi comfort-zone saat bingung mau nonton apa.

3. My Liberation Notes
Episodes: 16
Genre: Slice of Life
Release Year: 2022
Main Cast:
Kim Ji-won as Yeom Mi-Jeong
Son Sok-ku as Mr. Gu (Gu Ja-gyeong)
Lee El as Yeom Ki-Jeong
Lee Min-ki as Yeom Chang-hee

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Ceritanya cukup realistis, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan tiga kakak beradik anak dari pasangan di desa. Orang tuanya sehari-hari bekerja di ladang dan mebel. Mereka bertiga kerja di kantor pusat kota, perjalanan yang cukup jauh dari rumah sehari-hari. Selalu mendapat pertanyaan mengapa tidak ngekos di kota saja daripada capek pulang-pergi.
    Kedua, secara visual sangat memanjakan mata saya, karena menurut saya tone drama ini sangat lembut, spring, dan hangat. Jadi secara visual, drama ini bisa juga jadi pilihan ketika saya bingung mau nonton apa hahah, walau secara konflik sangat huhu tidaaaak mau! tidak mau! EMOH! (iykyk)
    Terakhir, aspek personal. Profesi tokoh utamanya adalah desainer grafis dari dusun yang kerja di kota hahahah. Segala dinamika kantor dan revisi desain yang entah ada berapa lapis itu memiliki scene yang cukup banyak dan memvalidasi keresahan saya LOL. Atasan yang menyebalkan, teman yang bermuka dua, dan program mandatory kantor yang tidak sesuai kehendak hati. Lengkap menjadi bagian cerita si tokoh utama.

4. Mystic Pop-up Bar
Episodes: 12
Genre: Drama, Fantasy, Comedy
Release Year: 2020
Main Cast:
Hwang Jung-eum as Weol-ju
Yook Sung-jae as Han Kang-bae
Choi Woon-young as Guibanjang/ Chief Gwi

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Jalan cerita, theme song dan visual drama ini unik sekali. Dengan genre fantasi tentu saja akan ada bagian-bagian cerita yang ramashook. Bagi saya yang cenderung lebih suka menonton drama-drama realistis, Mystic Pop-up Bar ini jadi refreshment yang oke.
    Secara garis besar drama ini menceritakan perjalanan Weol-ju menebus kesalahan masa lalunya. Ia menjalani reinkarnasi dan harus membantu 100 ribu manusia melepaskan dendam. DHYAR! 100 ribu. Melepas dendam. HAHAHAHA sebagai manusia yang ikhlasnya setara ketebalan hvs 70gr, saya tahu betapa itu merupakan tugas yang berat BERAT! Jangankan 100 ribu manusia. Satu manusia melepaskan dendam saja kadang butuh waktu yang tidak singkat, kan? :)
    Walau fokus utama adalah di kehidupan tiga tokoh utama, namun cerita-cerita tokoh yang dibantu Weol-ju ini juga amat padat dan meaningful. Tentang permasalahan yang akrab dengan keseharian kita juga, ketidakadilan karena nepotisme, pelecehan di tempat kerja, usaha orang tua yang ingin memiliki anak, salah paham antar keluarga dll.
    Selalu ada rasa lega tiap kali Weol-ju selesai membantu orang-orang ini merilis dendamnya poooff jadi abu!~ ((mau jugaaa))

5. Weightlifing Fairy Kim Bok-joo
Episodes: 16
Genre: Romcom
Release Year: 2016
Main Cast:
Lee Sung-kyung as Kim Bok-joo
Nam Joo-hyuk as Jung Joon-hyung
Lee Jae-yoon as Jung Jae-yi
Kyung Soo-jin as Song Shi-ho

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Tokoh utamanya hidup sebagai piatu, ibunya telah meninggal dan hanya tinggal dengan ayah yang penyayang. +2000 untuk drama dengan tokoh ayah yang lembut hati, present & provide. Jadi tidak susah untuk saya terus menonton drama yang punya tokoh ayah seperti itu.
    Selain itu romcom lagi~ ya karena mengapa tidak~ Jalinan cerita Bok-joo dan Joon-hyung ini sangat bisa dinikmati. Lagi-lagi, kisah cinta remaja itu memang jadi salah satu cerita favorit saya LOL~ gemash romantis tak masuk logikaaa~ kalo kata lagunya Donne Maula.

Selain lima drakor favorit saya diatas, saya juga punya tiga list yang juga jadi drama kesayangan, walau konfliknya sedikit lebih berat daripada yang lima diatas. Itu kenapa tiga drama ini walau termasuk favorit tidak jadi #top5 coyyy pening nontonnya!

