Hai, apa kabar? Semoga kebaikan dan perlindungan Tuhan selalu menyertai kita semua.
Sudah tiga bulan sejak tulisan terakhir disini, berarti tiga bulan juga telah berlalu satu waktu yang sibuk dan penuh grabak-grubuk itu. Life's been good so far. MasyaAllah.
Prior to marriage I tried hard not to stress over the idea of being a wife or the changes that come with it. Sebab, saya paham betul perubahan dan masa-masa adaptasi akan jadi waktu yang sulit. Seperti fase yang telah dilalui sebelumnya, perubahan rutinitas bagi saya yang begitu mencintai stabilitas dan segala hal yang tertata adalah ujian. Segala penyesuaian dan pembentukan kebiasaan baru adalah trigger stres paling mujarab hehehe.
Selama masa orientasi saya merasa kami bisa bekerjasama cukup baik. Setiap masalah atau persoalan adalah quest yang harus diselesaikan berdua. Kekocakan sehari-hari hingga sesi tangis-tangisan refleksi diri ternyata tetap nyaman dilalui asal ada partnernya (yang setara!).
Masa orientasi yang entah sampai kapan ini—karena penyesuaian dan toleransi dalam rumah tangga sepertinya butuh kontinuitas hahaha. Semoga terhindar dari party pooper yang melempar celetukan tidak perlu seperti "yah orang baru tiga bulan, belum juga setahun, tiga tahun, lima tahun bzbzbz...". Aamiin.
Memasuki fase baru selalu jadi pemantik terbaik untuk meninjau ulang pengalaman beberapa tahun ke belakang. Mengingat kembali betapa perjalanan itu adalah ujian sekaligus bingkisan terbaik dari Sang Pemilik Waktu. Suatu topik yang sungguh resonate dalam beberapa trend TikTok yang sering lewat FYP saya. Abaikan sejenak stigma aplikasi kandang monyet, setiap aplikasi tergantung penggunanya. Walau memang berselancar di TikTok butuh kecermatan ekstra to take literally everything with grain of salt HAHAHA.
#1
Marriage is scary, what if yadda yadda yadda
mine would be: "marriage is scary, what if my future husband isn't as considerate as my dad".
Naksir, kesengsem, atau jatuh hati adalah satu hal, tapi yakin bahwa kita rela dan siap menikah dengan seseorang adalah hal yang lain lagi. Tidak, tidak, ketakutan menikah dan bimbang banyak pertimbangan itu bukan semata milik laki-laki saja. Perempuan pun sangat bisa dan wajar punya concern yang sama. Selain itu, saya juga setuju dengan pendapat yang bilang semakin matang usianya, akan semakin banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan hidup yang besar seperti menikah. Terasa sekali bedanya, pandangan soal pernikahan dalam diri saya di usia awal 20-an dengan yang di umur nyaris 28 tahun kemarin. Setelah dijalani, sejauh ini—yang belum jauh-jauh banget juga, menikah tidak semenakutkan pikiran-pikiran burukku. Punya sosok yang setting the high bar seperti bapak adalah rahmat, tapi menyadari bahwa pasangan kita adalah manusia yang kita pilih untuk hidup dan tumbuh bersama, semoga jadi pengingat untuk tidak melulu membandingkan. Sebab ia tentu punya karakter dan pengetahuan yang berbeda, semoga kami tumbuh saling menguatkan dan menenteramkan satu sama lain. Aamin. Alhamdulillah ala kulli hal.
#2
Maaf ya kita belum bla bla bla, tapi kita bisa bla bla bla
kalau saya kurang lebih: "maaf ya kita belum bisa lulus cumlaude, tapi kita bisa makan sate tanpa nasi kan? BISA! 20 tusuk tanpa nasi dimakan sendiri, lossss!"