*Juvenile Justice
Episodes: 10
Genre: Legal drama
Release Year: 2022
Main Cast:
Kim Hye-soo as Shim Eun-seok
Kim Mu-yeol as Cha Tae-joo
Lee Sung-min as Kang Won-joong
Lee Jung-eun as Na Geun-hee

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Drama tentang peradilan mungkin bukan hal yang baru, namun dengan fokus dalam peradilan anak menjadikan drama ini cukup punya unique selling point. Walau akhirnya cukup satu musim saja karena tidak cukup banyak penontonnya. LOL tapi yang menonton hampir merupakan solid fanbase. ((cie yakin))
    Tokoh utamanya, Shim Eun-seok adalah hakim yang sangat membenci penjahat remaja, kompeten di bidangnya dan memiliki kepribadian yang dingin.
Kasus kriminal anak yang meningkat signifikan dari tahun ke tahun di Korsel dipotret cukup baik dalam drama ini, mulai kasus perundungan hingga prostitusi. Tidak ada satupun kasus yang tidak membuat saya mengelus dada menahan emosi. Walau sering merasa kasihan karena terdakwanya adalah remaja, dan kadang terlihat clueless dalam scene di depan meja pengadilan. Tapi kembali lagi, saat dalam scene kriminal itu, kelakuan mereka sungguh jauh dari tingkah manusia normal. Hzzz!
    Dengan anak-remaja yang jadi subyek peradilan, tentu saja ceritanya akan lebih mengaduk emosi. Yah begitulah ya~ memetik moral value kadang memang harus dengan menyaksikan konflik yang t*i banget!

*Thirty-Nine
Episodes: 12
Genre: Romance
Release Year: 2022
Main Cast:
Son Ye-jin as Cha Mi-jo
Jeon Mi-do as Jeong Chan-young
Kim Ji-hyun as Jang Joo-hee

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Heart-warming dan heartbreaking dalam waktu yang sama! Persahabatan, cinta dan kematian diceritakan dengan indah dalam drama ini. Menjadi sebuah serial yang asyik, lucu, menguatkan juga memilukan. Campur aduk, bukan?! Yah betapa tidak, ditinggal pas lagi cinta-cintanya, gimana sih? bayangkanlah! Drama ini juga tidak melulu fokus pada hubungan romantis, tapi menampilkan bahwa hubungan platonic itu juga bisa sama indahnya.
    My kind of drama! walau temponya lambat namun ini justru membiarkan penonton memiliki waktu untuk berefleksi dengan ceritanya.

*Oh My Venus
Episodes: 16
Genre: Romance, Drama, Comedy 
Release Year: 2015
Main Cast:
Shih Min-a as Kang Joo-eun (Venus of Daegu)
Soo Ji-sub as Kim Young-ho/ John Kim

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Layak ditonton, bahwa cinta tidak ada hubungannya dengan bentuk tubuh, ukuran, dan kesehatan. Chemistry antara pemeran utama sangat manis dan kuat! Tokoh utamanya bekerjasama tidak hanya dalam transformasi tubuh si Venus of Daegu ini, namun juga saling membantu menyembuhkan luka emosionalnya masing-masing. Hangat!

    Kegiatan nonton drama korea ini menyenangkan dan jadi pilihan nyaman untuk introvert seperti saya. Rebahan dan nonton serial di hari libur cukup membuat saya terhibur dibanding jalan-jalan seharian HAHAHA. Murah, nyaman dan menghibur.
Hanya saja, kadang dengan banyaknya pilihan drama yang bisa ditonton, saya cukup sulit menentukan pilihan. Maka dari itu list ini jadi pengingat drama-drama apa saja yang mungkin jadi tempat kembali alias comfort-zone di saat-saat bingung ini.
Jadi kurang konsisten sih judulnya rekomendasi, tapi kesimpulannya cuma jadi referensi tontonan pribadi saat ngeblur HAHAHAH anyway memang begitulah konsep semrawut dalam blog ini. Tararengkyu!

Terima kasih sudah mampir dan membaca sampai disini!

Salam,
A.

January 03, 2024

a verselet to my sunshine.

February 2021

🎢🎡You put the red back in the rose / Just when I needed it the most / You came along to show you care / And now there's colour everywhere🎢🎡

May 2022

Happy birthday, my ray of sunshine / You've brought enormous change into my life / I couldn't recall how many times you clinched the storm in my mind / You put the blue back into my dark grey sky / I'm a cynical one when it comes to promises and sugar-coated words, but you do walk the talk / My heart flutter every time you call me by my name / With you, solemnity is hard to ignore / Thank you for keeping me sane throughout this year / Thank you for all the clear-cut definitions of love, and thank you for being you //

August 2022

Officially kicking LD out of LDR / Let's run the R forevermore //

November 2022

We walked this far even when the gloom enfolded my mind from thinking straight / Your heart sparks gaiety, and suddenly pain stumbled upon my gratitude for your presence / With you, it's hard to ignore a sense of serenity / The echoes of my mistakes breed concern / Yet, you stand unwavering, you're all ears and completely above board / I owe you a lot / Thank you for all the love and I love you too / Through thick and thin, among all the flaws and the forte, love will always be our guiding star //

January 2023

I didn't think we would survive this far / With you, solemnity is hard to ignore //

July 2023

Let's bloom gracefully, forevermore //

December 2023

There will be days like this / The flower blooms / You do walk the talk / So, this is love. We chase nothing but composure //


With Love,
Anggi