Lulus tepat waktu dengan IPK gemilang adalah satu dari sekian banyak hal ambi yang selalu sentimental bagi saya. Saya tumbuh dengan banyak mimpi, walau gagalnya tidak kalah banyak juga. Lalu, gagal lulus tepat waktu karena sistem kurikulum yang hzzzmbohwes itu sungguh menyebalkan. Apalagi sekarang melihat kabar jurusan dengan mahasiswanya sudah tidak lagi mustahil punya IPK sempurna. Bahkan bisa punya harapan lulus tepat waktu dengan persentase lebih besar dari tahun 2018/2019. Wah rasanya kuliah kemarin seperti main rigged game. Tapi yaaah life goes on, we should keep moving forward.
Terpaku pada satu kemalangan tidak mengubah apapun selain memperkeruh isi kepala, toh ternyata lebih banyak hal yang bisa disyukuri. Salah satunya ya itu; bisa makan sate tanpa nasi, kapan saja. Seperti janji Allah yang mengangkat derajat orang beriman dan orang yang berilmu. Untuk iman saya yang naik turun layaknya roller coaster, sepertinya perubahan kondisi ekonomi ini lebih karena imbas jadi orang berilmu—menurut kacamata saya. Hal lain yang saya yakini Allah sudah menyiapkan sebaik-baiknya skenario dalam apapun kondisi kita.
Masa-masa kelaparan di asrama, waktu SD makan sate harus pake nasi, lalu beli nugget menunggu momen selebrasi. Semua telah berlalu, semua telah dilalui dengan baik dan penuh hikmah. Semoga setiap hari mampu lebih banyak mensyukuri nikmat dan jadi manfaat bagi manusia lain.
#3
Laki-laki tidak bercerita, tapi main game.
Hahaha dengan budaya Indonesia yang kurang memberi ruang bagi laki-laki bercerita, mengeluh, mencurahkan isi hati selepas perempuan, kalimat diatas nampaknya sangat relatable. Masih banyak anggapan bahwa lelaki dilarang menangis, jadi bercerita dan mencurahkan isi hati dengan gamblang juga tentu jadi tabu. Sementara itu, bagi perempuan awal dari sesi tangis-tangisan di tongkrongan itu ya dari curhat. Ada perasaan berat sekali di hati saya jika melihat lelaki mengabaikan perasaan sedih dan lelahnya. Tidak menangis itu berat sebab menangis itu melegakan. Sejak kecil banyak kalimat orang tua "jangan menangis, kayak anak perempuan", "jangan menangis, cemen!" pada anak lelakinya. Akibatnya, banyak laki-laki tidak sempurna kemampuan regulasi emosinya. Emosi negatif dan ekspresinya dianggap sebagai aib yang haram ditunjukkan. Padahal, sebagai manusia wajar saja punya dan merasakan emosi negatif. Tinggal bagaimana belajar mengungkapkan dan mengendalikannya dengan tepat. Kegagapan lelaki dalam meregulasi emosi ini kemudian ditumpahkan dalam kegiatan lain, seperti main game, tidur, dsb. Contoh kegiatan barusan mungkin tidak mengganggu hubungan, namun dalam frekuensi yang berlebihan tentu akan berbeda.
Jadi, langkah sederhana untuk menghilangkan ketimpangan ini bisa dimulai dengan tidak menginvalidasi perasaan laki-laki yang membagikan sisi vulnerabilitynya. Semoga kita diberkahi waktu dan ilmu untuk terus belajar.
Kalau kata Bernadya, untungnya, hidup terus berjalan, untungnya, ku bisa rasa hal-hal baik yang datangnya belakangan.
Kita beruntung, sebab dianugerahi waktu dan kesadaran untuk refleksi diri. Kita beruntung, sebab hal-hal baik selalu mengikuti walau sesulit apapun jalannya. Semoga selalu ada hikmah yang bisa dipelajari, seremeh dari yang sekadar lewat di FYP.
Salam,
Anggi
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.